Do I Lose Her? Obviously Not!

1170 Kata
Ara tidak bisa tidur, ia hanya berguling di tempat tidur kecilnya kemudian mengacak selimut disana dengan kakinya yang meronta tidak jelas. Dan dengan terpaksa bangkit dari sana dan pergi lagi setelah membawa tasnya. "Nona Ara ada di luar. Ia menunggu anda!" ucap ahjumma setelah mengetuk pintu kamarnya kemudian masuk setelah mendapat jawaban dari Jae Hwan. Jae Hwan yang tengah memainkan ponselnya di buat terkejut dengan apa yang di katakan wanita paruh baya itu, ia terlihat panik dan meminta wanita itu sembunyi. "Aisshhh sial. Aku mengatakan kau tidak ada di rumah!" ucap Jae Hwan panik yang malah mendapat tatapan lucu dari ahjumma nya. "Tapi saya sudah bertemu aggashi." Jawaban tersebut membuat Jae Hwan semakin panik dan mengacak rambutnya. Ia tidak punya pilihan lain selain menemui gadis itu. Gadis yang kini melipat tangannya di d**a, dan menatap Jae Hwan yang keluar dari kamarnya dengan tatapan membunuh yang mampu membuat seorang Kim Jae Hwan menunduk. Pria itu berjalan ke arah Ara dengan ragu, sebab sepertinya ia akan di telan bulat-bulat jika terlalu dekat. "Geurae (baiklah), dimana dapurnya? aku akan membuatkan bubur untukmu." Jawaban gadis itu membuat Jae Hwan sedikit lega, ia mengangkat kepalanya dan menatap dengan senyum. Ara memutuskan untuk tidak mengomeli pria itu, karna tidak bisa di pungkiri ia juga yang menyebabkan Jae Hwan harus di rawat. Pria itu kemudian mengantar Ara ke dapur yang luasnya bahkan sebesar kamar Ara, ia tidak heran memang beginilah kehidupan orang kaya. Jae Hwan memperhatikan Ara yang sibuk di dapur dari sebuah kursi yang biasa ia pakai untuk duduk sekedar menikmati kopi, gadis itu terlihat terampil dalam menggunakan pisau ia bahkan tidak takut dengan letupan dari bubur yang mendidih. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam sampai semangkuk bubur siap di depan Jae Hwan, ia menatap mangkuk tersebut sebab tampilannya tidak seperti bubur yang biasa ia makan. "Aku yakin kau akan menyukai rasanya!" ucap Ara percaya diri. Jae Hwan mengambil sendok nya dan memasukan suapan besar bubur dengan suwiran ayam di atasnya, matanya terbuka lebar namun mulutnya terus mengunyah. Ia kemudian mengambil satu suapan lagi dengan daun bawang yang menjadi topingnya membuat warna makanan tersebut begitu menarik. "Daebakk." Hanya itu yang mampu dia ucapkan membuat Ara tersenyum senang. Mereka kemudian duduk di sofa yang berada di samping pintu kamar Jae Hwan, Ara menikmati americano yang di buatkan pria itu sambil menatap keluar jendela besar disana menampilkan jalanan ibu kota yang ramai. Ia menyesap kopinya perlahan menikmati sensasi pahit yang menempel di lidahnya. "Gomawo Ara-ya!" Jae Hwan duduk di samping gadis itu, dan menatap ke arah yang sama sebab ia juga suka pemandangan di luar. "Aku juga bertanggung jawab karna membuatmu sakit. Mian!" Ara menatap Jae Hwan yang kini juga menatapnya. "Ibumu terlihat sangat baik, kau tidak ingin tinggal bersamanya?" Ara memulai pembicaraan setelah menyesap kembali kopinya. "Tidak ada orang tua yang jahat bukan?" Jae Hwan tersenyum tipis sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi mereka mengatur segalanya untukku, kehidupan seperti itu terlihat membosankan. Kau bisa menyebutku kabur dari rumah." "Kabur? bersama semua fasilitas ini?" Ara tersenyum mengejek namun anehnya Jae Hwan juga ikut tersenyum. "Mereka tentu saja tidak akan membiarkanku bebas sepenuhnya." "Lalu kau, kenapa kau memilih meninggalkan keluargamu disana?" dan pertanyaan itu membuat Ara menceritakan hal yang tidak ia ceritakan pada orang lain disana. Juga membuat Jae Hwan semakin dekat dengannya. ** Kedua orang itu masih duduk disana, menceritakan masing-masing tentang diri mereka. Pun Ara, entah karna suasana atau memang Jae Hwan adalah pendengar yang baik, ia menceritakan segalanya. Bukan cerita yang istimewa sebab kehidupannya biasa saja. Namun bagi pria itu, terdengar begitu menyenangkan mengetahui banyak hal tentang Ara. "Orang tua ku bercerai." Ucap Ara di akhir ceritanya, terlihat seperti sesuatu yang ringan sebab gadis itu menceritakannya sambil tersenyum meski Jae Hwan dapat melihat betapa canggung gadis itu. "Itu sebabnya kau pernah mendapat nilai nol dalam tes mu? sebagai bentuk protes?" Jae Hwan mengingat bagian saat Ara bercerita dimana ia mendapat nilai nol dalam tes semester, gadis itu tersenyum sebagai jawaban. "Anak dari korban perceraian biasanya hidup dengan trauma," "dan yahh, anggap saja aku juga sedang melarikan diri." Ara tersenyum getir, Jae Hwan bisa merasakan kepahitan disana. Gadis itu kemudian menatap cangkir kosongnya dengan putus asa seakan menginginkan untuk diisi kembali meski ketika Jae Hwan menawarkan ia menolak. "Dan kau, aku hanya penasaran apa memberi label pacar padaku adalah bagian dari permainanmu?" tanya Ara menyelidik, ia memilih mengalihkan topik pembicaraan sebab ia mulai menunjukan kelemahannya di depan pria itu, artinya ia membiarkan dirinya dalam bahaya. "Aku berani pastikan bukan," Jae Hwan menarik nafasnya sebelum melanjutkan. "Harus ku akui segala tentangmu membuatku tertantang, tapi melihatmu hari itu membuatku sepenuhnya ingin melindungi mu." "Aku tidak akan menganggap ini rayuan Tuan Kim." Ara mendengus tertawa. "Aku juga tidak berniat merayu mu nona Tiara." Ucap Jae Hwan serius, membuat tawa Ara juga berhenti. "Geurae (baiklah), kita lihat saja berapa lama kau akan bertahan denganku." Ara kemudian berjalan ke dapur, menaruh cangkirnya di wastafel dan meninggalkan Jae Hwan di sofa. Gadis itu menemukan potato chips disana mengocok bungkusnya seperti memberi isyarat pada pria di depan kaca tersebut untuk mengijinkan ia memakannya. Jae Hwan menengok dan hanya tersenyum, yang bagi Ara terlihat seperti persetujuan. Ia kembali duduk di sofa dengan kedua tangan penuh oleh cangkir baru dan cemilan, benar saja memandang ke luar sana begitu menyenangkan, Namsan tower di depannya seperti dapat ia raih, sungai Han juga tampak jelas dalam versi yang lebih kecil tapi ia bisa melihat tempat itu ramai. Ara memasukan tiga potong besar chips itu ke dalam mulutnya, membuat Jae Hwan menatapnya takjub sementara gadis itu tidak peduli. Ia menggeleng namun Ara tersenyum. Gadis itu menyuapi Jae Hwan sepotong kecil chips dengan paksa dan di beri tatapan kesal sebab bagiannya bahkan hanya lewat saja di mulut, tidak seperti suapan Ara yang membuat mulut gadis itu penuh. Ara menjilati jari-jarinya ketika chips itu habis dengan cepat, kegiatan itu membuat Jae Hwan menelan ludah membayangkan apa-apa yang bisa di lakukan dengan mulut dan lidah. b******k. "Kau punya 3 pelayan tapi tempat ini terasa begitu sunyi." Ucap gadis itu setelah selesai dengan menjilat jarinya. "Dua pelayan ku hanya datang tiga kali dalam seminggu untuk membereskan tempat ini, sementara ahjumma yang kau temui. Eumm ... katakanlah dia hanya menemaniku saja," Jae Hwan meminum air putih yang di bawa Ara dari gelas yang sama dan ia tidak keberatan. Sementara Ara juga hanya menganggap kegiatan berbagi makanan adalah hal biasa bersama teman. "Ia kadang memasak atau mendengarkan ku bercerita." "Kau? bercerita?" mata Ara terbuka lebar ia takjub dengan pengakuan pria di hadapannya. "Wae? kau perlu seseorang untuk berbagi apapun, dan ahjumma itu adalah pendengar yang baik." "Tentu saja, hanya saja mengingat kau adalah seorang yang di kelilingi banyak teman. Bukankah menjadikan seorang wanita paruh baya sebagai teman bercerita adalah hal yang lucu?" Ara tertawa mengejek. "Kau menyebut orang-orang yang memanfaatkan ku sebagai teman, terdengar menggelikan bukan?" "Sejujurnya lingkungan mu terlihat palsu." Ara mengakui, kemudian mereka terdiam saling menatap entah siapa yang memulai duluan, tapi Ara merasa nyaman melihat mata pria tersebut. "Kau tahu, aku tidak berharap kau juga begitu. Sebab aku rasa aku tidak akan melepaskan mu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN