I Look At You And See The Best Part Of My Life

1018 Kata
Ara meniup americano nya aroma kopi yang kuat menguar dari sana ia menyesapnya sedikit sebelum rasa asli dari kopi tersebut menjalar di lidah. Pahit. Namun gadis itu menyukainya sebab ia tidak terlalu suka gula dalam kopinya. Sementara Jae Hwan lebih suka Macchiato yang di sajikan dalam demitasse cup yang ukurannya memang kecil membentuk tiga layer atau lapisan dengan espresso yang coklat pekat di tengahnya dan foam s**u yang gurih di bagian atas. "Kau ingat tempat ini?" Jae Hwan memulai percakapan sementara Ara mulai salah tingkah kemudian melihat ke samping menolak pandangan keduanya beradu. Gadis itu mengusap tengkuknya dengan gugup seakan ini adalah kencan pertama mereka, gadis itu hanya tidak tahu harus melakukan apa. "Tentu saja, dan tidak ada yang berubah, hanya kau dan aku yang tidak lagi bersama." Ucap Ara tegas. Jae Hwan berfikir membawanya ke sana ke masa lalu mereka untuk membuat Ara ingat hal baik juga tentang dirinya meski ia lupa konsep awalnya adalah membuat lembaran baru. "Aku mengenalmu dengan baik, aku ingin kau menikmati setiap kenangan yang aku hadirkan, biarkan aku masuk sekali lagi. Eung!" lagi-lagi itu adalah bentuk kompromi darinya, ia tidak ingin Ara ragu dan menolaknya lagi. Gadis itu hanya diam, meski ingin membantah namun Ara mengurungkan niatnya ia sudah berjanji memberikan waktu satu bulan untuk pria itu, dan cutinya bulan depan adalah waktu yang tepat untuk ia menolak Jae Hwan kemudian menghindar. Terdengar seperti pengecut, namun jika terus melihatnya Ara takut ia berubah fikiran. "Ingatlah tempat ini hanya dari hari ini, saat aku meminum macchiato dan kau americano. Aku ingin kau melupakan pernah ada siapa yang menunggumu Berjam-jam." Itu seperti sebuah fakta yang menampar Ara dan bukannya ia akan melupakan malah semakin jelas di ingatan, Ia mengerjapkan matanya mencoba fokus pada dirinya kini. "Bagaimana mengingat masa lalu apa mengembalikan perasaanmu padaku?" tatapan pria itu begitu intens mencari jawaban dari manik mata Ara. Ara mencoba menguatkan dirinya sejauh apa dia sudah melangkah dan ia akan baik-baik saja meski tanpa pria itu. "Berapa lama lagi kita akan duduk di sini, perutku lapar dan aku tidak bisa mengisinya dengan roti atau kue." "Kau tidak bisa bersikap romantis sebentar?" Jae Hwan tampak jengkel namun Ara berpura-pura tidak peduli "Ani (tidak)!" gadis itu bangkit setelah meneguk kopinya mendahului langkah Jae Hwan dengan tergesa, ia hanya tidak ingin obrolan tadi berlanjut karena sepertinya ia akan kalah telak. Sementara Jae Hwan menahan kesalnya dengan membuang nafas kasar ia tidak punya pilihan selain mengekor pada gadis itu. Keduanya berjalan sebentar dari cafe memasuki gang kecil dan naik tangga yang jumlahnya tidak sedikit sementara mobil Jae Hwan terparkir jauh di bawah lalu sampai di sebuah jalan yang sebenarnya bisa di lalui kendaraan seandainya ia tidak meninggalkannya di sana, nafasnya tersengal ia bertumpu pada lututnya sebentar sebelum mengikuti langkah Ara lagi. Gadis itu patut di acungi jempol karena menggunakan high heels tapi tidak mengeluh lelah seperti dirinya. Ara bergegas ia tidak mempedulikan Jae Hwan di belakangnya yang tengah berpegangan pada dinding seperti pria tua. Ia sudah lama tidak berolahraga dan rasanya ini sangat menyiksa di tengah cuaca yang masih dingin. "Yaa, kau sengaja melakukannya?" "Malldo andwe (tidak mungkin)." "Kau ... Kau bilang jam makan siangmu akan habis ...." "Keundae (tapi), kau.. yang membuang waktu." Jae Hwan mengatur nafasnya yang tersengal sementara Ara hanya bertolak pinggang sambil tersenyum miring, "Kita sudah sampai. kau tidak akan menyesal menaiki tangga itu saat mencicipi makanannya." Keduanya ternyata berdiri di depan sebuah restauran klasik dengan pintu kayu yang di geser, tercium aroma gurih yang menggoda dari dalam membuat Jae Hwan tanpa sadar mengendus. Ara tersenyum melihat tingkahnya. Restauran itu sederhana, dengan kayu sebagai furnitur utamanya juga beberapa guci berukuran sedang dengan ukiran yang cantik di dekat pintu masuk. Kali ini Jae Hwan tidak protes ia mengikuti Ara dengan senang hati bahkan hampir tidak sabar. Keduanya duduk di kursi kosong bagian sudut dekat jendela, udara dingin dari sana masuk namun Ara membiarkannya ia mengangkat tangan kanannya membuat seorang pelayan pria mendekat dan mencatat pesanan Ara, tidak lama sampai dua mangkuk besar sundubu jjigae (sup tahu sutra pedas) datang, bahan baku utama sundubu jjigae adalah tahu sutra, daging babi cincang, kerang, telur dan kimchi. Meski begitu ada juga yang menggunakan seafood dan kerang. Semuanya disajikan dalam kuah berwarna merah yang pedas, gurih dan kental membuat Jae Hwan menelan ludah. Ia mengambil sendok dan memasukan suapan besar ke dalam mulutnya merasakan pedas dan lembutnya tahu sutra di lidah, perpaduan yang sempurna. "Wahh Daebak!!" Jae Hwan tidak bisa menutupi kekagumannya pada rasa yang baru saja ia dapat, ia mengacungkan ibu jarinya pada Ara membuat gadis itu tersenyum. Lagi. "Tentu saja, restauran ini sudah lebih dari 20 tahun membuat sundubu jjigae." "Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Tanya Jae Hwan sambil memasukan suapan besar lainnya ke dalam mulut. Tiba-tiba Ara menghentikan acara makannya, menyandarkan tubuhnya di kursi dan menarik nafas memandang pria yang masih sibuk dengan makanannya. "Kau tahu saat aku mulai stres nafsu makan ku malah meningkat, aku mendatangi banyak tempat yang di rekomendasikan google dan teman-teman." "Kau pernah mengalami stres?" Jae Hwan menatap Ara dengan ekspresi tidak tahunya. "Aigoo ... aigoo ... Kau kira karena siapa aku mengalami stres?" gadis itu kemudian melanjutkan makannya namun kini Jae Hwan yang mematung, karena sepertinya yang Ara maksud adalah dirinya. "Kau hanya datang ke kampus sesekali setelah kita putus, kadang dengan wajah penuh luka bahkan kau pernah menelepon saat di kantor polisi setelah itu kita bahkan tidak bertemu lagi." "Kau tahu melihatmu begitu hancur membuat hatiku juga terluka, tapi aku tidak bisa mendekat lagi. aku juga tidak ingin terluka!" mata Ara berkaca saat mengatakan betapa memalukannya Jae Hwan dulu. "Yaaa, sup ini terlalu pedas membuat mataku berair!" ia menyusut mata dan hidungnya dengan tisu sambil tersenyum bertingkah seolah Jae Hwan akan mudah dibodohi. "Habiskan makananmu, kita harus kembali ke kantor!" "Heol, kau mengaturku?" Jae Hwan mendengus. "Kita tidak sedang dalam konteks atasan dan bawahan, jadi aku yang mengatur disini." "Ne, ne, ne." Jae Hwan menggerutu namun akhirnya tersenyum. Ara tetaplah Ara. Gadisnya yang masih bisa bertingkah konyol dalam kondisi apapun, gadis yang tawanya menular, gadis yang membuatnya tidak bisa melihat wanita lain meski ia tidak lagi menjadi miliknya. Gadis yang ingin dimilikinya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN