Following Your Heart Means Losing Your Mind

1050 Kata
Ara sampai di apartemennya ketika hari sudah gelap, di antar pria yang mengaku dirinya tengah sakit sehingga memaksa Ara membuatkannya bubur, yang anehnya pria itu kini berada dalam kondisi terbaiknya disini, di dalam mobil bersamanya. "Berhenti disini!" perintah gadis itu padahal tempat parkir apartemennya masih berada di depan sana. Mata Ara memberi isyarat agar pria itu turun juga dan tanpa membantah Jae Hwan mengikutinya saja, sebenarnya ia hanya penasaran dengan maksud gadis itu. "Eommoni." Ara menyapa seorang wanita yang menjaga kedai di pinggir jalan dengan tersenyum yang di balas dengan senyum ramah wanita itu, sepertinya Ara memang menjadi pelanggan setia disana. Gadis itu mengambil tusukan panjang berisi odeng meniupnya sebentar kemudian menempelkan bibirnya untuk memastikan makanan itu sudah bisa ia lahap. Jae Hwan takjub sebab makanan sebesar itu hanya menjadi dua suapan penuh bagi Ara. Ia masih menatap gadis itu ketika wanita penjualnya menyodorkan sepiring tteokbokki dengan warna merah yang membuat Jae Hwan bergidik akan rasanya yang dapat di pastikan pedas. Gadis itu mengulang kegiatan yang sama pada tteokbokki nya meniupnya sebentar dan memasukan suapan besar. Ara menatap Jae Hwan yang masih terus menatapnya, kemudian mengambil satu tusuk odeng yang masih mengepul, meniupnya sebentar dan menyodorkannya pada Jae Hwan. Pria itu membuka mulutnya dengan ragu, ia tahu makanan ini enak dan Jae Hwan terbiasa menikmatinya hanya saja melihat bagaimana Ara makan masih membuatnya terpaku. Lebih anehnya lagi ia tidak keberatan dengan porsi makan wanita itu. Ara menarik lengan Jae Hwan untuk memegang sendiri sisa odeng nya. "Ottae (bagaimana) ?" gadis itu menatap Jae Hwan sambil tersenyum ketika mulut pria itu masih sibuk mengunyah, membuat Jae Hwan tertegun dengan tatapannya yang intens. Dan sialnya ia merasa di kalahkan. "Kau menyukainya bukan?" Ara menyodorkan jawaban lebih seperti memaksa bahwa semua orang akan berpendapat sama. "Oh (iya)." Jae Hwan menjawab setelah dapat mengontrol suaranya, membuat Ara tersenyum dan melanjutkan acara makannya. Gadis itu merebahkan tubuhnya di tempat tidur, sambil mengusap perut seakan ada sesuatu di sana sehingga ia perlu memeriksanya. Keningnya berkerut, ia menyesal memakan terlalu banyak odeng ketika hari sudah larut dan perutnya bertambah buncit sekarang. Lalu tiba-tiba saja ia teringat pemandangan sungai Han yang ia lihat dari apartemen Jae Hwan, membuatnya berfikir untuk berolahraga ke sana, 'sepertinya menyenangkan' batinnya mengingat tempat itu juga menjadi spot olahraga dan sangat ramai. Ara ingin mencobanya, ia bersemangat untuk bangun lebih pagi besok. "Jae Hwan ssi kau bisa menemaniku besok pagi?" tiba-tiba saja gadis itu sudah berbicara di telpon bahkan langsung bertanya tanpa memberi kesempatan kepada Jae Hwan untuk mengatakan salam. "Oddieyeyo (kemana) ?" "Kau akan tahu besok, nyalakan alarm milikmu sebab aku tidak mau kau terlambat. eung?" "Geurae (baiklah)." Bukan hanya Ara yang bersemangat untuk hari besok tapi juga Jae Hwan, ia tidak tahu bahwa pacaran akan menyenangkan seperti ini, selama ini ia berfikir wanita itu hanya merepotkan dan hanya pria bodoh yang mau menuruti semua keinginan makhluk yang hobi berdandan itu, ia tidak tahu ramuan macam apa yang mereka berikan sehingga pria seperti kerbau yang di cucuk hidungnya. Tapi lihatlah sekarang? Ia bahkan lebih bersemangat dari pria manapun. Bodoh. ** "Yaaaa, kau menyuruhku bangun pagi hanya untuk berolahraga?" Jae Hwan bertolak pinggang ketika Ara sudah menunggunya di depan apartemen, gadis itu datang menggunakan bus sejak pagi lengkap dengan sneakers dan celana sport selutut juga tshirt berwarna putih, hari ini ia mengikat rambutnya membuat leher gadis itu terbuka, seperti menggoda untuk Jae Hwan. Sial. "Kau bukan kerbau, kenapa alarm saja tidak cukup membuatmu bangun?" Ara sudah membuat telinga Jae Hwan sakit di pagi hari karna ocehannya membuat fantasinya soal leher gadis itu buyar. "Aku hanya tidur 4 jam, semua ini salahmu juga!" Jae Hwan menyalahkan gadis itu karena membuatnya tidak bisa tidur semalam memikirkan apa yang akan mereka lakukan hari ini, dan sia-sia saja ia hanya harus menemani Ara berolahraga. Kening Ara berkerut, ia tidak paham kenapa pria itu menyalahkannya. "Sudahlah kita berolahraga disini saja, apartemenku juga mempunyai tempat gym." Jae Hwan menarik tangan Ara untuk ikut masuk namun gadis itu malah memukul lengannya membuat Jae Hwan meng'aduh' dan menatap kesal pada Ara. "Ahh wae ?" "Aku memintamu menemaniku bukan kau yang harus ku temani." Ara kesal dan pergi meninggalkan pria itu disana, Jae Hwan kembali bertolak pinggang ia tidak habis pikir kenapa kini gadis itu yang marah. "Yaa, sepertinya harus ku tarik lagi ucapan bahwa pacaran itu menyenangkan." Jae Hwan mengacak rambut belakangnya dan menimbang apakah ia harus mengikuti permainan gadis itu, dan untuk pertama kalinya ia menyusul seorang gadis dan berusaha meredakan kekesalannya. Entah kenapa tapi rasanya ia tidak bisa membiarkan gadis itu menjauh karna hal kecil seperti ini. "Mianhae aggasi," Jae Hwan menjegal langkah Ara berusaha mencairkan suasana hati gadis itu dengan sedikit bercanda, membuat gadis itu berhenti dan menatap Jae Hwan. "Kau ingin naik sepeda? mereka menyediakan sepeda sewaan." Mata Ara membulat mendengar informasi menyenangkan tersebut dan Jae Hwan tahu bahwa ia sudah sukses membuat gadis itu tidak marah lagi. "Kaja (ayo)!" pria itu menarik tangan Ara sambil berlari kecil dan gadis itu mulai tersenyum sekarang. Mereka menyewa dua sepeda setelah menunjukan kartu identitas dan membayar, sementara Ara tidak berhenti memotret dan takjub melihat di sepanjang Hangang Park di penuhi pohon sakura yang tengah bermekaran, tempat itu juga ramai sejak pagi beberapa orang berjalan-jalan dan ada yang menaiki sepeda. Jae Hwan menggeleng, ia tahu semua gadis suka berfoto namun ia baru tahu bahwa kegiatan tersebut menghabiskan banyak waktu. Taman itu sangat luas, dan beruntungnya ia sebab semuanya sedang berwarna pink dengan rumput yang menghijau sayangnya gadis itu melewatkan Yeouido Spring Festival pada April lalu, ia berjanji untuk mendatanginya tahun depan. Puas bersepeda mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon sakura yang beberapa bunganya mulai gugur, menghampar di bangku tersebut. Ara memungut beberapa kelopaknya, memperhatikan tekstur berwarna pink itu kemudian mencium wanginya. Ia tersenyum dan Jae Hwan terpesona. Gadis itu terlalu sederhana, ia menyukai hal-hal sepele yang awalnya Jae Hwan fikir menjenuhkan, seleranya yang biasa saja soal makanan atau cara ia berpakaian yang terlihat nyaman dan simple, tapi entah kenapa bersama gadis itu berjalan beriringan saja terasa menyenangkan, waktunya terasa cepat berlalu dan ia tidak suka berpisah. Bahkan entah sejak kapan Jae Hwan menjadi lebih agresif terhadap gadis itu. Ara. Jae Hwan tersenyum, ketika Ara menatapnya yang sedang menatap Ara, suasananya mendukung pria itu untuk bersikap romantis namun lagi-lagi Ara mengacaukannya dengan berkata bahwa ia sudah lapar. Ya ampun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN