Cause You I Feel Safe From The Things That Hurt Me

1178 Kata
Ara di bangunkan dengan dering ponselnya yang memekakkan telinga, benda itu lagi-lagi entah terselip dimana membuat Ara mengucapkan sumpah serapah karena dengan sangat terpaksa harus bangun. Ia terduduk dengan mata yang masih terpejam padahal jam tidurnya tidak pernah kurang. Benda itu kemudian berhenti mengeluarkan suara membuat Ara terdiam, masih dengan posisi yang sama kemudian tanpa sadar kepalanya terasa berat matanya semakin dalam terpejam. Ahh gadis itu benar-benar mengantuk sampai suara dering ponselnya kembali berbunyi membuatnya terkejut untuk kedua kalinya memberikan sensasi pusing dan sakit kepala ringan karena terbangun tiba-tiba. Lagi. "Ahh waeee?" Ara merajuk dan kesal ia ingin membentak si penelepon seandainya memiliki energi cukup namun kepalanya sakit dan ia tidak mau di perparah dengan mengomel sepagi ini. "Kau masih tidur?" Jae Hwan sepertinya tidak terganggu dengan keluhan Ara karena ia menggangunya. Gadis itu hanya menarik nafas dan mendengus dengan kasar sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Jae Hwan. "Aku akan menjemputmu satu jam lagi, ku harap kau sudah membaca pesanku dan tidak lagi bertanya kenapa aku akan menjemputmu." Ara masih terdiam otaknya sedang berproses dengan sangat lambat, kemudian keningnya berkerut menyebabkan kedua alis tipisnya bertaut. Ia masih tidak mengerti maksud pria itu. "Aku berusaha mengingatnya tapi tidak ada memori apapun yang ku temukan dari kata 'aku akan menjemputmu satu jam lagi,' apa aku membuat janji denganmu?" Kali ini Jae Hwan yang menarik nafasnya dengan kesal membuat Ara tanpa sadar menggigit bibirnya menunggu pria itu mengomel, namun tebakannya salah. "Baca pesanku, dan jangan bertanya lagi." Jae Hwan menutup panggilannya kemudian Ara mengecek chat dari pria tersebut. Matanya membulat seketika kantuknya hilang ia kemudian mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi. "Eotteohke!" "Satu jam, aku punya waktu satu jam untuk mandi dan bersiap." Ia segera bangkit dari tempat tidurnya hampir meloncat mengambil handuk yang tergantung di hanger kemudian masuk ke kamar mandi. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan sikat gigi penuh busa di mulutnya, membuka lemari pakaian dan mematut dirinya di cermin full body di sana kemudian mendapati pakaian yang ia rasa sudah pantas untuk pergi menemui keluarga Jae Hwan. Ya, gadis itu di undang untuk datang ke sana entah karena tujuan apa tapi ia hanya memiliki waktu satu jam dan tidak berpikir untuk kembali bertanya. Tepat satu jam ketika Jae Hwan kembali menelepon gadis yang kini tengah sibuk dengan sneakers nya, ia melirik dari jendela mendapati mobil pria itu sudah berada di sana Ara mempercepat gerakannya mengikat tali sepatu kemudian bangkit setelah mengambil sling bag nya. Ia bermaksud mengangkat telepon itu setelah masuk dalam lift. "Kau sudah makan?" tanya ibu Jae Hwan setelah menyambut gadis itu di pintu, membawa mereka ke meja makan yang di atasnya sudah penuh dengan hidangan rumahan korea, wanita itu memeluknya dengan hangat dan senyuman yang mempesona bahkan di usianya yang tidak lagi muda. Membuat Ara teringat cerita Jae Hwan tentang ibunya. "Ne, saya sudah sarapan." Ara menjawab dengan gugup tangannya mengusap tengkuk yang tertutupi rambutnya yang tergerai. "Meski begitu kau harus makan, duduklah!" ibu Jae Hwan memaksa, pandangannya bagi Ara cukup mengintimidasi seperti sebuah perintah sementara Jae Hwan hanya terkikik saja melihat Ara yang salah tingkah. Kemudian sang pemilik rumah bergabung, pria tua itu masih terlihat segar meski beberapa rambut putih sudah terlihat dengan jelas. Ia tidak tersenyum membuat Ara semakin gugup. Berjalan perlahan kemudian di sambut oleh Ibu Jae Hwan dan di sana lah Ara melihat senyum itu, senyum yang di berikan hanya untuk wanita paling cantik di rumah tersebut. Kemudian Jae Hwan mengusap punggung tangan Ara membuatnya menatap pria itu, sorot matanya seperti tengah mengatakan 'kau bisa mengandalkan ku' seperti saat itu. Saat Ara memutuskan untuk menjadikan pria itu tempat perlindungan. Ara tahu hari seperti ini akan terjadi mengingat pembicaraan Jae Hwan dan keluarganya Minggu lalu yang kemudian di ceritakan kepada Ara, ia hanya tidak menyangka akan secepat ini. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Ia merasa seperti tengah dinilai, apakah pakaian yang ia kenakan sudah layak atau etikanya benar. Meskipun orang tua Jae Hwan tidak memikirkan hal tersebut sebab ini hanya pertemuan biasa mereka hanya ingin mengenal Ara lebih jauh. "Aaahhh ... jadi kau tinggal sendiri?" pertanyaan yang di lontarkan Ibu Jae Hwan ketika ia bercerita bahwa Ara dari Indonesia. Ara hanya mengangguk ia bersikap sangat tenang hari ini membuat Jae Hwan melihatnya dengan tatapan aneh. "Kau sedang melakukan pembunuhan karakter?" bisik pria itu yang langsung di jawab dengan tatapan tajam Ara. "Bersikap seperti biasanya, kau tidak pernah semanis ini sebelumnya." "Keumanhera (ku bilang berhenti)!!" Ibu Jae Hwan, Kim Soo Hee kemudian mengambil nampan berisi poci kecil dengan tiga cangkir berukuran kecil yang biasa di gunakan untuk acara minum teh. Kali ini Sollip-cha (pine needle tea) yaitu teh herbal yang terbuat dari jarum pinus, atau daun pohon pinus. Di Korea, teh yang terbuat dari daun pinus Korea atau pinus merah Manchuria dikenal sebagai sollip-cha, airnya hampir seperti teh hijau tidak pekat dan bening. "Aku menambahkan madu di dalamnya, ini bagus agar kau tidak mudah lelah." Wanita paruh baya itu mempersilahkan Ara mencobanya, ia mengambil cangkirnya kemudian menghirup aroma yang keluar, tidak terlalu tajam sepertinya ia bisa menikmatinya. "Ku dengar kau juga bekerja paruh waktu?" Ara lagi-lagi hanya mengangguk, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia benar-benar gugup. Sementara Ibu Jae Hwan menunggu respon yang lebih dari itu. Mereka pernah bertemu sekali dan Ara sangat ceria juga banyak bicara namun bertemu di rumah seperti ini sepertinya membuat nyali Ara ciut. Ibu Jae Hwan tersenyum. Ia ingat bahwa dulu ia juga pernah berada di posisi tersebut dan sama gugupnya. "Benarkah?" ayah Jae Hwan kemudian menimpali, seakan tertarik dengan topik yang tengah mereka bicarakan. "Ne, di sebuah cafe dekat kampus. Saya hanya bekerja 5 hari dalam seminggu." "Kau bekerja keras rupanya, anak bodoh itu harus belajar banyak darimu." Pria tua itu menatap Jae Hwan seperti memberi isyarat bahwa yang ia maksud adalah anaknya. "Kau tidak perlu menatapku!" Jae Hwan membuat ekspresi kesal yang di buat-buat membuat ruangan seketika riuh oleh suara tawa semua orang termasuk Ara. "Apa pekerjaan orang tuamu?" Ara terdiam ia hanya tidak ingin membahasnya meskipun suatu hari pertanyaan tentang keluarganya pasti akan menjadi pembahasan, dan ia tidak bisa terus-terusan menghindar. "Ayah bekerja di perusahaan minyak dan gas milik negara sebagai General Manager." "Jinjja (sungguh)?" bahkan Jae Hwan sendiri pun tidak tahu, ini kali pertama Ara bercerita dan membuatnya terkejut. Cangkir yang hampir menempel di bibirnya kemudian seakan ia tolak dan letakkan kembali mendengar cerita Ara. "Eung, ia akan segera berumur 56 tahun dan itu membuatnya sebentar lagi menjadi seorang pengangguran." Jawaban Ara membuat semua orang tertawa ringan, pun Ara meski dengan sedikit canggung. "Sementara ibu ia memiliki restaurant di Bandung, kota dimana saya tinggal," "mereka tidak tinggal bersama sebab ayah lebih sering berada di luar kota, adik perempuan saya yang selalu menemani ibu." Ara melanjutkan, ia tidak berbohong hanya saja kedua orang tuanya memang sudah berpisah meski secara negara mereka masih pasangan yang sah. Ara tidak mau membuka diri terlalu dalam. Suasana kemudian hening sejenak sampai ibu Jae Hwan memutuskan untuk bicara kembali, "minum dulu teh mu nak, nikmati selagi hangat!" ucapannya begitu lembut membuat Ara tersentuh, gadis itu menatap wajah cantik wanita di hadapannya sebentar seakan mengatakan terimakasih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN