Hal pertama yang terlintas di pikiran Ara adalah bahwa ia tidak ingin kehilangan, untuk kali kedua dalam hidupnya dan pada orang yang sama. Ara pernah begitu, sangat membenci hingga melihat bayangannya saja ia tak sudi namun kali ini lebih dari sekedar definisi patah hati, bagaimana mungkin ia dapat membenci seseorang yang raganya tidak lagi ia temui?. Mulutnya terus saja mengucap do'a atau mantra, sejenis itu. Agar kali ini ketika langkahnya berlari menuju mobil yang akan membawanya ke bandara, Tuhan mendengar kata hatinya. Sekali ini saja. Ia menahan air matanya berulang dengan mengucapkan penolakan atas situasi yang terjadi, 'tidak terjadi apa-apa.' batinnya. Namun tetap saja hidungnya sudah berair karena matanya sudah basah sepenuhnya menutupi pandangannya sendiri. Ia memarkir mobil

