Ara menikmati acara tersebut apalagi ketika lagu Ballad yang di tampilkan sebab ia tidak terlalu suka K-Pop, aneh. Mengingat sifatnya yang ceria dan sangat suka menari, pengecualian ia lakukan untuk beberapa boyband hanya jika lagunya terdengar menarik bagi Ara. Tapi tidak begitu dengan A-ram gadis itu tidak bisa berhenti teriak mengikuti lagu yang menggema di seluruh ruangan, belum lagi ketika para pria itu menari dengan seksi membuat Ara menutup telinga tanpa sadar mendengar pekikan suara yang memekakkan telinga.
Gadis itu melirik kiri dan kanan mencari Jae Hwan yang tidak terlihat disana, pria itu biasanya mengekor pada Ara kemanapun ia pergi namun hari ini ia tidak terlihat ponselnya pun tidak bisa di hubungi. Tidak seperti biasanya. Ia sedikit gelisah. Sudah lebih dari satu jam gadis itu disana namun Jae Hwan tidak menunjukan dirinya, tiba-tiba saja Ara ingin pergi dan mencarinya namun ia tidak enak pada A-ram.
"Menyenangkan bukan?" A-ram membuyarkan pemikiran Ara di tengah keramaian tersebut. Ia mengangguk kemudian tersenyum tipis mengiyakan maksud gadis itu. Ketika itu seorang gadis tengah bermain gitar dan satunya keyboard menyanyikan lagu Travel milik Bolbbalgan4 yang menjadi favorit Ara.
Kemudian lampu ruangan di buat redup semua orang bertanya-tanya dan saling menengok satu sama lain, hanya satu lampu yang menyorot ke stage dimana seseorang duduk di kursi tinggi tanpa sandaran dengan gitar akustik di pelukannya, wajahnya tertutup rambut ketika ia menunduk menatap gitarnya. Di sampingnya seorang pria dengan mic yang sudah siap memperdengarkan suaranya ke seluruh ruangan. Pria dengan mantel yang Ara kenal.
Ara bertanya-tanya siapa yang ada di sana sebab tadi tidak mendengarkan saat host menyebutkan nama dan jurusan orang di atas stage tersebut atau memang tidak di sebutkan. Tubuh Ara bergerak sedikit ke depan memastikan seseorang di depan sana sesuai dugaannya.
Suasana hening sejenak, beberapa orang refleks menyalakan blitz di smartphonenya memberikan kesan yang luar biasa romantis, Ara menarik nafas ia hanya berharap seseorang di sana itu menyanyikan lagu yang benar-benar mengisi suasana ini. Gitar mulai di petik beberapa diantara mereka tidak dapat menutupi kekagumannya dengan bersorak, jemarinya terampil menarik setiap senar menciptakan alunan nada yang merdu pemain gitar itu masih menunduk namun Ara mengenalinya dengan baik. Min Gyu.
"Heol daebakkk, Ara-ya bukankah itu Kim Jae Hwan ... Benar itu Kim Jae Hwan!!"
Oh A-ram tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya meski ia menutup mulut dan hampir tidak percaya, sementara Ara hanya terdiam dengan senyum tipisnya.
"Kau tahu ia akan naik ke stage?"
Ara menggeleng, ia bahkan sama terkejutnya hanya saja ia tidak menunjukannya pada A-ram.
Bagian intro sudah selesai ketika Jae Hwan mulai mengeluarkan suaranya lagu dari Yoo Seungwoo berjudul Only You menjadi pilihannya, suara Jae Hwan terdengar luar biasa di iringi tepuk tangan ketika ia bahkan baru mulai membuka mulutnya. Pria itu menatap Ara meski dari sekian banyak orang Jae Hwan dapat menemukan gadisnya dengan mudah seseorang yang dengan daya tariknya menarik pria itu lebih dalam. Ara merasakan tatapan itu, begitu tulus dan hangat.
Gadis itu merangkul lututnya mendengarkan suara Jae Hwan yang terus mengalir dengan baik meski sepertinya tanpa latihan sama sekali. Ia tersenyum, pria itu benar-benar seperti sebuah dongeng tanpa cela. Ara hanya berpikir bagian mana dari dirinya yang membuat Jae Hwan jatuh cinta. Sepertinya tidak ada. Sebuah kenyataan yang membuatnya bertanya-tanya kini. Kencan mereka bahkan tidak pernah jauh dari makanan.
Bagian dimana Heize melakukan rap di isi oleh Min Gyu dengan suara yang tidak kalah bagusnya membuat A-ram berteriak semakin kencang, keduanya benar-benar mempesona kali ini Ara tidak menutup telinga sebab pekikan gadis itu. Ia tengah sibuk menikmati seseorang di hadapannya.
"Kau menyukai lagunya?" Jae Hwan berbicara di mic setelah petikan gitar terakhir, keduanya masih duduk di sana menatap semua orang dengan senyumnya.
"Meski ini akan terdengar memalukan, tolong dengarkan ...,"
"Gomawo Ara-ya, kau membuatku merasa begitu hidup!"
Tepuk tangan tidak berhenti di sana orang-orang kemudian bersorak sambil memandang gadis itu, gadis yang masih memeluk lututnya terpaku yang kini dengan wajah semerah stroberi. Jika ia tengah di permalukan ini adalah bentuk malu yang berbeda, jantungnya berdebar bahkan keringat dingin merembes keluar dari setiap pori di kulitnya, Ara merasa punggungnya sudah basah padahal cuaca tengah dingin, ia sepertinya tidak sanggup menghadapi pertanyaan siapapun nanti.
Namun gadis itu menarik nafasnya mencoba mengendalikan diri kemudian tersenyum memandang pria di stage yang tengah memandanginya juga, entah kenapa ia tidak bisa melihat selain Kim Jae Hwan sepertinya dunia tengah memasang efek blur pada objek lain. Ia mengucapkan terimakasih dengan tatapannya dan Jae Hwan dapat membaca isyarat itu.
Jae Hwan sudah menunggunya di pintu masuk teater ketika gadis itu keluar, pertunjukan belum selesai namun keduanya memutuskan pergi. Gadis itu merasa bahwa yang lain tidak sehebat Jae Hwan tadi. Atau hanya karena ia tengah jatuh cinta saja.
"Yaa~ kau membuat keributan lagi!"
Gadis itu berbicara sambil merajuk ketika beberapa pasang mata menatap mereka dengan tanpa malu-malu.
"Ku rasa juga begitu, tadi sedikit memalukan bukan?" Jae Hwan menatap Ara menunggu jawaban.
"Sedikit." Ara tersenyum sambil memberi isyarat dengan menyatukan telunjuk dan ibu jarinya.
"Tapi lebih dari itu aku merasa itu sebuah penghargaan. Kau membuatku merasa diriku berharga dan pantas. Sesuatu seperti itu." Ara tersenyum namun Jae Hwan bisa melihat kedua mata gadisnya sudah basah, Ara mendongak berharap air matanya tidak jatuh di depan pria itu.
"Aku tidak tahu kau bisa bersikap romantis!" ia melanjutkan.
"Yaa, jadi selama ini kau berpikir perhatianku bukan sesuatu yang romantis?" Jae Hwan mendengus, obrolan manis itu tidak bertahan lama namun keduanya merasa bahagia hanya dengan pertengkaran kecil semacam ini.
"Aku hanya terus berpikir bagaimana bisa Tuhan membuat pria sepertimu menjadi milikku!" tatapan Ara begitu dalam seakan tengah mencari jawaban dari manik mata Jae Hwan.
"Kau tahu ketika bersamamu aku tidak ingin hari berakhir, aku tidak suka berpisah. Aku mencari topik apapun yang membuatmu lebih lama di sampingku!"
"Aku tidak keberatan dengan kebiasaan baru yang kau tularkan, bahkan membuatmu memasuki teritori milikku? kau harus tahu tidak ada sejauh ini selain kau dan yahh ... ahjumma."
"Apa itu bentuk rayuan?"
"Kau bisa menganggapnya begitu meskipun aku lebih suka kau menghitungnya sebagai bentuk kejujuran ku." Jae Hwan mengangguk mengiringi pengakuannya langkah keduanya masih terpaku disana di bawah salju yang jatuh satu persatu.