Cuaca semakin terik di akhir Juli, hujan juga bahkan sudah tidak turun seperti membiarkan matahari memberi ruang seutuhnya. Ara yang terbiasa menggunakan t-shirt merasa bahwa ini adalah musim miliknya, seperti semua orang memiliki style yang sama dengannya, atau mengikutinya juga.
Namun tidak dengan Kim Jae Hwan, ia menggunakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan line vertikal atau sesekali menggunakan sweatshirt dan celana jeans nya, ahh juga topi. Terlalu banyak topi yang pria itu miliki hingga Ara lupa warna apa saja yang ia kenakan. Dan apapun yang ia kenakan sudah jelas memiliki nilai jual.
"Kau tidak merasa panas?" Ara bertanya dengan heran melihat pria itu menggunakan jaket jeans nya hari ini ketika menjemput Ara.
"Aku tidak tertarik menghitamkan kulit." Jae Hwan menjawab acuh, dan Ara sudah hafal dengan jawaban yang sama setiap hari ia hanya memutar bola matanya tidak percaya.
"Bukankah kulit stunning terlihat lebih seksi?" ucap Ara sambil menatap pria tersebut dengan jahil. Gadis itu juga sedikit heran, sepertinya terus bersama Jae Hwan membuat ia menjadi sedikit 'nakal'.
"Aahhhh, kau ingin melihatku tampil seksi?" kali ini giliran Jae Hwan yang menjahili Ara, meski tatapannya lurus ke depan namun ucapannya mampu membuat Ara tersipu malu. Gadis itu kalah telak, Jae Hwan memang ahlinya membuat seorang gadis merona terlebih Ara adalah miliknya dan selama ini gadis itu lebih sering mengumpat daripada terpesona dengannya, sampai-sampai Jae Hwan fikir Ara sudah kebal dengan pesonanya.
"Aku harus pulang akhir minggu ini." Wajah Jae Hwan mulai serius membuat Ara yang tengah memainkan ponselnya berhenti dan menatap pria itu.
"Bukan sesuatu yang penting," Jae Hwan seakan mengerti arti tatapan Ara padanya.
"Ibuku hanya memintaku datang untuk minum teh bersama pak tua itu. Kau tahu 'kan, ibuku itu kadang bisa sangat merepotkan!"
"Tidak, ibumu sangat menyenangkan."
"Aku mengerti ia akan jadi ibumu juga, tapi kau tidak perlu terang-terangan membelanya di depanku." Jae Hwan membuat ekspresi kesal yang di buat-buat tapi pria itu sukses membuat Ara tersenyum meski samar. Dan juga sedikit tersipu.
Jae Hwan sudah sampai di kawasan elit Seoul, Pyeongchang-dong. Juga di namakan Beverly Hills Korea, satu-satunya yang Jae Hwan suka dari daerah ini adalah udaranya yang bersih bahkan luar biasanya pendingin ruangan hampir jarang di gunakan saat musim panas seperti sekarang.
Sepanjang mata memandang di penuhi pepohonan, daerah ini juga sangat cocok untuk orang tuanya yang menyukai seni sebab banyaknya galeri dan museum dengan gaya klasik, ayahnya bahkan bisa mengunjungi galeri setiap bulan hanya untuk memandang sebuah lukisan abstrak yang bagi Jae Hwan membosankan.
"Waseo (kau sudah datang)?" Ibunya menyapa ketika Jae Hwan masuk dengan seorang pelayan, wanita itu memeluknya erat seakan baru bertemu setelah sekian lama membuat Jae Hwan sedikit canggung sebab dia lelaki.
"Eomma, aku bukan anak kecil yang hilang sampai kau memelukku erat." Jae Hwan melepaskan pelukannya dengan paksa membuat wanita itu jengkel.
"Kau tidak hilang, tapi kabur. apa bedanya?"
"Kau terlihat baik-baik saja, bagaimana dengan pak tua itu?" Jae Hwan tersenyum pada ibunya kemudian Kim Soo Hee, ibu Jae Hwan mengantarnya ke taman belakang dimana ayah Jae Hwan tengah menikmati lukisan yang baru ia beli dari seorang kolektor seni, menyandarkannya pada kursi kayu dan seolah lukisan itu memberinya perasaan aneh saat di pandang. Taman itu di kelilingi dinding kaca di bagian belakang rumah dengan rumput sintetik dan meja kayu yang biasa mereka gunakan untuk acara barbeque.
Menyadari ada orang lain yang memperhatikannya membuat ayah Jae Hwan menoleh dan menghampiri pria itu. Tatapannya hangat, Jae Hwan sering merindukannya meski ia tidak mengatakannya pada siapapun, tapi siapa sangka pria itu benar - benar keras mendidiknya hingga kadang membuat Jae Hwan kesal.
"Abeojji ...." Sapa Jae Hwan dengan sedikit membungkuk.
Jae Hwan menyesap teh hangatnya, rasa pedasnya paling tajam di susul sedikit pahit, asam , asin dan manis ibunya menyediakan omij cha (teh berry) dalam satu cangkir putih dengan pinggiran bergelombang, minuman berwarna merah itu juga biasa di sebut Five Flavor Tea sebab rasanya yang bercampur aduk. Ayahnya ini menyukai omij cha saat musim panas, dan ibunya adalah pembuat teh yang andal.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" pria tua di hadapan Jae Hwan memulai pembicaraan setelah menikmati aroma tehnya.
"Hanya begitu saja." Jawab Jae Hwan acuh, matanya tertuju pada ponsel yang tergeletak di meja ia heran benda itu tidak berbunyi sejak tadi.
"Jangan mengacaukan apapun, atau aku akan menyeret kau pulang!" ancaman itu terdengar sangat familiar bagi Jae Hwan, di ucapkan dengan nada rendah yang mampu membuat siapapun terdiam sebab ayahnya memiliki kharisma yang tidak bisa ia tolak.
"Oh ayolah, dia baru saja datang dan kau sudah mengomelinya!" Ibu Jae Hwan datang dengan nampan berisi kue yang baru saja ia ambil dari oven, kemudian duduk di samping suaminya. Jika ayahnya terlihat menakutkan dengan wibawanya, siapa sangka seorang Kim Soo Hee dapat menaklukan pria itu dengan pesonanya. Ayah Jae Hwan bukan apa-apa di banding ibunya. Wanita itu mengendalikan rumah ini dengan cara yang luar biasa.
"Ateul-ah, bagaimana kabar gadis itu?"
Ibunya memang bukan main, ia langsung bertanya pada inti dan tidak berniat basa-basi. Membuat Jae Hwan menatap wanita itu dengan suara tercekat di tenggorokan. Wajahnya memerah seperti ibunya tengah mempermalukan seorang ahli wanita di depan ayahnya.
"Eomma." Jae Hwan melancarkan protes pada ibunya karna ia tahu bahwa wanita itu akan membuka aibnya sebentar lagi. Oh Ya Tuhan.
"Museun soriya (apa maksudmu) ?" ayah Jae Hwan terlihat bingung dan menatap istrinya yang hanya tersenyum.
"Wae (kenapa), eomma menyukai gadis itu ia sangat ceria dan memiliki aura yang mampu membuat siapapun menyukainya,"
"Bukankah begitu?" ibunya seperti tengah menyelidiki Jae Hwan dengan tatapan jahil, oh ya ampun mirip sekali dengan dirinya dalam versi wanita. Ia biasanya melakukan itu pada semua gadis dan kini ibunya tengah melakukan hal yang sama padanya. Sial.
"Eomma kira Ara juga seseorang yang bisa mengendalikan tingkah kau yang kadang keterlaluan." Kalah telak, Jae Hwan benar-benar kehabisan kata-kata bahkan udara di sekitarnya seperti kurang sehingga ia perlu menarik nafas dalam.
Ibunya memang salah satu manusia yang sangat pandai menilai situasi, kebohongan apapun dari dia atau bahkan ayahnya bisa dengan mudah di tebak. Ia ingat ketika masih sma dan ayahnya berbohong tentang meeting padahal bermain golf yang dengan mudah di tebak ibunya hanya dari cara ayahnya mengelak melakukan eye contact. Jae Hwan meringis mengingatnya.
Pria itu kadang berfikir ibunya seorang cenayang (dukun) jika ia tidak ingat bahwa wanita itu pernah menjadi seorang psikolog dan mempraktekan semua ilmunya untuk mengendalikan dua pria ini.
"Benarkah? Kalau begitu kau harus membawanya kesini sesekali, aku ingin bertemu dengannya. Mungkin dia bisa sedikit bekerja sama untuk mengatur anak kurang ajar ini." Dan ayahnya, ia tersenyum licik seakan tengah merencanakan sesuatu padanya.
Dan Jae Hwan seperti sedang menjadi tersangka dan masuk ruang interogasi. Ia masih kehabisan kata-kata mulutnya hanya terbuka tanpa mengucapkan apapun melihat tingkah kedua orang tuanya yang benar saja akan sangat merepotkan.
Ponsel Jae Hwan bergetar, sebuah pesan masuk yang membuatnya buru-buru meraih benda itu dari meja.
''Bagaimana acara minum tehnya, menyenangkan? Jae Hwan ssi aku bosan seharian ini''
''Kalau kau pulang cepat, temani aku makan patbingsu. Eung!'' dan permintaan Ara entah kenapa menjadi sebuah keharusan baginya, Jae Hwan tiba-tiba ingin segera menghabiskan tehnya lalu pergi jika saja ia tidak melihat tatapan kedua orang tuanya yang aneh. Dan ibunya sekali lagi jelas tahu ada apa dengan anak mereka. Ia tersenyum pada Jae Hwan.
"Habiskan dulu teh mu, dan kau bisa pergi ateul!"