Pria itu masih menunggunya di depan toilet, menyilangkan tangan di d**a sambil bersandar pada dinding pandangan mereka beradu ketika Jae Hwan sadar gadis itu memandanginya juga. Ia kemudian tersenyum dan menghampiri gadisnya.
Ara tidak menyadari pria itu hari ini memakai tshirt putih polos yang sama dengannya membuat mereka terlihat seperti menggunakan couple shirt. Ara tersenyum, berbicara soal couple shirt mengingatkannya pada hari pertama mereka bertemu, hari ketika harusnya Ara menyadari hidupnya akan menjadi seperti roller coaster saat memutuskan untuk menerima seorang Kim Jae Hwan.
Jae Hwan mengibaskan tangannya di depan Ara yang langsung membuat gadis itu mengerjapkan matanya.
"W-wae?"
"Ahhh, kau pasti baru sadar bahwa aku begitu mempesona?" Jae Hwan tersenyum penuh percaya diri sambil bertolak pinggang di depan gadis itu sementara alis Ara bertaut wajahnya jelas menunjukan bahwa ia tidak mengerti.
"Kau baru saja memandangiku dengan mata berbinar,"
"Heol, Daebakkk! Kau dilahirkan dengan kepercayaan diri yang luar biasa besar!"
Ara mendengus, ia kehabisan kata hampir tidak percaya pria itu mengatakannya dengan tersenyum seperti ini.
"Aishh, sudahlah. Kemana kau hari ini?"
"Bekerja."
"Dilarang!!"
"Kau harus bersamaku seharian,"
Dan lagi-lagi Ara menatapnya dengan heran, belum sempat gadis itu membantah Jae Hwan sudah merangkul bahunya dan memaksa ia ikut. Kemudian lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.
Sekarang keduanya berdiri di depan sebuah gedung dengan 3 lantai di Gangnam, di depannya terpampang logo 'Emart Everyday' Ara bahkan di buat terkejut untuk kesekian kalinya karena pria itu membawanya ke tempat yang tidak seperti Ara bayangkan. Bukan tempat yang bisa di kaitkan dengan seorang Kim Jae Hwan. Market.
"Buatkan aku makanan favoritmu, kita bisa belanja bahannya disini!"
"Kaja!"
Tempat itu adalah salah satu supermarket terbesar di Seoul, yang layanannya di buat self service dengan cashier less atau setiap pelanggan melakukan scan dan pembayaran sendiri. Ara terkesan melihat rak-rak yang penuh dengan berbagai macam produk termasuk cinderamata.
Beberapa pelayan menjaga stand dengan seragam hitam dan appron merah, menawarkan sample produk makanan yang membuat langkah kaki Ara tidak sengaja mendekat.
"Igo mwoya (ini apa)?"
"Galbi, kau mau mencicipinya?" seorang ahjumma yang berjaga di stand memberikan sepotong galbi yang di tusuk dengan tusuk gigi.
Wajah Ara terkesan ketika daging itu masuk ke mulutnya, ia tidak bisa menyembunyikan ekspresinya dan membuat ahjumma itu senang.
"Hari ini dagingnya sedang diskon, kau bisa membuatnya di rumah atau membeli yang sudah di masak di sana!"
"Wahh selain enak, saya juga menyukai kata diskon!"
"Tentu saja, semua wanita menyukainya." Keduanya tertawa senang, dan Ara benar-benar membeli 2 pack galbi. Jae Hwan malah menggeleng dengan tingkah gadis itu.
Perjalanan mencicipi sampel makanan belum selesai, Ara mendatangi stand odeng, tteokbokki, haemultang, dan yogurt. Ia bahkan sudah kenyang hanya dengan mencoba semua sample yang ada. Sementara keranjang mereka masih kosong, gadis itu lupa dengan tujuan awalnya.
"Jadi kau berencana memasak apa untukku?" Jae Hwan menarik lengan gadis itu ketika ia berencana mendatangi stand untuk sample s**u. Perutnya benar-benar luar biasa. Gadis itu sedikit kesal karena kesenangannya terganggu namun kemudian ia seperti tengah berpikir soal hal lain
"Kau mau mencoba indonesian food?"
"Kull!"
"Jadi sekarang ambil yang kita perlukan lalu pulang, karena perutku sudah tidak bisa berkompromi!"
"Bodoh, kenapa kau menolak semua sampel gratis ini?"
"Aku menyediakan ruang di perut kecilku untuk masakanmu, aku tidak akan mengisinya dengan makanan lain."
Kemudian Jae Hwan berjalan mendahului Ara tanpa menyadari gadis itu tersenyum dengan keinginan sepele nya.
"Tunggu aku!"
**
Dapur Jae Hwan sangat luas dan rapi, dengan kitchen set dari kayu yang memenuhi dinding bagian atas, mini bar dengan meja batu berwarna hitam dan 3 buah kursi logam dengan desain tinggi yang sangat serasi juga lampu gantung yang di buat temaram memberikan kesan vintage yang comfortable. Oh ya tentu saja bukan pria itu yang membuatnya seperti ini, selalu ada ahjumma nya yang menjaga area itu tetap rapi meski sangat jarang digunakan.
Tempat favorit Jae Hwan yang biasa ia gunakan untuk menghabiskan segelas wine yang berjejer di rak sebelah kanan sebelum ia beranjak tidur, koleksi wine nya tidak pernah habis ibunya bahkan sering membawakan untuknya wine yang berusia sangat lama, wine itu lebih sering di bawa ketika ayahnya pulang dari bisnis di luar negeri. Semakin lama usia wine tersebut maka semakin enak dan mahal harganya. Dan pria itu dengan bangga memamerkannya disana.
Pria itu duduk disana menonton Ara memasak dengan menopang dagu, gadis itu sedikit terintimidasi ia bukan seorang yang ahli di bidang ini hanya ketika ia menonton channel memasak beberapa ia praktekan dan hasilnya tidak buruk.
"Kau tidak akan membuat steak dengan daging yang kau beli bukan?" Jae Hwan bertanya dengan khawatir sebab ia membutuhkan sesuatu yang lebih membuatnya kenyang dari sekedar sepotong daging.
"Bap (nasi), aku akan memastikan kau kenyang sampai besok!" Jae Hwan kembali antusias, dan dalam satu jam mejanya sudah penuh.
"Semur daging, aku memasaknya dengan soy sauce,"
"Kentang balado."
"Ken-tang?"
"Dan kimchi, kau tidak akan melewatkan yang ini."
Gadis itu menyiapkan nasi yang sudah di campur dengan sesame seed, oat juga red rice di mangkuk. Jae Hwan tanpa ragu mengambil potongan daging dengan sedikit bumbu, kemudian mencicipi kentang yang di masak merah hampir seperti kimchi. Ara menopang dagu, melihat pria itu tidak berhenti menggerakan sumpit dan sendoknya.
Gadis itu tidak memerlukan jawaban, Jae Hwan jelas menyukai makan malamnya kali ini. Ia bahkan tidak mempedulikan sekitarnya.
"Aku membuat sesuatu yang mudah kau terima, indonesian food sebenarnya punya banyak yang lebih rumit dari ini."
"Gwenchanha, buatkan untukku juga!"
"Ahh, atau kau bisa membawaku ke sana."
"Kull!"
"Kapan kau ingin pergi? Besok?" gadis itu bertanya dengan santai sambil menggerakan sumpitnya untuk mengambil kimchi
"Orang kaya biasanya melakukan segalanya dengan instan, menghamburkan uang!"
"Membeli private jet atau helicopter hanya untuk berlibur."
"Sayangngya aku tidak. Kau tahu untuk membuatmu tetap kaya, kau harus menggunakan asetmu dengan bijak!"
"Yaaa, kali ini kau membuatku terpesona!" gadis itu tersenyum dengan kembali menopang dagunya menatap pria di hadapannya dengan mata berbinar.
"Siapkan dirimu, karena kau akan terpesona setiap hari!" Jae Hwan tersenyum miring, sambil bersandar dan menyilangkan tangannya di d**a. Ia menyelesaikan acara makannya dengan cepat.
"Secangkir kopi?" tanya Jae Hwan ketika Ara sudah duduk di sofa favoritnya.
"Beer!" Ara sedikit berteriak berharap pria yang tengah berdiri di mini bar itu mendengarnya.
"Kau terus saja meminta beer dan soju padahal tidak pernah menghabiskannya."
"Jangan berkomentar soal apapun yang masuk ke dalam perutku."
Pria itu kemudian menghampiri Ara menempelkan kaleng beer dingin di pipi gadis itu membuatnya terkejut dan hampir mengomel. Namun senyum Jae Hwan membuatnya mengurungkan niat. Entahlah.
"Kau tahu, beberapa orang di kampus mengatakan bahwa aku Cinderella." Ara memulai pembicaraan setelah pria itu duduk juga.
"Aku hanya tidak mengerti, kau tahu itu bukan julukan yang buruk namun aku entah mengapa merasa bahwa itu tidak bagus untukku!" ia kemudian menatap Jae Hwan yang ternyata tengah menatapnya juga dengan serius.
"Kau tidak menyukainya? Aku bisa membuat mereka diam!"
"Aku hanya tidak akan peduli," Ara hanya merasa ia akan menjadi beban jika terus mengandalkan Jae Hwan.
"Kau tahu, hubungan ini di bangun hanya karena kau melihat diriku sepenuhnya. Jika kau mulai peduli dengan pendapat orang, kau tidak akan melihat usahaku mendapatkanmu!"
"Kau memiliki segalanya dalam diriku, jadi angkat wajahmu dan berjalan dengan tegap jangan biarkan siapapun melakukan hal yang menyakitimu!"
Ara tersenyum sekali lagi itu adalah keyakinan yang menguatkannya.