Pergi, Untuk Selamanya!
"Papa, Mama kemana?" Tanya gadis kecil berusia lima tahun yang sedang terbaring lemah diranjang Rumah Sakit dengan banyak selang pada tubuhnya.
Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya lemas tidak berdaya.
Seorang laki-laki sedang duduk dihadapannya yang tak lain adalah Ayah gadis kecil tersebut, langsung melihat jam pada pergelangan tangannya.
"Mama pergi sedang mempersiapkan donor ginjal untukmu, Nak. Hari ini, kita bisa jadwalkan untuk operasinya. Lalu, Tiara bisa punya badan sehat lagi." Jelas sang Papa kepada anak gadisnya yang bernama Tiara. Ia menggenggam lembut jemari tangan milik Tiara.
"Mama hebat sekali, Papa. Apakah Mama yang akan melakukan operasinya?" Tanya Tiara kepada sang Papa.
"Kalau begitu, aku pasti akan berani. Gak akan takut sakit." Imbuh Tiara dengan senyuman hangatnya.
Sang Papa menciumi jemari tangan milik Tiara dengan perasaan haru.
"Anak pintar. Tentu saja Mama yang akan melakukannya! Mama itu dokter paling hebat." Tegas sang Papa.
"Aku mau cepat-cepat bertemu dengan Mama." Tiara berharap kedatangan sang Mama.
Mama Tiara adalah seorang dokter pada salah satu Rumah Sakit ternama.
Ia sangat sibuk dengan pasiennya, sehingga jarang sekali bertemu dengan Tiara dan suaminya.
Bahkan untuk quality time saja, bisa dihitung dalam beberapa tahun belakangan ini.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang dokter cantik berambut panjang.
Ia membawa sebuah kotak putih masuk kedalam ruangan rawat inap Tiara.
"Mama?" Ucap lirih Tiara ketika melihat sang Mama datang menemuinya dan Papanya.
"Nadia, apakah ini donor ginjal yang Tiara tunggu selama setengah tahun akhirnya telah sampai?" Tanya Papa Tiara bangkit dari duduknya dan mendekati Nadia, Mamanya Tiara.
Namun dengan cepat, Nadia menjauhkan kotak putih dalam jangkauan Papa Tiara dengan pandangan tidak suka.
"Pemeriksaan Tiara telah selesai. Hari ini kita bisa jadwalkan operasinya." Ucap Papa Tiara kepada Nadia.
"Marcel, donor ginjal ini sudah aku putuskan akan aku berikan kepada Angga anaknya Raffi. Kali ini, mereka kembali hanya demi donor ginjal ini. Kalau gak, biaya pulang kesini sangatlah mahal. Dia membesarkan anaknya seorang diri, sangatlah gak gampang. Tiara masih bisa tunggu. Aku ini dokter, jadi aku paham. Temanilah Tiara disini, aku mau melakukan operasinya Angga." Jelas Nadia panjang lebar tanpa iba sedikitpun terhadap Tiara yang sudah menantikan donor ginjal selama setengah tahun lamanya.
Marcel begitu terkejut mendengar penuturan dari mulut Nadia yang lebih mementingkan donor ginjal untuk Angga anak dari Raffi.
Ya, Raffi adalah mantan pacar Nadia ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Atas.
Entah bagaimana, Raffi yang dikabarkan meneruskan perguruan tinggi dan tinggal diluar negeri selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Kini kembali pulang ke Indonesia demi mencari donor ginjal untuk anak semata wayangnya.
Nadia melangkahkan kakinya menuju keluar dari ruangan Tiara.
Tiara yang tengah terbaring diranjang hanya pasrah mendengar pernyataan dari Nadia.
Seorang Mama yang sangat ia sayangi walau kasih sayangnya hanya dalam hitungan jari saja.
Karena, waktu sehari-hari Tiara selalu bersama dengan Marcel, Papanya. Bukan dengan Nadia.
"Tunggu, Nadia!" Hardik Marcel kepada Nadia.
Namun seolah-olah Nadia tidak menghiraukan panggilan dari Marcel, suaminya.
Ia terus melangkahkan kakinya.
Marcelpun berlari mengejar Nadia, dan meninggalkan Tiara seorang diri didalam ruangan.
"Nadia! Tunggu, Nadia!" Lagi-lagi Marcel memanggil Nadia.
Nadia menoleh kearah Marcel. Marcel mencengkeram lengan Nadia.
"Nadia, Raffi itu adalah mantan pacar kamu kan? Jangan bahas ini dulu, Tiara sudah gak bisa menunggu lagi. Kamu tahu sendiri, kondisinya sangat kristis sekarang. Selain itu, donor ginjal ini memang untuk dia kan? Kenapa malah kamu kasih ke orang lain?" Cecar Marcel kepada Nadia.
Nadia menghempaskan tangan Marcel pada lengannya.
"Aku sudah tahu kamu ini picik, kenapa memang kalau Raffi mantan pacar aku? Itu semua sudah menjadi masa lalu. Aku sudah bilang, sekarang mereka sedang susah. Kita harus bantu kalau bisa! Aku ini dokter, selamatkan nyawa itu tugas yang harus kulakukan!" Jelas Nadia kepada Marcel.
Marcel begitu geram sekali mendengar penuturan dari Nadia.
"Lalu, Tiara? Bagaimana dengan Tiara? Dia gak bisa menunggu lagi. Kalau sampai harus tunggu lagi, dia bisa meninggal! Tegas Marcel kepada Nadia.
"Mar.. " Belum sempat Nadia melanjutkan ucapannya.
Raffi datang memanggil Nadia.
"Nadia, Angga hampir gak sadarkan diri. Dia terus memanggil tante Nadia. Dia ingin bertemu kamu." Ucap Raffi yang tiba-tiba datang mengganggu perdebatan antara Marcel dan Nadia.
Nadia terkejut dan panik.
"Baik, aku akan kesana. Lakukan operasi transplantasi ginjal untuk Angga!" Ucap Nadia dengan melangkahkan kakinya untuk menuju ruangan Angga.
Namun dengan cepat, Marcel menarik tangan Nadia.
"Berhenti! Gak boleh, Nadia. Tiara sudah gak bisa menunggu, donor ginjal ini milik Tiara. Gak ada yang boleh ambil, ini keputusanku!" Sentak Marcel kepada Nadia.
"Sudah puas membuat keributan, Marcel? Aku sudah bilang, aku ini dokter. Siapa yang lebih berhak mendapatkan donor ginjal ini, aku memiliki standar penilaian sendiri. Kalau kamu terus buat keributan, cepat pergi dari sini! Atau aku benaran akan marah!" Nadia balik menyentak Marcel didepan umum.
Marcel tidak menyangka, Isterinya akan menutup mata tentang hal yang menyangkut tentang puteri kandungnya sendiri. Apalagi terkait donor ginjal Tiara sudah mengantri dan menunggu dalam jangka waktu yang sangat lama.
Namun malah lebih mementingkan anak orang lain yang tidak sama sekali menunggu daftar antrian.
Raffi tersenyum sinis kepada Marcel, ingin sekali Marcel menghajar Raffi habis-habisan. Tapi sayangnya, ia sedang berada ditempat umum, yang dimana sangat banyak sekali orang-orang disekitarnya.
Marcel menduga bahwa dalam kasus ini, Raffi pasti memanfaatkan belas kasihan dari Nadia. Dan memanfaatkan segala-galanya dari Nadia.
Terlebih, Nadia adalah mantan pacarnya yang suatu saat dapat ia rebut kapanpun ia menginginkannya.
Nadia pergi meninggalkan Marcel, ia pergi bersama dengan Raffi untuk segera melangkahkan kakinya menuju ruangan Angga.
Marcel menatap kepergian Nadia dan Raffi dengan pandangan tidak suka. Begitu muak Marcel terhadap Raffi.
Marcel sudah mencium aroma seperti ada yang tidak beres antara Nadia dengan Raffi.
Sampai-sampai ia membayangkan kedekatan Nadia dengan Raffi menimbulkan perselingkuhan yang membuat Nadia mengabaikan dirinya dan Tiara.
Marcel membayangkan jika Nadia sedang berada di sebuah ruangan bersama dengan Raffi.
Raffi mendekati Nadia dengan segala rayuannya, hingga Nadia terpikat kembali hingga keduanya terbawa oleh suasana.
Terciptalah suatu hal yang sangat tidak diduga. Jika Raffi nekat memeluk serta menc*um Nadia, walau Raffi tahu jika Nadia telah memiliki suami dan anak.
Emosi Marcel memuncak ketika tanpa sadar Isterinya diperlakukan secara senonoh oleh pria lain, bahkan Nadia sendiri menerima dengan sama-sama suka ketika bersama dengan Raffi.
Namun, khayalannya buyar ketika suara Tiara memanggilnya.
"Papa, Papa... Papa.." Panggil Tiara dengan suara lirihnya.
Marcel dengan sayup-sayup mendengarnya. Ia langsung berlari menghampiri Tiara.
"Tiaraaaa!!!"
"Papaa.. Papa..." Panggil kembali Tiara dalam keadaan yang sangat kritis.
Betapa terkejutnya ketika Marcel telah berada diruangan Tiara.
Ia melihat Tiara sedang sakaratul maut.
"Tiaraaaa... Tiaraaaa!!! Jangan tinggalkan Papa, sayang. Kamu harus kuat. Kamu harus bertahan!" Ucap Marcel menggenggam tangan Tiara yang sudah terasa dingin dan sangat pucat.
Namun, genggaman tangan Tiara terlepas.
Marcel mengguncang-guncangkan tubuh Tiara, namun tidak ada respon sama sekali pada tubuh Tiara.
Tiara melewatkan sakaratul mautnya dihadapan Marcel.
Ia meninggal dunia.
"Tiaraaaa... Tiaraaaa... Jangan tinggalkan Papa, sayang!" Marcel menangis sejadi-jadinya.
Dadanya terasa sesak, sangat sulit untuk bernapas.
"Dokteeeerrrr... Dokteeerrrr... Tolong anak saya, dokteeerrrrr....!!!