_________Memaksakan kenyamanan di termpat yang baru tidaklah mudah, dan apa yang akan mereka temui semuanya baru, perasaan cemas di dalam hati setiap manusia itu ada, tapi apa yang harus kita lakukan jika takdir memutar balikkan keadaan dengan impian yang kita inginkan_______
Sejak kejadian malam itu, Barra tidak pernah menemui Lily, bahkan batang hidungnya tak pernah terlihat oleh Lily, entah kemana lelaki itu, setelah mengurung Lily di Mansionnya, ia menghilang seperti angin, tidak terlihat, tapi dapat di rasakan.
Pagi ini, Lily kembali bertanya kepada salah satu pelayan di sana, apa Barra sudah pulang, tapi jawaban yang ia dengar masih sama dari hari sebelumnya, yaitu mereka tidak tahu, dan tidak menjumpai Barra dalam satu minggu ini.
Lily hanya menghembuskan nafas gusarnya, ia tidak tau harus melakukan apa, karna Barra telah mengambil ponselnya, dan membuat Lily benar-benar kehilangan kontak sahabatnya.
Membayangkan bagaimana exspresi Ayu, sahabatnya yang mencemaskannya saja sudah membuat Lily merasa bersalah, seperti saat itu, Lily sedang demam tinggi, di tengahnya malam, dan dalam keadaan hujan, Ayu datang menemuinya sambil membawakan obat dan makanan, apa lagi saat ini, Lily sama sekali tiada kabar, entah bagai mana cemasnya Ayu terhadapnya.
Lily duduk di ruang tv, menyalakan benda canggih itu, mengganti siaran secara acak dan tanpa minat untuk menontonnya. Ia pun memutuskan untuk berkeliling ke Mansion yang sangat besar ini, karna ia memang belum pernah melihat-lihat selurung ruangan yang ada di dalam Mansion ini, meski pun ia sudah satu minggu tinggal di sani.
Lily berjalan terus, melihat setiap pojok ruangan yang di hiasi lukisan yang bisa dengan jelas di tebak ratusan juta harganya, matanya selalu melotot nyaris lompat keluar saat melihat begitu megah bangunan ini.
"Ckckck... Rumah sebesar ini, dan begitu banyak ruangan yang di buat hanya sia-sia, dan memperkerjakan orang begitu banyak hanya untuk mengurusi Mansion ini, cih.. Dasar penguntit siala." gumam Lily sambil terus berjalan menyusuri setiap lorong yang ada di Mansion itu.
Kini Lily sudah berada di taman yang berada di belakang Mansion, tanaman bunga mawar dengan berbagai warna, dan tanaman bunga Lily yang persis seperti namanya, bunga-bunga itu bermekaran di sana dengan indah, membuat Lily semakin penasaran dan berjalan semakin mendekati taman bunga itu.
Ia berjongkok agar dapat mendekatkan batang hidungnya mendekat dengan bunga-bunga itu, agar dapat menghirup harum dari mereka.
Hingga sentuhan di pundaknya membuat ia terkejut dan memutar tubuhnya, agar melihat siapa gerangan. Sedetik kemudian Lily menutup mulutnya yang membuka lebar, ia tidak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat.
Lily berjalan mendekat. "Barra,, ada apa dengan wajahmu? Kenapa begitu banyak lebam di sana, dan kenapa keningmu di perban?" cerca Lily dengan berbagai pertanyaan, karna begitu terkejut melihat keadaan Barra yang sangat memperhatinkan.
Barra yang melihat ada kekawatiran di mata Lily membuat ia merasa senang, rasa sakit di tubuhnya seketia hilang setelah melihat wanita idamannya sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Terlihat senyum kecil di bibir Barra sebelum ia menjawab semua pertanyaan Lily. "Aku tidak pa-pa, hanya sebuah kesalahan kecil yang mengakibatkan wajah tampanku seperti ini."
"Ckckckck, dengan keadaan mu seerti ini, masih bisa membohongi ku."
Barra mengacak rambut Lily, dan mendapat pukulan di tangan Barra, tapi moment itu ia manfaatkan, menjaili Lily adalah kepuasan tersendiri bagi Barra.
Barra mengaduh kesakitan, ia pun sedikit membungkukkan tubuhnya seperti merasakan sakit di perutnya, Lily yang merasa bersalah pun akhirnya meminta maaf, dan memapah tubuh Barra untuk segera masuk ke dalam Mansion.
"Maafkan aku, tadi aku reflek."
"Tidak pa-pa, asalkan kamu bahagia, apa pun itu alan aku lkukan, meskipun aku harus merasakan kesakitan yang luar biasa." ucapan Barra yang kembali mendapat cubitan di lengannya.
"Ahh,,, sakit Baby, kenapa kamu jadi wanita sangat kejam, aku ini pasien yang sangat menderi saat ini, butuh di rawat, bukan pukulan atau cubitan." rutuk Barra kesal.
"Maka dari itu, tutup mulut buaya mu itu, sebelum aku kembali menghajar mu, dan meminta penjelasan kemana kamu pergi dalam satu minggu ini, dan kembali dengan keadaan mengenaskan." omel Lily panjang lebar kepada Barra.
Mendengar perkataan Lily, Barra hanya terdian, entah apa yang ia pikirkan saat ini, dan entah rahasia apa yang sedang ia sembunyikan dari Lily, hanya ia dan Tuhanlah yang tahu.
Bersambung....