Annoying

1295 Kata
Ara sudah sebulan bekerja disana, Jae Hwan memang seseorang yang bisa ia pegang janjinya meski terkadang Ara sendiri yang mencuri pandang pada lelaki itu bagaimana tidak, bahkan visualnya saja sudah membuat ia tanpa sadar memperhatikan atasannya tersebut meski setiap hal itu terjadi akan ada titik dimana kebencian Ara pada pria yang pernah datang di kehidupannya itu muncul kembali. Ara pun mulai melihat sisi lain dari Jae Hwan yang ia kira lebih dewasa dari dirinya 3 tahun lalu. Sedikit demi sedikit hatinya mulai melupakan apa yang lelaki itu pernah lakukan meski belum sepenuhnya. Ara tidak bisa mengatur perasaannya untuk membenci atau tidak hatinya berkehendak. "Ara ssi bagaimana kalau kita makan bersama?" itu adalah ajakan dari Calvin seorang pemuda Indonesia juga yang bekerja sebagai desain grafis disana, pemuda tampan dengan kulit putihnya karena Calvin seorang keturunan Chinese. Ara mengenalnya ketika tidak sengaja satu lift seminggu lalu, Calvin tengah menelepon keluarganya dan berbicara dalam bahasa Indonesia membuat Ara tanpa sadar memandang lelaki itu yang salah tingkah karena tatapan Ara yang intens. "Assha (asyik), Kang Sol eonni kau juga ikut dengan kami?" Ara tampak sangat senang memiliki teman lain disana. "Mianhaeyo Ara-ya, kau duluan saja aku akan pergi setelah dokumen ini selesai." Balas Kang Sol sambil tersenyum. Lalu telepon di meja mereka berdering, Kang Sol mengangkatnya dan melirik Ara sekejap. "Ara ssi kau di minta datang ke ruangannya." Bisik Kang Sol sebab mereka tahu bosnya melihat dari balik kaca ruangannya. Ara kemudian memandang Calvin dan memasang wajah kesal. "Gwenchanhayo Ara ssi kita bisa makan bersama lain kali." Lelaki itu tersenyum kemudian melambaikan tangan dan pergi sementara Ara menarik nafas untuk masuk ke ruangan Jae Hwan, hanya perlu waktu 5 menit sampai Ara keluar lagi dari sana. "Apa katanya?" "Menyebalkan," "Wae?" Kang Sol tampak penasaran. "Dia hanya bertanya apa tadi pagi aku datang terlambat," Ara menjelaskan dengan kesal membuat Kang Sol terkikik dan heran secara bersamaan. "Apa sepenting itu, dia bisa mengeceknya sendiri tanpa menggangguku." "Yaa, tapi kau ingat kemarin lusa dia juga melakukan hal yang sama saat kau akan pulang bersama temanmu itu!" "Ooh, dia memanggilku dan menyuruhku diam di ruangannya selama setengah jam karena dia bosan," "Aku sampai harus menyuruh Calvin pulang lebih dulu. Benar-benar mengesalkan." Gadis itu semakin kesal mengingat tingkah atasannya tersebut. "Ini aneh, kenapa dia bertingkah begitu padahal tidak biasanya. maksudku aku tahu dia menyebalkan tapi dalam versi yang berbeda." Kang Sol seperti tengah menyelidiki Ara, namun gadis itu tidak menghiraukannya. Ia hanya memandang ke arah ruangan Jae Hwan dengan kesal tanpa bisa berbuat apa-apa. "Sudahlah, aku akan menemanimu makan kau tunggu disini. Kita pergi setelah aku meminta tanda tangan Kim sajang (Direktur Kim)." "Assha!!" Setidaknya ajakan Kang Sol membuat mood Ara sedikit lebih baik, gadis itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya yang membuat Kang Sol juga menjadi tersenyum. "Gomawoyo eonni (terimakasih kakak)." "Ya. Berhenti memanggilku eonni. Kau membuatku merasa sangat tua." Ucap Kang Sol sambil bangkit dari duduknya membawa map yang tadi ia sebutkan. "Eonni ... Kang Sol eonni ... Hahahaha." Ara malah menjahili rekan kerjanya yang hampir mengetuk pintu ruangan Jae Hwan dan membuat keduanya tidak dapat menahan tawa. Kemudian ketika mereka tengah bersiap pergi keluar untuk makan siang, Jae Hwan keluar ruangannya membuat kedua gadis itu membungkuk sebentar sebagai tanda hormat. "Kalian akan pergi makan?" "Ne sajangnim kami berencana makan jajangmyeon (mi kacang hitam)." "Kau menolak makan di kantin kita yang bersih dan makan makanan seperti itu?" tanyanya heran dan jawaban Jae Hwan membuat Ara memandangnya dengan kesal. Jae Hwan sangat tahu cara membuat Ara kesal sebab gadis itu tidak suka seleranya di kritik dan melihat wajah cemberut Ara pria itu tahu bahwa gadisnya tidak berubah sejak dulu. "Ne (iya), Ara sangat ingin makan di luar" "Kalau begitu aku ikut, kalian naik mobilku saja." Itu adalah perintah bukan ajakan, dan Jae Hwan menunjukan sisi menyebalkan dari dirinya. Lagi. "M-mwo ?" tanya Ara kaget. "Wae? apa aku tidak boleh ikut makan dengan karyawan ku," "Aku hanya ingin mengakrabkan diri dengan kalian!" meski begitu Ara tahu itu hanya alasan Jae Hwan saja tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa juga untuk melarangnya beruntungnya ada Kang Sol yang menemani mereka sehingga Ara tidak perlu pergi berdua dan membuat suasana tidak nyaman. "Kau yakin akan makan disini?" hanya itu yang bisa Jae Hwan ucapkan ketika melihat tempat yang mereka kunjungi adalah bagian dari masa lalu juga. Ara duduk di depan Jae Hwan di sampingnya juga ada Kang Sol yang sedikit canggung sebab atasan mereka tengah duduk satu meja dengannya untuk pertama kali namun tidak begitu dengan Ara ia tampak terbiasa dengan kehadiran pria tersebut dan hal itu membuat Kang Sol sedikit heran, sepertinya memang ada sesuatu di antara mereka begitu pikirnya. Kedai itu ramai tempatnya juga bersih dan tidak terlalu jauh dari kantor mereka hanya perlu 5 menit dengan mobil padahal kedua gadis itu bisa saja pergi berjalan kaki namun sekali lagi ini karena bosnya. "Aku ingin jajangmyeon, kimbap dan odeng." Ara sudah memesan lebih dulu. "Ahh aku ingin dolsot bibimbap." Ketika giliran Jae Hwan semua memandangnya sebab atasan mereka itu terlihat bingung mau memilih apa ia hanya tahu odeng dan jajangmyeon sebab ia sering memakannya dulu bersama Ara tapi apa itu saja yang harus ia pesan, dan mie kacang hitam itu. Ahh ya ampun ia tidak bisa memakannya. "Ahh ... pesankan aku juga menu yang sama dengannya." Jae Hwan menunjuk Ara dengan isyarat dagunya. "Ohh baiklah!" "Kau yakin akan makan jajjangmyeon? terakhir kali kau memakannya alergi mu kambuh." Ucap Ara acuh tak acuh, ia tak menatap lelaki itu dan hanya menuangkan air dari botol. "Hah malldo andwe (tidak mungkin), aku bisa memakannya!" Jae Hwan seperti tengah meyakinkan dirinya sendiri. "Keras kepala." "Tunggu, terakhir kali yang kau maksud itu ...." Kang Sol tidak bisa menahan rasa ingin tahunya namun tidak satu pun dari mereka berniat menjelaskan, Ara jelas menghindar namun Jae Hwan hanya tidak peduli. Makanan mereka sudah datang, Ara memandang Jae Hwan hampir tidak percaya ketika lelaki itu hampir menghabiskan mi kacang hitamnya dengan lahap ia bahkan menyeruput kuah odeng dari mangkuknya tanpa ragu, Kang Sol jelas lebih terkejut dari sebelumnya ia benar-benar melihat sisi lain bosnya setelah hampir 2 tahun bekerja dengan pria paling mengesalkan ini. Satu jam mereka habiskan untuk makan siang, tidak ada obrolan selain dari Kang Sol dan Ara sementara Jae Hwan hanya memandang mereka antusias, ia melihat Ara yang semakin ceria dan memberi energi positif seperti gadisnya dulu. "Ahhjussi (paman), bisakah kau berhenti di depan sebentar?" ucap Ara kepada supir di depannya saat mereka tengah berada di mobil. "Waeyo (kenapa)?" Kang Sol bertanya heran. "Tunggu sebentar aku ingin membeli sesuatu." Ara turun dan berlari kecil masuk ke dalam sebuah toko yang ternyata apotek mereka sedikit bingung namun tidak bertanya apa-apa ketika Ara kembali masuk ke mobil. "Kaja (ayo pergi)!" Ketika sampai di kantor mereka kembali di sibukkan dengan pekerjaan, Ara kemudian mendatangi ruangan Jae Hwan untuk menyerahkan beberapa berkas dari divisi marketing, namun ketika Ara mengetuk kaca ruangan Jae Hwan ia tidak mendapat jawaban ia juga tidak bisa melihat ke dalam sebab kacanya merupakan jenis one way mirrored glass, Ara sedikit bingung dan bertanya-tanya dalam hati kemudian ia teringat satu kejadian dimana Jae Hwan pernah tidak menjawab saat ia memanggilnya dalam kamar dan ternyata Jae Hwan sedang sesak nafas di sebabkan alerginya terhadap kacang-kacangan, tanpa sadar Ara sedikit berlari ke mejanya membuka laci dan mengambil sesuatu disana tanpa mengetuk pintunya lagi ia langsung masuk ke ruangan Jae Hwan dan ternyata benar lelaki itu tengah memegang dadanya sesak, Ara kemudian mengambil air dalam gelas untuk Jae Hwan meminum obat yang di bawanya Jae Hwan dapat melihat dengan jelas gadis itu panik sekali melihat ia dalam kesakitan dan entah kenapa Jae Hwan merasa sedikit lega. "Aku sudah peringatkan, tapi kau memang keras kepala, bodoh!" gadis itu malah mengumpat namun Jae Hwan alih-alih marah tapi ia malah sedikit tersenyum dan percayalah, gadis itu melihatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN