Because Tonight Will Be The Night That I Will Fall For You

1012 Kata
"Jangan pergi." Ucapan itu lebih terdengar seperti godaan daripada perintah. Wajah Ara memerah, entah karena alkohol atau pria itu di sampingnya. Gadis itu bangkit duduk di atas tempat tidurnya yang nyaman kembali membiarkan selimutnya tersingkap dan pemandangan kakinya yang mulus terekspos dengan santai yang mau tidak mau membuat mata Jae Hwan sempat teralihkan. Ara menelusup ke dalam tengkuk Jae Hwan membiarkan nafasnya menerpa kulit putih pria itu dan membuatnya bergidik, sesekali mengecupnya dan Jae Hwan terlihat seperti amatir mematung tanpa bisa merespon apapun bahkan menyerang balik. Gadis itu tidak mau berhenti, ia menggigit daun telinga Jae Hwan yang kini sudah merah padam karena rangsangan yang ia berikan, tangannya mengelus dagu dan leher pria itu tanpa permisi membuat Jae Hwan dengan bodohnya memejamkan mata dan menikmatinya tanpa tahu malu. Ara selesai, ia kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur membiarkan Jae Hwan kebingungan dengan bagian bawah yang sudah menegang dan kepala sakit karena apa yang seharusnya tersalurkan berhenti begitu saja. "Bagaimana rasanya?" tanya Ara dengan senyum bodoh. Jae Hwan hanya memandang gadis itu dengan tidak paham. "Yaa, byuntae! Kau melakukan hal yang sama padaku tadi membuatku merinding dan mengakhirinya padahal aku baru saja memulai." Alkohol benar-benar membuat Ara hilang kendali mengatakan apa-apa saja yang ada di pikirannya tanpa memproses ulang kata yang di ucapkan. Jae Hwan ternganga ia kehabisan kata dan tidak tahu harus merespon seperti apa, gadis itu terdengar lebih fulgar daripada dirinya. "Ahh ... Alkohol membuatku berkeringat." Ucap Ara dengan nafas tersengal sepertinya mengucapkan satu kalimat saja membuat ia lelah. Ia tidak mempedulikan kehadiran Jae Hwan disana atau mungkin tidak sadar bahwa pria itu masih terduduk di tepi tempat tidur ketika Ara menendang selimutnya dengan kaki dan membiarkan bagian tersebut kembali tersingkap bahkan lebih parah. "Yaa, Kim Jae Hwan ... Kau gila ... Kau ... Membuatku gila." "Keumanhaseyo jebal (ku mohon berhenti), aku akan kehilangan kendali jika kau terus merayuku seperti ini." "Na (aku) ... Merayumu?" "Museun soriya (apa maksudmu)!" Ara menarik pundak Jae Hwan membiarkan pria itu lebih dekat lagi dan Ara berbisik di telinganya "ini baru rayuan," membuat Jae Hwan sudah kehilangan kontrol. Ia sudah gila karena menahan lengan Ara dan tidak membiarkannya mengambil langkah mundur. "Kau tidak boleh menghentikannya saat aku sudah memulai." Ucap Jae Hwan kemudian mengecup bibir manis gadis itu. Sensasi yang di timbulkan dari Wine juga rasa asli gadis itu sendiri. Keduanya memabukkan dan Jae Hwan tidak dapat membedakan apa yang membuatnya candu. Tangan Jae Hwan tidak bisa diam ia membuka apapun yang menutupi gadisnya membiarkan Ara menunjukan dirinya sepenuhnya, gadis itu tidak menolak ia membalas ciuman itu dengan memasukan lidahnya lebih dalam membiarkan Saliva keduanya bercampur dan memberikan rangsangan yang luar biasa. Ara menahannya sejak tadi, ia menunggu Jae Hwan yang kalah dalam permainan ini meski ia sendiri sudah hampir menyerah dan menyerang duluan. "Kau yakin ingin melakukannya?" tanya Jae Hwan sekali lagi, ia benar-benar takut hal semacam ini membuat Ara menyesal. Wanita itu tidak memberi jawaban namun menarik Jae Hwan untuk berbaring di atasnya membiarkan bagian bawah keduanya beradu dan membuat Jae Hwan tidak tahan. Ia memasukan miliknya memberikan Ara sensasi yang luar biasa dan erangan yang tidak tertahankan, gerakannya di buat berirama agar Ara mengenali ritmenya. Keduanya tidak berhenti, merubah posisi menjadikan Ara memegang kendali di atas, Jae Hwan dapat melihat jelas semua hal yang gadis itu tunjukan dengan bebas. Jae Hwan mencapai puncaknya di engan nafas yang menggebu dan keringat yang bercucuran bersatu dengan keringat Ara, ia tidak bisa menahannya lagi dan menarik Ara untuk turun agar bagian dari dirinya tidak masuk. Jae Hwan tidak mau gegabah. Keduanya berbaring setelah pergulatan singkat tadi, Ara belum mengenakan apapun selain selimut yang menutupi setengah badannya bersama Jae Hwan. Tidur di pelukan pria yang paling di cintainya dengan nyaman aroma after save menyeruak dari tubuh maskulin itu membuat Ara enggan beranjak. "Aku membuatmu marah tadi?" tanya Jae Hwan di selingi kecupan di puncak kepala Ara. Gadis itu menggeleng kali ini ia yang terdengar lebih kekanakan karena marah pada Jae Hwan tadi. "Mianhae, bersamamu selalu membuatku lepas kendali." "Aniya (tidak) ... Itu salahku karena tidak mengerti maksudmu." Ara memperdalam pelukannya pada Ara membiarkan wangi tubuh Jae Hwan menempel padanya. "Aku tidak pernah memberi label kepemilikan pada wanita manapun dan kau adalah yang pertama yang anehnya membuatku selalu takut kehilanganmu," Jae Hwan seperti tengah menerawang pada masa lalu yang pernah ia lakukan. "Ironis bukan? Ketika dulu seorang gadis akan merasa sudah memiliki diriku sepenuhnya mengaturku seperti aku mengatur dirimu saat ini hanya karena aku dan dia pernah menghabiskan malam bersama." "Kau bisa menganggap ku bagian dari karmamu." Jawab Ara sebelum akhirnya menguap, ia pasti lelah. "Kau tahu tidak, ketika aku bertemu gadis yang ku fikir cantik di kampus atau mungkin populer aku selalu berfikir kau mungkin pernah tidur dengannya," "Pemikiran semacam itu menjijikan, aku bahkan kadang kesal karena memikirkannya tanpa alasan." Lanjut Ara. "Ahh ... Sepertinya kepalaku akan sangat sakit besok, sekarang saja rasanya sebuah batu seperti menghantam dan membuatku pusing ... Juga mual." "Gwenchanha, kau tidak pergi ke kampus besok jadi tidurlah." Jae Hwan menepuk punggung Ara yang terbuka dengan tangannya kemudian mengecup lagi kening gadis itu tanpa berniat melepaskannya, ia ingin tertidur dengan posisi ini. "Ahh ... Aku ingat, besok teman-temanmu akan datang, aku mengajak mereka untuk mengadakan barbeque." "Mwo? Kita bahkan tidak punya taman untuk mengadakan acara semacam itu. Dan kau tidak bertanya padaku!" Jae Hwan menjauhkan Ara dari pelukannya dan memandang gadis itu dengan sedikit kesal. Ia hanya tidak habis fikir bagaimana gadis itu merencanakan semuanya. "Kita punya taman kecil yang cukup untuk 5 orang, keokjeong hajima (jangan khawatir)!" Ara menarik Jae Hwan kembali ke pelukannya. Meski Jae Hwan tetap di buat kesal dan bingung dengan tingkah Ara. "Aku tidak akan menyajikan apapun untuk mereka." Protes Jae Hwan. "Apa aku perlu mengundang Ibu dan ayahmu agar kau mau berpartisipasi?" Skak mat. Gadis itu tahu cara mengendalikan seorang Kim Jae Hwan. Obrolan sepele lainnya muncul tanpa aba-aba hanya mengalir begitu saja membuat Jae Hwan dan Ara semakin mengerti satu sama lain sebelum akhirnya gadis itu tidak lagi menjawab dan tertidur di pelukan Jae Hwan. Dengan pakaian yang berserakan dan malam yang semakin larut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN