Jae Hwan berniat mengantar Ara pulang setelah mengajak gadis itu makan, Ara terlihat pucat dan pria itu mendadak khawatir tidak ada yang akan menjaganya. Ara tidak mengiyakan namun Jae Hwan tidak bisa membiarkan gadis itu kelaparan.
"Kita makan disana saja, kau tidak keberatan?" Ara menunjuk sebuah restoran kecil namun ramai dengan interior dinding kayu yang terlihat tradisional, gadis itu terlihat sedikit antusias ketika melewati tempat tersebut.
"Kau yakin tidak ingin pergi ke tempat lain?" Jae Hwan sedikit ragu, sebab belum pernah pergi ke tempat itu.
Namun Ara sudah lebih dulu membuka pintu mobil, ia mengabaikan Jae Hwan disana yang memintanya menunggu, mereka kemudian duduk di sebuah meja pendek yang beralaskan bantal sebagai tempat duduknya
"Jjajangmyeon." Ucap Ara ketika seorang pelayan menghampiri.
"Ahh, aku juga!" Jae Hwan hanya menjawab asal ketika pelayan yang sama menatapnya menunggu pesanan.
Ara sudah terlihat lebih baik sekarang, ia terlihat lebih santai meski sedikit canggung. Pria itu sadar bahwa ia yang menyebabkan Ara bersikap seperti itu.
"Kau tidak tahu film romantis?" ucap Jae Hwan sambil memasukan suapan besar mi kacang hitamnya, yang di balas dengan tatapan heran oleh gadis itu.
"Pria membukakan pintu mobil untuk wanitanya, dan coba lihat kau?"
"Kau bahkan meninggalkanku!" lanjut Jae Hwan ketika mulutnya sudah kosong namun Ara hanya sedikit menunduk sebagai jawaban membuat Jae Hwan mencibirnya.
Restoran itu sangat ramai, dengan tempat duduk yang berdekatan membuat Jae Hwan berulang kali menoleh mengkhawatirkan dompetnya hilang, sementara Ara menatapnya konyol. Gadis itu beruntung sebab selalu menggunakan celana jeans yang membuatnya nyaman duduk di tempat seperti itu.
"Gomawo sunbae." Ara memutuskan untuk memecah keheningan mereka ketika mi di mangkuknya tersisa sedikit, ia memang menyukai makanan tersebut lidahnya dengan mudah beradaptasi.
"Aku hanya shock, berada dalam posisi dimana semua orang membenciku mereka memberiku tatapan aneh." Tatapannya mulai menerawang mengingat kejadian tadi siang ketika ia mulai bercerita.
"Aku bahkan ingin menjelaskan ketika mereka menambahkan cerita dengan asumsi mereka, itu menyakitkan sungguh!" Ara terlihat mulai berkaca-kaca, air mata yang hampir jatuh ia tahan dengan menengadah berharap tidak menetes dan meninggalkan jejak lagi di pipinya.
"Aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."
"Kenapa kau yang berjanji semacam itu? aku yang akan memastikan bahwa hal semacam ini tidak akan menimpamu lagi." Ucap Jae Hwan mantap membuat Ara menatapnya hangat, entah kenapa ia percaya Jae Hwan mampu melakukannya.
"Meski begitu, semua ini terjadi karena kau. michinnom (pria gila)!"
Ara mencibir kelakuan Jae Hwan yang membuatnya menjadi bahan gosip satu kampus
"Tto, tto ... (lagi, lagi) kau baru saja mengucapkan terimakasih dan sekarang sudah mengumpat?" pria itu menyilangkan tangan di d**a memasang ekspresi kesal meski akhirnya ia sedikit tersenyum.
"Kau sudah baik-baik saja karna sudah lancar mengucapkan k********r, karna itu aku akan menganggapnya pujian."
Jae Hwan kemudian memasukan suapan terakhir mi dan acar lobak, ia tidak tahu ada mi seenak ini membuatnya berdecak kagum.
"Kau yang orang Korea bahkan tidak pernah memakannya? bahkan banyak restauran di negaraku yang mulai menjualnya."
"Awalnya aku tidak suka bau saus kacang hitamnya namun lama-lama itu sangat luar biasa."
"Jankkanman, kacang hitam?"
"Eung, wae?"
"Yaaa, geojinmal hajima (jangan berbohong)!" Ara mengabaikan ucapan Jae Hwan ia tidak mau di permainkan pria itu.
"Ara ssi ...."
Gadis itu mulai panik menyadari wajah Jae Hwan mulai pucat, pria itu juga memegang dadanya yang terlihat sesak dan sulit bernafas
"Napeun sekki (pria Kurang ajar)!"
**
Restoran jjajangmyeon itu menjadi semakin ramai bukan karna pembeli yang membludak namun karna ada seorang pelanggan yang jatuh pingsan dan di larikan ke rumah sakit menggunakan ambulance, pemilik restaurant terus mengoceh pada pelanggan lain mencoba menjelaskan bahwa ini bukan kesalahannya.
"Yaa, Kim Jae Hwan ssi ireonna (bangun)." Tanpa sadar gadis di sampingnya mulai menangis karna panik mendapati pria yang terbaring di hadapannya menggunakan alat bantu pernafasan dan tidak merespon.
"Jebal (ku mohon)!" ucapnya lirih
Seorang perawat laki-laki disana berpura-pura tidak mendengar, ia memberikan gadis tersebut privasi meski sebenarnya lelaki yang terbaring disana tidak separah yang di bayangkan.
"Yaa, uljima!" ucap Jae Hwan setelah membuka alat bantu pernafasan yang menempel di hidung dan mulutnya. Namun tangisan gadis itu malah semakin terdengar keras membuat Jae Hwan sedikit mengernyit.
"Kau tidak akan mati karena mi kacang hitam bukan?"
"Andwe, tapi aku bisa mati mendengar suara tangisanmu." Pria itu sedikit tersenyum membuat Ara merasa lebih tenang.
"nlappeun saram (pria jahat)!"
Mereka tiba di rumah sakit sekitar 7 menit, Ara sudah tidak panik seperti tadi ketika pria itu di turunkan dari ambulance ia hanya mengikuti di belakang sambil memegang ponsel dan dompet milik Jae Hwan ketika pria itu beserta perawat masuk ke ruang ICU.
Keadaan disana cukup ramai, beberapa pasien dengan luka kecelakaan lewat di hadapan gadis itu membuatnya menunduk karena tidak mau melihat, ia duduk di kursi tunggu bersama dua orang yang terlihat sudah cukup tua.
Ara menekan tombol pada ponsel Jae Hwan menampilkan jam analog yang jarumnya mengarah pada angka 9, tiba - tiba saja muncul di layar sebuah panggilan masuk dari kontak bernama 'eomma' membuat Ara sedikit panik dan membiarkan panggilannya berakhir, namun ponselnya kembali bergetar yang kemudian gadis itu memutuskan untuk menjawabnya
"Kenapa kau lama sekali menjawabnya?"
ucap seorang wanita di seberang telpon, Ara sedikit ragu untuk menjawab sebab seseorang di sana pasti akan kebingungan.
"Jeosseonghamnida, tapi Jae Hwan ssi sedang berada di ruang ICU."
"MWO??"respon tersebut membuat Ara refleks menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Kemudian ia mencoba menjelaskan situasi yang terjadi.
Kedua orang yang berbicara di telpon sama paniknya dengan yang lain, namun wanita paruh baya itu sedikit heran sebab putranya tidak pernah teledor dalam hal apapun tapi kali ini ia memakan kacang?
"Aku akan segera tiba disana, kau bisa menunggu bagaimana perkembangan putraku sebelum aku sampai?"
"Tentu saja eommoni (bu)."
"10 menit, aku akan tiba dalam waktu tersebut."Ara hanya mengangguk sebagai jawaban meskipun ia sadar wanita di seberang panggilan tersebut tidak mungkin melihatnya.
Tak lama Jae Hwan keluar dari ruangan tersebut untuk di pindahkan ke kamar, pria itu sudah terlihat lebih baik wajahnya tidak lagi pucat dan ia sudah bisa tersenyum membuat Ara semakin lega.
"Gwenchanhayo (kau baik-baik saja)?"
gadis itu tidak bisa menahan rasa ingin tahunya ketika perawat sudah meninggalkan mereka, ia memasukan Jae Hwan ke ruangan VVIP ketika diminta mengurus biaya administrasi mengingat pria tersebut bukan dari keluarga sembarangan ia akan meminta ganti rugi pada lelaki itu nanti.
"Geureom (tentu saja)." Jae Hwan terlihat sangat bersemangat.
"Kau ingin makan sesuatu?" tawar Ara yang di jawab dengan gelengan kepala yang samar.
"Ahh mian, ibumu tadi menelepon dan aku mengatakan kau sedang di rawat."
"MWOOOOO?" Jae Hwan tampak terkejut, wajahnya juga membeku tak berekspresi.
"Eung, ia akan tiba sebentar lagi."
"Jeongmal (benarkah)?"