Don't Let Anyone Hurt You

1196 Kata
Ara tidak mengerti kenapa ia menjadi pusat perhatian ketika memasuki ruang kelas, teman satu angkatan yang sebelumnya akrab dengannya pun mendadak bersikap aneh, ia memeriksa pakaiannya hanya karna takut ada yang salah namun terlihat normal baginya. Ia tidak mencolok dengan kemeja biru muda oversize dan blue jeans nya, bahkan terlalu biasa untuk menjadi pusat perhatian. Ara mencoba tidak peduli dengan mendengarkan earphone sambil menunggu dosen masuk namun pandangan orang disana jelas tidak membuatnya tuli, perasaannya tidak enak. Ia mencoba fokus pada buku tebal di hadapannya membaca setiap tulisan disana yang tidak ia pahami satupun membuka lembarannya berpura-pura sibuk sebab ia merasa canggung namun setiap gerakan yang ia lakukan sepertinya sedang di nilai semua mata. Ia menengok ke kiri dan kanan, berharap mereka menghentikan kegiatan mereka terhadapnya namun yang ia dapati adalah tatapan dan ocehan yang semakin jelas. Mereka bahkan tanpa malu-malu menatap tajam padanya. Terutama dari para gadis, satu dua kalimat dapat Ara tangkap dengan samar yang jelas berhubungan dengan si playboy sementara para pria sedang bertaruh apa ia sudah di bawa ke tempat tidur. Ara sudah bisa menebaknya dari awal, siapa lagi memang yang memiliki kepopuleran yang mampu mempengaruhi banyak orang disana selain pria tersebut. Tempat tidur, Ara tidak bisa menyangkalnya meski apa yang di pikirkan orang lain tidak sama dengan kenyataan yang terjadi. Perlukah Ara menjelaskan satu persatu spekulasi mereka atau bahkan ia berdiri di meja dosen dan membuat Q&A? Sia-sia saja bukan, sebab itu hanya akan memperjelas betapa lemahnya Ara. Ia bukan tidak sakit hati, jantungnya berdetak sangat cepat, mulutnya juga bergetar menahan tangis ia ingin menjelaskan keadaan apapun yang menjadikannya bahan cemoohan namun ia tahu sekecil apa pengaruh dirinya. Kakinya sudah hampir berdiri dan ingin pergi dari sana, oh Ya Tuhan ia bahkan belum sebulan menjadi mahasiswa dan harinya mendadak buruk, terutama dia tidak memiliki siapa-siapa disini dan lagi kenapa cerita tentang hari kemarin menyebar dengan cepat. Ia mengetuk kakinya di lantai berfikir apa yang harus di lakukan namun otaknya tidak berfungsi dengan baik bahkan ia tidak lagi berani menatap mereka dengan tatapan yang sama tajamnya nyalinya menciut tidak seperti saat ia diminta menari di atas stage itu adalah dua hal yang berbeda. Dosen datang di saat yang tepat ketika Ara hampir memutuskan untuk bolos, meski ia sadar betapa pentingnya mata kuliah ini. Mereka tidak lagi menatapnya dan mulai memperhatikan dosen meski masih ada sindiran dari satu dua orang. Bahkan ketika dosen selesai, ia memutuskan untuk diam di ruangan kelas memastikan semua orang sudah tidak disana dan menjadi yang paling terakhir pulang beberapa menatapnya seperti menunggu gadis itu bereaksi namun ia tidak bergeming. Ia melirik jam di ponselnya, pukul 5 sore dan berapa lama ia harus diam mendengarkan earphone yang bahkan tidak ada suaranya. Layar smartphone itu menyala menampilkan pesan dari Jae Hwan ketika Ara membukanya. Ia terdiam, pria itu menunggunya di tempat parkir namun tangannya tidak bisa berhenti bergetar dan berkeringat, ponselnya bahkan terjatuh dari genggamannya dan menyebabkan bunyi yang menggema du ruangan kosong tersebut. Masih ada beberapa orang di luar ruangan, Ara dapat mendengar mereka berbicara dan tertawa mengejek dirinya. Hingga suara langkah sepatu mendekat, ia dapat mendengar hentakannya dengan jelas bahkan seperti tidak ada suara lainnya yang mampu menandingi, ia meremas jarinya yang semakin basah oleh keringat. Gadis itu ingin menoleh ketika suara hentakan itu berhenti tepat di belakangnya namun air mata mulai meninggalkan jejak di pipinya, ia semakin takut apa yang akan mereka lakukan padanya. Oh ayolah, Ara adalah gadis yang mandiri tapi siapa sanggup menjadi bahan gosip satu kampus. "Irreona (bangun)!" Suara yang Ara kenal, dalam hatinya ia senang namun sekaligus takut apa ini bagian dari rencana pria tersebut "Kau tidak membalas pesanku dan malah seperti tikus terjepit disini?" "Jangan biarkan siapapun menyakitimu, atau aku akan menggila." Lanjut pria tersebut. Kim Jae Hwan. Tatapan hangatnya membuat tubuh Ara menjadi lemas, entah kenapa ia merasa memiliki seseorang kali ini. ** Jae Hwan menarik Ara dengan paksa, bahkan hampir menyeretnya sebab langkah gadis itu seperti tertahan namun ia menoleh ketika menyadari gadis itu masih terlihat ketakutan. Ia menghentikan langkahnya memandangi gadis yang terus saja menunduk itu. "Uljima (jangan menangis)!" ucap Jae Hwan ketika menyadari ada jejak air mata disana, hatinya menghangat memandang gadis yang hanya terlihat kuat di luar namun satu goresan kecil membuatnya menjadi seperti ini. Pria itu menyadari sebagian besar adalah kesalahannya, meski ia tidak tahu siapa yang menyebarkan gosip tentang ia dan Ara. Ara semakin menahan langkahnya ketika mendekati pintu keluar, ia sedikit bersembunyi di balik tubuh tinggi Jae Hwan namun pria itu menarik Ara ke sampingnya, merangkul bahu yang terasa lemas itu. Seperti tengah mengatakan bahwa semua baik-baik saja. "Kau tahu siapa yang membuat pacarku ketakutan seperti ini?" Jae Hwan memandang tajam pada kerumunan orang disana, kata 'pacar' yang seharusnya memicu kemarahan Ara kali ini terdengar samar bahkan otaknya mendadak bodoh. Ada hal lain yang membuat pikirannya teralihkan. Mereka seperti terkejut mendengar pengakuan Jae Hwan, pria itu tidak pernah mengakui wanita manapun sebagai pacarnya namun kali ini apa yang mereka dengar berbeda. "Kalian tuli?" Jae Hwan sedikit maju menghampiri kerumunan tersebut namun Ara memegangi bajunya seperti anak kecil yang bersembunyi karena ketakutan membuat Jae Hwan berbalik dan mengurungkan niatnya. "Hajima!" ucap gadis itu lirih dengan bibir yang tidak berhenti bergetar, dan lagi-lagi membuat perasaan Jae Hwan menghangat. "Akan ku pastikan siapapun yang memperlakukannya dengan buruk menerima akibatnya!" Pria itu mengatakannya dengan tegas, terdengar hampir di sepanjang lorong yang hening meski banyak orang disana. Jae Hwan memang bukan tipe pria yang di takuti karna tubuh besar atau pandai berkelahi, namun siapa berani melawan salah satu keluarga paling kaya di negara itu. Beberapa dari orang tua dan keluarga mereka juga mungkin adalah karyawan di perusahaan keluarga Jae Hwan mengingat betapa besar jaringan cabang yang mereka miliki. Ia kembali merangkul gadis itu, membawanya pergi dengan langkah yang tidak terlalu cepat. Kali ini Jae Hwan mencoba memahami keadaan gadis itu dengan membiarkan langkahnya melambat mengikuti. Ia mendudukkannya di kursi taman, sebuah kursi kayu di bawah pohon sakura yang bunganya tengah berguguran. Sudah hampir sepi disana sebab hari semakin larut hanya beberapa orang yang lalu lalang tanpa memperdulikan mereka. "Seandainya kemarin kau tidak membawaku pergi. Seandainya, seand-." Jae Hwan sudah membungkam Ara dengan ciumannya bahkan sebelum gadis itu selesai berbicara, bibir Ara masih saja bergetar hingga Jae Hwan sedikit masuk lebih dalam melumat bibir lembut itu yang anehnya membuat getarannya berhenti. Ara merasa nyaman hingga air matanya keluar tanpa di duga. Jae Hwan tidak melepaskan ciumannya hingga gadis itu memejamkan mata, ia tahu Ara mengikuti ritme nya dan bagi Ara entah kenapa ia merasa hangat. Dalam kondisi normal sewajarnya Ara akan mengumpat karna tindakan tidak pantas itu namun ia membisu, ia membiarkan dirinya ikut terhanyut dalam permainan playboy itu. "Maafkan aku." Jae Hwan mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya kemudian menariknya ke pelukan, semua tindakan itu tidak penuh dengan nafsu seperti yang ia lakukan pada gadis lain tubuhnya bergerak sendiri dengan insting melindungi gadis ini. "Kau tidak perlu bertingkah kuat, aku akan berada di sampingmu." "Hanya jika kau mengijinkannya!" Ara terdiam menatap pria itu, melihat kesungguhan disana meski ia sadar akan jadi sangat bodoh jika ia mengangguk membiarkan pria itu mempermainkannya seperti wanita lain namun akhirnya ia tetap saja mengangguk. Membuat Jae Hwan melebarkan senyumnya dan kembali memeluk Ara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN