Hangover

1121 Kata
Apartemennya terletak di lantai 10 Hannam Hill, sebuah harga yang pantas untuk mendapatkan view yang menghadap ke arah sungai Han dan gunung Namsan menampilkan pemandangan malam kota Seoul yg luar biasa. Namsan Tower yang bercahaya meski terlihat dari jauh adalah sebuah ikon ibukota yang tidak pernah sepi. Jae Hwan menggendong Ara memasuki lift yg mengantarnya langsung ke ruang apartemen miliknya. Private lift yang hanya di miliki beberapa orang saja. Mereka di sambut oleh seorang ahjumma yang sudah bekerja padanya bahkan saat Jae Hwan masih di rumah pak tua itu, ketika ia memutuskan keluar dari rumah Jae Hwan juga membawa orang yang paling ia percaya tersebut. Bibi paruh baya itu dibuat sedikit terkejut, pertama karena tuan muda nya pulang sebelum tengah malam dan kedua ia membawa seorang gadis. Di pangkuannya. Jae Hwan memang hampir selalu pulang larut meski mata kuliahnya sudah usai sejak siang hari atau bahkan ia tidak datang ke kampus sekalipun dan ia tidak pernah membiarkan wanita manapun memasuki wilayah pribadinya kecuali ibunya yang sama cerewetnya dengan sang ayah. "Anda butuh sesuatu?" ucap ahjumma nya sambil mengikuti langkah Jae Hwan ke kamar. "Apa kita punya piyama untuknya?" Jae Hwan menghentikan langkahnya dan berbalik untuk berhadapan dengan ahjumma nya "Eoppseumnida (tidak ada)!" "Ahh baiklah, sepertinya ia harus memakai kaos oversize milikku." Ucap Jae Hwan sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "Kau bisa membantunya mengganti pakaian? aku ingin dia tidur dengan nyaman." "Di kamar anda?" "Eung." Tanpa berbicara lagi mereka memasuki kamar pria tersebut, sebuah kamar yang di hiasi hanya dengan warna hitam, putih dan abu bahkan untuk semua interiornya khas kamar seorang pria. Monoton. Ia membaringkan Ara di tempat tidur besarnya kemudian ahjumma nya mengambil sebuah sweater dark yellow oversize dari walk in closet menunjukannya pada Jae Hwan dan mendapat anggukan sebagai jawaban. Pria itu kemudian bangkit untuk meninggalkan wanita paruh baya itu mengganti pakaian Ara. Ia mengambil obat pereda pengar dari lemari pendingin, menenggaknya dalam 2 kali teguk dan menaruh botol kosongnya di meja marmer hitam yang biasa di gunakan untuk memasak. Ahjumma nya sudah selesai dengan tugasnya sebab ia sudah keluar dari kamar Jae Hwan dengan membawa kaos dan jeans milik gadis itu "Saya akan buatkan sup ikan pollock jika ia sudah sadar, anda bisa memanggil saya nanti." Wanita itu kemudian membungkuk dan berbalik untuk meninggalkan Jae Hwan Pria itu berjalan ke kamarnya, dan melihat Ara tengah tertidur menggunakan baju miliknya. Jae Hwan menatap wajahnya yang polos tanpa make up bahkan lipstiknya sudah hilang yang pasti sudah menempel di sloki atau habis oleh ceker pedas tadi, Jae Hwan terkikik mengingat gadis itu mengomel karena ia mencuri ceker pedasnya. Ara menggeliat, ia merasakan bed cover yang lembut ketika mengusapkan tangannya ke sekeliling kemudian tertidur lagi. Jae Hwan juga di buat takjub melihat gadis yang biasanya cerewet itu hanya tertidur seperti bayi. Sekali lagi ia merasa aneh dengan sikapnya yang betah berlama - lama memandangi gadis itu tanpa melakukan apapun yang bahkan gadis itu sendiri tidak sadar dengan apa yang Jae Hwan lakukan untuk kesekian kalinya. Bagian bawah Jae Hwan menegang, ketika selimutnya tersingkap menampilkan pemandangan yang biasanya bisa ia nikmati bahkan di sodorkan oleh banyak wanita dengan percuma. Tapi Jae Hwan tidak mau memanfaatkan situasi ini, dengan cepat ia menutup kembali kaki jenjang gadis itu. Ia perlu mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin supaya tubuhnya kembali terkontrol 'sial' ** Ara menggeliat ketika matahari masuk lewat celah curtain tebal berwarna dark grey yang menutupi kaca besar disana otaknya berproses seharusnya sinar matahari tidak menerangi tempat tidurnya di bagian kiri ketika tangan kirinya jelas meraba ujung tempat tidur 'aneh' batin Ara. Matanya masih tertutup sebab kantuk yang tidak bisa ia tahan namun hidungnya bisa mencium wangi cytrus yang jelas asing, kamarnya selalu memiliki aroma sakura yang lembut, ia meraba ke bawah bantal dimana biasanya ponsel miliknya akan terselip karna gadis itu tidak bisa diam saat tidur. Ia tidak menemukannya disana dan terus meraba, meja kecil di sampingnya dimana tidak ada lampu tidur. Kali ini gadis itu bangun dengan terkejut mendapati tempat tersebut bukan kamarnya. Kepalanya masih pusing, perutnya juga mual luar biasa membuat Ara menunduk dan memegangi kepalanya ia kemudian ingat kemarin malam menghabiskan 3 botol soju karna provokasi playboy itu, Ara memukul kepalanya sendiri sebagai bentuk protes karna otaknya tidak berfungsi mengingat kini pakaiannya saja sudah bukan miliknya. Ia berniat turun dari tempat tidur tepat sebelum pintu disana terbuka setelah ketukan kecil menampilkan seorang wanita paruh baya dengan seragam hitam putih yang dapat di kenali sebagai pelayan, wanita itu membungkuk kemudian menyodorkan nampan berisi sup pada Ara. "Ini sup pereda pengar, anda harus menikmatinya selagi hangat." Jelasnya dengan suara lembut membuat Ara nyaman mendengarnya. "Ahh jweseonghamnida, saya ada dimana sekarang?" tanya Ara sebelum menerima nampan tersebut. "Hannam Hill, apartemen milik tuan muda Kim Jae Hwan." Heol ... Ara tidak salah lagi, ia sudah bisa menebaknya namun masih di buat terkejut dengan kenyataan yang sebenarnya. Ahjumma itu kembali menyodorkan nampan pada Ara yang kemudian di hentikan lagi dengan pertanyaan kedua "Bagaimana bisa pakaian saya ...." "Anda tidak perlu khawatir, saya yang menggantinya. Tuan muda bahkan tidur di kamar tamu." Sebelum Ara selesai dengan pertanyaannya yang menggunung ahjumma itu sudah menjawabnya membuat ia menarik nafas lega. "Aggashi, sekarang anda harus mencoba sup nya dahulu kemudian mandi, saya akan menyiapkan semuanya." "Pakaian anda juga sudah di cuci anda bisa menggunakannya lagi sebab tuan muda berpesan bahwa anda pasti akan marah jika tidak memakainya lagi." Wanita paruh baya itu kembali menjelaskan bahkan sebelum Ara membuka mulutnya untuk bertanya membuat gadis itu hanya tersenyum canggung. Ia menghabiskan satu mangkuk sup ikan pollock nya tanpa perlawanan selain karna lapar, ia juga mual dan sup ini membantunya pulih dengan baik. Ia kemudian mandi sambil memeriksa tubuhnya sendiri di bawah shower. Hanya untuk memastikan bahwa Jae Hwan tidak melakukan apa-apa padanya semalam dan untunglah tidak ada bekas apapun atau nyeri di bagian manapun kecuali kepalanya. 'tunggu, playboy itu tidak mungkin membuang kesempatan semalam. Jangan-jangan ia memegang tubuhku tanpa meninggalkan bekas. Ara berspekulasi yang membuatnya menggeleng dengan kasar menyebabkan air dari rambutnya menciprat ke dinding kaca. Ia harus bertanya langsung agar tidak berfikiran aneh. Ponselnya tergeletak di sofa beserta sling bag berwarna pink fushia yang ia gunakan, layarnya menunjukan pukul 2 siang membuat ia terkejut karena tertidur sangat lama. "Kau sudah siap?" Seseorang masuk tanpa permisi dan itu adalah pria yang di carinya sejak ia mulai sadar tadi. "Kau, apa yang kau lakukan padaku semalam?" tanya nya sambil menghampiri pria itu dengan cepat. "Meskipun aku ingin tapi percayalah aku tidak melakukan apa-apa." Ara bisa melihat kejujuran di matanya, entah kenapa dan itu membuatnya melunak. "Aku tidak mau hanya aku saja yang menikmatinya sedang kau tidak sadarkan diri," "Lain kali jangan mabuk!" Pria itu berbisik di telinga Ara yang membuatnya membelalakkan mata hampir tidak percaya, sementara Jae Hwan hanya tersenyum mengejek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN