Ara masih lelap di tempat tidurnya ketika ponselnya terus bergetar. Ia membiarkan benda itu berlaku sesukanya lagi pula siapa orang tidak tahu diri yang mengganggunya pagi buta begini.
Tapi ponselnya kembali bergetar membuat gadis itu terpaksa terduduk dengan mata terpejam, ia masih mengantuk. Rambutnya sedikit berantakan entah karena apa yang ia lakukan saat tidur. Perlu waktu sepersekian detik untuknya membuka mata dan menjawab panggilan tersebut. Bersyukur saja ia tidak mengumpat pada siapapun si penelepon.
"Yeobboseo!" ucapnya malas setelah menguap dengan lebarnya.
Tidak lama setelah ia mendengarkan seseorang berbicara di telepon tersebut Ara benar-benar sepenuhnya terbangun, ia bergegas mengganti celana pendeknya dengan jeans dan berlari keluar, dengan gelisah ia memberhentikan taksi dan pergi setelah menyebutkan alamat yang di tuju.
Jae Hwan tengah tidur di kursi sebelah kanan pintu masuk kantor polisi, mabuknya belum juga hilang juga lukanya semakin lama semakin perih saja, ada rasa sakit yang menjalari hampir seluruh wajahnya juga kepalanya akibat hangover yang belum hilang dan membuatnya merasa berputar-putar, ia menolak di obati oleh siapapun tidak ada yang boleh mengobatinya selain gadis itu, Jae Hwan berharap Ara datang dan tidak menolak bertemu dengannya kali ini meskipun kemungkinannya kecil.
"Apa kau akan terus begini?"
Suara yang Jae Hwan kenal seseorang yang dalam pikirannya terus bergentayangan itu sedikit tersengal karna Ara berlari kecil ketika masuk ke dalam kantor polisi seketika itu juga Jae Hwan terbangun tanpa memikirkan lukanya yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan, Ara sedikit tertegun hampir membiarkan tubuhnya bergerak sendiri untuk menolong namun dengan cepat otaknya menolak keinginan itu.
"Ara-ya,"
"Kau disini?" Jae Hwan hanya basa basi untuk sekedar memulai pembicaraan karena jelas ia yang memberikan nomor Ara pada petugas polisi tadi jelas pilihannya hanya gadis itu saja atau ia memang hanya ingin Ara saja.
"Berdirilah, akan ku panggilkan taksi."
"Kau tidak menatapku? Kau tidak lihat wajahku hancur." Jae Hwan memelas dengan sangat menyedihkan.
Kali ini otak dan tubuh Ara memiliki respon sama, ia memandang lelaki itu. Anehnya, Ara tidak bisa membencinya terlalu lama meski apa yang Jae Hwan lakukan sangat menjijikan. Tapi lagi-lagi Ara menolak berlama-lama membiarkan hatinya menguasai logika yang selama ini ia pegang.
"Kau tidak akan pulang?"
"Apa kau juga tidak ingin pulang?" Jae Hwan malah bertanya hal yang sama,
Ara tahu maksud pria itu dengan pulang adalah ke apartemennya.
"Aku tidak pergi ke manapun, sejak awal disana bukan tempatku,"
"Jangan bertingkah seperti ini, kau membuat posisiku sulit. Berhentilah menyiksaku!"
Kali ini terdengar pilu dalam suara Ara, ia seperti menahan tangisnya. Mereka cukup lama terdiam, tidak saling berucap Jae Hwan tengah mencari cara bagaimana ia bisa lebih lama dengan gadis itu, ia ingin memandang gadis itu. Gadis yang dulu ceria, menceritakan segalanya pada Jae Hwan bahkan jika itu hanya soal jam tangannya yang lupa ia letakan dimana atau rambutnya yang berantakan namun kini menjadi gadis yang berbeda meski Jae Hwan tahu pasti karena hal apa Ara berubah.
"Akan ku obati lukamu lalu pergi." Ucap Ara sambil memegang kotak berwarna putih dengan lambang merah yang tidak asing.
Ia menuangkan alkohol di kapas dan membersihkan luka pria itu lalu dengan terampil memasang perban. Ara mulai terbiasa melakukan kegiatan tersebut sebab Jae Hwan memang sering terluka mengingat tingkahnya sebagai tukang berkelahi bahkan setelah berpacaran dengan Ara. Dulu hampir setiap minggu Ara mengobati wajah pria tersebut, mereka bahkan pernah sampai kehabisan perban karenanya.
"Mianhae," ucap Jae Hwan lirih, namun Ara tidak menjawab tangannya terus saja fokus memasangkan perban.
"Aku tidak bisa melepaskan mu. Mianhae!"
"Meski bagaimanapun aku menyakitimu kau tidak pernah pergi, kau selalu memaafkan semua tingkah kurang ajarku, aku harap kali ini pun kau masih sama."
Bagi Ara apa yang lelaki itu ucapkan terdengar tidak tahu malu, tapi Ara tahu itu adalah bentuk keputusasaan dari lelaki yang semua orang tahu memiliki segalanya kecuali kini maaf dari Ara.
"Selesai,"
"Semua sudah selesai, aku tidak mau menjadi gadis bodoh itu lagi," bersamaan dengan perban yang telah terpasang dengan rapi.
"Aku pergi."
**
Udara di Seoul sudah mulai bersahabat ketika memasuki bulan Oktober, daun pohon gingko dan pohon mapel mulai berubah menjadi kuning dan merah berguguran sepanjang jalanan menciptakan pemandangan yang menakjubkan. Orang-orang juga memiliki aktifitas baru di musim ini, seperti mendaki gunung atau pergi piknik namun tidak begitu dengan Jae Hwan, ia tengah sibuk dengan laptop di meja kerjanya.
Sejak 3 tahun lalu ia memang di paksa ayahnya untuk mulai bekerja di perusahan mereka tepat setelah pria itu mulai tidak datang ke kampus, mabuk-mabukan bahkan berkelahi dan menghancurkan hidupnya, kurang lebih begitu kata ayahnya. Orang tua itu tidak ingin penerusnya terus-terusan bertindak seenaknya dan merusak garis keturunan mereka ia memang sedikit mengancam anaknya itu jika tidak menurut semua fasilitasnya akan di ambil Jae Hwan juga harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah tentu saja dengan di temani bodyguard mengingat apa saja yang sudah pria bodoh itu lakukan selama ini. Dan ancaman itu bekerja dengan baik meski sebenarnya pria itu menurut juga karena ia tidak ingin terus memikirkan Ara, ia tidak bisa terus begini.
Ponsel Jae Hwan terus bergetar, terlalu banyak pesan masuk. Tapi Jae Hwan membiarkannya, ia bukan tidak peduli ia juga tahu itu hanya ajakan teman-temannya untuk datang di reuni jurusan malam ini.
Ia mengurut keningnya, pekerjaannya memang melelahkan ia bahkan tidak punya waktu untuk bersantai, kehidupan sebagai chaebol (anak konglomerat) tidak seperti yang orang bayangkan, Jae Hwan mulai serius dengan pekerjaannya bukan karena ia adalah pewaris kekayaan keluarganya tapi hanya ini cara agar Jae Hwan tidak melulu mengingat masa lalu bersama Ara.
Sekertarisnya masuk setelah mengetuk pintu, Jae Hwan mulai bersandar di kursinya dengan tetap memegang dahi tampak jelas ia merasa penat dengan rutinitasnya. Wanita berumur 25 tahun itu menjelaskan jadwal Jae Hwan dari siang hingga malam ini semuanya begitu padat tak ada celah untuk sekedar minum kopi di cafe seperti orang lain atau kebiasaannya dulu.
"Batalkan jadwal nanti malam, aku harus menghadiri acara lain." Jae Hwan memotong penjelasan sekertarisnya setelah berpikir sejenak, wanita itu terlihat ingin membantah keinginan bosnya tapi tatapan lelaki itu terlalu tajam membuatnya mengurungkan niat dan memilih diam.
Pukul 8 malam, ia datang terlambat ke sebuah bar di daerah Itaewon beberapa agendanya hari ini memang tidak bisa di selesaikan dengan cepat. Teman-temannya sudah berkumpul disana ada sekitar 15 orang yang setengahnya adalah wanita, Jae Hwan tidak terlalu mengingat gadis-gadis itu ia memang mulai cuek di tahun terakhirnya atau mungkin mereka memang bukan teman kampusnya sehingga ia tidak mengenalinya.
"Yaaa .. Kim Jae Hwan ssi!" beberapa berdiri menyambut Jae Hwan, mereka bukan teman dekatnya, Jae Hwan tidak memiliki hal semacam itu, sesuatu yg di sebut sahabat ia hanya memiliki gadisnya yang lebih dari cukup. Dulu.
"Maaf aku datang terlambat."
"Gwenchanha (tidak apa-apa) kita semua tahu kau sangat sibuk." Ucap salah satu dari mereka yang Jae Hwan ingat namanya Yoon San Ho.
Jae Hwan menghabiskan malamnya di sana, setelah mereka mulai sibuk mencampur soju dan beer, Jae Hwan menemukan dirinya asik menikmati botol soju nya yang kesekian, ia memang tidak ingin mencampurnya seperti yang lain. Sebenarnya ia sudah lama tidak minum seperti ini, ia tidak ingin minum sendiri sebab tak ingin teringat hal-hal di masa lalunya begitu yang kerap terjadi jadi ia memutuskan bergabung dengan banyak orang seperti ini berharap ia sudah lupa kenangan itu.
Ia memandang gelasnya yang mulai kosong tiba-tiba tersenyum seperti orang bodoh
"Babo (bodoh) aku bahkan masih ingat hari itu."