Ara tengah menikmati kopinya di sofa yang menghadap jendela, tempat favoritnya. Aroma yang keluar dari cappucino itu begitu manis dan lembut menemani butiran putih di luar sana yang tak berhenti jatuh ke bumi. Pria itu di sana, di dapurnya yang besar dengan semua hal yang melengkapi, terlihat begitu sempurna hanya dengan balutan t-shirt polos saja kurang lebih seperti itu gadis itu melihatnya.
Ia berbalik menatap kemudian saling beradu pandang, terpaku di manik mata yang dalam. Ara mengalami bug, ia tidak bergerak sama sekali. Ketika hatinya pernah bertanya apa Ara mencintai pria itu, ia tidak bisa menjawab alasannya selalu sama cinta tidak memiliki alasan untuk jatuh pada siapa namun kali ini mulutnya bisa mengeluarkan seribu kata untuk menjelaskan debarannya yang tidak pernah berhenti ketika menatap pria itu. Jae Hwan.
Sejak kapan? Ia tidak dapat memastikan tiba-tiba saja rasanya sudah berbeda, pria itu menjadi rumah tempat ia pulang menjadi pundak tempat ia bersandar seseorang yang karenanya Ara tidak butuh siapapun untuknya berbagi selain pria itu.
Pria itu mendekat, merangkul kan lengannya pada bahu Ara membiarkan gadis itu bersandar di dadanya yang bidang tanpa berbicara apapun keduanya tengah terpesona dengan lampu-lampu jalan dan mobil yang berkelip juga gedung-gedung tinggi yang cahayanya begitu terang di tengah salju yang tak kunjung reda, mereka terlalu malas untuk keluar menginjakkan kaki di atas hamparan putih itu rasanya memandanginya dari balik kaca tebal itu saja sudah cukup.
Keduanya mulai berbicara, tentang hal menyenangkan yang tidak di alami ketika berdua, tentang ikat rambut Ara yang jatuh entah dimana sehingga ia mengurai rambutnya seharian atau tentang Min Gyu yang mendapat pengakuan cinta di depan banyak orang. Mereka tertawa sesekali, kemudian saling memperhatikan lagi ketika obrolan beralih.
"Berikan tanganmu!" kemudian pria itu membuka telapak tangannya dengan wajah bingung.
"Tanganmu terlalu besar dibanding tanganku." Gadis itu meletakkan telapak tangannya juga di atas tangan Jae Hwan. Pria itu tersenyum mengaitkan jari-arinya dengan jari Ara membuat keduanya kini bergandengan.
"Kau sudah pandai merayu!" bisik pria itu lembut.
"Dan hatimu berdebar ketika aku melakukannya?" gadis itu mendengus, meledek pria yang terlihat salah tingkah di sampingnya.
"Kau berjanji mengajakku ke pantai, tapi musim dingin ini belum berakhir juga!" Ara sampai pada topik pembicaraan yang lain setelah keduanya terdiam.
Wajahnya sedikit kesal dengan bibir merengut.
"Bagaimana dengan Everland?" Jae Hwan memberi saran.
"Aku bukannya tidak ingin pergi, tapi kau tahu aku tidak kuat dengan udaranya. Pergi ke kampus saja sudah sangat menyiksa." Ara tanpa sadar merangkul kedua lututnya sambil bergidik.
"Dan besok aku harus pergi bekerja. Beruntungnya Dreamy memiliki penghangat ruangan yang baik, dan aku bisa sering-sering memegang kopi panas setidaknya tanganku tidak akan membeku."
"Kau harusnya berhenti saja!" Ara menggeleng sambil menyesap kopinya ia menyukai kesibukannya.
"Aku akan pulang ke apartemenku setelah selesai bekerja, jangan menungguku!"
"Kau akan membiarkanku merindukanmu?"
"Heol, kau benar-benar pintar merayu!"
Ara tertawa, gadis itu tidak sadar tawa itu menjadi yang terakhir ia lakukan di sana.
**
Ara menunggu bus di halte setelah selesai bekerja, ini pukul 10 malam namun Seoul masih terlalu dini untuk terlelap. Ia merapatkan mantelnya mencegah udara dingin menusuk kulitnya. Mulutnya mengeluarkan uap yang bahkan dapat ia lihat, ia tidak tahan lagi. Gadis itu masih saja gelisah berkali-kali ia menelepon Jae Hwan namun tidak ada jawaban, bus yang lewat di depannya pun ia abaikan begitu saja. Pria itu mengiriminya pesan bahwa ia pergi ke Nightlife dua jam yang lalu namun Ara baru memeriksa ponselnya. Ia takut pria itu kembali berulah.
Bus lain datang, dengan langkah tergesa Ara duduk di bangkunya setelah menempelkan kartu transportasi ia mengambil jalur yang berbeda. Entah kenapa jantungnya tidak dapat ia kendalikan seperti bom waktu yang siap meledak, perasaannya pun tidak karuan.
Ia menaiki private lift ketika sudah sampai di gedung apartemen Jae Hwan mendapati ruangan itu sudah gelap Ara hendak menyalakan lampu namun ia mengurungkan niatnya, mendapati high heels berwarna merah setinggi 10cm meter tergeletak di hadapannya. Gadis itu mulai ragu namun ia mendekat ke arah pintu kamar, pintu berwarna dark grey yang di sampingnya ada sofa yang menjadi tempat favoritnya menikmati pemandangan kota.
Namun kali ini ada sebuah gaun disana dengan warna merah yang sama dengan heels yang ia temukan juga mantel yang ia kenali milik siapa. Ara ragu, namun lagi-lagi ia mengambil langkah untuk meraih mantel itu memastikan bahwa dugaannya tidak salah, ia tergesa mendekat ke pintu kamar hampir saja menarik pegangannya agar terbuka tapi kali ini ia berhenti. Langkahnya tiba-tiba saja mundur, lututnya lemas Ara hampir saja ambruk disana seandainya tangannya yang lain tidak berpegang pada dinding.
Air matanya mengalir tanpa bisa di kendalikan, tanpa suara apapun yang keluar dari mulutnya yang ia rapatkan, Ara menggigit bibirnya berharap rasa nyeri yang menjalar di hatinya tergantikan dengan sakit di bibirnya. Namun tidak. Ia tahu perasaan apa ini.
Ara melempar apa-apa yang ada di sofa itu, merasa jijik tempat favoritnya menjadi tempat menyimpan pakaian yang tampak penuh dosa itu, ia duduk di sana dengan bibir yang tidak berhenti bergetar, tangannya berkeringat dan otaknya tidak dapat merespon dengan baik.
Ia ingin pergi saja dari sana namun rasanya itu bukan pilihan tepat, ia perlu jawaban. Ara menarik nafasnya berkali-kali tak beraturan seperti tengah bersiap dengan jawaban terburuk.
Lampu ruangan itu padam hanya mini barnya yang menyajikan kesan vintage dari lampu berwarna redup yang menyala disana, Ara menyilangkan tangannya dengan kaki kanan yang menumpang pada kaki kirinya. Ia tidak tahu berapa lama duduk disana bisa saja ia membuka pintu itu dan mendapat jawaban lebih cepat tapi ia tidak sanggup, kamar itu secara tidak langsung ia nobatkan menjadi miliknya sementara Jae Hwan lebih sering di kamar tamu.
Ara menyandarkan tubuhnya di sofa, ia benar-benar sudah kehilangan akal dengan duduk menunggu disana, dalam hatinya ia hanya berharap seseorang disana bukanlah Jae Hwan. Tiba-tiba dadanya kembali nyeri mengingat spekulasi yang paling mungkin terjadi. Ara hanya sedang menolak kenyataan tapi setidaknya itu adalah harapan yang ia miliki.
Ara mendengar suara keributan di dalam seorang lelaki dan perempuan, ia menggigit bibirnya seperti tengah berpegang pada sesuatu agar tidak jatuh. Dan ketika pintu kamar di buka ia tahu, ia tidak punya harapan untuk apa-apa yang ia pikirkan. Air matanya jatuh bersamaan dengan tangannya yang terkepal. Ini adalah jenis sakit hati paling dalam. Dan untuk kali pertama Ara harus siap menerimanya.