Love And Be Loved

1062 Kata
Kampus masih sepi ketika Ara berjalan memasuki gedung timur dimana kelasnya akan di mulai satu jam lagi. Langkahnya ringan menikmati musim dingin yang sudah memasuki fase terakhirnya. Gadis itu mengenakan cardigan berwarna grey dan mantel berwarna hitam yang di padukan dengan blue jeans dan sneakers favoritnya, lengan kirinya memeluk beberapa buku tebal yang beberapa lembarnya sudah ia baca kemarin sedang tangan kanannya memegang hot americano yang di belinya saat turun dari bus. Sepanjang jalan salju mulai mencair tidak sebanyak saat natal. Ahh yaa natal, Ara tiba-tiba saja tersenyum mengingat tingkah Jae Hwan yang membeli banyak pernak pernik dan berakhir dengan dirinya juga ahjumma yang harus menghias pohon besar itu sebab Jae Hwan ternyata tidak pernah melakukannya dan malah membuat tempat itu berantakan. Mereka tidak punya pilihan selain melanjutkan apa yang sudah di mulai. Malam natal itu begitu hangat, Ara kembali mengunjungi keluarga Jae Hwan dan menikmati makan malam di sana, ibunya tidak pernah lupa mengakhiri kegiatan keluarga itu dengan acara minum teh yang kali itu insam cha (teh ginseng). Ia sedikit menggerutu dalam hati, lagi-lagi ginseng. Gadis itu harus menghabiskan 2 sachet ginseng merah setiap hari karena cuaca dingin ini dan sekarang teh ginseng. Lidah Ara sudah imun dengan rasa kuat yang keluar dari ginseng tersebut. Ponsel Ara berdering membuyarkan ingatannya tentang malam natal, ia menatap kedua tangannya yang sudah penuh dengan gelas americano dengan sorot putus asa dan tumpukan buku yang ia bawa membuatnya kebingungan mengambil ponsel dari saku mantelnya, kemudian seseorang meraih benda itu merogohnya dari saku mantel Ara tanpa permisi dan membuat gadis itu berbalik dengan terkejut. Orang itu tersenyum, senyum yang membuat Ara terdiam jenis senyum yang mempesona namun berbahaya. Kening Ara berkerut hampir saja menyuarakan keterkejutannya. "Kau tidak menjawabnya?" Ara mengangkat kedua tangannya memberi tahu betapa sulitnya ia mengambil benda selain dari yang ia pegang. Orang itu menekan tombol pada ponsel lain yang ia pegang kemudian ponsel Ara berhenti berdering. "Heol!" "Kau menghindari ku lagi?" "Kau pikir itu sesuatu hal yang mungkin mengingat dimana sekarang aku tinggal?" Orang itu mengangguk. Kim Jae Hwan. membenarkan apa yang di katakan Ara sambil tersenyum. "Benar juga. Tapi kau tidak membangunkan ku?" Jae Hwan sepertinya tengah mencari-cari kesalahan gadis itu. "Ahjumma tidak membangunkan mu? Aku memintanya menyiram wajahmu dengan air jika jam 10 kau tidak juga bangun. Dan apa hari ini kau di siram?" gadis itu mengucapkannya sambil melirik jam di pergelangan tangan. "Kau bercanda!" Jae Hwan menatap kesal pada gadis itu kemudian merebut americano yang di pegang Ara dan meminum isinya tanpa permisi, Ara tertegun ketika bekas lipstiknya sedikit menempel di bagian gelas yang Jae Hwan minum pikirannya membayangkan kegiatan yang biasa di lakukan dengan bibir. e****s. Ia mengerjapkan matanya mencoba menyadarkan diri sendiri dari lamunan bodoh itu dan ngilu yang menjalar di tengkuknya. "Kau tidak meminum ginseng merahmu?" "Sudah, aku menghabiskannya pagi ini. Aku tidak suka rasanya." Ara sedikit bergidik mengingat aroma kuat yang keluar dari ginseng merah. "Tapi kau sangat menyukai samgyetang (sup ayam ginseng) kau bahkan memakan ginseng itu tanpa menyisakannya untuk orang lain!" "Itu pengecualian!" Obrolan mereka terus mengalir seiring menikmati setiap langkah yang mereka lakukan, Jae Hwan sesekali mengusap rambut gadisnya merasakan lembut dan aroma shampo yang terasa dari sana. "Yaa, aku ingin makan eomuk (fish cake)!" "Ne, ne, ne!" ** "Yaa, Ara ssi kau tahu ada konser bakat di gedung teater timur?" Oh A-ram berbisik ketika kelas berlangsung, gadis berambut pendek itu terlihat antusias. "Benarkah?" "Kau mau melihatnya? Ku dengar semua pria tampan dari semua jurusan akan berkumpul dan tampil. Kau tahu mereka adalah ulzzang yang akan menjadi idol nanti." "Min Gyu oppa juga akan bernyanyi solo, kau tau followersnya di sosial media bahkan sangat banyak. Aku akan menjadi penggemar pertamanya sebelum ia debut." "Ahhh Min Gyu." "Kau mengenalnya bukan, kita bertemu di acara barbeque yang kau buat?" gadis itu kembali bertanya ia tidak bisa menyembunyikan binar di matanya. "Hanya begitu saja," Ara tersenyum tipis tidak ingin menjelaskan lebih lanjut tentang Min Gyu dan hubungan pria itu bersama Jae Hwan meski sebenarnya A-ram mengerti tanpa perlu di jelaskan. "Temani aku menontonnya. Eung?" A-ram masih setengah berbisik sambil memohon. "Geurae ( baiklah)." A-ram bertepuk tangan tanpa sadar membuat beberapa orang menatapnya bodoh, Ara tertawa gadis itu tidak ada beda dengan dirinya. Ia menepati janjinya pada A-ram untuk menonton kegiatan bakat yang gadis itu maksud, ponsel Ara berdering ketika mereka menuju gedung tempat acara di adakan, Ara sudah bisa menebak siapa orang yang menghubunginya. "Oddiseo (kau dimana)?" "Aku bersama teman, ia mengajakku menonton acara di gedung teater timur." "Ahh kau mau menonton pria-pria itu menari?" "Wae? Kau cemburu?" Ara tidak sengaja melemparkan candaan semacam itu di depan A-ram membuat temannya tersebut menatap Ara. "Aku akan menghubungimu lagi nanti." Ia kemudian mematikan teleponnya sebelum Jae Hwan sempat menjawab apapun. Membuat pria di seberang telpon mendengus kesal. "Pacarmu?" A-ram tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya membuat Ara tersenyum kaku ia seperti tengah tertangkap basah melakukan kesalahan. "Gwenchanha, aku tahu kau dan sunbae itu berpacaran." "Tapi apa kau baik-baik saja dengan predikat yang di milikinya?" lanjut A-ram kemudian menatap Ara dengan serius ia mengerti maksud dari predikat yang temannya sebutkan tersebut dan itu membuat keduanya menghentikan langkah sebelum memasuki gedung. Ara menarik nafasnya sebelum berhasil mengeluarkan suara dari mulutnya. "Aku tidak berencana jatuh cinta padanya sebelum hari dimana ia membuat hatiku hangat, ia melindungi ku dengan cara yang luar biasa dan bagaimana ia membuatku terlihat berharga." Ara mengucapkannya sambil tersenyum semua ingatan tentang bagaimana pria itu memperlakukannya membuat ia merasa begitu di cintai. "Yahh harus ku akui, kau wanita pertama yang menjadi pacarnya. Tidak akan ada yang berani menyentuh apa yang menjadi milik Kim Jae Hwan begitulah aturannya." Ara mengangguk ia menyadari kebenaran dari ucapan A-ram. Keduanya kemudian memasuki gedung yang sudah ramai itu, mencari tempat duduk nyaman di lantai, gedung ini adalah tempat yang sama ketika ia menari di stage pada awal masa perkuliahan. Hari pertamanya bertemu Jae Hwan. Lagi-lagi Ara tersenyum sendiri. Sementara di belakang tirai semua orang yang mengikuti kegiatan tersebut sedang bersiap, beberapa diantaranya adalah wanita dengan rok pendek mereka jika Ara melihatnya ia pasti sudah bergidik membayangkan dingin yang menusuk di tengah musim salju meskipun penghangat ruangan tentu saja berfungsi dengan baik. Begitupun Min Gyu yang bermain-main dengan gitar akustiknya, Jae Hwan kemudian menghampiri pria itu berbincang sebentar mengenai rencana yang ia miliki dan mendapat anggukan setuju dari Min Gyu. Keduanya berjabat tangan dengan senyum aneh yang Jae Hwan tunjukan. Senyum yang selalu tampak berbahaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN