Seorang wanita berusia hampir setengah abad itu berjalan di koridor rumah sakit dengan wajah cemas yang tak bisa di sembunyikan olehnya, ia menggunakan kemeja putih dengan scraft dan rok flare berwarna navy, di lengannya sebuah clutch dari brand ternama yang harganya hampir setara sebuah mobil menjelaskan dari mana kastanya berasal.
Ia masih terlihat cantik bahkan di usianya yang tidak muda lagi, make up nya yang tidak mencolok membuatnya terlihat sederhana namun berkelas. Ia mendorong pintu di sebelah kanan dengan tulisan VVIP 308, langkahnya terhenti sejenak ketika ia dapati seorang wanita tengah memberikan minum pada pasien yang terbaring di tempat tidur. Mereka menoleh dan sedikit terkejut mendapati seseorang masuk tanpa mengetuk pintu. Namun si pasien lebih dari sekedar terkejut.
"Eomma!" ujar pria itu, membuat gadis di sampingnya sedikit malu dan salah tingkah sementara perempuan paruh baya itu semakin mendekat.
"Uri ateul (anakku), sejak kapan kau menjadi bodoh?" wanita itu menggeser Ara yang tadi berdiri disana, atau mungkin gadis itu sendiri yang memberi ruang agar ibu Jae Hwan bisa mendekat.
"Na gwenchanha eomma (aku baik-baik saja bu)!"
"Tidak bisakah sekali saja kau tidak membuat wanita tua ini berhenti khawatir?"
"Aigoo, aigoo." Wanita itu memukul bahu Jae Hwan membuatnya meng'aduh' meski tidak sakit.
"Eomma!"
"Wae, wae? kau mau protes karna aku memukuli mu?"
"Kau bisa memukul lagi saat tidak ada orang lain disini." Jae Hwan memandang ibunya kemudian Ara, membuat gadis itu menunduk sambil menyelipkan rambutnya.
Ara kemudian membungkuk pada ibunya Jae Hwan yang di balas senyuman manis oleh wanita itu, senyumnya sangat mirip dengan Jae Hwan dalam versi yang berbeda.
"Maafkan putraku karena sudah merepotkan mu."
"Animnida (tidak), saya yang membuatnya masuk ICU, maafkan saya."
Ara membungkuk berkali kali
"Kau?" pertanyaan tajam itu membuat Ara gugup, wanita paruh baya itu juga menghampiri Ara dengan langkah pelan.
"Jika anakku melakukan hal bodoh karna seorang wanita, aku yakin kau cukup spesial untuknya." Ibu Jae Hwan memegang bahu Ara membuatnya sedikit lega karna mengira wanita itu akan marah-marah seperti dalam drama yang ia tonton.
"Benarkan ateul?"
"Berhenti mempermalukan anakmu." Jawaban Jae Hwan membuat kedua wanita itu saling melempar senyum.
Jae Hwan tidak menyangka bahwa Ara akan mudah akrab dengan ibunya meski ia tidak heran sebab gadis itu memiliki pribadi yang menyenangkan, Jae Hwan bahkan di abaikan sebab ibunya sibuk mendengarkan cerita Ara, cerita yang bahkan tidak ia bagi dengan Jae Hwan.
Beberapa kali pria itu terlihat diam, mencuri dengar dari pembicaraan ibunya seperti Ara berasal dari Bandung, sebuah kota di Indonesia atau nama lengkapnya yang ternyata Tiara juga gadis itu yang memiliki seorang adik wanita bernama Tania.
Ibu Jae Hwan, yang kini Ara tahu namanya Kim Soo Hee pamit setelah duduk berbicara dengannya hampir satu jam.
"Ayahmu akan segera pulang dari perjalanan bisnisnya. dan aku harus menyambutnya," ia melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 10 malam.
"Dan tentu saja menceritakan betapa bodoh anak lelakinya." Lanjut Ibu Jae Hwan sambil berdiri membenarkan lipatan rok navy miliknya.
"Eomma senang membuatku di marahi pak tua itu?" Jae Hwan mencibir.
"Geureom!" Kim Soo Hee tertawa renyah membuat Ara juga tertawa meski dengan sedikit malu.
Ia memeluk gadis itu dengan hangat membuat Ara membalas pelukannya, Jae Hwan yang memperhatikan dari tempat tidur entah kenapa merasakan kehangatan itu juga, ibunya memang wanita yang luar biasa ia tidak akan salah menilai seseorang dan pria itu tahu Ara sudah mendapatkan hati ibunya.
"Meski anakku menyebalkan, aku ingin kau berjanji untuk menjaganya." Kim Soo Hee, Ibu Jae Hwan tersenyum hangat sambil mengelus punggung tangan Ara.
"Eomma, tidak ada pria yang sudi di jaga seorang wanita, aku yang harus menjaganya."
"Aku tahu kau akan melakukannya." Ibu Jae Hwan memandang anaknya dengan senyum yang tidak berhenti, ucapannya berarti persetujuan bahwa ia mengijinkan Ara masuk ke dalam hidup anaknya.
**
Ara merebahkan dirinya di tempat tidur setelah mengantar Jae Hwan ke apartemennya. Punggungnya pegal karna tidur di sofa rumah sakit menjaga pria itu dan baru kembali pukul 8 pagi ini.
Ia sedikit lega sebab hari ini ia tidak ada jadwal kuliah, selain besok dimana ia harus mengikuti kegiatan klub sastra. Entah kenapa ia mengambil klub itu, tidak ada yang menjadi minatnya namun ia hanya ingin mengakrabkan diri.
Ponselnya berdering ketika Ara tengah mencoba memejamkan mata, baru saja ingin menikmati tidurnya. Dahinya mengernyit, ponselnya tidak dapat ia jangkau dan itu membuatnya berfikir dua kali untuk meraihnya dari meja. Ia menarik nafas lega, sebab suara renyah Ahn Ji Young bolbbalgan4 dari lagu Travel berhenti menandakan seseorang yang menelponnya sudah menyerah untuk melanjutkan niat berbicara dengannya.
Ara berguling, menggeser tubuhnya dengan malas mencari posisi paling nyaman. Kemudian ponselnya kembali berdering dan kali ini ia yang menyerah, dengan sumpah serapah ia memaksakan diri terduduk di pinggir tempat tidur menarik nafas dan menghembuskan nya dengan kasar sebelum menjawab telponnya.
"Kau sudah sampai?" suara Kim Jae Hwan yang kini semakin tidak asing di telinganya, mengingat tidak sampai satu jam yang lalu mereka bersama.
"Eung," gadis itu hanya menjawab malas, ia melemparkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur kemudian menutup matanya.
"Kau tahu dimana restaurant yang menjual bubur yang enak?"
"Ahjumma di rumahku sedang pergi dan aku sakit seperti yang kau tahu. Tidak ada yang membuatkan ku bubur." Lanjut Jae Hwan dengan sedikit ragu sepertinya ia sibuk memilih kata yang tepat agar gadis itu percaya.
"Kau bahkan sudah sembuh, gigimu juga tidak terluka jadi kau tidak harus memakan bubur." Ara sepertinya terlalu pintar untuk dibodohi oleh playboy itu, gadis itu tersenyum mengejek.
"Ya! gigiku memang baik-baik saja tapi kau yang membuatku harus terbaring semalaman di rumah sakit dengan makanan tidak enak itu. Harusnya kau bertanggung jawab!" suara Jae Hwan meninggi, membuat Ara sedikit mengernyit karna menggangu otaknya yang tidak ingin berproses.
"Aaaahh, tidak enak. Makanan tidak enak itu bahkan tak bersisa di mangkuk mu."
Lagi-lagi gadis itu tersenyum mengejek, yang meski tidak terlihat Jae Hwan bisa merasakannya.
"Berhenti membantahku. Kau sekarang juga datang kesini, buatkan bubur untukku!"
Ara tidak menjawab membiarkan Jae Hwan terus memanggilnya dengan kesal sementara gadis itu tertidur dengan ponsel di sampingnya. Namun bukan Jae Hwan jika tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Pria itu kembali menekan nomor Ara dan mendekatkan benda itu ke telinga mendengarkan dengan sabar setiap nada tunggunya hingga berganti dengan suara perempuan yang berkali-kali menjelaskan nomor itu tidak menjawab yang bagi Jae Hwan terdengar seperti penolakan.
Ia mengetuk setiap jari tangannya di meja, ponsel yang berada di depannya seperti sudah putus asa untuk ia sentuh sebab tidak ada jawaban bahkan untuk setiap pesan yang ia kirim. Pria itu juga tidak mengerti kenapa ia begitu kesal hanya karna di abaikan seorang gadis tapi ini memang kali pertama baginya, tidak ada yang sanggup melakukan ini sebelumnya bahkan para gadis berlomba-lomba hanya untuk mendapatkan nomornya dan Jae Hwan bisa membuktikan kebenaran ucapannya tersebut.
Ahjumma yang ia katakan tengah tidak berada di apartemen menyodorkan cangkir berisi cokelat hangat yang menjadi favoritnya, Jae Hwan kemudian menyesapnya dan mengeluarkan sumpah serapah ketika panasnya menyentuh bibir pria itu membuat wanita paruh baya yang berjalan pergi menoleh dan menertawakannya dengan lembut. Ahjumma itu memang sudah lama mengenal tuan mudanya sehingga ia tidak canggung untuk bahkan tertawa melihat kebodohan pria tersebut, ia juga kadang menjadi tempat Jae Hwan bercerita omong kosong tentang wanita yang membuat semua orang bosan, tapi wanita itu tetap saja menjadi pendengar yang baik.
"Sial, gadis itu benar-benar menguji kesabaran ku!"