Ahjumma tengah menyiapkan sarapan untuk Jae Hwan dan Ara gadis itu ingin nasi goreng dengan telur mata sapi sedangkan Jae Hwan hanya sepotong roti dengan selai stroberi yang beberapa bagiannya juga di lahap Ara tanpa permisi. Jae Hwan ingin mengumpat andai saja itu bukan Ara, dengan senyumnya yang tanpa dosa. Oh Ya Tuhan.
"Ahh ... Menyenangkan saat kuliah di liburkan," ujar Ara sembari merebahkan tubuhnya di sofa.
Gadis itu menengok ketika wanita paruh baya yang ia sebut ahjumma meminta ijin untuk pergi ke market di lantai bawah, Ara mengangguk setelah berteriak s**u pisang yang dengan mudah di pahami wanita itu.
"Kau bukannya sangat bersemangat ketika berbicara soal kuliah?" Jae Hwan menghampiri ketika ia sudah selesai dengan acara mandi paginya, rambutnya masih basah dan ia hanya menyisirnya dengan tangan kemudian bersembunyi di tengkuk Ara yang membuat leher gadis itu ikut basah.
Ara mendorong Jae Hwan segera sepertinya pria itu akan bertingkah lebih jauh andai tidak bisa di kendalikan, gadis itu menengok kiri dan kanan memastikan ahjumma tidak ada di sana.
"Wae?" lirih pria itu di telinga Ara memberikan sensasi bergidik yang berbeda.
"Yaa, Kim Jae Hwan ssi keumanhae (hentikan)!"
Jae Hwan hanya tersenyum di leher Ara yang terbuka, gadis itu dapat merasakan setiap gerakan yang di lakukannya.
"Ahh ... Byuntae (m***m)." Gadis itu bangkit menatap Jae Hwan dengan bergidik dan menggelengkan kepalanya namun Jae Hwan malah semakin mendekat membiarkan langkah Ara terus mundur hingga punggungnya menyentuh kaca tebal yang langsung memberikan pemandangan bersalju kota Seoul.
"Kau yang merayuku lebih dulu." Ucapnya lagi.
"Na (aku)? E-eonje (kapan)?" Ara di buat bingung dengan pernyataan tersebut karena seingatnya ia tidak melakukan apapun yang berpotensi membuat Jae Hwan menyerangnya dengan jenis yang berbeda.
"Apa kau pikir membiarkan tubuhmu terekspos seperti tadi bukanlah undangan? Kau bahkan membiarkan pria lain melihatnya," nada suara pria itu berubah saat membahas orang lain. "Ahh ... Kau membuatku kesal."
Jae Hwan kemudian mundur tiba-tiba saja ia sudah bisa mengendalikan dirinya, menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan frustasi seolah itu adalah sebuah kekecewaan yang ia luapkan sementara Ara masih mematung di sana jantungnya berdegup begitu cepat bahkan meski kejadian tadi sudah berlalu. Pria itu membuatnya gila, bahkan hanya dengan sentuhan nafas yang menerpa telinganya saja sudah cukup membuat Ara tak berdaya.
"Kau tidak boleh keluar dengan pakaian seperti itu lagi!" ucap Jae Hwan sambil menunjuk gadis itu sebelum pergi ke kamarnya meninggalkan Ara yang tidak paham dengan maksud tersebut.
Sementara Jae Hwan dengan terpaksa harus kembali mandi membasahi tubuhnya di bawah shower dingin agar bagian bawahnya tidak lagi menegang. Ia tidak ingin lepas kontrol lagi. Gadis itu berbeda dan Jae Hwan tidak ingin melukainya kecuali Ara juga menginginkannya.
"Kau ... Kenapa kau pergi mandi lagi?" Ara memang bodoh untuk hal semacam ini otaknya tidak sampai berfungsi dengan baik.
"Kau tidak kedinginan? Hidungmu merah!" Ara mendekat hampir menyentuh pangkal hidung Jae Hwan tanpa perasaan apapun.
"Ya, Ya, Hajima!" teriaknya, sekali lagi Jae Hwan tidak ingin kehilangan kendali atas gadis itu.
"Wae? Kau bosan padaku? Kau tidak mau aku mendekatimu?" Ara tampak kesal karena sikap Jae Hwan, ia kemudian pergi ke kamar dan mengunci pintunya membuat Jae Hwan merasa bersalah karena sudah berteriak padanya.
Namun Ara memang tidak mengerti hal seperti itu membuat Jae Hwan frustasi sendiri, ia tidak tahu kenapa bersama Ara membuatnya kadang tidak bisa mengendalikan diri padahal semua gadis yang pernah bersamanya tahu Jae Hwan adalah seseorang selalu yang memimpin situasi, ia memiliki kendali yang kuat sehingga kadang para gadis itu sendiri yang menyerah.
"Ara-ya mun yeoro (buka pintunya)." Jae Hwan mengetuk pintunya dengan pelan mencoba menarik nafas untuk mengendalikan suaranya, meski sebenarnya ia ingin menggedor pintu itu dan menjelaskan situasinya pada Ara namun sepertinya hal yang terjadi baru saja terlalu memalukan untuk di jelaskan.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, Jae Hwan hanya membiarkannya lebih tenang dan berharap gadis itu bisa melupakan kejadian tadi. Setidaknya Jae Hwan tidak perlu khawatir karena Ara masih di apartemennya. Dalam jangkauannya.
"Ara-ya mianhae, aku akan membiarkanmu lebih tenang. Eung!"
"Kita bisa berbicara saat kau sudah tidak marah lagi." Namun sampai ucapan terakhirnya pun gadis itu tidak kunjung membuka pintunya atau bahkan menjawab.
Sementara Ara di dalam masih dengan nafasnya yang memburu antara kesal dan rangsangan yang Jae Hwan lakukan padanya belum hilang, ia merasa malu sendiri karena terpojok di jendela sementara Jae Hwan dapat melihat Ara hampir hilang kendali. Ara merasa sedikit murahan entah kenapa, ia begitu mudah luluh hanya dengan sentuhan yang ia pikir bagi Jae Hwan adalah hal lumrah.
Malam harinya saat Jae Hwan tidak bisa tidur karena gadis itu belum membuka pintu kamarnya juga sejak tadi, ia terbangun. Keluar dari kamarnya untuk menenggak satu dua gelas wine agar bisa beristirahat lebih baik dan tidak memikirkan gadis itu lagi.
Lampu ruangan sudah di padamkan hanya menyisakan mini bar dengan lampu temaram yang menyala. Gadis itu di sana dengan gelas highball dan sinar lampu keemasan yang menyorot pundaknya yang terbuka. Oh astaga menggoda untuk Jae Hwan sentuh.
Ia mendekat, mengambil gelas lainnya dari rak dan mengisi setengah gelasnya dengan wine, Ara diam saja ia membiarkan Jae Hwan melakukan apapun yang diinginkannya. Tubuh Ara lemas karena hampir menghabiskan satu botol minuman tersebut tanpa kontrol.
"Kau mabuk?" tanya Jae Hwan mengangkat kepala Ara dengan berpegang pada dagu gadis itu. Pipinya memerah juga bibirnya dan terlihat lebih tebal menggoda Jae Hwan untuk semakin masuk ke dalam.
Ara menarik rambut yang menutupi wajahnya dengan kasar membiarkan mahkotanya itu tergerai berantakan. Ia mencoba turun dari kursi bar yang agak tinggi dengan susah payah kepalanya pusing dan kakinya lemas.
Kemudian Jae Hwan menggendongnya di pelukan tanpa perlawanan, Ara benar-benar bukan peminum yang handal. Ia merebahkannya di tempat tidur menutupi tubuh gadis itu dengan selimut tebal.
Jae Hwan dapat melihat gadis itu hanya menggunakan tshirt oversize selutut tanpa bawahan apapun yang astaga terus saja menggodanya padahal gadis dengan mini dress lebih berani dari ini pun belum tentu di sentuhnya.
Jae Hwan mengerjapkan matanya, ia harus mengendalikan diri. Keluar dari kamar itu dan jangan membayangkan hal-hal yang mempengaruhi dirinya untuk di sebut m***m lagi. Namun belum langkahnya sempat beranjak Ara menarik lengan Jae Hwan memaksa pria itu terdiam tanpa penolakan.
"Jangan pergi!" pinta Ara dengan wajah yang menggodanya lebih dalam lagi.