Ini adalah tahun kedua Ara berada di Korea, musim dingin yang sama seperti sebelumnya dimana Ara harus terserang demam dan flu yang membuatnya sulit bangun. Ia hampir saja menyalahkan dirinya sendiri sebab mengalami semua ini tanpa keluarganya tanpa siapapun yang bersedia menjaganya meskipun yah hati kecil Ara menyadari orang tuanya tidak pernah benar - benar ada untuknya namun beruntungnya Ara ketika Jae Hwan membawa ia yang hampir saja mengalami hipotermia pindah ke apartemen milik pria itu, kemudian meminta ahjumma menjadikannya prioritas penuh. Menyenangkan bisa melihat betapa khawatirnya pria itu padanya.
Ara bahkan tidak sempat merasakan salju pertama yang turun sebab lagi-lagi harus terbaring di tempat tidur dengan selimut tebal yang mengelilingi dirinya meski begitu beruntungnya tahun ini ia tidak memerlukan selang infus seperti tahun lalu dimana ia kehabisan cairan dan hampir dehidrasi parah karena tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Ia rindu wedang jahe, atau semangkuk hangat bakso ketika cuaca dingin Bandung terasa menyiksa. Ia rindu Bandung nya. Keluarganya. Dan musim salju ternyata lebih parah dari itu.
Kemarin ia merasa lebih baik ketika mengundang beberapa temannya untuk menikmati hangatnya daging yang baru di panggang dan percakapan ringan yang menyenangkan, Ara hanya sedang rindu. Di kelilingi orang-orang.
Ia tidak menceritakan perasaannya pada Jae Hwan, Ara merasa sudah cukup merepotkan pria itu dengan menjaganya disini.
Ahjumma mengantarkan semangkuk samgyetang (sup ayam ginseng) dengan seekor ayam yang masih utuh dalam hotpot hitam, membuyarkan lamunan singkat Ara. Aromanya menguar ke seluruh ruangan dengan asap yang mengepul. Ditemani semangkuk nasi hangat yang sebenarnya tidak wajar bagi orang sakit dan dengan porsi senormal itu.
"Ahjumma, kau tidak membuatkannya bubur?" Jae Hwan yang berdiri di samping Ara memperhatikan nampan yang di bawa wanita paruh baya itu dengan kening berkerut.
"Gwenchanha, aku tidak sedang sakit gigi jadi bisa mengunyah ayam ini dengan baik." Ara buru-buru menyela dan menyambar makanan tersebut sebelum ahjumma nya membawa kembali nampan itu dari hadapannya, ia tersenyum pada Jae Hwan memamerkan deretan giginya yang rapih sebelum mengambil sendok dan mulai menyuap. Hidungnya tersumbat namun masih bisa mencium aroma ginseng dan gurihnya kaldu dari kuah ayam itu. Ia tidak sabar.
"Daebbbaaakkk." Ekspresi yang mudah di tebak Jae Hwan dari gadis yang dengan cepat menerima makanan apapun, Ara terlalu mudah memuji setiap apa yang masuk ke dalam mulutnya.
"Kau harusnya tidak merepotkan dirimu dengan membawa banyak orang kesini kemarin." Ucap Jae Hwan di sela-sela acara makan Ara.
Ara menarik nafas ia menghentikan suapannya dan hendak berbicara namun ketika perasaannya sedang tidak baik seperti saat ini ia takut yang diucapkannya akan membuka apa yang di tutupi dalam hatinya.
"Aku tidak melarang kau berteman dengan mereka bahkan meski aku mengeluh mengenai hal tersebut sejujurnya aku merasa lebih tenang mengetahui kau memiliki orang lain selain aku disini,"
"Kau juga pasti butuh teman wanita untuk pergi belanja seperti rencana yang kau buat kemarin, atau seseorang yang mengerti warna liptint yang tidak aku pahami." Jae Hwan berkelakar membuat Ara tanpa sadar tersenyum.
Ia senang musim dingin kali ini tidak membuat Ara di rawat di rumah sakit seperti sebelumnya. Jae Hwan hanya tidak mau membayangkan jika setiap musim dingin gadis itu mengalami hal menyakitkan ini. Ia masih ingat gadis itu tidak bisa makan apapun karena demamnya yang tidak kunjung turun selama dua minggu, terkapar di kamar apartemennya tanpa memberitahu Jae Hwan betapa buruk keadaannya, ia terus mengatakan dirinya baik-baik saja meski penghangat ruangan miliknya sedang rusak dan bodohnya gadis itu tidak memperbaikinya sampai Jae Hwan datang dan masuk tanpa permisi, mendapati gadis itu tidak sadarkan diri.
"Dokter akan tiba dalam 10 menit." Jae Hwan melirik jam di pergelangan tangannya, dari ekor matanya ia dapat melihat ekspresi tidak suka yang di tujukan gadis itu, Ara berfikir ini semua terlalu berlebihan ia hanya perlu tidur dan makan dan semua akan membaik, meski kenyataannya tidak begitu dan Jae Hwan tidak mau mengambil resiko.
"Ikuti apa yang aku katakan. eung!"
Ara cemberut ia tidak punya pilihan, wajahnya sudah seperti kepiting rebus dengan ruam merah di bagian pipi, pun bibirnya terasa kering dan bengkak akibat suhu tubuhnya yang naik.
Setelah dokter pulang Jae Hwan tetap menemani Ara disampingnya, membenarkan posisi selimut yang tersingkap setelah dokter memeriksanya tadi.
"kapan kau akan berhenti membuatku khawatir?" pria itu mengelap keringat yang keluar dari kening Ara dengan sapu tangan, wajahnya tidak dapat menyembunyikan perasaan bahwa ia takut gadis itu semakin parah meski dokter sudah mengatakan bahwa kondisinya lebih baik dari kemarin.
"Mianhae, aku merepotkanmu."
"Yaa, lalu kau akan merepotkan pria mana jika bukan aku?"
"Kau memarahiku? aku sedang sakit!"
Ara meringis dengan suara yang di buat meyakinkan
"Ahh mianhae, aku hanya bercanda."
Ara memandang keluar jendela besar tanpa sekat yang hampir memenuhi satu bagian ruangan tersebut mengarah langsung pada pemandangan pusat kota Seoul yang ramai dan padat, butir-butir putih berjatuhan tanpa henti membuat Ara tanpa sadar bergidik membayangkan dinginnya jika benda itu menyentuh kulit.
Terkadang ia kesal bagaimana mungkin ia selalu melewatkan salju setiap tahun padahal tidak semua tempat memiliki musim tersebut namun tubuhnya tidak benar-benar siap dengan cuaca seekstrem itu.
Ahjumma masuk ke kamar dengan membawa waslap dan wadah berisi air hangat untuk membersihkan tubuh Ara, membuat gadis itu tersadar ia belum mandi sejak kemarin hidungnya mengendus memastikan bahwa ia tidak bau saat Jae Hwan ada di sampingnya sejak tadi. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat tingkah Ara kemudian meraih tangan gadis itu dan mulai membersihkannya.
**
Keadaan Ara mulai membaik ketika mendekati natal, ia mengenakan sweater selutut dengan celana panjang ketika menyambut Jae Hwan yang baru saja tiba dengan beberapa orang di belakangnya yang membawa pohon natal setinggi dirinya, Ara melongo pun dengan ahjumma nya.
Jae Hwan menghampiri gadis itu dengan kardus yang di peluknya, Ara memandangi kardus itu dengan penasaran
"Kau mau membukanya?"
"Ohh ayolah, natal masih seminggu lagi dan kau memberiku hadiah?" wajah Ara berseri, ia tidak dapat menyembunyikan ekspresi gembiranya mendapati hadiah tersebut.
"Ani," Jae Hwan kemudian membuka kotak itu yang isinya pernak pernik pohon natal, senyumnya seketika pudar yang di gantikan senyum Jae Hwan.
"Kau bisa menghiasnya? aku ingin pohon ini tampak cantik saat kita mengundang orangtuaku."
"Ne, ne, ne." Ara menjawab dengan malas, ia masih saja kecewa dengan isi kotak tersebut.