Girls Time

1116 Kata
"Jadi kau dan Calvin akan pergi kemana besok?" Kang Sol mematung, pasta yang menggantung di bibirnya di seruput dengan cepat seakan ia terburu-buru kemudian memasang wajah memelas yang malah jadi bahan tertawaan Ara. "Bodohnya aku melupakan tujuan kita kesini." Tawa Ara semakin kencang entah kenapa ekspresi wajah Kang Sol benar-benar membuat perutnya geli, seandainya mereka tidak sedang makan di restoran mewah Ara sudah akan memukul meja berkali-kali dan melupakan etikanya. "Dia hanya mengajakku pergi membeli hadiah untuk temannya," "Tunggu sebentar ... Yaaa, apa hal semacam itu bisa di sebut kencan?" tanya Kang Sol heran. "Tentu saja, Calvin pasti memiliki maksud lain!" Ara benar-benar antusias sejak awal. "Ahh ... bagaimana kalau aku sakit besok saja?" Ara menggeleng dengan ide bodoh Kang Sol. "Mm ... atau ibuku mengajakku pergi sehingga aku tidak bisa menepati janji." "Kang Sol ssi kau harus tenang, semua akan baik-baik saja. Kau juga tahu Calvin orang yang sangat menyenangkan bukan?" Kali ini Kang Sol menyerah, apa yang di katakan Ara ada benarnya juga. Meski begitu hatinya tidak bisa tenang ia seperti akan menang lotre besok. "Seandainya kita tidak terlalu malam aku ingin ke spa sebentar saja, aku benar-benar perlu melemaskan otot," ujar Ara setelah melirik jam di ponselnya pukul 7 malam. Ia sedikit merengek benar-benar seperti seorang adik bagi Kang Sol. "Kau juga sepertinya harus melakukan facial atau perawatan semacam itu sesekali." "Apa kulit wajahku seburuk itu?" Kang Sol sedikit khawatir kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Aishh ... bukan begitu, tapi kau punya kencan penting besok, Ahh tapi apa spa masih buka ya!" Ara seolah sedang berfikir dengan kedua tangannya menahan dagu namun pandangannya memberi isyarat pada Kang Sol yang tentu saja terbaca dengan mudah. "Baiklah aku akan mengantarmu jika kau sangat menginginkannya," ucap Kang Sol akhirnya. Ara tersenyum umpannya berhasil karena Ara juga berfikir Kang Sol butuh sedikit perawatan agar lebih percaya diri seandainya Ara tidak mengungkit soal Spa Kang Sol pasti tidak akan pernah melakukannya. Keduanya berjalan tidak jauh dari tempat mereka makan barusan untuk menunggu taksi pergi sekitar 3 km ke arah Myeongdong kemudian menyusuri jalan yang masih di penuhi salju meski tidak sebanyak Desember, keduanya masuk ke sebuah Hotel dengan design yg sangat artistik dengan logo terkenal yang bahkan cabangnya sudah ada di Singapore dan Indonesia. "Kau yakin ini tempatnya?" Ara menahan Kang Sol sebelum memasuki lobby "Tentu saja, tempat ini sangat terkenal ...." "Kaja (ayo)!" Ara sedikit ragu tempat itu bahkan memiliki taman dengan banyak lampu kecil yang menyala di dindingnya bertuliskan logo hotel yang terlihat sangat cocok untuk spot photo, juga beberapa pohon natal yang hiasannya belum di copot. Kang Sol pergi ke bagian reception dan di arahkan ke lantai 3 dimana tempat Spa nya berada. Ruangan itu besar dari pintu masuk bahkan sudah tercium lilin aroma terapi yang khas dan nuansa temaram yang hangat, Ara memilih Spa sedangkan Kang Sol facial treatment mereka berpisah karena ruangan yang berbeda. Menikmati perawatan selama satu jam benar-benar membuat keduanya merasa menjadi wanita seutuhnya, Ara yang tomboi tidak pernah pergi ke tempat semacam itu kecuali untuk memotong rambut di salon dan Kang Sol tidak pernah sempat melakukan facial kecuali hanya menggunakan sheet mask di rumahnya. Bagian terakhir dari rangkaian tersebut adalah berendam di jacuzzi dengan desain kayu seperti ember air berukuran besar dengan bunga yang terapung di atasnya, harga yang pantas untuk perawatan sehebat ini. "Aku akan mengantarmu lebih dulu." Ucap Kang Sol ketika keduanya naik taksi untuk pulang. "Aishh ... tidak perlu, aku akan turun di stasiun saja." "Kau bodoh? arah rumahku sama denganmu untuk apa kau repot-repot naik subway!" Kang Sol memarahi Ara seakan tengah memarahi adik kecilnya "Benarkah?" "Eung, aku melihatnya di data karyawan rumah kita ternyata satu arah." Sementara keduanya tengah mengobrol ponsel Ara sejak tadi tidak berhenti bergetar, ia mengaktifkan tombol silent agar kegiatannya barusan tidak terganggu namun seseorang di seberang sana tidak sabar dan sudah menunggu Ara berdiri di tepi jalan, memasukan tangannya ke dalam mantel menghindari dinginnya udara menusuk kulitnya. Satu jam dan gadis itu tidak memberinya kabar apapun, pria itu khawatir sebab tadi tidak lagi bertegur sapa bahkan bertemu pun tidak setelah mengetahui gadis itu pulang lebih dulu ia sadar bahwa seharusnya ia tidak membuang waktu dengan mengikuti egonya untuk diam saja. Ara turun dari taksi melambai pada seseorang yang duduk di kursi penumpang sambil tersenyum. Pria itu, Jae Hwan yang menunggunya sejak tadi tanpa kesadaran menarik lengan Ara mundur kemudian menengok seseorang di dalam taksi tersebut dengan wajah kesal, "Kau berani-beraninya pergi deng-" Ocehannya terputus ketika ia menyadari seseorang di sana "Kang Sol ssi?" Ia juga cukup terkejut dan hampir saja malu seandainya keinginannya untuk menarik pintu taksi itu dilakukannya. Jae Hwan menengok pada Ara, gadis itu hanya melipat tangannya di d**a tanpa maksud menjelaskan apapun pada Jae Hwan, matanya melirik tangan Ara yang sudah di penuhi paper bag dengan logo brand pakaian yang ia kenal. "Ahh ... Kau pergi dengan Kang Sol?" Ara menatap Jae Hwan jengkel sementara pria itu hanya mengusap tengkuknya dengan malu, Kang Sol yang terlibat dalam situasi tersebut kemudian turun untuk sedikit membungkuk dan menyapa atasannya itu. "Kau ingin membeku dengan terus menungguku di luar?" tanya Ara jengkel dan lagi-lagi Jae Hwan tidak dapat membantah. "Ahh ... kalau begitu saya permisi dulu, Ara-ya terimakasih sudah menemaniku hari ini." Ucap Kang Sol yang di lanjutkan dengan membungkuk sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam taksi meninggalkan keduanya dalam situasi yang tidak nyaman. Ara berbalik, ia melangkah menuju tangga apartemennya tanpa memperdulikan Jae Hwan sampai setengah jalannya ia hentikan, "Kau tidak mau masuk? akan ku buatkan teh hangat!" Jelas saja tawaran Ara tidak di sia-siakan Jae Hwan pria yang semula memasang wajah sedih mendadak tersenyum kemudian berlari kecil mengekor pada wanita itu. Ara membuatkan insam Cha (teh ginseng) yang membuat Jae Hwan teringat pada ibunya yang selalu membuatkan teh itu saat musim dingin. Jae Hwan menyeruput isinya merasakan hangat melewati tenggorokan dan perutnya, Ara menambahkan madu agar rasanya tidak hambar kemudian menyodorkan kkul pang sejenis donat berbentuk memanjang kecil dengan isian pasta kacang merah kemudian bagian luarnya di siram madu dan di taburi biji wijen. "Kau membuatnya?" Jae Hwan seakan tidak percaya. "Meskipun itu mudah tapi, yahh ... aku membelinya." Aku Ara tanpa ragu dan jawabannya malah membuat Jae Hwan tertawa "Wanita biasanya mengaku pintar memasak dan kau dengan terus terang mengatakan membelinya." "Kau tahu aku sepenuhnya jadi daripada harus menjaga imej yang tidak ku bangun dari pribadi orang lain, aku lebih suka mengatakan sejujurnya," "Ahh ... dan kau tahu aku tidak suka makanan manis." Ara tertegun tiba-tiba saja ingatannya pada banyak hal tentang dirinya dan Jae Hwan terlintas begitu saja. "Kau darimana saja hari ini?" dan pertanyaan semacam itu dulu di benci Jae Hwan sebab artinya ia dan Ara terlalu normal untuk menjadi pasangan namun kini ia mengucapkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN