She Doesn't Touch Me, But I Feel ... Sultry!

1182 Kata
Seoul tengah di guyur hujan ketika Ara dan Jae Hwan keluar dari cafe, Juni memang sedang musim panas namun frekuensi curah hujan sudah mulai tinggi, biasanya terjadi dalam tiga minggu. Sebelum akhirnya cuaca akan sangat terik hingga Agustus. Ara memandangi langit yang tampak gelap membuat rintiknya tidak terlihat berasal darimana. Ia menjulurkan lengannya, membuat beberapa tetesan jatuh mengenai telapak tangannya yang lembut, airnya sejuk di tengah cuaca yang begitu panas seharian. Ia bersyukur cafenya memiliki pendingin ruangan yang baik. "Kau sedang apa?" tanya Jae Hwan heran, membuat gadis itu menatapnya dan ingat bahwa pria itu mengekor padanya tadi. "Aku sedang menghitung seberapa parah aku akan kehujanan sampai halte bus." "Bus?" "Dan kau tidak berfikir untuk pulang bersamaku?" Jae Hwan mendengus mendengar jawaban gadis itu. "Tadi, aku lupa bahwa ada kau yang terus menungguku. mian!" gadis itu tersenyum polos mengabaikan wajah kesal Jae Hwan. "Ahh, tapi tetap saja kita akan sedikit basah sebelum masuk ke mobil." Ara sedikit mengeluh, mengingat ia hanya memakai tshirt putih berlengan pendek. Ia juga melirik sepatunya dengan sedih membuang nafas dengan kasar sebagai bentuk protes pada dirinya sendiri sebab itu adalah pemberian Jae Hwan namun belum sempat ia berfikir lagi, Jae Hwan sudah menariknya membuat gadis itu sedikit tersentak. Ia berlari kecil dengan senyum yang muncul di wajahnya entah karna apa di tengah cipratan genangan air, dan diantara tetesan hujan yang tidak mungkin mereka hindari, sesekali menengok memastikan Ara juga tersenyum seperti dirinya. Jae Hwan suka hujan, ia merasa seperti kembali menjadi anak kecil ketika melihat tetesannya. Pun Ara, ia sebenarnya tidak keberatan jika saja outfit nya hari ini mendukung. "Ahh menyebalkan. Rambutku, Oh Ya Tuhan sepatuku juga." Ara langsung mengeluh ketika mereka masuk ke dalam mobil, memegang rambutnya dengan kesal sebab ia menghabiskan banyak waktu dengan hair straightener setiap hari dan rambutnya akan berubah seperti singa hanya dengan lima menit terkena air hujan dan juga sepatunya yang terasa seperti membuat kakinya tenggelam disana. Jae Hwan tidak peduli dengan ocehan gadis itu, ia menjulurkan tangannya ke bangku belakang mengambil jaket baseball yang tergeletak disana kemudian memakaikannya pada Ara, membuat keduanya terdiam sesaat. Ara tidak menolak namun senyum menyebalkan muncul dari wajahnya. "Mwoya (apa ini), kau sedang mencoba bertingkah romantis?" "Dan berpikir aku akan mengucapkan terima kasih seperti wanita lain yang menjadi teman kencanmu?" gadis itu melipat tangan di d**a, sementara jaketnya menutupi bagian belakang tubuhnya dengan lengan jaket yang menjuntai. Jae Hwan menarik nafas sebelum dapat menjawab gadis itu. "Aku tidak mau ada orang lain yang melihat pakaian dalam milikmu sebab kau juga membuatku ingin melahapmu disini. Sekarang juga!" pria itu tersenyum jahat, dengan wajah yang ia dekatkan pada Ara membuat gadis itu buru-buru memasukan lengannya ke dalam jaket dan menutupnya dengan benar. Ara memeluk dirinya sendiri seakan itu adalah bentuk perlindungan dirinya. Jae Hwan tertawa melihat tingkah gadis itu kemudian memundurkan tubuhnya agar bisa mulai menyetir dengan baik, sementara Ara terlihat canggung. Mukanya merah sebab terlalu percaya diri berfikir pria itu tengah menggodanya dan apa ini, pakaian dalamnya ya ampun terekspos dengan santai di hadapan pria itu ia bahkan dengan bodohnya malah memperdulikan rambut dan sepatunya yang sama kacaunya. "Kau ingin sup hangat? seolleongtang (sup tulang sapi) atau ramyeon?" "Heol ramyeon? Byuntae (m***m)!" amAra menatap pria itu dengan tatapan menuduh sambil mengeratkan pelukannya di tubuhnya sendiri. Lagi. *di korea ajakan makan ramyeon pada wanita di artikan dengan kegiatan seksual atau ajakan ke rumah. ** Rintik hujan belum juga reda seperti tengah memandangi dua orang yang saling menatap dengan raut yang berbeda di dalam naungan atap mobil yang sedari tadi terparkir disana, yang satu sibuk melindungi dirinya seakan pria di hadapan setir mobil itu siap menyerang kapanpun sementara pria tersebut menatap bingung, menjadi tertuduh dalam hal memalukan yang ia sendiri tidak mengerti. Air hujan tidak mampu masuk ke sana, kendaran tersebut memang di ciptakan untuk melindungi pemiliknya meski pakaian keduanya sebenarnya sudah benar-benar basah. Udara terasa mulai sejuk karna hujan yang turun malam ini membius cuaca terik yang tengah melanda Seoul sejak siang hari. Membuat beberapa orang bisa mematikan pendingin ruangan sebentar saja. "M-mwoo?" Jae Hwan masih tidak paham dengan tuduhan Ara, gadis itu mendadak menjadi sangat waspada terhadapnya dengan wajah yang sudah memerah dan tangan yang memeluk tubuhnya sendiri seakan hal itu sudah sangat melindungi dirinya dari ancaman apapun. "Aku sering melihatnya di drama, pria yang mengajak wanita makan ramyun artinya ...." Wanita itu tidak melanjutkan penjelasannya dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia malah sibuk menggigit bibir bawahnya seakan menahan kata yang harusnya keluar agar tidak ia ucapkan. Jantungnya juga berdegup tidak sewajarnya dan itu membuat Ara kesal dengan dirinya sendiri. "Lupakan!" Ara membalik tubuhnya agar kembali enghadap ke depan mencoba mengontrol dirinya sendiri. "Oh ayolah, aku tidak ada niat sedikitpun menjadikanmu teman tidurku. Kecuali jika kau yang menginginkannya!" Jae Hwan mengerti setelah melihat gelagat Ara, jawabannya membuat gadis itu menatapnya dengan bola mata yang hampir keluar membuat pria itu terkikik. Jae Hwan bukan tidak tertarik, gadis itu menggodanya dengan cara yang berbeda. Bahkan ketika rambut panjangnya terikat dan Ara memperlihatkan lehernya yang putih seperti merayu Jae Hwan untuk memberi kecupan disana dan fantasinya soal rambut Ara yang berantakan di bantal setelah mereka b******a begitu sering muncul menyiksanya hingga harus mendinginkan kepala di bawah kucuran air dingin, semakin dingin lebih baik. Atau ketika gadis itu selalu menggunakan celana jeans yang membuat kaki jenjangnya terbentuk sempurna. Ia kadang berpikir sejak kapan ia menjadi pria m***m seperti itu. Bahkan wanita yang menggunakan pakaian seksi malah terlihat memuakan untuknya. Namun pria itu menunggu, ia hanya menunggu Ara menyerahkan dirinya seutuhnya sebab ia tidak ingin itu menjadi sebuah paksaan baginya dan meninggalkan kesan yang sama pada gadis yang ia kencani. Ia ingin menyentuh gadis itu karna hatinya sudah siap. Entah kenapa Jae Hwan begitu peduli dengan cara Ara menerima semua tentangnya. "Berhenti menonton drama, tidak semua yang kau tonton itu benar. Kau tidak mungkin melihat pria sempurna seperti Yoo Shi Jin di kehidupan nyata. Begitu juga dengan informasi seperti yang kau tuduhkan padaku tadi. Arrasseo!" Jae Hwan melanjutkan kata-katanya setelah terbebas dari pemikirannya sendiri soal gadis itu. "Heol, kau melarang aku menonton drama tapi coba lihat siapa yang hafal peran sempurna Yoo Shi Jin?" Gadis itu mendengus "Yaa, Yaa, aku tidak mungkin buta informasi, bahkan jika kau bertanya pada ibuku dia akan tahu siapa Song Joong Ki." "Heol Daebakkk!" Ara tiba-tiba berppkir akan sangat menyenangkan membicarakan idolanya bersama ibu Jae Hwan, ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan seakan informasi yang baru di dengarnya adalah sesuatu yang luar biasa, mereka pernah bertemu sekali dan Ara menyukai bagaimana wanita paruh baya itu memperlakukannya. Keduanya sampai di depan apartemen Ara tidak lama setelah Jae Hwan memutuskan menyetir mobilnya tepat setelah Ara kehabisan kata-kata untuk membela diri dari ketidaktahuannya karna sudah menuduh Jae Hwan. Gadis itu buru-buru membuka pintu mobil dan menutupnya lagi tanpa berpamitan meninggalkan suara ber'debum' yang tidak terlalu keras. Sementara Jae Hwan mengekor pada gadis itu mereka sedikit berlari masuk ke gedung mencari perlindungan dari tetes hujan yang masih cukup deras. "Kau mengikutiku?" Ara baru sadar ketika mereka akan naik lift dan mendapati pria basah itu terus berada di belakangnya. Keningnya berkerut mendapati pria itu tidak peduli dengan pertanyaan Ara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN