Penolakan

612 Kata
Lily menopang tubuh Barra untuk tidur di ranjangnya, ia pun duduk di pinggiran kasur. "Apa itu masih sakit?" tanyanya pelan. "Ehmm,,,, sakit sedikit." "Apa yang kamu lakukan, hingga wajah mu seperti ini." Barra sedikit bingung memikirkan alasan apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan wanita di hadapannya saat ini, tapi mendengar kembali ucapan Lily, ia seperti mendapatkan ide. "Apa kamu mengalami perampokan?" Barra berdehem sebelum menjawab pertanyaan wanita itu. "Iya Baby, saat aku ingin pulang, aku mengalami perampokan, dan saat itu pengawalku sedang ke toilet, beberapa hari lalu aku di rawat, dengan keadaanku yang seperti ini, aku tidak sanggup memberitahumu, aku takut akan membuatmu mengkhawatirkanku." dusta Barra mampu menghipnotis Lily dan membuat wanita itu percaya. "Kamu begitu menyedihkan, yasudah, kalau begitu kamu istirahat saja." saat Lily ingin melangkahkan kakinya, pergelangan tangannya di tahan oleh Barra, dan membuat ia menolah. "Kamu mau kemana?" "Aku ingin mandi." "Itu kamar mandi." Barra menunjuk kamar mandi yang ada di kamarnya. "Aku ingin mandi di kamar lain." Barra menarik tangan Lily, membuat ia duduk di pangkuannya. "Itu kamar mandi kita, ini kamar ku dan kamar kamu juga, tidak ada yang mengizinkan kamu mandi di kamar lain." Wajah Lily sontak bersemu merah mendengar ucapan pria itu. Ia menundukkan wajahnya dan menjawab dengan lirih. "Lepaskan aku Bar, aku tidak mau mandi di sini." "Tidak ada penolakan, mandi di sini, atau kita mandi berdua." Lily mendongakkan wajahnya menatap Barra, sedetik kemudian ia ingin bangun dari dekapan Barra, tapi lelaki itu menahannya dengan kuat dan mengangkatnya untuk berbaring di ranjang. "A.. Apa yang kau lakukan Barra?" tanya Lily gugup saat Barra menindihnya. "Yang ku lakukan? Emmm.. Aku ingin memandang wajahmu yang sedang bersemu merah ini." goda Barra kepada wanita itu. Lily memalingkan wajahnya, jantungnya terus berdegup kencang tidak seperti biasanya, berdekatan dengan Barra mampu memompa jantungnya dua kali lebih cepat. Barra memainkan jemarinya di wajah Lily, terus memandangnya dan menampilkan senyum penuh pesonanya. "Aku menginginkanmu Baby." ucap Barra yang langsung mencium bibir Lily tanpa meringatan, membuat wanita itu tanpa sengaja menggigit bibir bawahnya. Perbuatan Lily membuat percikan api hasrat Barra semakin menggebu, Barra mengabaikan rasa sakit di bibirnya, ia kembali melu*mat bibir ranum Lily meskipun tiada balasan dari wanita itu. "Ehmm,,, le... Lepaskan aku Bar." gumam Lily di sela lamut*an yang di ciptakan oleh Barra. Barra menghentikan aktifitasnya, ia kembali memandang wajah ketakutan Lily. "Menurutlah Baby,,, selagi aku memperlakukanmu dengan lembut. Aah,, apa kau ingin aku memberimu obat perangsang, agar kau merasakan kesakitan terlebih dulu, baru aku menikmatimu." Lily menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan lakukan ini Bar, aku mohon jangan perlakukan aku seperti wanita jalang." "Persetan dengan semua itu." bentak Barra yang sontak membuat tangis Lily pecah. "Terus menangis jika kau ingin kembali menelan pil ini." Barra mengambil botol yang ada di dalam laci, dan itu membuat Lily semakin memundurkan tubuhnya hingga menyentuh kepala ranjang, ia terus menangis tersedu-sedu. Barra mengusap wajahnya frustasi, ia pun mendekati Lily. "Maafkan aku Baby, aku hanya terbawa suasana, maafkan aku." Barra mendekap Lily dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Tanpa menolak, Lily terus menangis di dalam pelukan Barra, Barra terus mengecup puncak kepala Lily, dan mengusap punggung wanita itu, ia terus merutuki perbuatannya yang membuat Lily ketakutan, beberapa menit telah berlalu, Barra tidak mendengar tangisan Lily, ia pun sedikit merenggangkan pelukannya. Barra menggeleng tak percaya, saat melihat Lily tertidur didalam pelukannya, Barra pun perlahan menidurkan Lily dengan posisi nyaman dan menyelimutinya. Barra menarik rambutnya yang sedikit panjang itu, ia pun menghembuskan nafas kasarnya. "Hufftt.. Kau tertidur dengan nyaman di pelukanku, dan aku berakhir di kamar mandi dengan sabun, karna saat berdekatan denganmu aku menginginkan lebih dan membuatku candu." rutuk Barra yang langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi.. Bersambung... Maaf kalau banyak Typo
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN