A Cup Of Coffee

1241 Kata
Jae Hwan menggunakan mobil sedan SUV KIA Sportage hitam miliknya, bukan masuk dalam kategori mobil mewah meski itu tidak bisa di bilang murah juga dan salah satu dari tiga mobil miliknya yang sangat jarang di gunakan namun Ara memang berpesan bahwa ia tidak suka menjadi pusat perhatian dan jika Jae Hwan bersikeras ingin mengantarnya ke kampus, ia harus memenuhi syarat tersebut. Ara tetap dengan penampilan santainya ia tidak tertarik merepotkan diri dengan menggunakan skirt seperti wanita lain, sneakers putih pemberian Jae Hwan juga ia gunakan sebab ia menyukai bagaimana sepatu itu cocok dengan t-shirt putih miliknya hari ini. Atau mungkin dengan hampir semua style gadis tomboy itu. "Aku harus bekerja sore ini," "dan mari kita sepakat, biarkan aku mencobanya kali ini dan jika itu melelahkan, merepotkan atau apapun itu aku akan mengikuti saran darimu, eung!" Ara berkompromi untuk terakhir kalinya dengan pria itu sebelum turun dari mobil, wajahnya sedikit memelas dengan dua jari di acungkan sebagai isyarat. Ia sedikit heran terhadap dirinya sendiri, karena sebenarnya jika mau ia tidak perlu ijin pria itu namun ia berakhir disini, di hadapannya. Dan berharap pria itu mengerti. "Geurae." Jae Hwan ingin menghargai pendapat gadis itu dengan tidak mendebatnya lagi. Membuat Ara tersenyum lega. Mereka turun dari mobil dengan tetap mengundang perhatian beberapa orang, tentu saja sebab itu adalah Jae Hwan seseorang yang terus menjadi pusat perhatian entah karna tingkahnya atau latar belakang yang ia miliki namun Jae Hwan menggenggam tangan Ara berharap gadis itu tidak terpengaruh, ia sedikit menekan jari-jari tangan gadis itu seakan memberi isyarat bahwa ia bisa mengandalkannya. "Yaaa, Kim Jae Hwan ssi kau tidak pernah bercerita padaku tentang gadis ini." Min Gyu menghampiri Jae Hwan dan Ara yang masih berada di area parkir. Pria itu tersenyum miring membuat Ara merasa tidak nyaman dan Jae Hwan dapat merasakannya. "Seleramu memang tidak pernah gagal." Min Gyu kemudian menepuk pundak Jae Hwan sambil berbisik meski suaranya lebih terdengar seperti sebuah ejekan bagi gadis itu yang dapat ia dengar dengan jelas. "Hanya saja ini tidak seperti dirimu, kau menamakan dia apa? yeoja chingu (pacar)?" Min Gyu melanjutkan, ia memasang wajah bingung meski senyum mengejeknya tidak lepas dari ekspresi pria itu. Meski wajar saja jika siapapun heran sebab Jae Hwan tidak pernah melakukan hal gila dan aneh lebih dari ini, selain fakta bahwa ia cukup gila dalam menaklukan wanita. "Kau bisa menyebarkan rumornya pada yang lain, aku tidak keberatan." Jawab Jae Hwan santai, tangannya masih menggenggam Ara dan itu adalah salah satu strategi Jae Hwan agar Ara tidak lagi di ganggu seperti kemarin, ia sedang menancapkan kepemilikannya pada gadis itu. Min Gyu yang merasa seperti tertangkap basah karna menjadi biang gosip kemudian pergi dengan wajah merah, sementara Ara menghembuskan nafas lega. "Bagaimana kalau ku belikan lagi sepatu?" Jae Hwan menatap gadis itu yang kini berada di hadapannya dengan tersenyum, Ara bingung dengan maksud pria tersebut, seperti dapat melihat tanda tanya besar di wajah Ara Jae Hwan kemudian menjelaskan, "Untuk memperbaiki mood mu," jawabannya sangat santai bahkan Ara hampir tidak percaya bahwa itu adalah jawaban yang pas dengan pertanyaannya. "Jika kau berfikir ini seperti dalam drama, aku menolak!" "Aku jelas menyukai uang, dan sepatu yang kau belikan. Tapi segalanya tidak melulu soal uang bukan? aku juga tidak suka di sebut matrealis meski sebenarnya hidup harus sangat realistis!" Kening Jae Hwan berkerut ia tidak menyangka ada yang menolak ajakannya untuk belanja. Dan Gratis. "Ku fikir wanita yang menolak belanja juga hanya ada dalam drama." Ara tertawa mendengar ucapan pria itu, kali ini ia kemudian yang menggandeng lengan Jae Hwan untuk masuk ke kampus, agak menyeretnya sedikit sebab pria itu terlihat seperti sedang berfikir. "Kau tahu aku melihat restoran yang menjual hwajjeon pada sebuah aplikasi. kau harus mengantarku ke sana!" "Heol, kau baru saja bertingkah seperti bunda maria dan sekarang kau bahkan tidak bisa menolak godaan makanan?" ** Pukul 8 malam ketika setengah jam kerja Ara di cafe hampir usai, tempat itu tidak jauh dari kampus ia bahkan bisa datang hanya dengan berjalan kaki 10 menit setelah menyelesaikan semua materi kuliah dan karna pekerjaannya di mulai pukul 5 sore hampir semua tugasnya dapat ia selesaikan. Itu adalah sebuah cafe dengan tulisan 'Dreame' yang meliuk di depan dengan lampu tumbler yang tidak pernah mati, bangku kayunya berwarna cokelat gelap dan meja yang tidak terlalu besar untuk spot pasangan, beberapa juga meja yang lebih panjang dengan empat kursi kalau-kalau ada yang datang bersama temannya. Lampunya di gantung rendah berwarna temaram dengan tudung mirip bunga terompet yang memberikan kesan vintage. Di sebelah kanan terdapat sofa berwarna dark grey yang di susun berhadapan dengan meja kayu dengan warna cokelat yang lebih terang, juga beberapa sofa berwarna putih single yang terlihat sangat nyaman untuk mereka yang suka menikmati kopinya sendiri. Juga gadis itu disana, dengan half apron dan shirt berkerah warna hitam. Benar-benar cocok dengannya yang sangat menyukai gaya kasual seperti ini, itulah kenapa Ara juga sangat bersemangat tiap kali jam kerjanya di mulai. Dan coba lihat sepatunya, ia mempunyai cukup koleksi sepatu sneakers untuk digunakannya bekerja juga kuliah. Senyumnya tidak pernah surut, seakan ia robot yang tidak di ciptakan untuk berekspresi selain dari itu. Ia menyukai berinteraksi dengan pelanggan, gadis itu memulainya dengan menyapa mereka seolah mereka adalah teman. Ia pulang pukul 10 malam dan hanya bekerja 5 hari dalam seminggu, namun mulut cerewet Jae Hwan memang diciptakan untuk terus berdebat dengannya seperti, "Aku bisa memberimu lebih dari 6.000 won perjam dan berhentilah dari sana!" atau ocehan lain tentang ia yang minta di buatkan makanan padahal ada ahjumma dan dua pelayan lain di rumahnya. Dan lebih parah ketika pria itu meminta ia pindah ke apartemennya agar Jae Hwan dapat memastikan ia baik-baik saja setiap saat. Ara bahkan hampir tidak percaya bahwa dulu pria itu tidak memiliki pacar mengingat betapa protektifnya ia sekarang. Hari ini bahkan Ara di buat terkejut dengan pria itu berdiri disana, sedang memesan dan hanya ingin di layani oleh gadis itu yang tengah sibuk melayani pelanggan lain, membuat rekan kerja Ara tersenyum kaku karna keras kepalanya seorang Kim Jae Hwan. "Gogaek-nim Anda sudah memutuskan akan memesan apa?" ra bertanya untuk ketiga kalinya, ia tampak jengkel dengan mulut tertutup yang di paksa tersenyum 'ahh pria ini benar-benar!' ia mengumpat dalam hati kemudian bertanya kembali sebab antrian mulai memanjang di belakang pria yang tidak peduli itu namun Jae Hwan masih memandang gadisnya dan bukan menu pada layar di depan. "Bagaimana dengan espresso, sangat pahit dan cocok untuk membuat anda terbangun dan melakukan aktivitas yang lebih penting." Ara tersenyum miring dengan mata yang membulat menatap pria itu dengan setengah menyindir. "Entahlah, aku sepertinya sedang bosan dan ingin menikmati kopi lebih lama disini." Ucapnya santai seolah sedang menimbang dengan ragu sebab espresso di sajikan dalam gelas kecil sehingga biasa di sebut espresso shot. "Bagaimana dengan Cold Brew? Dalam gelas ukuran medium dan itu cukup untuk menghabiskan waktu anda." "Atau Espresso Macchiato dan kami punya blueberry cheese cake yang tidak terlalu manis dan cocok untuk anda." "Buat pesananmu sekarang, atau aku tidak akan menemui kau lagi Kim Jae Hwan ssi." Pada akhirnya gadis itu mengancam dengan sedikit berbisik membuat Jae Hwan menatapnya seakan berkata 'kau curang!' "Baiklah pilihkan untukku." Dan Jae Hwan menghabiskan waktu dua jam untuk menghabiskan dua gelas Cold Brew juga Croissant dan cheese cake nya, ia bahkan merasa perutnya membesar tanpa kendali. Dan betapa senangnya ia ketika gadis itu menghampirinya dengan pakaian yang sudah ia ganti. Memainkan matanya dengan isyarat yang dapat Jae Hwan mengerti, pria itu mengekor di belakang dengan wajah senang yang membuat Ara juga tersenyum dan melupakan kejengkelannya tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN