Flashback

1129 Kata
Bulan Mei ketika musim paling menyenangkan datang, bunga Sakura, Forsythia, Azalea, Magnolia dan Lilac yang bermekaran pada puncak musim Semi menjadi pemandangan yang luar biasa. Ara tidak salah memilih kampus sepanjang jalannya di penuhi pohon sakura yang bunganya sudah memenuhi hampir setiap dahan pohon, beberapa berguguran dan menyajikan pemandangan yang indah menghampar sepanjang pinggiran jalan yang menjadikannya tempat favorit mengambil foto. Ara berjalan di bawah pohon sakura ketika ia melirik jam di ponselnya, pukul 10 pagi gadis itu punya banyak waktu. Ia mengambil beberapa selfi untuk di kirimkan pada teman-temannya di indonesia, ketika ia akan mengambil foto terakhir seseorang muncul di layar ponselnya, Ara mengernyit sebelum akhirnya terkejut. "Wae?" tanya orang tersebut sambil menyilang kan tangan di d**a, pria itu menggunakan kemeja putih oversize bergaris yang di masukan satu bagian ke dalam celana jeans navy nya. Ransel hitamnya hanya menggantung di bahu sebelah kanan dengan santai. Ara yang mengenalinya kemudian membungkuk. "Ahh sunbae (senior)." "Eung, annyeong Ara ssi." Gadis itu terkejut, pria itu tahu namanya namun ia tersadar fakta bahwa orang di hadapannya adalah seorang playboy pasti memudahkannya untuk mengetahui nama setiap gadis incaran nya di kampus. Tunggu, artinya Ara termasuk di dalamnya? ia mengernyitkan keningnya tanpa sadar. Gadis itu tiba-tiba menggeleng ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Ara kemudian meninggalkan seniornya yang ia tahu bernama Jae Hwan tersebut disana, Ara benar tidak main-main ketika ia memutuskan untuk tidak terlibat dengan pria itu. Ia hanya heran kenapa banyak wanita yang masih menginginkannya meski tahu akan di campakkan. Benar-benar omong kosong. Jae Hwan yang memandangi punggung Ara hanya mematung disana, ia mengusap keningnya ini kali kedua gadis itu mengabaikan Jae Hwan, sementara mahasiswa lain tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil foto nya diam-diam diantara bunga-bunga yang berjatuhan. Mereka jelas senang hanya dengan melakukannya. Ara duduk sendiri di kelas, ruangan kelasnya berbentuk seperti tangga yang memutar dengan meja yang memanjang, ia memainkan ponselnya sebentar membalas beberapa chat masuk yang membuatnya tersenyum sendiri. "Di sampingmu kosong?" seorang pria tinggi menggunakan kaos putih dengan rambut berwarna brown yang terlihat sangat cocok dengannya menghampiri Ara, gadis itu terpesona untuk beberapa saat ia bahkan tidak menjawab ketika pria itu langsung saja duduk di sebelahnya. "Jun Hyuk." Pria itu mengulurkan tangannya, kali ini Ara memperhatikan apa yang ia lewatkan sebelumnya suaranya terdengar begitu lembut, Ara juga menyukai aroma parfum yang keluar dari tubuhnya. "Ahh, ne. Tiara." Ucap Ara menjabat tangan yang di sodorkan padanya setelah berhasil mengendalikan diri. "Tiara?" pria itu sedikit mengernyit. "Ara, kau bisa memanggilku Ara." Kemudian mereka saling melempar senyum. Ara hanya tidak sadar bahwa seseorang masuk dari pintu di belakang mereka dengan pandangan kesal. Ya, harusnya gadis itu menjadi korban selanjutnya, bermain-main dengan Jae Hwan kemudian ia tinggalkan namun seseorang mencuri start lebih dulu. Ara dan Jun Hyuk melanjutkan perkenalan mereka sampai keluar ruang kelas ketika dosen sudah selesai dengan materi membosankannya ternyata Jun Hyuk hanya satu tingkat di atasnya. "Ahh kalau begitu saya harus memanggil anda sunbae." Ucap Ara sambil tersenyum bercanda. "Hajima ... Kau bisa berbicara banmal (informal) denganku!" "Jeongmalyo (sungguh)?" "Eung, aku juga lebih suka kau memanggilku ... oppa." Ucap Jun Hyuk sambil memamerkan senyum memikatnya membuat Ara terdiam ketika pria itu pergi mendahuluinya. "Kau tahu, aku bahkan lebih baik dari pria itu." Jae Hwan sudah mengejutkan Ara dengan berdiri di sampingnya. Ara masih tidak mengerti apa maksud Jae Hwan tapi jika itu menyangkut materi, Ara tidak peduli. "Ahh sudahlah." Jae Hwan kemudian pergi meninggalkan Ara yang penasaran disana. ** Ara dibuat penasaran dengan ucapan Jae Hwan yang seperti teka teki baginya, namun ia mencoba tidak peduli mengingat predikat pria tersebut. Jae Hwan yang pergi meninggalkan gadis dengan raut bingung disana dibuat sedikit jengkel, semua wanita bahkan akan percaya dengan kebohongan yang Jae Hwan buat hanya agar mereka senang namun gadis ini tidak begitu, bahkan meski yang ia katakan adalah kebenaran. Mendadak ia ingin pergi ke Nightlife, salah satu bar besar di Gangnam yang biasa ia datangi biasanya untuk mencari korban One Night Stand nya namun kali ini ia benar-benar ingin meluapkan kesal yang entah karena apa. Namun ia harus sedikit menunggu sebab tempat itu akan buka 3 jam lagi dan kenyataan itu membuatnya semakin kesal. "Seperti biasa?" ucap seorang bartender dengan kemeja hitamnya Jae Hwan hanya mengangguk, bartender dengan name tag In Soo itu jelas sudah tahu selera Jae Hwan. "Yaaa, kau benar-benar mencuri start dengan datang lebih awal?" seseorang menepuk pundak Jae Hwan dari belakang, suara yang ia kenali sehingga tidak perlu baginya menengok untuk memastikan. "Aku menelepon mu untuk datang tapi kau mengabaikan ku dan sekarang kau disini?" pria tersebut mendengus. Jae Hwan hanya tersenyum tipis ketika pria tersebut duduk di sampingnya dengan dua wanita. Jelas wanita yang tengah mencoba memikat setiap pria disana dengan pakaiannya yang terbuka bahkan Jae Hwan bingung bagian mana yang hendak mereka tutupi sebab dress yang di kenakan terlalu pendek. Jae Hwan hanya menatap jijik, entah kenapa mereka tidak menggoda baginya kali ini anehnya bayangan Ara yang selalu menggunakan kaos dan jeans dengan rambut diikat terlihat lebih menggoda, membuat Jae Hwan ingin menjelajahi setiap inchi dari tengkuknya yang terbuka. Jae Hwan mengacak rambutnya kasar entah bagaimana ia bisa berpikir seperti itu, otaknya pasti sudah tidak waras. Salah satu wanita dengan mini dress merah berbelahan d**a rendah mendekatinya, memainkan jari yang di cat kutek berwarna sama di pundak Jae Hwan, membuat pria itu bergidik ia menenggak sisa Long Island Iced Tea nya dan menaruh gelas highball nya dengan kasar. "Kojo (pergi)!" ucap Jae Hwan sambil melirik tajam gadis tersebut membuat gadis itu tertegun atas penolakan yang ia terima. "Yaa, Kim Jae Hwan kenapa denganmu?" ucap teman Jae Hwan yang juga heran dengan sikap pria tersebut. Namun di abaikan oleh Jae Hwan, ia menyimpan beberapa lembar uang di meja kemudian pergi tanpa berkata lagi. Harusnya ia bersenang-senang disana namun orang-orang itu malah membuat mood nya semakin buruk. Ia bahkan belum mabuk ketika duduk di kursi mobilnya, jarinya mengetuk-ngetuk kemudi ia menggigit bibir bawahnya dengan kasar, kemudian memutuskan melajukan mobilnya entah kemana ia sendiri belum memutuskan. Ponselnya berbunyi panggilan masuk dari seseorang yang biasa ia panggil 'abbeojji' orang yang suatu saat akan mengambil alih hidupnya hanya karna Jae Hwan ingin kebebasan untuk saat ini. Entah berapa lama lagi waktu yang ia punya sampai lelaki tua itu mengatur segalanya. "Ne abbeojji." Jawab Jae Hwan setelah mengabaikannya sejenak. "Kapan kau akan datang ke rumah, aku tidak suka membuat orang-orang berpikir aku membuang mu!" "Membuang ku? kau jelas tidak membiarkanku hidup kesusahan dengan memberikanku apartemen mewah juga semua isinya," "Aku akan mengunjungimu minggu depan." Ucap Jae Hwan sebelum akhirnya mengakhiri panggilan. Mobilnya pun terhenti di pinggir jalan dimana beberapa warung tenda berdiri namun yang menarik perhatiannya adalah seorang gadis yang tengah duduk sendiri disana, masih menggunakan t-shirt yang sama yang di kenakannya tadi siang. Jae Hwan tersenyum senang sepertinya ia ingin mampir untuk menikmati soju daripada vodka di Nightlife.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN