Ingin Bertemu Sekali Saja

1426 Kata
"Tiaraaaa... Tiaraaaa... Jangan tinggalkan Papa, sayang!" Marcel menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sesak, sangat sulit untuk bernapas. "Dokteeeerrrr... Dokteeerrrr... Tolong anak saya, dokteeerrrrr....!!! Teriak Marcel dengan memencet alarm darurat. Sehingga dokter dan para perawat datang berlari-larian masuk kedalam ruangan Tiara. Dengan sigap dokter langsung melakukan alat pacuan jantung terhadap Tiara dengan dibantu beberapa perawat lainnya. Sedangkan disisi lain, Nadia tampak sibuk mengurusi Angga yang kesehatannya lebih baik dibandingkan Tiara anaknya sendiri yang sudah sangat kritis dan sangat butuh pertolongan darurat. Namun, Nadia tetap pada pendiriannya dan tidak menghiraukan kondisi anaknya yang sudah diambang kematian sehingga akhirnya meninggal dunia tanpa sepengetahuan Nadia. "Tiara bisa kami selamatkan melalui alat pacu, Pak. Dia sudah sadar. Tapi, mulai siapkan urus pemakamannya." Ucap sang dokter dengan meneteskan air matanya. Ia begitu iba dengan nasib yang menimpa Tiara. "Gak, dokter! Tolong cari cara lain, anak saya baru lima tahun. Tolong cari cara lain! Saya mohon, dokter. Saya mohon!" Jawab Marcel dengan tangisnya, ia baru saja bernapas lega ketika mengetahui Tiara sudah berhasil hidup kembali dengan bantuan dokter menggunakan alat pacu jantung, namun ia harus berserah diri ketika dokter menyatakan kondisi Tiara saat itu. "Kalau hari ini dia bisa jalani operasi transplantasi ginjal, dia pasti bisa selamat, Pak." Tegas sang dokter dengan wajah kasihan terhadap Tiara. Tiara terbaring dengan mata sedikit terbuka, telinganya masih mampu mendengar percakapan antara Marcel dengan sang dokter. "Tapi, dokter! Saya mohon! Tolong cari cara lain. Pasti ada cara untuk selamatkan anak saya, dok!" Mohon Marcel kepada sang dokter. Sang dokter kebingungan, karena memang cara satu-satunya hanyalah dengan operasi transplantasi ginjal. "Tidak ada cara lain, Pak. Anakmu hari ini, sudah dijadwalkan operasi ginjal yang sesuai. Saya tidak tahu mengapa kalian sebagai orangtua, malah menandatangani surat pelepasan itu." Jelas sang dokter kepada Marcel. Marcel terkejut dengan wajah bingung. "Pelepasan apa? Tanda tangan apa? Saya tidak ada tanda tangan apapun, dok!" Jawab Marcel bingung. Karena, ia sama sekali tidak melakukan pelepasan ataupun tanda tangan yang dimaksudkan oleh dokter. "Mamanya yang melakukan tanda tangan. Sepertinya dia dari Rumah Sakit kami. Dia kasih ginjal itu ke anak yang baru saja dipindahkan dari luar negeri. Tapi, kondisi anak itu tidak separah Tiara." Sahut salah satu perawat yang berada dalam ruangan itu. Marcel terkejut mendengar penjelasan dari perawat. "Anda dengar, kan? Ini keputusan yang kalian buat sendiri sebagai orangtua. Tapi, kasihan anak ini." Ucap sang dokter dengan isak tangisnya. Ia kemudian beranjak untuk meninggalkan ruangan tersebut. Namun, lagi-lagi dicegah oleh Marcel. "Dokter, tolong pikirkan cara lain. Saya mohon, dok! Bisakah anda cari cara lain lagi?" Mohon Marcel kepada dokter. Dokter tetap pergi melangkahkan kakinya sembari membawa alat-alat medisnya. "Dokter... Dok.. Jangan pergi, dok! Saya mohon, dok. Selamatkan anak saya, dokter!" Rengek Marcel kepada dokter. Marcel menangis histeris. Dokter dan para perawat pergi menjauh dari pandangan Marcel. "Papaaaa..." Panggil lirih Tiara kepada Marcel. Marcel langsung mendekati Tiara dan mengusap pucuk kepala Tiara. Dengan napas tersengal-sengal, Tiara masih dapat berucap sedikit demi sedikit. "Papaaaa, apakah sebentar lagi aku akan meninggal?" Tanya Tiara kepada Marcel. Hati Marcel seketika remuk dan hancur. "Gak, sayang. Gak akan mungkin!" Jawab Marcel menenangkan Tiara agar kondisinya tidak semakin menurun. "Papa, aku ingin bertemu dengan Mama. Aku kepingin sekali bertemu dengan Mama sekali ini saja." Ucap Tiara dengan air mata mulai menetes pada pelupuk sudut matanya. Marcel masih tetap menangis. "Iya, sayang. Papa janji sama kamu. Tapi, kamu harus janji sama Papa. Kamu harus tetap bertahan. Papa akan panggil Mama sekarang juga, oke?" Jawab Marcel kepada Tiara. Marcel menggenggam erat jemari tangan Tiara. Kemudian ia mengecup pucuk kepala Tiara dengan penuh harapan agar Tiara segera terselamatkan dan dapat melewati masa kritisnya. Marcel pergi meninggalkan Tiara didalam ruangan, ia berjalan menuju ruangan dimana ada Nadia dan Raffi. Diruangan Nadia dan Raffi.. "Terima kasih, Nadia. Berkat pertolongan kamu, Angga dapat melewati masa-masa kritisnya. Operasi Angga berjalan dengan sukses, sepertinya keputusanku untuk pulang ke Indonesia adalah keputusan yang tepat. Kalau gak, entah akan menunggu sampai kapan." Ucap Raffi dengan memeluk erat tubuh Nadia. Nadia dengan cepat melepaskan pelukan dari Raffi, karena menurutnya, mereka berada pada ruangan umum yang tidak pantas jika ada yang melihat dirinya sedang berpelukan dengan Raffi. "Buat apa kamu sungkan denganku? Ini sudah menjadi tugasku." Jawab Nadia dengan tersenyum bahagia. "Andai dulu aku gak pergi keluar negeri, kita berdua gak akan saling berpisah." Ucap Raffi berusaha untuk meraih kembali hati Nadia. Nadia menjadi salah tingkah, ia sedikit menjauh dari posisi Raffi. "Itu sudah menjadi masa lalu, gak perlu ada yang dibahas lagi. Yang penting kamu dan Angga, baik-baik saja." Jawab Nadia tersenyum. Dari dalam, Raffi telah melihat akan kedatangan Marcel yang sepertinya akan masuk ruangannya. Dengan sigap, Nadia yang berada dihadapan ia kecup singkat pada pipinya. Marcel melihat ketika Raffi dengan mudahnya menci*m pipi Isterinya. Kemudian, Marcel masuk kedalam ruangan dan berjalan mendekati Nadia dan Raffi. "Sudah puas belum ci*mannya?" Tanya Marcel dengan tatapan yang begitu tajam. Raffi berpura-pura ramah kepada Marcel. "Kamu pasti Pak Marcel ya?" Raffi mengulurkan tangannya seolah-olah ingin mengajak Marcel untuk berjabat tangan. Dengan cepat Marcel menepisnya dengan kasar. "Jangan salah paham dulu, Pak Marcel. Operasi Angga sangat sukses. Dan itu berkat Nadia. Aku ci*m dia hanya untuk tanda terima kasih saja." Ucap Raffi kepada Marcel. Namun, Marcel tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raffi. Ia langsung mencengkeram kerah baju yang dikenakan oleh Raffi. "Terima kasih? Begitu caramu berterima kasih? Kamu gak tahu dia sudah menikah?" Sentak Marcel dengan kasar. "Maaf, mungkin karena aku terlalu lama diluar negeri. Di luar negeri, kami berterima kasih dengan ci*m pipi. Ini adalah salah satu bentuk sopan santun, yang modern dan elegan. Tapi, memang masih ada juga sih orang yang agak kolot. Gak bisa terima sopan santun yang elegan seperti ini. Kalau kamu keberatan dengan cara ini, aku mohon maaf sama kamu!" Jawab Raffi dengan gaya bicara yang sombong dan membenarkan pemikirannya sendiri. Marcel terlihat begitu geram. "Omong kosong!" Hardik Marcel. Marcel hendak baku hantam kepada Raffi. Namun, Nadia berhasil mencegahnya. "Cukup! Sudah dijelaskan itu hanya salah paham. Kenapa kamu masih bertingkah begini? Memalukan sekali! Cepat kembali dan temani anak kita!" Perintah Nadia kepada Marcel. Marcel tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran Nadia. "Kamu masih punya muka untuk sebut Tiara anak kita? Apa kamu tahu? Tindakan kamu dengan memberikan donor ginjalnya ke orang lain, bisa buat dia meninggal?" Sentak Marcel kepada Nadia. "Marcel! Sebagai laki-laki dewasa. Bersikap kekanak-kanakkan sangatlah sudah keterlaluan! Sekarang bahkan kamu berani, sumpahi anak kita. Sudahku bilang, kasus Angga lebih khusus. Mereka sekeluarga jauh-jauh kembali dari luar negeri. Kalau ikuti prosedur resmi Rumah Sakit, entah sampai kapan akan menunggu lagi. Anak kita masih bisa menunggu, donor ginjalnya pasti akan ada. Jangan terlalu egois!" Jelas Nadia kepada Marcel. "Nadia, Tiara ingin sekali bertemu denganmu sekali ini saja. Kali ini aku gak ingin bertengkar. Ikut aku sekarang! Tiara ingin bertemu kamu." Marcel menarik tangan Nadia dengan begitu kencang. "Ih, kamu apa-apaan sih?" Tanya Nadia. "Ikut aku!" Tarik Marcel. "Lepaskan!" Teriak Nadia dengan menepis tangan Marcel. Nadia kemudian tersenyum kepada Raffi. "Raffi, kamu masih butuh bantuanku disini?" Tanya Nadia dengan nada ramah. Berbeda sekali ketika ia berbicara dengan Marcel, suaminya sendiri. "Angga mungkin sebentar lagi akan sadar. Dia juga bilang, orang pertama yang akan ia temui adalah kamu." Ucap Raffi seakan-akan menahan Nadia supaya jangan pergi dari ruangan hanya demi untuk menemui Tiara. "Baik, kalau begitu aku akan tunggu Angga sampai sadar dulu, baru setelah itu aku akan pergi." Jawab Nadia dengan entengnya. Nadia kemudian menoleh kearah Marcel. "Kembalilah dulu, aku akan menunggu Angga. Dia sangat dekat denganku. Begitu dia sadar, aku akan langsung memeriksa kondisinya. Jika dia baik-baik saja, aku akan segera melihat Tiara!" Tegas Nadia kepada Marcel. Lagi-lagi Marcel dibuat jengah oleh sikap Nadia yang entah kerasukan hantu dari mana, sehingga membuat Nadia bersikap seperti itu. "Nadia! Kamu sadar gak sih dengan ucapanmu ini? Kalau kamu gak temui Tiara sekarang, mungkin kamu gak akan pernah lagi bertemu dengan dia seumur hidupmu. Kamu tahu gak? Dia baru saja... Ikuti aku sekarang. Kamu lihat kondisi Tiara sendiri!" Dengan tangisnya, Marcel menjelaskan kepada Nadia. Ia menarik tangan Nadia, namun lagi-lagi Nadia menepisnya dan menolak. "Marcel! Kamu tahu kan, aku paling benci diancam! Dan kamu, gak berhak ancam aku. Kalau kamu terus bertingkah, aku akan panggil Satpam." Ucap Nadia dengan sombong. Marcel menggelengkan kepalanya. "Stop, Nadia. Stop! Tiara sudah benaran gak bisa diselamatkan! Kamu selalu sibuk bekerja, dan gak punya waktu temani dia. Dia hanya mau bertemu kamu sekali saja. Hanya bertemu sekali, kamu bahkan gak bisa penuhi keinginan kecilnya. Apa kamu masih menganggap diri kamu sebagai manusia?" Ujar Marcel dengan bersusah payah membujuk Nadia untuk bertemu dengan Tiara walau hanya sedetik saja. Dengan cepat Nadia melayangkan tangannya ke arah wajah Marcel. Plaaaaakkkkk... "Marcel?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN