Ara tengah duduk di kursi panjang bersama beberapa orang yang berpakaian sama formal dengannya, gadis itu mengenakan blouse berwarna cream dengan skirt putih di atas lutut rambutnya ia ikat kuncir kuda kemudian dibuat sedikit curly, ia sesekali melirik jam kecil di pergelangan tangannya seperti menunggu sesuatu. hampir setengah jam ia duduk di sana sampai seorang wanita memanggil namanya dan Ara mengangguk mengikuti masuk ke sebuah ruangan di lorong kanan.
Ia tengah mengikuti interview untuk posisi sekertaris, Ara sedikit tidak percaya diri mengingat ia bukan warga negara Korea meski kemampuan bahasanya sangat baik ia bahkan menguasai bahasa inggris dan china di dukung dengan wajah yang tak kalah cantik juga postur yang proporsional.
Interviewnya berjalan sekitar 20 menit, 2 orang laki-laki dan seorang perempuan yang bertanya padanya bergiliran dan Ara menjawab dengan baik. Salah satunya terlihat takjub mengetahui Ara fasih 4 bahasa jika di tambah dengan bahasa Indonesia karena ia memang berasal dari sana, jelas saja kemampuan Ara memang di atas rata-rata ia telah suka belajar bahasa asing sejak kecil.
"Jika anda terpilih kami akan menghubungi anda besok." Ucap dari salah seorang yang melakukan interview pada Ara. Gadis itu membungkuk kemudian keluar ruangan dengan perasaan lega, setidaknya ia sudah mencoba. Perusahan Hanbom adalah salah satu perusahan besar yang bergerak di bidang properti, akan sangat menakjubkan jika Ara bisa bekerja di tempat ini.
Gadis itu mampir sebentar di sebuah coffee shop yang letaknya berada di seberang kantor membeli americano dan satu tumbler besar Vanilla Latte untuk ia bawa pulang.
Esok paginya gadis itu sudah bangun membereskan kamar tidurnya yang cukup luas untuk ia tinggali sendiri, mandi dan berpakaian rapi meski Ara tidak punya kegiatan apapun hari ini, entahlah ia hanya sedang ingin saja. Kemudian ponselnya berbunyi ketika gadis itu tengah menikmati sarapan paginya satu panggilan dari nomor tidak di kenal yang hampir membuatnya tersedak.
Gadis itu berdiri dari duduknya sambil terperangah dengan ponsel yang masih menempel di telinga kemudian terduduk lemas setelah panggilan berakhir seakan apa yang baru di dengarnya adalah hal yang sulit ia cerna tak berselang lama ia bergegas mengganti pakaian dengan sesuatu yang lebih formal dan keluar kamar dengan suasana hati gembira.
Ara dipanggil untuk menemui bagian HRD setelah interview kemarin gadis itu dengan gugup mendengarkan kata-kata panjang lebar yang intinya gadis itu di terima ia kemudian keluar ruangan setelah mereka menjabat tangannya dengan antusias, Ara akan mulai bekerja besok gadis itu tidak bisa menutupi rasa bahagianya ia hampir saja melompat kegirangan saat di dalam ruangan tadi untung saja otaknya langsung merespon untuk tetap mengontrol diri.
"Kau akan di tempatkan menjadi sekertaris manager divisi marketing, detailnya akan kami jelaskan besok."
"Semoga kita bersama bisa membangun perusahan ini menjadi lebih baik lagi."
Begitu yang Ara ingat selebihnya ia lupa di dalam otaknya sedang terjadi eforia yang membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain. Ara berjalan dari ruangan HRD menuju lobby dengan senyum yang tak lepas, otaknya masih belum sepenuhnya percaya namun ia harus merayakan hari ini begitu pikir Ara. Tanpa gadis itu sadari ada sepasang mata yang memandangnya lekat, seperti meyakinkan diri dengan apa yang ia lihat.
"Malldo andwe (tidak mungkin)!" ucap seseorang tersebut.
Esoknya, Ara sudah bersiap untuk berangkat kerja di hari pertamanya ia pergi naik bus lebih awal bukan karena khawatir lalu lintas macet tapi karena ia tidak sabar untuk memulai aktifitas barunya, terakhir kali ia bekerja adalah saat kuliah itupun hanya kerja sambilan di cafe dan dan resto ayam goreng, Ara menyukai kesibukannya sebab itu membuatnya tidak ada waktu melamun atau memikirkan hal lain termasuk masa lalunya yang jelas ingin ia lupakan.
Ara mengeluarkan earphone dari tas kecilnya, mulai mendengarkan alunan energik dari kokobop milik Exo, ia harus membuat harinya bersemangat dengan mendengarkan lagu seperti ini sambil memandang keluar jendela menikmati udara yang sejuk dari musim gugur yang menyenangkan. Lagunya lalu berganti membuat Ara langsung tersentak lagu yang sudah lama tidak ia dengarkan sebab ia tidak ingin, liriknya terlalu pilu dan membuatnya mengingat seseorang, padahal ia amat menyukai suara Jung Seung Hwan tapi ia menekan tombol paling kanan pada layar dan musik berganti lagi pada nada yang lebih up beat membuat Ara menarik nafas sedikit, sampai akhirnya Ara sampai di halte dimana dia harus turun. Kantor barunya. Hanbom Property.
Ia mengeluarkan Id Card dan menggantungnya di leher, benda tipis yang sejak kemarin ia pandangi kemudian ia usap dengan ibu jari berkali-kali karena masih belum percaya dengan kebahagiaannya ini lalu Ara melangkah ke bagian lobby menuju arah dimana lift berada menekan tombol ke lantai 5 seperti sudah hafal padahal ini pertama kalinya bagi Ara, ia sedikit gugup karenana ada karyawan lain di dalam lift padahal mereka juga tengah sibuk dengan dirinya masing-masing.
"Oh kau, kau sekertaris baru bukan?" seseorang bertanya pada Ara ketika ia sampai di divisi marketing.
"Ne, bujangnim (iya, pak manager)." Ara mengetahuinya dari Id card yang pria itu gunakan.
"Kau pergilah ke lantai 12!"
"Ne (apa)?"
"Ahh begini, kau di pindahkan ke bagian direksi. cepatlah sajangnim tidak akan suka kalau kau terlambat." Ia menyuruh Ara pergi dengan mengibaskan tangannya.
"Sa-sajangnim?" Ara terperanjat, artinya ia bekerja untuk seseorang paling berkuasa di kantor.
Ara yang bingung mengikuti saja apa arahan dari manager tersebut ia kembali menaiki lift dan sampai di lantai 12 yang terlihat lebih mewah dari apa yang ia duga.
"Ara ssi?" seorang gadis yang Ara tebak adalah resepsionis di lantai itu menyapanya tanpa Ara sempat menjawab ia sudah di persilahkan masuk ke sebuah ruangan yang hanya berdinding kaca sepenuhnya. Ia membuka pintu dan mendapati pria itu duduk di sana, Ara hampir tak bisa bereaksi mengetahui fakta bahwa bosnya adalah lelaki paling b******k dalam hidupnya. Dan orang yang tidak ingin ia temui sepanjang sisa umurnya
"Ara ssi, senang bertemu denganmu."
"Lagi."
Jae Hwan tengah berjalan menuju lobby, ia harus pergi menghadiri rapat di IC Corp salah satu perusahaan partner bisnisnya, ia tidak sendiri sekertaris di sampingnya terus saja berbicara mengenai apa-apa saja jadwal Jae Hwan juga detail lainnya. Namun, tiba-tiba saja pria itu mengangkat tangan sebelah kanannya memberi isyarat untuk diam, mereka berhenti disana mematung dan tidak berkedip sekertarisnya bahkan di buat heran dengan apa yang menjadi fokus utama bosnya tersebut.
"Malldo andwe (tidak mungkin)."
"Apa yang tidak mung-"
"Kenapa wanita itu bisa ada disini?" Jae Hwan memotong ucapan sekertarisnya sebelum ia selesai bertanya menunjuk pada seorang gadis yang berjalan tidak jauh darinya.
"Ahh sepertinya ia mengikuti interview di lantai 7 atau mungkin orang dari perusahaan lain." Wanita itu mengangkat bahu memberi isyarat tidak tahu.
"Cari tahu!"
"Ne (apa)?"
"Kau tidak tuli, aku tidak akan mengulang. Beri aku laporannya setelah meeting ini selesai."
Wanita itu tidak membantah lagi, ia paham betul bosnya tidak bisa di tolak meski kali ini permintaannya tidak dia pahami, mereka lalu pergi setelah obrolan tersebut. Meski begitu Jae Hwan tampak terus memikirkan sesuatu selama perjalannya menuju tempat meeting. Kenangan tentang Ara muncul kembali Jae Hwan memang tidak pernah bisa melupakan Ara terutama luka yang ia buat untuk gadisnya itu, ini kali pertamanya melihat senyum Ara lagi bahkan dulu di saat-saat terakhirnya memiliki gadis itu, ia sudah tidak bisa lagi membuat Ara tersenyum. Ia mulai berpikir karena apa gadis itu begitu senang tadi, ia tidak sabar untuk mengetahuinya.
Pukul 4 sore ketika Jae Hwan selesai meeting dan kembali ke kantornya, ia tidak membiarkan sekertarisnya duduk di meja kerjanya dan langsung menyuruh wanita itu mengikuti ke ruangan Jae Hwan dan tanpa basa-basi lelaki itu bertanya hal yang sama tadi pagi.
"Sepertinya gadis itu memang datang untuk interview, ia diterima untuk posisi sekertaris Pak Lee Shang In manager divisi marketing."
"Minta kepala HRD ke ruangan ku sekarang." Lagi-lagi Jae Hwan memotong ucapan sekertarisnya, tanpa berkata lagi ia membungkuk hormat lalu pergi ke luar. Semua orang di kantor tahu Jae Hwan adalah bos paling menyebalkan ia juga sangat dingin dan sulit di dekati tapi kenapa ia sangat tertarik dengan gadis ini.
Jae Hwan tidak lama menunggu karena HRD nya terburu-buru menghadap, wanita paruh baya itu jelas kaget sebab tidak biasanya ia di panggil ke lantai 12.
"Aku ingin wanita yang akan menjadi sekertaris Lee Shang In kau pindahkan ke bagian direksi, jadi asisten pribadiku!"
"Ia bisa membantu tugas Kang Sol, aku butuh 2 sekertaris karna pekerjaanku yang menumpuk dan jadwal yang padat kau tahu." Tambahnya menjelaskan meski si HRD tidak bertanya.
"Tapi sajangnim manager Lee Shang In juga membutuhkan sekertaris baru." Kali ini kepala HRD itu bisa berkata.
"Kau bisa lakukan lagi interview seperti kemarin. aku tidak suka di bantah!" dan bertambah satu orang lagi yang terdiam dengan perintah Jae Hwan.
Esoknya, lelaki itu tidak sabar menunggu Ara di ruangannya ia gugup akan bagaimana reaksi wanita itu, meski Jae Hwan tahu Ara masih membencinya. Pasti.
Ia terus melirik jam tangannya namun gadis itu sudah tiba, tengah di antar oleh Kang Sol menuju ruangannya sontak saja ia buru-buru membuka sebuah map yang sesungguhnya sudah ia periksa tadi dan berpura-pura tidak sadar.
"Ara ssi, senang bertemu denganmu."
"Lagi." Jae Hwan hanya bisa mengucapkan kata itu, ia berlatih mengulangnya berkali-kali sejak tadi, ia tidak mau terlihat bodoh di depan Ara setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kau yang membuatku pindah ke bagian direksi?"
"Aku? tentu saja bukan!"
"Hah ... gotjimal (pembohong),"
"Kau tetap saja seperti itu, memuakan!"
Jae Hwan mematung mendengar cacian dari gadis itu, dalam hatinya ia jelas terluka.