An Angel Of God Never Has Wings

1103 Kata
Min Gyu sudah menghabiskan Macchiato miliknya setelah mereka berbicara banyak hal, memperhatikan beberapa orang juga yang lalu lalang bahkan sudah pergi lebih dahulu. Mereka duduk lebih dari dua jam disana tanpa sadar ketika melihat ke luar jendela langit sudah mulai berubah gelap. Aroma kopi dan kue yang baru matang memenuhi seluruh ruangan memberikan rasa manis yang menggiurkan dengan alunan musik melow yang sempurna kadang Lee Hi dengan Breath kemudian IU yang berduet dengan Yoon Hyun Sang yang semuanya adalah lagu favorit Ara. Kedua pria itu cukup menyenangkan sebagai teman bicara meskipun sekali lagi, Jae Hwan belum mempercayai mereka seratus persen. Namun mengingat bahwa Ara sampai mendatangi Min Gyu membuat Jae Hwan mulai menikmati obrolannya, gadis itu mungkin khawatir dirinya akan kesepian. Ara hanya belum sadar memiliki dirinya saja sudah cukup membuat Jae Hwan merasa sangat sempurna, tidak ada bagian dalam dirinya yang merasa kosong dan rasanya begitu hidup. Tempat itu begitu ramai, kursinya bahkan selalu penuh sepertinya hanya tempat duduk Jae Hwan yang tidak berganti penghuninya. Meja miliknya sudah penuh dengan cangkir dan piring kosong yang isinya sudah pindah ke dalam perut ketiga orang tersebut. "Kurasa gadis itu bukan sekedar teman kencan bagimu, yang ku dengar kau tidak pernah menobatkan siapapun sebagai pacar kecuali yah, dia!" Min Gyu memberi isyarat dengan matanya menunjuk Ara, gadis yang tengah sibuk dengan pekerjaannya dan tidak menyadari sedang menjadi topik pembicaraan pria-pria tersebut. Jae Hwan mengangguk, ada senyum samar di wajahnya Min Gyu dapat melihat ekspresi itu meskipun hanya sekejap mata. Pria itu benar-benar tengah jatuh cinta. "Pilihanmu tidak buruk, gadis itu terlihat sangat manusiawi." Min Gyu mengangkat bahu, perkataan pria itu membuat Jae Hwan menoleh dan menatapnya dengan wajah butuh penjelasan. "Yahh kau tahu, tidak ada yang benar-benar peduli pada orang lain bukan, tapi gadis itu begitu tulus saat ia mengatakan kau membutuhkan seseorang." Mereka terdiam sejenak, tidak ada yang membantah penjelasan Min Gyu sebab yah, Ara memang seperti itu. Ia gadis yang luar biasa sampai-sampai terkadang Jae Hwan merasa ia tidak cukup baik untuk Ara. Gadis itu tidak pernah berhenti tersenyum, membuat suasana begitu hidup bahkan dalam keadaan apapun, ia seperti tengah menebar aura positif pada semua orang dengan caranya, meski begitu hatinya sangat rapuh gadis itu menyimpan luka yang belum bersedia ia bagi dengan Jae Hwan. Daniel dan Min Gyu pulang lebih dulu sementara Jae Hwan melanjutkan kembali kegiatannya menatap gadis itu, gadis yang kini sibuk melayani banyak pesanan kemudian membuat kopi dan juga mengambil cake. Tangannya sangat cekatan begitupun langkah kakinya yang tidak bisa berhenti. Ia tidak pernah tahu sejak kapan memperhatikan seseorang begitu menyenangkan seperti ini, bahkan orang yang mengatakan bahwa menunggu adalah kegiatan membosankan tidak berlaku baginya, Jae Hwan tahu bahwa kini gadis itu memegang kendali penuh atas hatinya dan ia mulai lengah. Menjadikan seseorang prioritas adalah hal baru baginya. Ara melirik pria itu yang sejak tadi dengan santainya duduk di sana, membuat beberapa pasang mata memperhatikan pria tampan itu seakan itu adalah sesuatu yang langka. Ara sedikit kesal, karena gadis-gadis itu menatapnya dengan terang-terangan dan tanpa malu ia ingin menghampiri Jae Hwan dan menyatakan kepemilikan dirinya atas pria itu namun Ara tidak ingin membuang harga dirinya sejauh itu. Tidak akan. "Cheogiyo (permisi) bolehkan aku meminta nomor ponselmu?" Seorang gadis menyodorkan smartphonenya ke hadapan Jae Hwan membuat pria itu menatap dengan bingung, bukan karena ia tidak mengerti tujuannya namun ia hanya tidak menyangka bahwa di zaman ini wanita lebih agresif. Jae Hwan melirik Ara, gadis itu terlihat kesal membuat Jae Hwan ingin mengerjainya juga. Ia mengambil ponsel gadis di hadapannya sambil tersenyum menatap gadis itu yang tentu saja membuat gadis cantik itu senang bukan main. Ia mengetuk-ngetuk layarnya seolah menulis sesuatu kemudian memberikannya lagi pada gadis itu yang jelas membuatnya tersenyum semakin senang bahkan hampir tak percaya. Ia membungkuk kemudian pergi dari hadapan Jae Hwan setelah melambaikan tangan. "Wahhh playboy itu benar-benar membuatku marah!" Ara sudah bertolak pinggang di counter pesanan, matanya menatap tajam pada Jae Hwan yang kini melambai padanya tanpa rasa bersalah. "Geurae (baiklah) kau akan tahu akibatnya. Wahh aku benar-benar ingin segera menghabisinya!" Ara mendengus. Jae Hwan tidak bisa menahan tawanya menatap tingkah Ara yang kesal, ia melipat tangan di d**a dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia hanya berfikir dicemburui ternyata begitu menyenangkan. "Menyebalkan!" gadis yang tadi mendekati Jae Hwan sudah berdiri di depan Ara, bersiap untuk memesan dengan seorang temannya lagi yang sibuk dengan ponselnya. Ara memperhatikan gadis itu dari dekat, ia memiliki kulit seputih s**u dengan wajah manis yang hampir sempurna. Membuat Ara iri karena gadis itu menyukai pacarnya. "Wae?" "Pria itu bukannya menulis nomor ponselnya tapi justru menulis 'pacarku akan membunuhmu jika ia tahu'." "Daebakk!" gadis yang satunya menutup mulut dengan kedua telapak tangan perhatiannya pada layar ponsel kini teralihkan seolah itu adalah sesuatu yang luar biasa, dan tanpa mereka sadari Ara tersenyum, mencuri dengar pembicaraan tersebut dari kedua gadis itu. ** "Kau menjahili gadis tadi?" Ara mulai bertanya ketika ia dan Jae Hwan berjalan menuju mobil, gadis itu sudah selesai dengan pekerjaannya. "Menyebalkan, kau terlalu cepat mengetahuinya!" Jae Hwan memasang wajah seolah kesal kemudian diikuti senyumnya yang hampir tertawa. "Kau ingin makan sesuatu?" tanya Jae Hwan kemudian. "Aku merasa akan menjadi sebesar babi jika kau terus mengajakku makan ini dan itu." "Wae? babi sangat menggemaskan!" "Aku sudah menggemaskan, kau tidak lihat? jadi berhenti membuatku menjadi babi!" keduanya masih saja berdebat sampai Jae Hwan menghentikan mobilnya di sebuah restauran pinggir jalan, Ara tidak berniat untuk makan malam lagi namun melihat mereka berhenti disana ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari banner yang menampilkan menu utama mereka, restauran Kalguksu (sup mi) yang sudah berdiri sejak 3 generasi dan Ara tidak ingin melewatkan kesempatan untuk makan di sana. Jadi ia memilih untuk menjadi babi. Mangkuknya mengepul menampilkan mie dengan kuah kaldu yang harum dan potongan daging juga sayuran, di sajikan dengan kimchi juga pangsit. Ara mengucapkan terimakasih dan tersenyum ketika pelayan mengantarkan makanannya. "Manhi mokko Ara ssi (makan yang banyak)!" Jae Hwan menyindir Ara yang sudah memasukan suapan ketiganya tanpa berkata apapun pada Jae Hwan selain ekspresi wajahnya yang menyukai makanan tersebut tanpa bisa di sembunyikan. "Sepertinya kencan kita selalu berakhir dengan makanan, lain kali aku ingin kita pergi ke tempat yang menyenangkan!" "Ahhh, jadi ini kencan?" "Kau menganggapnya apa selama ini?" Jae Hwan melipat tangan di d**a, kesal dengan jawaban Ara. "Aku hanya berfikir bahwa kencan itu soal jalan-jalan atau pergi ke tempat yang kau inginkan," "Baiklah katakan padaku tempat mana yang ingin kau kunjungi." Ara kemudian berfikir sejenak, ia sudah selesai dengan kalguksu nya di sela-sela pembicaraan mereka, menghabiskan makanan itu hanya dalam beberapa suapan berbeda dengan Jae Hwan yang hampir tidak dapat memasukan apapun ke dalam mulutnya. "Bada (laut)." "Aahhh itu terlalu mudah untukku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN