You're Different Cause Why I Love You

1140 Kata
Ara masih terpaku dengan apa yang Jae Hwan ucapkan, lelaki itu juga hanya memandanginya dari pintu dengan menyilang kan tangan di d**a, dan memamerkan senyumnya yang terlihat sangat licik bagi Ara. Dan sialnya ia masuk perangkap seperti musang liar yang di beri umpan saja. Ara menatapnya kesal. "Kau ada kuliah?" "Tapi sepertinya kau tidak bisa kuliah karena kepalamu tentu masih sakit? Ahh ... kau benar-benar peminum yang hebat." Jae Hwan mengejek mengingat Ara bahkan tidak sanggup menghabiskan botol ketiganya. "Dan beruntungnya aku karena tidak ada kuliah hari ini, aku bisa pulang dan melanjutkan tidur," Ara mencari-cari sneakers putihnya di sekeliling tempat tidur. "Sepatuku?" "Molla (tidak tahu), kau cari saja sendiri!" Jae Hwan pergi meninggalkan Ara dengan sedikit kesal, entah karena apa. Pria itu duduk di meja makan dan menikmati sarapannya yang hanya roti tawar dan selai strawberry, Ara hanya membuntuti dari belakang dengan menggunakan sleeper yang sudah di siapkan ahjumma untuknya tadi. "Ahjumma itu, dimana dia?" "Market." Jae Hwan menjawab ketus membuat Ara memandangnya heran. "Ahh, dia pasti menyimpan sepatuku. Aku tidak bisa pulang dengan kaki telanjang." Ia mengacak rambutnya frustasi. "Ikut aku!" ucap Kim Jae Hwan sambil menarik gadis itu keluar, ia mengambil dompet dan kunci mobilnya di meja tanpa mendengarkan protes yang di berikan Ara. Gadis itu luar biasa cerewet seperti ibunya, ia terus mengumpat selama di lift dan basement sampai membuat Jae Hwan harus menutup mulutnya dengan ciuman panas disana. Basement itu sepi meski banyak mobil terparkir, hanya ada Jae Hwan dan Ara yang di paksa menikmati ciuman yang di lakukan pria tampan tersebut. Ara tidak memberontak atau mengumpat seperti tadi karna di tarik Jae Hwan. Ia terpaku untuk kesekian kalinya, ciuman itu bukan sesuatu yang berhasrat, Ara dapat merasakan Jae Hwan melakukannya dengan hangat memastikan bahwa Ara dapat menerimanya. Jae Hwan melepaskan ciumannya saat Ara hampir terhanyut menikmatinya, bodoh. Pria itu memandang Ara dengan lembut membuatnya semakin tidak bisa berkata, 'Ku mohon, bertingkah seperti biasa agar aku mudah mengumpat mu' batin Ara. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kesal sebab ia tidak bereaksi sejak tadi. Jae Hwan menariknya masuk ke dalam mobil setelah membuka pintunya, mendudukkan Ara yang masih terdiam disana. "Bernafas!" Jae Hwan berbisik ketika ia sudah duduk di samping Ara membuat gadis itu menengok dan memukul bahu Jae Hwan jengkel, pria itu malah tertawa senang. Mereka berhenti di sebuah toko sepatu yang jelas memiliki brand ternama, Jae Hwan menyuruh Ara turun kemudian gadis itu seperti kerbau yang di cucuk hidungnya ia menurut saja, "Kau suka yang mana?" tanya Jae Hwan sambil menunjuk beberapa sneakers disana. "Minchyeosseo (gila)!!" Ara malah mengumpat kemudian menutup mulutnya sebab menjadi pusat perhatian beberapa pegawai yang melayaninya disana. "Ahh mianhaeyo, aku hanya tidak mengerti kenapa kau menyuruhku memilih satu diantara sepatu mahal ini." "Kau terus mengoceh karna sepatumu tidak ada, karna itu aku membawamu kesini, dan satu hal aku tidak menyebut satu. Kau bisa memilih semua jika mau." "Hajima!!" Ara mengibaskan tangannya di depan wajah Jae Hwan yang membuat pria itu tertawa senang, ia memperhatikan gadis yang kini sedang mencoba sneakers berwarna putih dengan tiga strip berwarna hitam entah kenapa ia menyukai gadis cerewet itu. Gadis yang lebih menyukai sneakers daripada heels, gadis yang tidak berpura-pura manis dan lebih sering mengumpat Jae Hwan. Seleranya benar-benar berubah. ** Udara begitu sejuk ketika Ara tiba di depan gedung apartemennya, mengabaikan lambaian tangan Jae Hwan disana, dan berjalan tanpa menoleh sedikit pun pria itu hanya tersenyum saja meski sedikit kecewa. Ara sempat berbalik ketika hampir menaiki tangga namun mobil pria itu sudah meluncur membuat gadis itu sedikit kecewa. Juga. 'apa yang aku harapkan dari seorang playboy' ucap Ara lirih. Ponselnya bergetar ketika gadis manis itu baru saja merebahkan tubuhnya di sofa, ia memandangi sneakers putihnya yang sangat ia sukai, sepasang sepatu yang sangat simple dan sporty benar-benar menggambarkan dirinya. Ia juga tidak menyangka pria itu memperhatikan detail apapun tentangnya, alih-alih membawa Ara ke toko sepatu glamour yang isinya hanya heels atau wedges ia malah membawa Ara membeli sneakers. Ara membuyarkan lamunannya dari ke terpesonaan terhadap Kim Jae Hwan, Ia kemudian merogoh smartphone dari slingbag nya menyadari sebuah pesan masuk disana, "Lain kali jangan mabuk." "Museuun soriya ige (apa maksudnya ini) ?" Ara memarahi ponselnya yang jelas tidak salah mukanya memerah seperti kepiting rebus ia kemudian menekan tombol hijau disana menempelkan benda tersebut di telinga hingga nada tunggu berbunyi. "Yaaa, Jugeullae (kau cari mati)!" gadis cerewet itu langsung mengomel bahkan sebelum orang di seberang telepon mengatakan apapun. "Wae?" Kim Jae Hwan terdengar bingung dengan u*****n Ara yang kesekian kalinya, namun ia yang terbiasa menghadapi wanita terlihat begitu tenang meskipun leher Ara sudah menegang karna sedikit berteriak, jujur saja Jae Hwan sebenarnya tidak keberatan jika gadis itu terus saja mengomel. Jae Hwan masih menganggap gadisnya terlalu manis walaupun dengan wajah kesal. "Byuntae (m***m)!" Ara bergidik membayangkan apa yang Jae Hwan katakan dengan berbisik tadi pagi, pesan yang ia kirimkan membuat Ara mengambil kesimpulan yang sama. Ia menyesal karna sempat terpesona dengan perlakuan pria tersebut, bahkan kini kakinya meronta memaksa kedua pasang sepatu itu terlempar dari kakinya. Sementara Jae Hwan hanya keheranan ketika telpon sudah terputus, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, Jae Hwan tidak mengerti ia hanya mengingatkan gadis itu agar tidak mabuk seperti kemarin sebab berbahaya untuknya mengingat akan ada banyak pria seperti kemarin yang memanfaatkan situasi, dan tentu saja pria seperti dirinya yang membawa gadis manapun ke tempat tidur namun yang di terima pria itu bukan ucapan terimakasih melainkan u*****n, dan apa katanya tadi 'byuntae' ? Keningnya mengernyit. "Heol, bukankah kali ini dia sudah keterlaluan?" Jae Hwan hanya menggeleng menatap ponsel yang kini layarnya sudah berubah gelap. Ia tiba di apartemennya dengan wajah yang masih memandangi ponsel tersebut, membuatnya mengabaikan pelayan yang membungkuk disana, ia berkali-kali berfikir untuk menelpon gadis itu dan meminta penjelasan namun bukan Kim Jae Hwan jika ia mengumpat pada wanita, ia cukup berpengalaman mengabaikan para gadis yang mengumpat karna ia tidak pernah mengingat nama mereka meski telah menghabiskan malam panas bersama atau tidak di anggap olehnya ketika berpapasan di suatu tempat. Jae Hwan menolak menjadikan para gadis itu sebagai pacar, ia tidak suka ada yang mengatur hidupnya dan jika sudah terjadi itu artinya NERAKA. Ia membenci sikap para pria yang mendadak menurut pada pasangannya meski dilarang melakukan hobinya, atau harus pergi kemanapun dengan mereka dan yang lebih parah harus memberi kabar kemana dan dengan siapa pasangannya pergi. Sebuah definisi dari hubungan yang merugikan baginya. Meski kebanyakan gadis-gadis itu sendiri yang memberi label 'pacar' padanya hanya karna pernah di berikan rayuan manis atau pernah Jae Hwan nikmati tubuhnya. Mereka bahkan tidak malu di ketahui semua orang bahwa mereka pernah b******a dengannya. Sedang bagi Jae Hwan itu seperti mempertegas pada semua orang bahwa ia bisa memiliki segalanya. Tapi gadis ini, ia bahkan mengumpat padanya berulang-ulang. Jae Hwan mengerti, gosip tentangnya pasti membuat gadis itu memberi jarak dan kali ini Jae Hwan entah kenapa merasa kesal dengan predikatnya sebagai playboy yang meniduri banyak gadis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN