Ara pergi dari ruangan itu, ia benar-benar sudah di buat kesal seakan hidupnya sedang di permainkan oleh Jae Hwan namun ia tidak punya pilihan untuk menolak sebab tadi pagi dengan ketidaktahuannya ia sudah menandatangani kontrak kerja selama dua tahun, langkahnya tertuju pada toilet ia membuka salah satu pintunya dan duduk di atas kloset yang tertutup berdiam disana selama hampir 15 menit pikirannya berputar ke masa lalu dan hak sepatunya terus menerus mengetuk lantai ia memang sudah memaafkan lelaki itu setelah 3 tahun berlalu namun ia masih ingat rasanya hari itu. Di kecewakan. Di sakiti. Ara yang mati-matian bertahan dari kejatuhan mental kala itu mana mungkin kembali seperti seharusnya dalam waktu sekejap dan kini bahkan setelah begitu lama Ara tidak menyangka bahwa melihat lagi pria itu membangkitkan luka yang berusaha ia buang.
Seseorang lalu mengetuk pintunya, itu adalah Kang Sol wanita yang akan jadi rekan kerjanya, ia mengatakan bahwa bos memanggilnya ke ruangan. Menyebalkan. Mendengar namanya saja sudah membuat Ara bergetar. Tapi sekali lagi ia sungguh tidak punya pilihan.
"Aku tidak ingin kau mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, aku berjanji tidak akan mengganggumu." Jae Hwan sedikit gugup ia jelas terintimidasi dengan pandangan tajam Ara. Gadisnya.
Padahal hampir semua karyawan merasakan hal yang sama pada Jae Hwan tapi dengan bodohnya ia malah di kendalikan oleh gadis ini. Seperti dulu dan saat itu ia menyadari bahwa perasaannya belum berubah.
"Baiklah." Hanya itu yang Ara sanggup katakan, ia tidak mau berlama-lama berdua dengan lelaki ini.
"Lagipula jebakan mu membuatku tidak memiliki pilihan lain." Ara menarik kesimpulan sendiri.
Jae Hwan ingin membantah tapi ia tahu seberapa keras kepalanya Ara dengan pendiriannya jadi ia tidak ingin bersitegang di hari pertama mereka bertemu lagi.
Hari itu pekerjaan baru Ara di mulai, Kang Sol jelas senang sebab ia memiliki teman mengobrol juga berbagi penderitaan harinya selama ini sangat mengesalkan hanya karena mengurus satu orang atasan saja. Meski begitu Kang Sol masih heran kenapa atasannya sangat menginginkan Ara menjadi sekertarisnya dan memanggil gadis itu secara pribadi mengingat untuk jabatan yang ia pegang Kim Jae Hwan adalah orang paling sibuk dan tidak mengurusi hal sepele tapi Kang Sol tidak bertanya apapun mengenai hal itu, ini adalah hari pertama Ara ia tidak ingin membuatnya tidak nyaman dengan bertanya hal pribadi.
"Kim Sajangnim tidak suka ruangannya berantakan tapi kau akan tahu bagaimana ia sendiri yang membuat kertas berserakan," Kang Sol tampak kesal saat membahas hal tersebut, "setiap pagi kau harus membuatkan Americano dan merapikan penampilannya begitupun setiap saat kau bertemu dengannya."
"Sisanya kau bisa membaca job desk di depanmu dan tanyakan apapun yang ingin kau ketahui."
Ara tersenyum ia senang karena rekan kerjanya adalah seseorang yang baik juga tidak sungkan membantunya padahal ini adalah pekerjaan pertama Ara jadi ia sangat awam mengenai semuanya.
Hari itu Ara dan Kang Sol di buat sangat sibuk dengan banyaknya dokumen dan jadwal Jae Hwan, Kang Sol membagi tugasnya dengan Ara dan dengan sangat terpaksa Ara harus pergi keluar kantor dengan Jae Hwan untuk meeting setelah sebelumnya ia melakukan reservasi di sebuah restoran.
Ara duduk berdampingan dengan Jae Hwan di mobil yang sama lagi-lagi ia tidak punya pilihan namun Jae Hwan menepati janjinya ia tidak membicarakan hal pribadi dengan gadis itu, Ara juga ingin bersikap profesional karena ini adalah kali pertamanya bekerja ia terus mengecek jadwal Jae Hwan supaya tidak ada kesalahan, sebenarnya Ara menyukai pekerjaannya ia memang wanita yang ceria dan aktif sehingga menjadi sibuk membuatnya bersemangat.
Mereka lalu sampai di Shilla Seoul Hotel karena restoran yang mereka tuju berada di atapnya, La Yeon. Restoran itu menawarkan pemandangan kota yang luar biasa apalagi pada malam hari. Ada banyak pelayan di pintu masuk dan salah satunya mengantar mereka ke sebuah private room yang telah Ara pesan, pelayan tersebut menarik kursi untuk Ara dan juga Jae Hwan lalu pergi meninggalkan mereka dan menunggu di luar pintu.
"Terlambat," Jae Hwan berucap dan jelas Ara paham maksudnya adalah partner bisnis mereka.
"Mereka melakukan ini karena berpikir kita membutuhkan mereka sebagai partner. Tindakan bodoh." Jae Hwan terus saja berbicara pada dirinya sendiri dengan kesal sedang Ara tidak menanggapi.
"Aku ingin Champagne!"
Ara paham lalu gadis itu memanggil pelayan yang ada di sana untuk mendekat, ia memesan Deutz Classic Champagne salah satu yang paling mahal disana, Jae Hwan bahkan sudah menghabiskan satu gelasnya namun klien nya tidak kunjung datang membuat Jae Hwan mengabiskan kembali gelas keduanya dan menarik dasinya supaya sedikit longgar.
Hampir satu jam dan mereka belum juga datang membuat Jae Hwan hampir meraih botol Champagne nya lagi namun di cegah oleh Ara sehingga membuat Jae Hwan memandang wanita itu.
Mereka hanya mematung disana, Ara seperti melihat sosok Jae Hwan 3 tahun lalu. Kacau.
Setelah menunggu lama mereka akhirnya berniat keluar dari sana dengan keadaan Jae Hwan yang sedikit kacau, Ara kemudian membetulkan posisi dasi milik atasannya tersebut tanpa maksud apapun namun Jae Hwan jelas sangat gugup juga senang ini kali pertamanya menjadi seintim ini lagi dengan Ara, ia melihat wajah gadis itu tidak berubah masih secantik dulu bahkan mungkin lebih lagi tapi bagi Jae Hwan gadisnya memang selalu yang paling cantik.
"Anda tidak bisa keluar dengan penampilan begini, mungkin saja akan ada wartawan atau siapapun yang mengenali anda." Ara lalu mempersilahkan bosnya untuk berjalan di depan ia hanya mengikuti saja. Ini jadwal terakhir Jae Hwan sehingga Ara lega tidak membuat kesalahan sejauh ini, ia ingin segera pulang ke apartemen kecilnya dan beristirahat, hari pertama memang selalu melelahkan ia belum terbiasa.
"Kau tinggal dimana sekarang akan ku antar kau pulang?"
"Anda tentu tahu." Ara bersikap sopan agar mereka tidak melewati batas meski hatinya jelas menolak.
Keduanya lalu terdiam tidak saling berbicara lagi, sampai Jae Hwan menyebutkan arah kepada supirnya, Ara tetap saja diam meskipun ada yang berdesir dalam hatinya ketika kenyataan bahwa Jae Hwan masih mengingat tempat tinggal Ara, ia sedikit mengantuk lalu bersandar pada kaca mobil berharap bisa beristirahat sebentar sebelum sampai.
Jae Hwan sesekali melirik gadis itu, namun ketika Ara benar-benar terlelap pria itu tidak segan memandang gadisnya lekat. Entah apa yang Jae Hwan pikirkan sebab matanya sedikit memerah dan berkaca ia juga terlihat ingin meraih Ara untuk tidur di bahunya seperti dulu saat Ara sering mengajaknya naik bus dan tertidur, Ara tidak suka dengan fasilitas milik Jae Hwan baginya naik bus berdua adalah hal yang romantis, Jae Hwan tiba-tiba tersenyum mengingat kenangan itu gadisnya memang tidak seperti yang lain. Ia menarik kembali tangannya agar tidak meraih Ara dan menyebabkan kecanggungan diantara keduanya bahkan di hari pertama. Nanti. Jae Hwan dengan sabar menunggu.
Jae Hwan menepuk pundak sopir di depannya, memberi isyarat agar menjalankan mobilnya dengan lambat agar gadis itu tidak terganggu, juga karna Jae Hwan ingin memiliki waktu lebih lama di samping Ara.
Tak lama mereka sampai di gedung apartemen Ara, sesuatu yang tidak bisa di bandingkan dengan miliknya namun Jae Hwan seperti tengah bernostalgia terlalu banyak kenangan disana, ia ingin turun dan mengantar Ara namun ia teringat batasan apa yang mereka miliki sekarang. Ia hanya tidak ingin membuat Ara merasa tidak nyaman.
"Sajangnim, terimakasih sudah mengantar saya!" ucap gadis itu, terlalu formal untuk mereka membuat Jae Hwan sedikit sedih namun Ara sengaja melakukan itu agar Jae Hwan sadar mereka bukanlah mereka 3 tahun lalu. Pria itu hanya menunduk sebagai jawaban lalu mobil melaju meninggalkan Ara.
Mobil berjalan dengan lambat sebab jalan yang tidak terlalu lebar di area itu dari sana sepasang lelaki dan perempuan tengah berjalan berpegangan tangan sekali lagi membuat Jae Hwan mengingat kenangannya, ia juga melewati kedai sundae yang biasa mereka kunjungi sebab Ara sangat menyukai odeng disana, meski tidak menyukai sundae setiap turun dari halte bus menuju apartemen mereka akan mampir dan menghabiskan beberapa tusuk, Ara yang mengenalkan Jae Hwan dengan jajanan pinggir jalan seperti odeng dan tteokbokki padahal Ara bukan orang korea seperti dirinya tapi bodohnya Ara lebih tahu banyak hal. Tanpa sadar Jae Hwan tersenyum sendiri, sepertinya kenangan itu kembali lagi ketika ia sadari masa lalunya begitu manis bersama gadis itu semua tempat seperti pernah mereka kunjungi sehingga kadang Jae Hwan merasa hampir gila dengan kenangan yang otomatis muncul di kepalanya.
Ia kemudian sampai di apartemennya, tempat yang sama sejak dulu meski sudah bekerja dengan ayahnya ia tidak ingin serumah dengan mereka ia menyukai hidupnya.
Dan lagi-lagi ia teringat Ara, hidupnya akan sepenuhnya kembali jika Ara ada disini, kali ini ia tidak bisa menahannya lagi.
Pria itu menginginkan gadisnya kembali. Lagi.