You're The Best Thing I Have Ever Waited For.

1001 Kata
Ara terbangun di pagi hari dengan kepala yang sakit akibat mabuk yang ia buat sendiri semalam, mengingat apa-apa yang terjadi 3 tahun lalu ketika pria itu yang kini menjadi bosnya. Kim Jae Hwan, memberi kenangan. Perutnya mual tak tertahan membuatnya berlari ke kamar mandi dengan tergesa dan menumpahkannya di wastafel tempat ia biasa membersihkan diri. Ia menatap wajahnya yang kacau di cermin, ada lingkar hitam di sekitar matanya juga bengkak akibat air mata yang tidak mau berhenti. Ia tidak bisa datang ke kantor dengan wajah seperti ini. Sial. Ia kembali ke tempat tidur menatap ruangan sekitar yang berantakan seperti kandang babi. Yah, ia seperti babi. Ponselnya bahkan masih tergeletak di sofa dekat kaleng-kaleng beer yang tak terhitung jumlahnya. Ara mengambilnya, menekan tombol dan menunggu nada nya berbunyi ketika ia menempelkan benda itu di telinga. "Kang Sol-ah maafkan aku, aku tidak bisa ke kantor pagi ini." Gadis itu mengucapkan beberapa kalimat kemudian menutup telponnya setelah mengucapkan terimakasih. Ia menarik nafas sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya kembali di tempat tidur, terlentang menatap langit-langit kamarnya yang polos. Pikirannya kosong sepertinya ia tidak benar-benar disana. Ara mengurut kepalanya yang sakit, ia tidak ingin bangun hari ini. Ia tidak ingin bertemu siapapun kali ini. Namun ponselnya tidak mau berhenti bergetar, membuatnya dengan sangat terpaksa harus melakukan sesuatu pada benda tersebut dengan enggan Ara meraihnya menekan tombol jawab tanpa melihat siapa peneleponnya. "Kita harus bicara!" orang di seberang telepon bahkan tidak mengucapkan salam, Ara mengenali suara itu bahkan jika hanya suara tarikan nafasnya yang terdengar Ara dapat mengenalinya begitu saja. Bodoh. Ara mematikan teleponnya tanpa menjawab apapun, energinya terkuras hanya dengan berbicara dengan Kang Sol tadi. Ponselnya kembali bergetar terus menerus, Ara bahkan hampir melemparkannya jika saja tidak ingat betapa pentingnya benda itu. "Kita bertemu besok, biarkan hari ini ku habiskan untuk diriku sendiri. Kau bisa melakukannya!" Ara menjawab setelah membuang nafasnya kasar, pria itu benar-benar keras kepala. Gadis itu tidak menunggu jawaban ia langsung mematikan teleponnya namun ponselnya kembali bergetar. Ah ya ampun benar-benar menguji kesabarannya. Ia melihat layar ponselnya terlebih dahulu kali ini, keningnya berkerut 'Calvin' ia kemudian mengangkatnya dan mengucapkan salam "Ara ssi, ada apa denganmu?" Ara mengerutkan kening sebelum Calvin melanjutkan ucapannya. "Kau memarahiku tadi dan apa katamu, bertemu besok?" Ahh sial, bodohnya Ara. Ia menggigit bibirnya. "Ahh maafkan aku, aku tidak memastikan itu nomormu sebelumnya." Calvin tersenyum, Ara dapat mendengarnya samar. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja, Kang Sol mengatakan padaku kau tidak masuk karena sakit." "Ahh Kang Sol ssi, kurasa aku membuatnya mendapat banyak pekerjaan hari ini. Kau bisa mengajaknya makan siang? Ia pasti kesepian." "Tentu saja." "Gomawoyo Calvin ssi, ia pasti sangat senang." Ara tersenyum tanpa sadar kemudian mematikan teleponnya. Tidak lama kemudian, benda itu kembali bergetar. Ara kali ini mengecek nama yang tertera di sana sebelum menjawab 'Kim Sajangnim', oke Ara hanya perlu menjawab seperti tadi tanpa mendengar jawabannya namun baru saja ia akan membuka mulutnya pria itu sudah mendahului. "Kita harus bicara, temui aku besok saat keadaanmu sudah lebih baik. Eung!" Apa ini, pria itu dapat membaca pikirannya atau memang kebetulan, Ara bahkan kehilangan kata-kata yang ia rangkai tadi dalam sekejap mata. ** Esoknya di sebuah kedai, Ara tidak punya pilihan selain menemui pria itu yang terus ngotot mengganggunya. Bukan sebuah restoran atau cafe, Ara memilih tempat itu sebab terasa seperti itulah dirinya sedang Jae Hwan tidak. Obrolan tak juga di mulai meski alunan lirih dari lagu Lee Hi mengalun hampir usai juga hiruk pikuk kedai yang lumayan ramai, keduanya tetap saja diam. Atau hanya Ara saja? Sebab pria itu tak berhenti mengoceh memulainya dengan membahas kenangan yang sudah muak Ara rasai semalaman kemudian tersenyum sendiri kala ingatan tentang hal manis melintas. Ara tertegun, begitukah mereka dulu? Entah, yang tersisa di hatinya cuma perasaan kecewa. Apalagi ketika wanita itu muncul, dengan kurang ajarnya menghancurkan hati Ara tanpa aba-aba. "Kau tahu perasaan apa yang lebih menyakitkan dari sekedar membenci?" gadis itu memotong obrolan bahkan ketika Jae Hwan belum selesai. Pria itu menarik nafas namun matanya tetap memandang gadis itu, gadis yang kemudian memalingkan wajahnya salah tingkah. "Kecewa!" Ara kembali menatap Jae Hwan seperti tengah menghujamkan dosa yang begitu besar, seperti sebuah penghakiman untuk pria yang bahunya kini merosot. Ia tahu betul. Jawaban itu telak, Jae Hwan tidak dapat membantah. Pelayan mengantarkan 2 mangkuk eomuk dengan uap yang masih mengepul sepiring penuh kimbap dengan sayuran yang berwarna warni menggoda untuk di cicipi juga sebotol soju yang tidak selera untuk Ara sentuh, pria di hadapannya itu tahu betul selera Ara tanpa perlu bertanya. Tangannya berlipat di d**a kali ini ia ingin menatap Jae Hwan seakan menyampaikan hatinya lewat pandangan. "Kau tahu aku menghabiskan 3 tahun untuk menyesali diriku sendiri, harusnya aku sadar ketika hatiku hanya berdebar ketika bersamamu seperti sebuah takdir." "Aku tidak ingin memaksamu mengingat hal indah yang tidak pernah aku lupakan, karena ketika kau mengingatnya kau juga akan ingat bagaimana aku menghancurkan setiap bagian itu." "Tapi Ara-ya, aku ingin memulainya lagi dari awal. Aku ingin kau mengingat aku hari ini bukan 3 tahun yang lalu." Jae Hwan menarik nafas, ini adalah bentuk kompromi yang ia ucapkan dengan begitu lembut. Ara tidak merespon, ia menyandarkan dirinya di sandaran kursi kayu itu menarik nafas sambil menengadah melihat langit-langit yang sudah usang. Ara tahu betapa keras kepalanya pria di hadapannya ini dan kini ia tengah berkutat dengan pemikirannya sendiri sebab tidak bisa di pungkiri bagian terbesar dari dirinya ingin kembali meski harga dirinya sulit memaapkan. "Beri aku satu bulan, aku akan membuatmu mencintaiku lagi." "Ini bukan saran, tapi perintah. Aku tidak akan berkompromi lagi kau hanya perlu menyiapkan dirimu!" Kening Ara berkerut, namun tidak terlalu terkejut karena begitulah Jae Hwan yang ia kenal pria itu tampak begitu serius. Ia tidak punya pilihan selain menuruti permintaannya. "Geurae, satu bulan. Akan ku pastikan kau yang menyerah!" Jae Hwan tersenyum, ia tidak dapat menutupi rasa senangnya ketika wanita itu akhirnya menyerah dengan sifat keras kepalanya. "Kau tidak mau soju?" Jae Hwan mendadak ceria dan membuka tutup botol berwarna hijau itu, Ara tersenyum miring pria di hadapannya ini langsung berubah hanya karena satu jawaban darinya. "Kull!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN