Every Moment I Spent With You

1180 Kata
Ara tengah menikmati udara musim semi nya yang hampir berakhir di bawah pohon sakura, perutnya mulai lapar sebab sejak tadi bersepeda meski sebenarnya kegiatan memotret nya lebih banyak daripada olahraga. Ia tiba-tiba saja membayangkan seolleongtang (sup tulang sapi) hangat yang mengepul bersama nasi yang juga hangat dan dengan spontan ia mengatakannya pada Jae Hwan membuat pria yang tengah memandangnya itu menggeleng. Meski Jae Hwan tidak paham bagaimana tiba-tiba Ara ingin makan seolleongtang namun ia kemudian menelepon ahjumma yang bekerja di rumahnya dan meminta wanita itu membuatkan permintaan Ara membuat gadis di hadapannya tersenyum dan tanpa sadar bertepuk tangan pelan. "Senang?" "Geureom!" "Hahh ...." pria itu mendengus melihat ekspresinya lebih senang ketika berbicara soal makanan. "Ahh melihat bunga sakura, aku jadi ingin mencicipi hwajeon (bunga goreng)." *hwajeon adalah pancake kecil yang di atasnya di tambah kelopak bunga segar "Ya! Ara ssi keumanhae." Jae Hwan meringis mendengarkan gadis itu terus mengoceh soal makanan. Dua jam kemudian, mereka sudah duduk di meja makan besar berkapasitas 8 orang, yang bagi Ara terlihat aneh sebab Jae Hwan tinggal sendiri. Perut Ara sudah protes karna dua jam bukan waktu sebentar untuknya seharusnya mereka mendatangi restoran saja daripada harus menunggu selama itu. "Kita bertaruh. Kau tidak akan protes lagi saat mencoba sup buatan ahjumma!" Jae Hwan sepertinya mulai stres karna gadis itu terus saja mengoceh. Wanita paruh baya yang sedang mereka bicarakan muncul ia membawa hotpot besar yang mengepul, meletakkannya di meja kemudian kembali lagi dan membawa kimchi juga beberapa lauk yang terlihat asing bagi Ara namun tetap menggoda untuk ia cicipi. Ia tersenyum pada wanita paruh baya itu, seakan mengucapkan terimakasih karna menyiapkan banyak makanan untuknya. Wanita itu membalas senyum Ara dengan hangat membuatnya merasa berada di lingkungan yang tidak asing. Ia menuangkan sup untuk Ara, menyodorkan beberapa lauk agar lebih mudah gadis itu raih, kemudian memberi isyarat agar gadis itu mencicipinya dan Ara jelas senang. "Yaaa, kau terlalu baik padanya!" kali ini Jae Hwan yang melancarkan protes, ia tuan rumah disini dan Ahjumma nya malah melayani orang lain. Ara mengejek dengan menjulurkan lidah yang di balas tatapan kesal Jae Hwan, ia mengambil sendok di samping mangkuknya kemudian mengambil suapan besar sup berisi daging bersama kuah kaldu yang kental. Meniupnya sebentar dan tidak sabar memasukannya ke dalam mulut. "Wahh, Daebakkk!" jawaban Ara sukses membuat Ahjumma itu tersenyum dengan tingkahnya. "Saya senang anda menyukainya." "Ini luar biasa, aku bahkan tidak bisa berhenti membuka mulutku." Jelas Ara ketika suapan besar tadi sudah hilang dari mulutnya. "Kau harus mencobanya, ahjumma sangat hebat dalam hal memasak." "Ne, ne, ne Ara ssi. Terimakasih sudah menawariku. eung!" Jae Hwan tampak kesal karna Ara bertingkah seperti ia adalah tuan rumah namun tangannya menyendok sup di depannya dengan lahap membuat Ara tersenyum menatap pria itu. Jae Hwan membawakan segelas teh hangat untuk Ara yang tengah duduk di sofa. Gadis itu memandang ke arah luar kaca besar di sana lagi, sepertinya tempat itu akan jadi spot favoritnya. Jae Hwan tersenyum. "Aku menyadari betapa kayanya dirimu dari sini. Tempat paling menyenangkan di negara ini dapat kau lihat dengan mudah!" "Keluargaku." Jae Hwan meralat ucapan gadis itu. Ia kemudian menyesap teh hangatnya, minuman itu mengalir ke tenggorokan Ara membuatnya merasa lebih hangat. "Aku ingin menikmati hari santai ku, sebab lusa aku sudah mulai bekerja." Ucap Ara santai yang kemudian meminum kembali teh hangatnya "Mwo?" Jae Hwan tampak terkejut. ** Ara menyukai kopi, dan latte. Itu sebabnya pekerjaan paruh waktunya di mulai di sebuah cafe. Meskipun awal masa perkuliahan sangat sibuk Ara yakin bisa membagi waktunya. Ia sudah lama membayangkan menyenangkannya bekerja dan kuliah. Dan gadis itu memang terlalu aktif untuk hanya sekedar diam menghabiskan waktunya. Tapi apa ini, orang yang menobatkan dirinya sebagai pacar Ara melarang gadis itu melakukan hal yang ia inginkan. Pria itu mendadak menjadi semakin menyebalkan, dan memiliki hak untuk ikut menentukan. Ara pulang ke apartemennya setelah berdebat dengan pria itu, saling melempar argumen. Ara sebenarnya paham alasan Jae Hwan bahwa Ara akan sangat kelelahan, dan sulit mengatur kuliahnya, juga sulit bertemu dengannya pasti. Namun bukan Ara jika ia tidak keras kepala, jika ia meyakini sesuatu benar maka ia akan terus mempertahankan opininya meski kadang merepotkan diri sendiri. Begitu pun Jae Hwan ia menarik nafasnya kesal ketika gadis itu pergi dari sana, membanting tubuhnya sendiri di sofa yang biasa mereka tempati berbagi cerita sederhana yang amat Jae Hwan sukai. Namun hari ini menjadi saksi dimana ia dan gadis itu juga bisa bertengkar. Jae Hwan tidak tahan, aneh bahwa egonya bisa di kalahkan dengan takut gadis itu menjauh, pria itu tidak ingin terburu-buru dengan mengatakan bahwa ini adalah cinta sebab sepanjang hidupnya baru kali ini ia begitu protektif terhadap sesuatu. Ia memikirkannya sekali lagi, namun tetap saja kakinya tidak terkontrol dengan segera berjalan ke arah lift dan semua jelas tahu kemana tujuannya. "Apa lagi ?" sambutan Ara di depan pintu apartemennya jelas menyebalkan tapi Jae Hwan lebih peduli bahwa ia perlu berbicara dengan gadis itu. Jae Hwan merangsek masuk, membiarkan Ara melongo di depan pintu dan kehilangan kata-kata sebab tak bisa mengumpat lagi. "Mianhae Ara-ya," "Aku sudah keterlaluan, aku hanya tidak ingin kau menyusahkan dirimu sendiri." Jae Hwan mengucapkannya dengan lembut seakan sedang berkompromi dengan emosi gadis itu, dan sukses. Tatapan Ara melunak, otaknya sudah tidak mendidih sehingga dapat menerima jawaban pria di hadapannya. "Aku jelas mengerti tujuanmu, maaf karna aku sangat keras kepala, aku juga memarahi mu tadi." Ara sedikit ragu mengucapkannya di depan orang yang baginya masih asing, tapi pria ini menunjukan ketulusannya sehingga ia tidak terlalu memikirkan gengsinya untuk meminta maaf. "dan untungnya kali ini kau tidak mengucapkan sumpah serapah." Jae Hwan mencairkan suasana dan membuat gadis itu tersenyum, mengingatkan mereka betapa seringnya Ara mengumpat seperti hanya itu saja kosakata dalam bahasa korea yang ia bisa. Ara mendekat setelah membiarkan pintunya tertutup dan lampu depan otomatis padam, mempersilahkan Jae Hwan duduk dengan isyarat tangannya di sebuah sofa sudut berwarna cokelat, ada sebuah lampu dengan tudung berwarna senada yang memberikan kesan vintage sebab lampunya temaram, Ara sepertinya lupa untuk mematikannya atau mungkin memang di biarkan terus hidup di sampingnya sebuah kaca jendela yang menutupi dua sisi tanpa sekat sehingga sudutnya pun berupa kaca yang menghadap langsung ke jalanan di depan, pemandangan yang tidak sama dengan apa yang Jae Hwan miliki namun ini sama menyenangkannya sebab ada gadis itu. Yang tidak lagi marah. Tentu saja. "Aku harus pergi kuliah." Ucap Ara setelah memisahkan pakaian yang akan ia kenakan di atas tempat tidur mungilnya. "Baiklah, aku akan mengantarmu." "Kau? kuliah?" tanya Ara dengan kening berkerut yang di balas anggukan oleh Jae Hwan. "Kau tidak suka?" "Bukan, tapi aku tidak tahu kau pergi kuliah dengan pakaian seperti itu." Ara menatap Jae Hwan dari atas hingga bawah dengan tawa kecil sebab pria itu masih menggunakan celana training panjang dan kaus putih tipis juga sleeper yang sepertinya lupa ia ganti. Wajah Jae Hwan memerah seperti habis ditelanjangi oleh tatapan gadis itu, yang dengan cueknya pergi meninggalkan Jae Hwan dan dengan tawanya masuk ke kamar mandi. "Tunggu disini, aku akan menjemputmu satu jam lagi." Pria itu berteriak berharap Ara mendengarnya, kemudian berlari kecil menuju pintu keluar sambil mengumpat. Entah kenapa di hadapan gadis itu Jae Hwan selalu terlihat bodoh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN