Sometimes I Just Want To Trip Your Clothes Off

1042 Kata
Seoul masih saja dingin di pertengahan Desember membuat Ara malas untuk bangun dan kembali menarik selimut tebalnya, ia tidak pulang ke apartemennya dan lebih memilih tidur di kamar Jae Hwan sejak musim dingin enggan berakhir selain karena pria itu yang melarangnya untuk pulang juga karena ia tidak mau mengambil resiko kembali terkena demam dan tidak ada yang bisa membantunya. "Irreona (bangun)!" tiba-tiba saja selimutnya di tarik oleh Jae Hwan yang masuk tanpa permisi membuka curtain tebal yang menutupi jendela besar tanpa sekat yang memenuhi hampir seluruh bagian kamar itu tanpa ragu-ragu. Untungnya matahari belum terik sehingga Ara hanya perlu berbalik badan agar cahayanya tidak mengganggu penglihatan gadis itu. Ara bergidik meski penghangat ruangan di hidupkan bahkan dalam batas yang bisa membuat berkeringat namun gadis itu enggan jika jari-jari kakinya terbuka karena dari sanalah dingin mulai menjalar. Jae Hwan tidak habis akal ia menekan hidung Ara agar gadis itu tidak bisa bernafas namun karena kemalasannya sudah mendarah daging gadis itu memilih bernafas dengan mulut daripada harus bangun. "Irreona jebal (ayolah kumohon bangun)!!" Jae Hwan mulai kesal mengatasi gadis itu yang baru Jae Hwan sadari hanya menggunakan pakaian tidur pendek, bagian pangkal kakinya terekspos dengan sempurna ketika selimutnya tersingkap dan Ara dengan santainya tidak melakukan apapun. Jae Hwan bisa ereksi mendadak jika terus melihat pemandangan semacam ini di rumahnya dan ia tidak ingin melakukan hal gila saat ahjumma bahkan ada di rumah "Beri aku 5 menit lagi. Eung!" "Andwe, irreona cigeum (tidak boleh, bangun sekarang juga)!" kali ini ia menarik kedua tangan Ara membuat gadis itu terduduk di tempat tidurnya dengan mata yang masih tertutup membuyarkan lamunan Jae Hwan pada apapun hal e****s selanjutnya. "Cuci mukamu dan gunakan pakaian untuk olahraga." "Yaaa, turunkan aku!" teriak Ara ketika Jae Hwan menggendongnya seperti karung beras di pundak, membawanya ke kamar mandi kemudian menutup pintunya dan menunggu di luar. "Kau meminta 5 menit tadi, gunakan 5 menit itu untuk mengganti pakaian dan mencuci muka, aku akan menunggumu di sofa. Eung!" teriaknya semakin jauh, pria itu membiarkan Ara disana. Ara yang kesal tidak menjawab ia hanya terpaku menatap cermin melihat wajahnya yang berantakan dan tiba-tiba saja ia merasa malu karena Jae Hwan melihat hal tersebut. "Ahh apa besok-besok aku harus menggunakan liptint sebelum tidur?" Ara menggeleng kemudian membasuh mukanya dengan air yang ia lupa atur agar lebih hangat membuatnya memekik karena dingin yang luar biasa. Ara menghampiri Jae Hwan yang tengah duduk di sofa favorit mereka, pria itu menggunakan sneakers, shirt polos berwarna hitam dengan sport pant pendek warna senada sedangkan Ara memakai celana training longgar dengan tengtop yang tertutup oleh jaket. Benar-benar penampilan yang kontras. "Kau benar-benar konsisten." Jae Hwan menggeleng. "Wae?" tanya gadis itu heran ia mengikuti arah pandangan Jae Hwan yang melihatnya dari atas sampai bawah. "Kita akan berolahraga di tempat gym bukan pergi mengelilingi lagi sungai Han seperti hari itu." "Tempat gym menggunakan pendingin ruangan aku tidak mau udara dingin menyentuh kulitku, kaja (ayo)!" kali ini Ara yang pergi lebih dulu sementara Jae Hwan masih saja aneh dengan tingkah gadisnya. Tempat gym itu ramai dan bisa di tebak, kebanyakan wanita menggunakan sport bra yang menampilkan perut mereka yang ketat atau paling tertutup adalah tanktop. Jae Hwan selalu menjadi pusat perhatian dan Ara merasa pakaiannya sangat buruk meskipun pria itu terkesan tidak peduli tapi predikatnya sebagai playboy selama ini pasti membuatnya memiliki standar yang berbeda. "Kau duluan, aku meninggalkan sesuatu di kamar." Ucap Ara sebelum berlari terburu-buru menuju lift, Jae Hwan tidak sempat bertanya dan membiarkan gadis itu untuk kemudian ia masuk ke dalam. Pria itu tengah menggunakan treadmill dengan kecepatan rendah sambil matanya terus menengok ke arah pintu masuk, gadis itu tidak mungkin tidur lagi bukan?? Jae Hwan hampir saja jatuh dari benda tersebut ketika pandangannya terpaku pada Ara yang datang dengan menggunakan sport legging berwarna hitam dan tanktop kuningnya, rambutnya terikat di atas menampilkan leher gadis itu yang terbuka yang lagi-lagi memberinya fantasi menjijikan soal mengecup bagian tersebut. Bodoh. Bukan hanya Jae Hwan tentu saja beberapa pria juga mengalihkan perhatiannya pada Ara, gadis itu bukan menampilkan kesan seksi tapi mempesona hanya dengan tanktopnya saja. Ara mendekat pada Jae Hwan yang otomatis membuat beberapa orang kecewa, pria itu menarik handuk yang di pegang Ara merangkulkannya di leher gadis itu untuk menutupi bagian yang membuatnya memiliki fantasi gila. "Kau tidak kedinginan?" Jae Hwan terlihat kesal. "Sedikit. Tapi semua wanita disini menggunakan pakaian semacam ini dan aku tidak akan membiarkan kau terpesona dengan wanita selain aku sendiri." Ucapnya sebelum menekan tombol pada treadmill di samping Jae Hwan. "Omong kosong apa yang kau ucapkan, kau bahkan sudah membuatku terpesona lebih dari mereka." "Byuntae (m***m)." "Tto ... Tto ... (Lagi ... Lagi ...)." "Tentu saja apalagi kalau bukan m***m ketika kau terpesona hanya karena aku menggunakan pakaian terbuka." Jawab Ara meski kakinya tengah sibuk menyesuaikan dengan benda yang di pijaknya. "Aku bahkan jatuh cinta padamu yang menggunakan celana jeans atau training longgar seperti yang kau pakai tadi." Wajah Ara memerah karena ucapan pria itu, ia tanpa sadar menekan tombol yang membuat treadmill nya berjalan lebih cepat dan membuat Jae Hwan memandangnya khawatir. "Kau yakin tidak akan cepat lelah dengan kecepatan itu?" "Tentu saja, aku sudah terbiasa." Jelas Ara meski dengan nafas yang tersengal. 15 menit cukup untuk Ara menyerah dengan benda tersebut ia terduduk di kursi yang dibawahnya penuh dengan barbel kecil, Jae Hwan yang melihatnya juga menghentikan treadmill dan ikut duduk di samping Ara menyodorkan minum yang entah sejak kapan di pegangnya, Ara lupa. "Hahh ... Hahh ... aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Ara setelah menenggak minumnya dengan terburu-buru membuat pakaiannya ikut basah karena sedikit tumpah. "Bodoh. Kau menyalakan benda itu dengan kecepatan lari maraton." Jae Hwan menyentil kening Ara yang membuat gadis itu meng'aduh' meski tidak memiliki tenaga untuk memarahi Jae Hwan lagi. Nafasnya masih tersengal, ia bahkan baru mencoba satu alat olahraga saja dan sudah merasa payah. Ia Kembali menenggak air minumnya dan seperti anak kecil cairan itu tumpah lagi ke pakaiannya membuat Jae Hwan tanpa sadar menatap bagian d**a Ara yang basah. menampilkan bagian dalam yang sedikit merembes berwarna hitam dengan ukuran yang pas di tangan Jae Hwan, seingatnya. "Astaga ... Kau membuatku gila." Umpatnya "Berdiri, kau tidak boleh menggunakan pakaian seperti ini lagi." Jae Hwan melempar handuknya ke d**a Ara menutupi bagian yang basah tersebut kemudian pergi meninggalkan gadis yang keheranan disana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN