Fall In Love

1060 Kata
Jae Hwan duduk di meja lipat di belakang gadis itu, mobil mewahnya yang terparkir disana jelas terlalu mencolok untuk tempat sederhana seperti ini. Tapi ia tidak peduli, ia memang bukan tipikal orang kaya yang pemilih baginya dimana pun tidak menjadi masalah selama itu bersih dan layak. Ia hanya memandangi punggung gadis itu saja namun entah kenapa kegiatan itu terasa begitu menyenangkan. Ia sepertinya akan betah berlama-lama. "Ahjumma, berikan aku dua botol soju!" Jae Hwan berbisik sambil mengacungkan dua jarinya ketika bibi pemilik warung tersebut memandangnya, wanita paruh baya itu tidak bertanya lagi sampai memberikan pesanan Jae Hwan beserta 2 gelas sloki. Gadis itu terlihat duduk sendiri, memandangi minuman bening tersebut dengan pandangan kosong kemudian meminum setengahnya dan kembali menopang dagu. "Ceogiyo (permisi) kami boleh bergabung?" dua orang yang dapat Jae Hwan perkirakan sebaya dengannya menghampiri Ara yang duduk sendiri. Ia sudah ingin bangun dari kursinya untuk menghampiri mereka namun ia urungkan keinginannya sampai melihat respon gadis itu. "Jeosonghamnida (maaf)!" Ara sedikit membungkuk hormat di tengah mabuknya. "Kursi ini sudah penuh, kau tidak lihat?" ucap gadis itu sambil menunjuk dua kursi kosong di hadapannya membuat kedua pria itu saling menatap heran. "Yaaa, malldo andwe aku bahkan bisa duduk disini." Salah satu dari mereka duduk di depan Ara tanpa permisi kemudian di ikuti oleh pria satu lagi. "Ahh kalian benar-benar menyebalkan!" "Mwo? yaaa ... perempuan ini." "Ka (pergi)!" ucap Ara jengkel membuat Jae Hwan memandang situasi tersebut sambil tersenyum. "Pergi, sebelum aku mempermalukan kalian!" ucapan terakhir Ara membuat mereka pergi dengan kesal namun gadis itu tampak tidak peduli ia kembali menikmati minumannya. Jae Hwan tidak beranjak sampai botol pertamanya habis, ia mengetuk jarinya di meja dengan bosan namun pandangannya tidak lengah dari gadis yang sudah menghabiskan 2 botol di hadapannya. Ia sedang bertaruh berapa batas mabuk Ara yang di jawab sendiri olehnya hanya 3 botol. "Yaa, yaa, jangan duduk disini kau tidak lihat kursi ini penuh!" ucap Ara ketika seseorang duduk di hadapannya, ia tidak memandang siapa orang tersebut sebab kepalanya sudah berat namun seseorang di hadapannya tidak juga pergi membuat Ara dengan sangat terpaksa harus mengangkat kepalanya untuk memastikan. "Jankkanman (tunggu sebentar)," "No (kau)." Ara menunjuk seseorang di hadapannya dengan mata sipit yang coba ia buka lebar. "Ahh, malldo andwe pasti bukan si playboy kampus." Ia mengibaskan tangannya di depan wajah sementara pria di hadapannya hanya tersenyum sambil menuangkan minumannya ke gelas. "Untuk seorang mahasiswa baru kau cukup tahu banyak." Ucap pria tersebut santai. "Ahh, jadi benar kau si playboy?" Ara terkejut dengan tebakannya sendiri ia kembali menatap dengan seksama untuk memastikan bahwa ia tidak salah, ia mengucek matanya dengan kasar sekali lagi. Sementara pria tersebut hanya tersenyum sambil menyilangkan tangannya di d**a. "Emm, kau jangan tersenyum seperti itu aku tidak mau terpesona. Arrasseo!" Ara menunjuk pria di hadapannya yang membuat pria itu malah tertawa "Kapan kau pernah terpesona denganku?" "Aku tidak mau mengatakannya, tapi itu saat kau memandangiku di stage," "Ahh baboya, aku mengatakannya. Lupakan aku tidak mengatakan apapun." Gadis itu mengacak rambutnya membuat pria di hadapannya kembali tertawa. "Kau benar-benar Kim Jae Hwan sunbaenim?" ucap Ara setelah terdiam sejenak, otaknya perlu berproses untuk memastikan. "Eung, apa sekarang kau sedang terpesona sampai butuh waktu lama untuk mengetahuinya?" "Heol... malldo andwe!" ** Ara masih terkejut, bagaimana bisa lelaki itu ada di hadapannya, apa dia sengaja mengikuti Ara sampai ke tempat ini atau memang kebetulan saja. Ara menggeleng cepat membuyarkan spekulasi di pikirannya berkembang. "Kau pasti tengah berfikir bagaimana kita bisa bertemu disini." ucap Jae Hwan masih dengan menyilang kan tangan di dadanya, bukan karna ia seorang cenayang sehingga bisa tahu tapi pengalamannya dengan banyak wanita membuat ia bisa menebak dengan mudah, termasuk kali ini. "Heol Daebakkk ...." Ara terkesan sebab pria itu benar, kemudian ia menggeleng lagi mengutuk kebodohannya karna baru saja memuji pria tersebut. "A-aniyeyo maksudku bukan itu, aku tidak memikirkannya ... tidak, tidak," Ara masih menggeleng dan hanya di balas tawa yang renyah dari Jae Hwan, membuat gadis itu mematung sejenak menikmati betapa menyenangkannya pria itu tertawa sebab ia di kenal pendiam meski penakluk wanita. "Ahh, sunbaenim aku tidak tahu kau juga suka datang ke tempat seperti ini." "Sunbaenim? Bagaimana kalau kau memanggilku oppa juga seperti yg kau lakukan pada Jun Hyuk!" Jae Hwan mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum sinis. "Euumm ... aku tidak bisa. bukan, bukan, aku hanya tidak mau!" jawaban Ara membuat Jae Hwan semakin heran. "Oppa itu untuk Song Joong Ki, atau Won Bin, Lee Min Ho atau Park Seo Joon. Ahh ya ampun mereka luar biasa." Ara menyebutkan nama actor favoritnya kemudian menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, membayangkan betapa tampan oppa-oppa nya itu. "Kau hanya melihat mereka dalam drama, tapi aku? kau bahkan bisa menikmatinya setiap hari!" ucap Jae Hwan dengan senyum percaya diri. "Ahh, tidak terimakasih." "Yaa, lalu kenapa kau dengan mudah memanggil si b******k itu dengan sebutan oppa." "Jun Hyuk? Aku tidak menyetujuinya meskipun ingin. Ia sama tampannya dengan Park Seo Joon." "Malldo andwe." Jae Hwan menenggak minumannya dengan kasar, kemudian mengambil sumpit dan mencuri ceker ayam pedas milih Ara yang tersaji di meja membuat gadis itu hanya memandang dengan kesal. "Milikku!" ucapnya lirih seperti ragu ingin melancarkan komplain nya. Gadis itu memesan satu botol lagi yang di biarkan saja oleh Jae Hwan, ia ingin melihat apa tebakannya benar soal ambang batas gadis itu. Tangan Ara mulai lemas, ia bahkan kesulitan membuka tutup botol berwarna hijau tersebut. Jae Hwan yang memandanginya tanpa berkata membuka botol untuk Ara kemudian menuangkan isinya pada gelas di hadapan gadis itu. "Dimana kau tinggal?" "Yaa, jangan keterlaluan. Aku tidak berminat mengajakmu ke apartemenku." "Babo. Kau sudah mabuk dan supir taksi akan kesulitan mengantarmu jika kau tidak memberi tahu ku sekarang." "Nega?? jangan khawatir. Aku bahkan bisa menghabiskan 3 botol lagi." "Jeongmal!" ucap Ara sambil mengacungkan dua jarinya tanda membuat janji. "Baiklah. aku hanya akan melihatnya, tapi kalau sampai kau mabuk. Jangan menyalahkan ku jika berakhir di apartemen yang berbeda." Ara tertegun, namun merasa di tantang tanpa basa basi ia meminta dua botol soju lagi sambil menenggak minuman yang di tuangkan ke gelasnya tadi. "Kull!" ucapnya membuat janji, namun belum habis botol ketiganya gadis itu sudah mendaratkan kepalanya di meja, ia mengaku kalah bahkan tanpa persetujuan. Jae Hwan hanya menatapnya sambil menggaruk kening yang tidak gatal. Ia sudah memperingatkan tadi namun gadis itu benar-benar keras kepala. "Aku sudah memperingatkan mu jadi bersiaplah." Jae Hwan mengeluarkan uang beberapa lembar yang ia simpan di meja kemudian menggendong Ara ke mobilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN