Ara pergi ke kampus pagi sekali, pukul 9. Ketika itu, Agustus musim panas berada di puncaknya. Gadis itu perlu memakai banyak sunscreen sebagai bentuk perlindungan diri terbaiknya. Earphone sudah terpasang dengan baik di telinganya memperdengarkan lagu Bolbbalgan4 yang menjadi favorit dirinya sejak awal mereka debut.
Ia memutuskan naik bus tidak ingin menggangu waktu tidur Jae Hwan yang baru di mulainya 4 jam lalu sebab pria itu mabuk semalam. Ara bergidik membayangkan kejadian tadi malam di sebuah bar, Nighlife. Pria itu marah sebab beberapa temannya melecehkan Ara mengatakan bahwa gadis yang datang dengan skirt selutut dan dan blouse tanpa lengan itu menggunakan pakaian yang terlalu sopan untuk datang kesana. Omong kosong.
Dan kejadian setelahnya yang tanpa sadar membuat Ara memerah, Oh Ya Tuhan ia benar-benar sudah gila. Bahkan melihat wajah pria itu saja Ara tidak akan sanggup untuk menutupi rasa malunya. Ia tidak bisa memikirkan apapun selain menghindarinya untuk sekarang. Gadis itu menggeleng ingatannya mencoba hanya fokus pada bagian dimana Jae Hwan memukul seseorang disana.
Ara ingin melerai ketika pria itu mengamuk, tapi satu bagian dari harga dirinya mengatakan ia ingin di lindungi seperti ini, dapat mengandalkan seseorang yang benar-benar memiliki kekuatan diantara yang lain. Ia senang ketika pria itu menariknya dari sana membuat perhatian semua orang tertuju pada mereka seakan tengah menjelaskan pada siapapun dialah wanitanya.
"Mian, harusnya aku tidak membawamu kesana!" Jae Hwan berusaha mengatur nafasnya yang tersengal ketika mereka sudah duduk di mobil, lengannya bertumpu pada kemudi. Sementara Ara masih mematung, nafasnya sama memburunya dengan pria di sampingnya. Kejadian barusan masih membuatnya terkejut hingga tidak mampu membalas kata-kata Jae Hwan.
"Ara-ya??" Jae Hwan mengibaskan kelima jarinya di hadapan gadis itu membuat Ara tersadar dari pemikirannya sendiri.
"Oh?"
"Gwenchanha?"
"N-ne!"
Jae Hwan mengusap pipi lembut gadis itu, kemudian mendekat dan menyatukan bibir keduanya membuat Ara terkejut untuk kali keduanya.
Ciuman itu begitu panas, tidak seperti biasanya. Ara bisa mencium bau alkohol dari pria itu. Tangannya mulai bergerilya, memegang pinggang gadis itu membuatnya semakin mendekat tanpa aba-aba. Kegiatan bibirnya belum berakhir, pria itu terus masuk ke dalam membuat lipstik Ara sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan wanita itu tidak menolak. Ia menikmati bagaimana pria itu melakukannya dengan ahli.
Jae Hwan menekan tombol yang membuat kursi Ara mundur memberikan posisi ternyaman untuknya memandangi tubuh gadis itu. Tubuhnya sudah berpindah, ia kini berada di atas gadisnya memberikan sensasi yang aneh di pusatnya ketika sesuatu terasa menegang disana sementara bibir keduanya tidak berhenti menyatu. Tanpa sadar Ara mengerang, kedua tangannya sudah berada di tengkuk Jae Hwan secara tidak langsung menginginkan kegiatan panas ini berlanjut ke tahap selanjutnya.
"Kau yakin ingin melakukannya?"
Jae Hwan hanya ingin memastikan meski ia tidak ingin di tolak, namun ia ingin gadis itu mengijinkan dirinya sepenuhnya.
Ara yang di pandangi dari jarak dekat merasa malu, ia seperti tengah ditelanjangi dengan pertanyaan Jae Hwan, gadis itu mencium Jae Hwan sekilas hampir seperti kedipan mata dan pria di atasnya tahu itu adalah jawaban. Dan Jae Hwan tidak akan berhenti.
"Beritahu aku jika kau ingin aku berhenti, dan aku akan mencari segala cara untuk mengatasinya!"
Jae Hwan terdiam sejenak, pemandangan di depannya entahlah tidak sama seperti yang lain, atau hatinya menggerakkan segala hal sehingga tubuh mulus gadis itu terasa begitu menggodanya.
Ia mulai dengan menciumi bagian atas, sedikit meninggalkan jejak kemerahan yang membuat gadis itu mengerang di tengah wajahnya yang sudah merah padam. Ara tidak tahan lagi, pusat dari gadis itu begitu mendamba ia tidak ingin berhenti. Kedua kakinya tanpa sadar terus beradu seakan menahan sesuatu keluar dari sana tanpa permisi membuat Jae Hwan tersenyum senang di tengah isapannya pada bagian atas gadis itu, ia merasa sukses menunjukan keahliannya dalam menaklukan wanita. Namun dengan gadis ini, ia ingin semuanya terasa begitu lembut memastikan bahwa mereka menikmati alurnya.
"Tidak akan ada yang melihat kita?"
tiba-tiba saja Ara tersadar ketika mengingat mereka sedang di area terbuka dan sangat mungkin di pergoki orang lain yang lewat.
"Tidak akan ada yang keluar dari bar di jam seperti ini, dan lagi basement ini gelap kau juga bilang hanya hantu yang biasanya muncul." Pria itu tersenyum miring, seakan mengejek teori Ara soal film horor dan sukses membuat gadis itu memukulnya lembut di bahu.
"Kau mau aku berhenti?" Jae Hwan mengejek yang di balas gelengan kepala samar oleh gadisnya.
Dan saat keduanya mencapai puncak itu adalah janji yang Jae Hwan ucapkan bahwa Ara tidak akan menyesal memberikan segalanya pada Jae Hwan sekarang. Ia mencium puncak kepala Ara kemudian berbisik di telinganya,
"Aku tidak akan melakukannya dengan siapapun lagi selain kau."
**
Dan hari ini ketika Ara tidak bisa menolak ingatannya akan kejadian semalam, wajah gadis itu terus memerah seakan musim panas menerpa dirinya saja. Ia bahkan tidak bisa fokus dengan kegiatan kampusnya
"Ara ssi!" tiba-tiba seseorang menegurnya yang sibuk dengan pemikiran ke arah yang tidak pantas di ingat ketika berada di lingkungan belajar.
"Ahh Junhyuk ssi!" pria itu sudah duduk di samping Ara bahkan tanpa permisi, kali ini pun sepertinya mereka memiliki kelas yang sama.
"Kau tidak memanggilku oppa?" pria itu tersenyum menatap Ara membuat gadis itu terkejut dengan permintaan Jun Hyuk baru saja.
"Ahh" Ara kehabisan kata ia bahkan tidak punya alasan untuk mengatakan tidak meski ia juga tidak bisa melakukannya mengingat Jae Hwan tidak suka Ara terlalu akrab dengan pria ini.
"Ku dengar kau datang ke Nightlife semalam,"
"Aku tidak mengerti kenapa Jae Hwan membawamu ke lingkungan seperti itu,"
pernyataan Junhyuk jelas membuat Ara menatapnya dengan perhatian yang berbeda.
"Maksudku kau dan bar adalah sesuatu yang tidak cocok, ku fikir kau pun tidak akan nyaman disana bukan?" mata pria itu seakan tengah bertanya untuk meyakinkan asumsinya dan Ara tidak bisa memungkiri bahwa bar dan dirinya bukanlah satu paket yang dapat di kaitkan, gadis itu lebih cocok dengan tempat terbuka dan mall. Ahh ya, Ara suka sekali mall.
"Mianhaeyo Ara ssi, aku sudah lancang mengatakannya padamu."
"Ahh gwenchanha. Aku tidak keberatan."
"Benarkah?? jadi bagaimana dengan nonton film?"
"Aku punya dua tiket untuk film horror yang baru saja di release!" pria itu menatap Ara dengan antusias sementara ponselnya bergetar dan Ara meminta ijin untuk menjawab terlebih dahulu.
"Sampai kapan kau akan menatap pria b******k itu?" dan ketika suara yang ia kenal mulai terdengar dari ponselnya, mata Ara pun langsung dapat menangkap sosok itu hanya dengan sudut matanya.