You Made Me Feel That You Really Like Me

1002 Kata
Jae Hwan sudah berdiri di samping Ara yang terkejut di tempat duduknya memandangi pria itu dengan bola mata yang hampir keluar, ponselnya masih menempel di telinga meski teleponnya sudah terputus sejak tadi. Di samping gadis itu juga sudah ada Junhyuk yang bertingkah seolah mereka setara. Setidaknya begitu pikir Kim Jae Hwan. Tidak ada yang berani mendekati miliknya, apapun itu. Dan fakta bahwa Junhyuk mengabaikan hal itu jelas mengusik harga diri seorang Kim Jae Hwan. Jae Hwan mendekat mengibaskan tangannya memberi isyarat agar Junhyuk pindah dari sana namun Junhyuk yang kini membelakangi Ara hanya menatap pria itu dengan senyum sinis dan alis yang naik seolah berkata maksud dari Jae Hwan. Pria itu tahu bahwa Junhyuk bukanlah orang baik seperti yang Ara pikir, meski ia juga bukan pria baik. "Kim Jae Hwan ssi kau tidak lihat masih banyak tempat duduk kosong?" pria itu masih dengan santai menatap Jae Hwan, benar-benar tengah mengibarkan bendera perang. Kim Jae Hwan bertolak pinggang membuat Ara kini mulai panik, Oh ya ampun gadis itu tidak siap kalau kejadian semalam harus terulang lagi. "Kau sedang berpura-pura bodoh?" "Keumanhae Jae Hwan ssi!" Ara kemudian menarik lengan Jae Hwan dan pergi dari sana, membawanya ke bangku belakang dengan matanya yang terus menatap pria itu dengan tajam. "Mwo ... mwo??" "Jae Hwan ssi aku tidak suka kau berkelahi lagi!" nada bicara Ara menjadi lebih lembut, setelah sebelumnya ia menghembuskan nafas dengan kesal kini ia sudah siap berkompromi dengan pria di hadapannya, memandangnya seakan hal yang Jae Hwan lakukan juga menyakitinya. "Kau tidak ingin aku berkelahi tapi lihat apa yang kau lakukan barusan?? menatap pria lain?" "Wahh kau benar-benar!" pria itu mendengus dengan kesal membuat Ara tidak bisa menjawab sebab tidak bisa di pungkiri kali ini ia mengaku salah. "Yaaaa, aku hanya menatapnya, kau tidak harus membuat keributan!" gadis itu tidak mau kalah. "Aaahhhh~ kau masih bisa melakukan pembelaan setelah apa yang kau lakukan?" Jae Hwan menyentil kening gadis itu membuat Ara meng'aduh' dan refleks mengusap bagian tersebut yang sedikit memerah. "YAA!!" "Mwoo? wae?" "Ahhh apha (sakit)!!" Ara meringis. Kedua orang tersebut terus saja sibuk dengan perdebatan konyolnya sampai dosen datang dan memberikan materi, setidaknya hal itu bisa menghentikan mereka sejenak. Jae Hwan terus saja membuntuti Ara ketika kelas selesai, membuat gadis itu jengkel sebab menjadi pusat perhatian. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian melipat tangan di d**a menatap pria di depannya. "Kau akan terus membuntutiku?" "Tentu saja, aku tidak akan melepaskan pandanganku darimu!" "Terserah kau saja!" gadis itu kembali berjalan kali ini dengan langkah yang lebih cepat, sementara Jae Hwan tidak berhenti mengoceh bertanya kemana tujuan Ara dan gadis itu tidak bergeming ia terus mengabaikan Jae Hwan sampai kemudian masuk ke dalam toilet. "Hwajangsil (toilet)," "Kau menang ... Kau dengar!" Jae Hwan sedikit berteriak membuat Ara yang kini sudah di dalam tersenyum senang. Ia bisa gila jika terus-terusan diikuti pria itu. "Heol, siapa ini ... Cinderella kampus?" Ara tidak tahu darimana datangnya dua gadis yang kini berada di samping kanan dan kirinya, memandang Ara dengan tatapan benci. Terlalu kentara. Dan apa ini, Cinderella? ia tidak pernah tahu ada julukan tersebut. Ara mengabaikan keduanya, ia tidak ingin mendapat masalah apapun dengan meladeni ocehan macam ini, ingatan ketika ia menjadi bahan lelucon satu kelas masih teringat dengan jelas dan itu mengerikan. Ara masuk ke dalam bilik toilet dan meninggalkan kedua wanita itu disana. "Lihatlah, wanita itu pura-pura tuli." "Yaa, keumanhae ... kau tidak mau mendapat masalah dengan Kim Jae Hwan kan?" gadis yang satunya melerai, Ara tidak ingat tapi sepertinya mereka tidak satu angkatan dengannya. "Oh ayolah! aku bahkan sudah pernah tidur dengan pria itu. Dan kau tahu dia luar biasa!" "Jane!" Dan obrolan tersebut terlalu jelas untuk di dengar Ara dari balik pintu, jantungnya berdetak cepat ada nyeri yang menjalar di hatinya. Ara tidak heran dengan fakta bahwa pria tersebut sudah tidur dengan banyak wanita di kampus ini namun mendengarnya secara langsung jelas menyakiti gadis itu. Ara berpegang pada dinding, kakinya lemas ia bahkan tidak berani bersuara seperti jika mereka tahu Ara mendengarkan pembicaraan tersebut akan menjadi sesuatu yang menyakiti harga dirinya juga, Ara akan berpura-pura tuli dan menguatkan dirinya. Ia menarik nafas kemudian menekan tombol flush dengan cepat dan ketika suara air mengalir terdengar, Ara juga membuang nafasnya dengan kasar. Gadis itu keluar dari sana dan mendapati kedua wanita itu masih berdiri di depan wastafel memandanginya seolah tengah di pergoki melakukan kesalahan meskipun sebenarnya mereka tahu Ara ada disana. "Keokjeong hajima (jangan khawatir)," Ara kemudian mengeluarkan cushion berwarna hitam favoritnya dari dalam handbag peach yang di pegang olehnya sejak tadi. Menepuk-nepuk sponge ke area wajah dengan lembut, "Fakta bahwa kau pernah tidur dengan pacarku tidak membuatku terkejut, yahh kau hanya partner s*x nya. Kemudian ia akan lupa bagaimana malam yang kalian habiskan bersama." "Kau hanya satu diantara sekian banyak, dan yahh bagaimana pun kau tidak istimewa," "Benarkan? siapa namamu tadi, Ahh Jane!" Ara seolah bertanya sambil mendekat, tatapannya jelas mengintimidasi nyali wanita itu menciut ketika ia semakin mundur beberapa langkah. Ara senang melihatnya seperti tikus di selokan. "Kau tahu Kim Jae Hwan tidak pernah memberi predikat pacar pada siapapun kecuali kau tahu siapa?" Ara mengusap pundak wanita itu seolah ada noda disana, merapikan renda blouse di bagian d**a yang Jane kenakan dengan gerakan lambat yang membuat mata Jane menatapnya. "Nega (aku)!!" Ara mengakhirinya dengan senyum miring dengan sengaja membuat Jane kesal. Ara kemudian berbalik, membuka keran wastafel dan mencuci tangannya disana, sekali lagi ia melakukannya dengan gerakan lambat seolah menunggu setiap apa yang akan terjadi di ruangan kecil tersebut. "Kau berfikir dirimu lebih baik dariku?" "Kau hanya salah satu dari leluconnya, Jae Hwan adalah pria dengan banyak wanita yang menginginkannya, kau bisa tebak seperti apa dan dari kalangan mana gadis-gadis itu," "Kita lihat berapa lama kau akan bertahan!" Jane dan temannya pergi dari sana, meski ia berhasil menggertak Ara di akhir perdebatan mereka namun wanita itu juga kesal, tidak ada yang berani melakukan hal tersebut pada seorang Jane. Ara kemudian keluar setelah meredakan emosinya, juga ketakutannya. Ia melewati batasnya tadi, Ara tidak tahu ia kerasukan apa sampai berani melawan Jane dengan begitu luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN