"Kau darimana saja hari ini?" Jae Hwan bukan tengah kehabisan kata sehingga mengajukan pertanyaan semacam itu hanya saja ia benar-benar ingin tahu. Apapun tentang wanita itu tidak ingin ia lewatkan dan menimbulkan kesalahpahaman semacam tadi. Memalukan.
"Ahh ... Kang Sol akan pergi kencan besok jadi aku mengajaknya ke tempat Spa dan membeli pakaian."
"Tapi dari yang ku lihat kau juga membawa banyak barang!" sindir Jae Hwan.
"Kau ingat? aku tidak pernah melewatkan diskon." Ara mengucapkannya tanpa maksud apa-apa sambil mengaduk teh yang di campur madu namun setelahnya ia baru sadar itu adalah bagian dari masa lalu yang tidak sengaja muncul. Begitu pun Jae Hwan, ia tersenyum karena gadis itu mengingat apa yang dia ingat juga.
"Ohae Hajima (Jangan salah paham)!" Ara menyeruput tehnya dengan kikuk mengusap tengkuk belakangnya dan memalingkan pandangan ke arah lain, seperti dirinya yang Jae Hwan kenal.
Pria itu tersenyum lagi, entah sudah berapa kali hanya saja ia amat senang karena gadis itu seperti tengah mengingatkan Jae Hwan pada banyak hal di masa lalu, pada gadis ceria yang tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan, gadis yang tawanya menular, gadis yang dengan mudah membuat siapapun menyukainya.
"Aku tidak tahu sekertarisku itu memiliki pacar." Jae Hwan berpura-pura penasaran meski sebenarnya mudah sekali menebak.
"Calvin kau ingat?"
"Kang Sol sangat terbuka untuk seseorang yang tidak pernah berpacaran, ia memintaku mendekatkannya dengan Calvin." Jawab Ara antusias.
"Daebak ... Wanita itu mencuri start bukan!" Jae Hwan tertawa dalam hati mengasihani betapa malang nasib Kang Sol karena membantunya, meski begitu Jae Hwan berfikir Calvin tidak buruk, pria itu beberapa kali berbicara dengannya Karena Calvin termasuk karyawan lama disana.
"Ahh, karena Kang Sol akan pergi kencan besok sepertinya kita juga harus melakukannya." Ucap Jae Hwan membuat Ara menghadapkan lagi wajahnya pada pria itu beradu pandang kemudian sekarang Jae Hwan yang berpaling. Ia tidak pernah menang saat harus menatap mata wanita itu.
"Yahh bagaimanapun aku tetap harus melakukannya," Ara menarik nafas seolah itu adalah sesuatu yang berat. "Kau mau pergi kemana?" Wanita itu menyeruput tehnya.
"Cha (teh)." Gumam Jae Hwan.
"Mwo?"
"Ahh ... Teh ini mengingatkanku pada Ibuku kau ingat?"
Ara kemudian tersenyum ia bahkan menyukai berbagai macam teh karena Ibu Jae Hwan, ia menyukai teh mint yang jarang di sukai orang lain namun baginya menenangkan.
"Jadi kau mau pergi kemana?" tanya Ara sekali lagi.
"Rumahku." Jawab Jae Hwan mantap sementara gadis itu terkejut ia mematung dan tak tahu harus menjawab apa.
Jae Hwan kemudian pamit dan berkata tidak sabar hari esok sementara Ara daripada tidak sabar ia lebih kepada terkejut. Oh astaga berapa lama ia tidak bertemu keluarga Jae Hwan.
"Jangan merasa terbebani dengan hari esok. Kau tahu bagaimana ibuku. Jaljja (selamat tidur)."
Sebuah pesan masuk membuyarkan lamunan Ara ketika Jae Hwan baru saja pulang. Lagi pula kenapa harus ke rumahnya? Ara merasa ini tidak benar, terlalu cepat sementara mereka hanya sedang memperbaiki hubungan atau Ara sedang meyakinkan diri untuk melepaskan.
Jantung Ara berdegup kencang hanya dengan membayangkannya, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur menatap langit-langit kamarnya yang polos. Ia selalu menyadari kebodohannya belakangan.
Gadis itu benar-benar sulit tidur beberapa kali terbangun kemudian mencoba tidur lagi dan malah berguling-guling di tempat tidurnya, jantungnya tidak mau bersikap normal, 'oh ayolah besok itu hanya berkunjung biasa dan dia bukan akan melamarmu bodoh' batin Ara.
Hingga paginya saat mengantri di pintu masuk ia sudah menguap merasakan kantuk di waktu yang salah, ia butuh americano namun pagi ini ia sudah menenggak ginseng merah akibat kurang tidur dan tidak berharap jatuh sakit.
"Ara-ya kau mau kopi?" tanya Kang Sol ketika ia baru saja duduk di kursinya.
"Ahh ... Kau benar-benar bisa membaca pikiranku." Gadis itu menyandarkan kepalanya di meja rasanya hari ini sangat lelah padahal baru di mulai.
"Geurae (baiklah), kau mau Americano kan?" ucap Kang Sol sambil mengetik nomor di ponselnya, Ara mengangguk dan Kang Sol tidak menatapnya seperti tidak memerlukan jawaban karena Kang Sol sendiri tahu selera Ara.
Sebenarnya mereka bisa mendapat kopi gratis di dinning room hanya saja keduanya menyukai Americano dari cafe di seberang sehingga lebih memesan minuman tersebut daripada kopi sachet.
"Kau kenapa sudah memesan kopi sepagi ini?" tanya Ara masih dengan posisi malas yang sama.
Kang Sol terdiam ia membuang nafas lelah, "Aku tidak bisa tidur, memikirkan hari ini rasanya memalukan," Ia menatap Ara dengan wajah pucat. "Apa aku sebaiknya membatalkan kencan ini?"
"Yaa, berhentilah bersikap seperti itu. Semuanya akan berjalan lancar kau hanya harus menikmatinya." Ara tiba-tiba saja bangkit dan berkata dengan antusias.
"Ara-ya jangan lupa nanti malam." Jae Hwan sudah berdiri di depan mereka menatap Ara dengan senyum yang menyebalkan membuat bahu gadis itu melesak turun.
"Wae ... Wae?" Kang Sol tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya setelah atasannya itu masuk ke ruangan.
"Ottohkeyo (bagaimana ini) dia mengajakku ke rumahnya malam ini." Ara merengek kehilangan semangat yang baru saja di teriakannya pada Kang Sol.
Dan wanita itu tidak bisa menahan tawa, mengerikan ketika Ara bertingkah seolah kencannya dengan Calvin adalah hal yang tidak harus di takutkan namun kenyataannya Ara pun gugup ketika hal yang sama terjadi padanya.
"Yaa, keumanhae. Aku tidak akan gugup seperti ini seandainya bukan pergi ke rumahnya." Gadis itu masih merengek melihat Kang Sol yang tidak bisa menahan tawa. Menjengkelkan.
"Arrasseo. Jadi jelaskan padaku kenapa kau gugup, apa ini pertama kalinya?"
Ara menggeleng ia jelas sudah 2x ia bertemu keluarga Jae Hwan namun itu 3 tahun yang lalu dan Ara masih ingat bagaimana wajah ayahnya. Meski pria tua itu bersikap baik dan tidak seperti dalam drama namun suaranya kadang membuat jantung Ara berdetak cepat.
"Kau ketakutan untuk hal yang tidak berdasar,"
"Dan kau sulit tidur semalam?" lanjut Kang Sol dan Ara hanya mengangguk.
"Tenangkan dirimu semua akan baik-baik saja lagi pula kau sudah pernah bertemu mereka." Ucap Kang Sol mantap
"Jangan menasehati ku, kau saja mengalami hal yang sama." Jawaban Ara membuat Kang Sol juga membaringkan kepalanya di meja saling menatap dengan pandangan memelas dengan gadis itu.
"Kau benar, aku tidak bisa memberimu nasihat yang aku sendiri tidak dapat melakukannya."
Sementara Jae Hwan hanya tertawa kecil melihat tingkah dua wanita di luar ruangannya tersebut, ini bahkan masih terlalu pagi untuk bersikap semacam itu.