Pukul 11 ketika salju masih turun dengan lebat dan udara tetap saja dingin meski matahari sudah mulai naik namun Ara masih menyebutnya pagi buta, ia enggan mendeskripsikan waktu tersebut menjadi siang.
Gadis itu terpaksa bangun karena janjinya mengundang beberapa teman ke apartemen Jae Hwan, membeli beberapa keperluan di market sementara pria itu memutuskan mengekor meski mulutnya tidak bisa berhenti mengoceh tentang tidak ada yang mengadakan acara semacam ini saat musim bersalju, orang lebih memilih menghangatkan tubuhnya di rumah.
Namun Ara mendadak tuli ia bersikap tak acuh dan mengabaikan Jae Hwan yang tetap saja mengekor dengan masih menggunakan pakaian tidurnya.
Ara suka market ia bisa mencicipi banyak sampel makanan dan diskon tentu saja. Ia pergi ke counter daging membeli beberapa daging sapi dan perut babi kemudian selada merah dan beberapa sayuran lainnya. Dan mendapat 1 bungkus tteokbokki instan karena membeli banyak dari seorang ahjumma.
"Apa kita harus membeli wine?" tanya Ara ketika melewati rak penuh berisi Wine dengan berbagai macam merk namun Jae Hwan mendorong gadis itu mengalihkan perhatiannya pada yang lain.
"Kita memiliki banyak Wine yang bahkan tidak akan sanggup kau habiskan dalam seminggu."
"Ahh ... Soju ...," pekik Ara ketika melewati showcase yang sama penuhnya dengan rak Wine tadi menganggap jawaban Jae Hwan bukanlah keharusan untuk dengar. Gadis itu mengambil beberapa sambil menggumamkan lagu yang tidak Jae Hwan kenali dan meninggalkan pria itu.
"Keurigo mekju (kemudian bir)."
Ara sangat bersemangat terutama saat menghamburkan uang.
"Aigoo ... kau bahkan membeli daging sapi." Jae Hwan kembali mengeluh mengambil daging yang sudah di pack dalam keranjang Ara
"Wae? Kau tidak mungkin mempermalukan dirimu dengan memberi mereka hanya daging babi. Aku sedang menyelamatkanmu." Bela Ara sambil merebut daging yang di pegang Jae Hwan kemudian menaruhnya kembali di keranjang sebelum pria itu melakukan hal yang akan membuatnya marah seperti mengembalikan belanjaan Ara ke counter daging.
"Heol ... Kau baik sekali agassi."
"Siapa saja yang kau undang?"
"Daniel, Min Gyu, A-ram dan Ye Seul." Jawabnya
"N-nugu? A-ram? Ye Seul?" tanya Jae Hwan tidak percaya sepertinya nama yang asing bagi pria itu.
"Eung. Temanku di kelas."
"Wahh kau bahkan tidak akrab dengan mereka dan kau mengundangnya?" dan sekali lagi Ara mengabaikan Jae Hwan kupingnya pengang mendengar pria itu terus saja mengoceh seperti nenek-nenek.
"Dan orang macam apa yang membeli boneka beruang besar untuk acara barbeque!" Jae Hwan benar-benar kesal ketika keranjang Ara tidak cukup dengan ukuran boneka tersebut yang dengan sangat terpaksa harus di peluknya.
"Kau tidak lihat betapa lucunya dia?? Aku akan memberinya nama nanti." Ara mengusap p****t beruangnya.
"Ahh ... Aku akan menamakannya Mr. Kim. Saat aku kesal padamu dia bisa menjadi samsak dan saat aku rindu aku bisa memeluknya."
"Kau bisa memelukku."
"Dan aku juga bisa memukulmu?" cibir Ara, Jae Hwan tidak pernah menang ketika berdebat dengan gadisnya.
Mereka masih punya banyak waktu ketika ahjumma membantu Ara merapikan taman belakang, sebenarnya tempat tersebut adalah rumah kaca kecil yang lantainya berupa rumput sintetis mendapat sinar matahari penuh ketika siang hari yang seharusnya digunakan untuk beberapa pot bunga namun tidak ada yang bersedia melakukan kegiatan sia-sia itu menurut Ara.
Jae Hwan bersantai di sofa memainkan game offline yang terlihat cukup membosankan bagi Ara.
"Tidak ada yang memainkan game itu lagi." Ara mengejek selera Jae Hwan yang payah.
Pria itu tidak menanggapi kali ini ia yang bersikap tidak peduli pada pendapat Ara. Gadis itu tidak habis akal ia menyuapi Jae Hwan tteokbokki yang di belinya tadi di market pada pria yang sibuk dengan layar ponselnya.
"Ahh ... Maewo (pedas)!" teriak Jae Hwan dan dengan santainya Ara menyodorkan air minum yang di bawanya.
"Heol ... Kau sengaja melakukannya?" tanya Jae Hwan dengan bibir yang sudah merah. Sementara Ara hanya tersenyum miring.
"Kau fikir bisa mengabaikanku?" tanya gadis itu.
"Apa ini ... Kau menyeramkan seperti nenek sihir." Jae Hwan memeluk tubuhnya sendiri seakan tengah ketakutan dan di balas dengan lemparan bantal oleh Ara.
Pukul 7 ketika teman-temannya satu persatu datang, Daniel dan Min Gyu bahkan membawa odeng yang di berikan ibunya dari Busan. Ara senang bahkan hanya dengan menerima makanan seperti itu.
Kemudian Oh A-ram menyusul, gadis itu adalah teman Ara di kelas. Gadis berambut pendek itu memeluk Ara dengan girang terutama ketika mengetahui ia bisa makan satu meja dengan Min Gyu.
Suasana apartemen yang biasanya hening dan memberi kesan vintage berubah menjadi ramai hanya karena kedatangan beberapa orang saja, Ara tersenyum setidaknya Jae Hwan memiliki beberapa orang untuk berbagi.
Ye Seul datang dengan pizza ketika mereka sedang menata meja, Ara bertanya apa gadis itu tidak keberatan dengan 2 orang pria di sana dan Ye Seul tidak menolak.
Aroma dari daging panggang mulai tercium Daniel dengan cekatan memotong perut babi sementara Min Gyu dan A-ram mencampur soju, Jae Hwan yang awalnya keberatan dan hanya diam saja kemudian membaur ia tidak ingin membuat gadisnya kecewa.
Semua piring sudah kosong hanya dalam waktu 3 jam begitu pun dengan pizza dan odeng yang di bawa Min Gyu dan Ye Seul.
"Kau membuka clothing line?" tanya A-ram ketika Ye Seul bercerita dirinya berasal dari Ilsan dan membuka Cloting Line disana.
"Eung. Datanglah aku akan memberimu diskon."
"Jeongmal?" A-ram terlihat antusias dengan tawaran Ye Seul.
"Ara-ya kau mau pergi denganku?"
"Geurom (tentu saja), aku tidak mungkin melewatkan diskon." Ara tertawa senang sementara Jae Hwan hanya bisa menghela nafas, wanita itu benar dia tidak pernah melewatkan diskon.
"Chagiiyaaaa (sayang)." Ara memandang Jae Hwan dengan puppy eyes dan pria itu sangat paham arti dari tatapan yang tak bisa di tolaknya.
"Heol ... Para wanita selalu memiliki cara menyebalkan untuk mengatur pasangannya." Ucap Daniel yang langsung dihujani tatapan marah dari ketiga gadis yang ada di sana.
"Ne, ne, ne aku tidak mungkin bisa melarang kau pergi bukan?"
"Yup. Tapi tentu saja kau harus ikut!"
Pria itu langsung memasang wajah sedihnya sambil menunduk, ia seperti pria bodoh ketika mengikuti kemauan Ara.
"Ada banyak toko yang menjual pakaian di Seoul dan kau memilih berkendara selama satu jam ke Ilsan?"
"50 menit." Ralat Ye Seul sepertinya gadis itu sedikit jengkel pada Jae Hwan karena membandingkan tokonya dengan tempat lain.
Keduanya saling memandang dengan tatapan kesal sementara yang lain hanya menyaksikan saja tanpa mau berkomentar.