Gadis dengan mantel abu-abu itu berjalan dengan langkah yang lambat seperti kakinya tengah membawa beban berat, sorot matanya kosong dan lesu dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku berharap dinginnya udara di luar tidak membuat jari-jarinya membeku, namun tubuhnya jelas hafal setiap belokan yang ia lewati bahkan lubang yang ia hindari. Dan meski malas ia tahu kemana harus pulang. Apartemennya.
Ahjumma penjual odeng menatapnya heran, tidak biasanya gadis itu melewati kedainya begitu saja tanpa tergoda untuk mencicipi satu dua tusuk makanan tersebut atau sekedar menyapa dirinya yang sudah mengenal Ara sejak kuliah ia hampir saja berteriak kalau saja tidak ingat betapa sibuknya mulut dan kedua tangannya melayani pelanggan. Energinya bisa saja habis saat itu juga.
Ara menarik nafas kemudian membuangnya dengan kasar menekan password di pintu masuk yang sudah ia hafal meski demikian dengan pandangannya menoleh ke arah lain. Langkahnya terseret dengan sling bagnya yang ia biarkan menyapu lantai, berjalan ke arah sofa yang menghadap jendela tanpa sekat tempat ia biasa menghabiskan waktu kemudian merebahkan dirinya di sana. Ia sedang marah pada keputusannya sendiri, kencan selama sebulan? Ara kembali merengut ketika mengingat kejadian hari ini, Gadis itu tahu dia akan kalah dengan situasi tersebut. Tapi dengan bodohnya ia terhanyut seperti sihir yang memaksanya mengatakan iya mau tidak mau.
'Babo (bodoh)!' Ara memukul kepalanya dengan kesal, bagaimana besok ia bisa masuk kerja dengan kejadian hari ini!.
Ara baru saja duduk di kursinya melihat berkas yang harus di follow up dengan serius sebelum Kang Sol datang ia benar-benar merasa bersalah karena sudah memberi beban pekerjaan lebih pada seniornya itu dan benar saja bosnya sudah berdiri di sana, mengetuk meja kerjanya sebanyak 3 kali berharap Ara memusatkan perhatiannya pada sosok tersebut, Ara bergeming tanpa menengadah pun ia bisa tahu siapa pemilik parfum Versace yang aromanya begitu memikat tersebut.
Ara terpaksa memamerkan senyumnya, pria itu tidak akan berhenti mengganggunya sebelum gadis dengan rambut di kuncir itu bertanya ada apa sesuai keinginannya.
"Ohh sajangnim, ada yang bisa saya bantu?" Ara bangkit dari duduknya dengan senyum kaku yang tidak pudar namun pria itu hanya melipat tangan di d**a memandangi Ara dari atas sampai bawah, pandangan yang membuat Ara begitu terintimidasi seperti tengah ditelanjangi.
"Ara ssi, kau tidak boleh membuat janji dengan siapapun saat istirahat makan siang. Kita harus meeting."
"N-ne?" Ara tidak bisa menyembunyikan wajah kesalnya, makan siangnya yang berharga masih saja harus di isi dengan pekerjaan? ia ingin sekali mengumpat andai saja bukan bosnya yang mengatakan langsung.
"Kau dan aku perlu membicarakan rencana dating sebulan ke depan."
"Ahh dating."
"Hari ini baru rancangan rencana, kita belum bisa menghitungnya sebagai yang pertama."
"Wahh pria licik!" akhirnya ia mengumpat, Ara tidak bisa menahannya lagi sementara Jae Hwan tanpa peduli dengan respon gadis itu, ia melangkah sambil tersenyum kemudian pergi ke ruangannya. Menjahili gadis itu mengingatkannya pada masa lalu. Sangat menyenangkan.
Jae Hwan tidak pernah berfikir bahwa seorang gadis biasa bisa membuatnya gila, entah karena cinta atau juga sulit menghapusnya. Pria itu mengetuk ballpoint di mejanya sambil pandangannya melihat keluar ruangan dimana dua orang gadis tengah sibuk dengan dokumennya masing-masing. Sesekali bercanda satu sama lain, gadisnya tertawa entah karena lelucon apa yang mereka buat tapi tawanya menular tanpa sadar dirinya sendiri sudah tersenyum kemudian kembali menarik simpul bibirnya ketika menyadari ada yang aneh darinya baru saja.
Sementara Ara melirik jam di pergelangan tangannya, ia menggigit bibir. Waktu begitu cepat berlalu bahkan 10 menit lagi sudah masuk jam makan siang, waktu yang selalu ia tunggu agar bisa mengisi energinya kembali kini terasa menegangkan. Bagaimana tidak, ia harus bertemu Jae Hwan untuk sebuah alasan sepele namun entah kenapa Ara berdebar lagi. Seperti dulu.
"Kau mau kemana?" Kang Sol sedikit berteriak ketika Ara bangkit dan berjalan menuju toilet.
Gadis itu menatap cermin, merapikan sedikit riasan di wajahnya dan menambah warna pink di bibirnya juga sedikit cushion agar kulit wajahnya terlihat lebih baik
"Apa ini terlalu berlebihan?" dan ketika Ara tersadar, ia menyusut bibirnya sedikit sambil bertanya dalam hati apa yang tengah dilakukannya.
"Kau sudah siap untuk meeting?" Jae Hwan sudah menunggu Ara dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celana sementara Kang Sol di sana hanya terdiam melihat tingkah bosnya kemudian menatap Ara penuh tanya sementara Ara hanya bisa menatap wanita itu dengan lesu.
"Sajangnim, anda tidak memiliki jadwal meeting sekarang!" Kang Sol memotong diantara hening yang menyelimuti percakapan keduanya dan kembali menatap Jae Hwan heran.
"Iso (ada), kau tidak akan paham!" Jae Hwan menjawab dengan acuh.
"Kang Sol-ah kau bisa ikut makan siang dengan kami jika mau!"
"Benarkah?"
"Kalau begitu aku ikut dengan-"
"Kang Sol ssi, kau bisa makan di kantin kantor. Untuk apa aku membuat tempat itu kalau karyawan ku memilih makan di luar?" Jae Hwan memotong pembicaraan sebelum sekertarisnya itu ikut mengambil tasnya seperti Ara.
"Dan anda mengajak saya makan di luar?" Ara mengejek.
"Yaaa, kau sudah pandai membantah!"
"Joesonghamnida sajangnim."
"Kaja (ayo pergi)!"
Ara tidak punya pilihan selain mengekor pada bosnya sementara Kang Sol memberi semangat seolah gadis itu akan pergi berperang.
Mereka tiba di sebuah cafe yang jaraknya hampir setengah jam dari kantor karena terjebak macet. Gadis itu terus mengomel karena jam makan siangnya ia habiskan di jalanan jika terus seperti ini namun Jae Hwan berpura-pura tuli ia sudah mulai terbiasa lagi dengan ocehan gadis itu.
Ara mematung, Cafe dengan tulisan Dreamy ini adalah bagian dari masa lalunya pintunya setengah kayu dengan bagian atas adalah kaca dengan sekat memanjang ada undakan tangga sebelum masuk ke sana dengan pegangan besi berwarna karat, dindingnya masih sama bermotif bata dengan Lee Kwan Yew yang merambat menutupi hampir seluruh bagian dinding.
Aroma kopi dan roti tercium dari dalam mengingatkan Ara pada hari-hari saat seseorang selalu menunggunya. Jae Hwan tersenyum menarik tangan Ara membuat lamunannya buyar seketika.
Bagian dalam tampak sama seperti dulu para pelayan dengan Appron berwarna cokelat, counter dengan list menu yang beragam juga antriannya disana, letak meja dan kursinya masih di sana hanya saja ada pohon natal kecil di sudut padahal Desember sudah berlalu. Jae Hwan mengajaknya duduk di sofa dekat counter tempat ia dulu biasa menunggu gadis itu atau lebih tepatnya mengganggu.
Ara tersenyum, ia hanya sadar bahwa kenangannya tidak melulu soal hal menyakitkan.