Sisi Lembut

708 Kata
Pagi ini langit tampak begitu menggelap, gemuruhnya guntur terdengar begitu kuat, rintikan air hujan mulai turun setetes demi setetes, dinginnya angin dan tingginya suhu AC membuat dua insan yang sedang tertidur pulas semakin mengeratkan pulukannya. Dekapan di bagian perut yang begitu kuat membuat Lily semakin sesak, ia pun menggeliat, dan perlahan mengedipkan matanya berulang kali. Ia melihat tangan kekar yang melingkar di perutnya dan terdengar dengkuran halus dari belakang tubuhnya, wanita itu pun menoleh. Lily menghembuskan nafas dan berdehem, ia pun mencoba mengurai pelukan Barra, tetapi bukannya berhasil, malah Barra semakin membawa Lily dalam dekapannya, kini wajah Lily bertemu dengan d**a Barra yang tidak menggunakan apa pun, sontak membuat Lily melihat pakaiannya. "Hufftttt." "Syukur deh, aku kira dia akan menunggangiku di saat aku tertidur pulas." gumamnya lirih Lily menatap wajah Barra yang sedang tertidur pulas, ia pun melengkungkan sedikit bibirnya ke atas. "Kamu begitu tampan, tapi sayang, kamu sangat posesif dan menjadi pria penguntit sialan." Lily mengangkat tangan kanannya, mendaratkan jari telunjuknya di kening Barra, turun ke hidung, dan turun ke bibir, bibir yang sedikit tabal, dan berwarna merah muda, tanpa sadar ia pun menelan salivanya. Tanpa ia sadari, Barra sedang memperhatikannya, dan sedetik kemudian Barra mengecup jari telunjuk Lily, sontak membuat wanita itu tersadar dan menarik jemarinya dengan cepat. Barra tersenyum, ia pun mengecup kening Lily. "Pagi Baby." Lily tidak menjawab, ia membenamkan wajahnya kedalam selimut, mungkin saat ini wajahnya telah bersemu merah karna malu. "Kamu kenapa?" tanya Barra menggoda. "Eumm,,, tidak." Barra menarik selimut yang menutup seluruh tubuh Lily, tapi wanita itu menahannya dengan kuat, dan detik selanjutnya Barra mengibaskan selimut itu dengan kekuatan lebih dari Lily, selimut malang itu pun terjatuh ke lantai. "Haisss,,, kau begitu kasar." rutuk Lily, dan wanita itu pun ingin bangkit, tapi pinggangnya tertahan oleh tangan Barra. "Lepaskan Bar, lihat itu sudah jam berapa," tunjuk Lily ke jam yang tertempel di dinding. "Apa kamu tidak pergi bekerja?" imbuhnya lagi. Barra menurunkan suhu Ac di dalam kamarnya, ia pun menekan tombol otomatis yang membuat gorden terbuka perlahan, ia pun menjentikkan tangannya untuk mematikan lampu. Melihat kelakuan Barra yang dengan otomatis membuka gorden dan mematikan lampu di dalam kamar membuat Lily terperangah dan mulutnya menganga. Barra mengubah posisinya dari tertidur menjadi duduk, ia membuat Lily berada di kedua sisi kakinya, Barra pun menaruh dagunya di pundak wanita itu, ia pun menaburkan kecupan lembut di leher jenjang Lily. Tubuh wanita itu bergetar, ia pun meremas kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan Barra?" tanyanya sambil menahan gejolak aneh di tubuhnya. "Sedang menggoda mu." jawab Barra yang mampu membuat tubuh Lily semakin menegang.. "Hentikan Bar, apa kau tudak bekerja? Sekarang sudah jam 09.00." "Lihatlah keadaan di luar, hujan turun begitu lebat, aku malas untuk pergi ke kantor, lagian aku bisa menghandle pekerjaanku di mana pun aku berada." "Terserah padamu, tapi lepaskan aku, aku ingin turun." "Tapi aku menginginkanmu, Baby." Tanpa menunggu jawaban dari wanita itu, Barra langsung memutar tubuh Lily, dan mendudukkannya di kedua pahanya, ia langsung menciu*m bibir wanita itu, tapi ciumannya terlepas dan Lily langsung menutup bibirnya dengan kelima jarinya. "Aku belum gosok gigi Bar." Barra bersiap untuk menggendong tubuh Lily, tapi tertahan karna Lily menahan pergerakan tangannya. "Mau ngapain?" "Ke kamar mandi, kamu ingin gosok gigi terlebih dahulukan, baru kita melakukannya." Lily menghela nafas pasrah, berdebat dengan sosok pemaksa seperti Barra pasti tidak akan berhasil. Ia pun tersenyum masam. Barra menggendong tubuh mungil Lily dengan gaya bridal style, Lily yang tampak malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya ke d**a bidang Barra. Perlahan Barra mendudukkan tubuh Lily di nakas samping wastafel, ia pun mengisi gelas berwarna ping dengan air bersih, kemudian memberikan sikat gigi yang sudah di beri pasta gigi rasa apel, Lily tersenyum dan menerimanya, Barra pun melakukan hal yang sama, ia mengisi gelas berwarna biru dengan air, dan mulai menggosok giginya. Lily tersenyum di tengah kegiatannya, ia tidak menyangka Barra bisa seperhatian ini dan memperlakukannya dengan lembut. Beberapa menit pun telah berlalu, mereka berdua telah selesai menuntaskan kegiatannya. Tapi mereka tak kunjung pergi dari tempat itu, Barra terus menatap wajah Lily, "Apa sekarang boleh?" tanyanya sambil memamerkan senyum menggoda. Lily memutar matanya jengah, menolak pun percuma, sedetik kemudian ia pun mengangguk pelan. Setelah mendapat persetujuan dari Lily, Barra pun tersenyum senang dan langsung mendaratkan kecupan bertubu-tubi di bibir tipis Lily. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN