Jae Hwan mengetuk-ngetuk ballpoint hitam miliknya di meja, dengan tangan satunya lagi menopang kepalanya. Ia tidak bisa menyembunyikan tatapan bosannya saat harus menghadiri kelas siang ini, sementara Ara tidak datang ke kampus. Sesekali pria itu mengecek ponselnya memastikan apa chat yang ia kirim satu jam yang lalu mendapat jawaban. Nihil. Gadis itu bahkan mengabaikannya.
Segala hal tentang gadis itu membuatnya terlihat asing, ia bukan seseorang yang akan menunggu kabar dari siapapun namun entah kenapa kegiatan Ara selalu menjadi perhatiannya, ia ingin memastikan apapun yang gadis itu lakukan harus melibatkan dirinya. Atau bahkan ia menyukai berdua dengan gadis itu, tanpa seks. Hanya mengobrol membicarakan hal-hal kecil tentang masa lalunya atau ketakutan terbesar dalam hidupnya. Gadis itu bisa dengan mudah menggiringnya untuk terbuka.
"Yaa, Kim Jae Hwan kau terlihat sedang bosan. Mau pergi ke Nightlife malam ini?" tanya Min Gyu yang sejak tadi duduk di sampingnya.
Pria itu salah satu yang paling dekat dengannya meski Jae Hwan juga tahu hubungannya dengan Min Gyu tidak lebih dari simbiosis mutualisme, Jae Hwan kadang membutuhkannya untuk membereskan gadis-gadis yang kadang menyulitkan dirinya, hanya karena mereka pernah tidur bersama lantas membuat seseorang merasa memiliki kendali atas dirinya. Dan Min Gyu dengan senang hati mengurus mereka.
"Entahlah, tapi aku sedang ingin minum kopi." Jae Hwan melirik jam tangannya, pukul 5 sore Ara pasti sudah di tempat kerjanya. Ia ingin bergegas dan melihat gadis itu.
Min Gyu heran, tidak seperti biasanya Jae Hwan menolak hingar bingar lampu club, alkohol dan wanita. Tentu saja.
"Kau yakin tidak ingin pergi? sepertinya sudah cukup lama tidak melihatmu disana,"
"kau tahu gadis-gadis itu menunggumu, pertanyaan mereka tentangmu terus saja menggangu!"
Jae Hwan mengabaikan ucapan pria itu, ia membereskan bukunya yang tergeletak di meja dengan buru-buru kemudian menepuk pundak Min Gyu sebelum akhirnya pergi.
"Kau tidak berniat mengabariku?" Jae Hwan sudah berdiri di depan counter tempat memesan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal seolah sedang bingung memilih menu yang akan ia pesan. Beberapa orang di belakangnya sudah antri sesekali memperhatikan Jae Hwan yang tak kunjung memilih menu.
"Aku yakin kau tahu kegiatanku tanpa harus aku memberitahumu bukan?" Ara menjawab santai sambil tersenyum kaku berharap tidak akan ada yang complaint sebab mereka mengobrol. Sementara managernya memperhatikan tidak jauh dari mereka.
"Kau ingin sesuatu?"
"Cold brew juga blueberry cheese yang sama."
"Dan kau, aku akan menunggu sampai jam kerjamu selesai!"
"Oh astaga!" Ara mengeratkan giginya, ia tidak bisa untuk tidak jengkel pada pria itu namun Jae Hwan dengan santainya berpura-pura tidak ada yang salah dengan ucapannya. Jam kerjanya akan selesai dalam 4 jam, berapa gelas kopi yang mampu di tampung pria itu untuk menunggunya?
Jae Hwan tidak habis akal dia menonton siaran video mukbang untuk menghilangkan kejenuhannya sambil sesekali melihat Ara, dan setiap kali pandangan mereka beradu Ara akan mulai mengeluarkan jurus tatapan tajamnya yang hampir saja membuat mata gadis itu melompat. Hanya itu gertakan yang bisa Ara lakukan ia beruntung memiliki kelopak mata yang lebar.
"Yaa, kau disini?" tiba-tiba saja seseorang menghampiri Jae Hwan suaranya yang cukup keras terdengar sampai ke telinga Ara membuat gadis itu tanpa sadar juga memperhatikan sumber suara tersebut.
Jae Hwan menoleh dan lagi-lagi Min Gyu. Ia datang bersama Daniel, yang tanpa permisi langsung duduk di hadapan Jae Hwan. Daniel hanya tersenyum bodoh, pria itu memang bertingkah seolah mereka sahabat dengan tanpa ragu terus-terusan bertingkah konyol, Jae Hwan hanya masih meragukannya. Pria itu hanya menatap Daniel ia tidak berekspresi apapun bahkan tidak terkejut, kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi sebab Cafe ini adalah tempat yang cukup dekat dari kampus dan menjadi spot favorit untuk menikmati kopi atau sekedar mengobrol. Bisa saja.
"Kami boleh bergabung atau kau lebih suka sendiri?" Jae Hwan menimbang sebentar kemudian mengiyakan, sebab sebenarnya ia juga bosan hanya saja keinginan untuk menunggui gadis itu disana lebih besar.
Daniel kembali dengan secangkir Macchiato dan Latte milik Min Gyu juga dua potong Croissant dan choco muffin, nampannya sangat penuh sebab Daniel tergiur untuk mencoba semuanya. Belum lagi cheese cake nya yang tidak bisa ia bawa dalam nampan yang sama.
"Kau kelaparan?" tanya Min Gyu sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak juga." Lagi-lagi Daniel tersenyum konyol sementara Jae Hwan hanya memperhatikan.
"Ara menawariku semua makanan yang terlihat cocok dengan Macchiato dan semuanya baru di panggang, aromanya luar biasa." Daniel seperti tengah membayangkan rasa dari kue-kue di nampannya.
"Kau mengenal Ara?" tanya Jae Hwan, ketika nama gadis itu di sebut Jae Hwan terlihat lebih peduli daripada obrolan mereka soal kue.
"Tentu saja, kami ada dalam klub yang sama,"
"Ia gadis yang menyenangkan, saat pertama aku bertemu dengannya ia sangat ceria sehingga menjadi atmosfer tersendiri untuk klub yang membosankan. Gadis itu memiliki kemampuan untuk membuat semua orang menyukainya." Daniel tersenyum kemudian menggigit muffin miliknya dalam satu suapan besar.
"Yah, kau benar!" Jae Hwan kemudian memandangi gadis itu lagi, gadis yang terus melotot padanya namun lagi-lagi di balas senyuman olehnya. Pria itu cukup amatir dalam menyembunyikan perasaannya, pengalamannya selama ini hanya berhubungan dengan tubuh wanita dan bukan hati mereka.
"Wanita itu benar-benar merubah kau!" ucap Min Gyu membuat Jae Hwan menatapnya dengan penasaran.
Jae Hwan hanya tersenyum miring ia tidak menjawab apapun.
"Sejujurnya gadis itu datang padaku, bertanya apa aku bisa berteman denganmu,"
"Awalnya aku tidak mengerti, kau memiliki banyak teman lalu kenapa gadis itu bertanya padaku? mungkin karna aku dengan kau adalah tipe yang sama."
"Konyolnya gadis itu berfikir, aku juga hidup di lingkungan yang palsu. Meskipun yah ia tidak salah."
"Julukan ulzzang (julukan untuk pria/wanita yang sangat menawan) sudah melekat padaku sejak lama, mereka berfikir suatu saat aku akan menjadi idol."
"Itu sebabnya kau menolak banyak tawaran agensi?" tanya Daniel ikut campur yang di jawab dengan anggukan lambat dari Min Gyu. Jae Hwan kini ikut mendengarkan.
"Aku benci mereka yang datang padaku hanya untuk berfoto atau menjadikan kehidupannya sebagai konsumsi publik kemudian menyebarkannya di sosial media agar followers mereka bertambah." Jae Hwan mengangguk ia mengerti bagaiman perasaan Min Gyu.
"Aku harus terus tersenyum dan menyapa mereka hanya karena takut mereka menulis hal-hal buruk tentangku dan menjadi hujatan." Min Gyu seakan menerawang, ia ingat sebuah kejadian 3 tahun lalu ketika orang-orang menghakiminya karna hal sepele.
"Semua orang hidup dengan topeng."