"Stop, Nadia. Stop! Tiara sudah benaran gak bisa diselamatkan! Kamu selalu sibuk bekerja, dan gak punya waktu temani dia. Dia hanya mau bertemu kamu sekali saja. Hanya bertemu sekali, kamu bahkan gak bisa penuhi keinginan kecilnya. Apa kamu masih menganggap diri kamu sebagai manusia?" Ujar Marcel dengan bersusah payah membujuk Nadia untuk bertemu dengan Tiara walau hanya sedetik saja.
Dengan cepat Nadia melayangkan tangannya ke arah wajah Marcel.
Plaaaaakkkkk...
"Marcel?"
"Kamu sengaja membuang waktuku, berulang kali menyumpahi anak kita. Marcel, bisakah kamu gak seegois ini? Kamu itu hanya iri! Ini penyakit mental. Kalau kamu gak pergi juga, aku akan panggil orang sekarang, untuk bawa kamu ke Rumah Sakit Jiwa!" Sentak Nadia kepada Marcel.
Marcel kecewa ia hendak menampar balik Nadia, namun ia mengurungkan niatnya.
"Nadia, sudah gak ada waktu lagi. Jangan sampai menyesal!" Pesan Marcel kepada Nadia dengan tegas.
Marcel kemudian pergi meninggalkan Nadia dan Raffi didalam ruangan, ada Angga yang masih terbaring diranjang.
Ketika Nadia hendak mengekori Marcel, langkahnya terhenti karena ia dicegah oleh Raffi.
"Nadia, Angga sudah sadar. Temanilah Angga. Aku dan Marcel sama-sama Pria dewasa. Aku akan bicara dengan Marcel." Ucap Raffi yang kemudian ia hendak menyusul Marcel.
Namun, Nadia mencegahnya.
"Sudahlah, dia gila sekarang. Jangan banyak bicara sama dia." Cegah Nadia.
"Tenang saja, Nadia. Demi kamu, sekalipun dia benaran gila, aku akan tetap melindungi kamu. Toh, dia hanya lagi iri saja. Aku akan bicara padanya, gak akan ada masalah kok." Jelas Raffi kepada Nadia.
Raffipun meninggalkan Nadia. Nadia tampak tersenyum pada Raffi. Entah apa yang sedang Nadia pikirkan.
Raffi mengejar Marcel. Marcel baru saja menghantam tembok dengan tangan kanannya, sehingga tangannya sedikit mengeluarkan darah pada bagian tulang-tulang jemarinya.
"Marcel! Kamu kasihan sekali. Sebenarnya penyakit Angga, gak begitu genting. Dokter bilang dalam setahun, masih bisa menunggu untuk melakukan transplantasi ginjal. Tapi, aku bilang ke Nadia, kami sangat takut kalau sampai melewatkan kesempatan ini, entah kapan ada lagi dapat donor ginjal. Nadia masih sama seperti dulu semasa kita pacaran. Dia selalu penuhi permintaanku, dengan suka rela berikan donor ginjal anakmu, untuk anakku. Dan bahkan, seluruh biaya pengobatan Rumah Sakit, Nadia yang bayar semuanya." Jelas Raffi kepada Marcel. Ia membuat Marcel supaya lebih panas lagi.
Marcel seketika mengamuk dan kepanasan mendengar penuturan Raffi.
"Apa katamu?" Sentak Marcel dengan memiting kerah kemeja milik Raffi.
"Hahaha, aku gak menyangka jika selama ini, dihatinya masih ada aku yang terpenting, bukan kamu!" Ujar Raffi kembali.
"Cari mati kamu!" Marcel mengeratkan kembali menarik kerah kemeja Raffi.
"Haha, kenapa? Cemas? Katanya anakmu sekarang lagi kritis ya? Lihat ekspresimu ini, jangan-jangan dia sudah gak ada ya?" Raffi terus melontarkan kata-kata yang tidak layak kepada Marcel.
Membuat Marcel semakin tersulut api emosi.
Ia langsung melayangkan sebuah baku hantam kewajah Raffi dengan begitu kencangnya, hingga Raffi terhuyung dan jatuh kelantai.
"Coba ulangi ucapanmu, Raffi!" Teriak Marcel kepada Raffi.
Raffi tersungkur dengan meneteskan sedikit darah pada bagian bibir sebelah kirinya.
"Marcel!" Teriak Nadia yang tiba-tiba datang menemui keduanya.
Nadia membantu Raffi untuk berdiri.
"Marcel, b*rengsek kamu! Kami bahkan berani pukul dia. Raffi itu Doktor dari USA, bisa-bisanya dipukuli oleh orang kasar dan barbar macam kamu! Minta maaf ke dia sekarang, gak? Sekarang juga!" Sentak Nadia kepada Marcel.
Marcel semakin terpojok, seolah-olah kesalahan ada pada Marcel semuanya.
Nadia tidak berpikir secara panjang apa yang telah terjadi padanya.
Ia tetap lebih mementingkan hidup orang lain dibandingkan kehidupan keluarganya bahkan anak kandungnya sendiri.
"Nadia, jangan salahkan Pak Marcel! Semua salahku, karena telah merebut ginjal untuk Tiara." Sahut Raffi merendah, ia membuat semua keadaan dialah yang salah. Guna menyerang Marcel agar semakin dihina dan diinjak-injak oleh Nadia, Isterinya sendiri.
"Aku yang telah memberikan donor ginjal ini ke Raffi. Kenapa malah kamu pukul dia? Kalau kamu ingin marah, hadapi aku! Kalau berani pukul aku!" Tegas Nadia kepada Marcel.
Marcel sudah sangat geram dengan keadaan kala itu.
"Aku memukul kamu? Hanya mengotori tanganku saja. Kamu gak pantas jadi Mamanya Tiara. Kalian berhutang pada Tiara, akan ku buat kalian membayar berkali-kali lipat!" Tegas Marcel kepada Nadia.
Nadia tidak merasa takut sedikitpun kepada Marcel.
"Marcel, kamu memang benaran gila! Punya Papa macam kamu, justru menyedihkan bagi Tiara!" Nadia mendorong tubuh Marcel hingga Marcel tersungkur jatuh ke lantai.
Sungguh kejam sekali Nadia ini, tidak ada pikirannya sama sekali.
Nadia dan Raffi kemudian pergi meninggalkan Marcel yang masih terjatuh di lantai.
"Pak Marcel! Pak, Tiara hampir tidak tertolong, Pak!" Teriak perawat yang sedang menjaganya keluar dari ruangan dan mencari Marcel.
Mendengar ucapan Perawat, Marcel berlari masuk kedalam ruangan Tiara.
Ia segera menemui Tiara dan menggenggam jemari tangan Tiara yang sudah terasa sangat dingin.
Marcel menangis kembali ketika melihat kondisi Tiara. Ia sangat tidak tega.
"Papaa, Mama mana, Pa?" Tanya Tiara dengan suara pelannya.
"Maaf, Sayang. Papa gak berguna, bahkan keinginan terakhirmu, Papa gak bisa memenuhinya." Jawab Marcel dengan isak tangisnya.
Dadanya terasa sesak sekali melihat kondisi sang buah hatinya sedang sangat kritis.
"Papa, Papa jangan menangis. Biar Tiara hapus air mata Papa ya. Papa, kalau aku gak bisa bertemu Mama, bisa gak dengar suaranya Mama?" Ucap Tiara dengan air mata menetes pada sudut matanya.
Marcel mengangguk dengan cepat.
Ia segera meraih ponselnya dan segera menghubungi ponsel Nadia.
Tut..
Tut..
Tut..
Diluar sana, Nadia sedang bersama Angga dan Raffi di taman bermain masih dalam lingkungan Rumah Sakit.
Nadia tampak asyik bermain dengan Angga, sehingga ponselnya ia letakkan di sebuah bangku panjang agar tidak mengganggu aktivitasnya bermain dengan Angga.
Ketika ponsel Nadia berdering, dengan cepat Raffi meraih ponsel Nadia dan ia menerima panggilan suara dari Marcel.
"Halo, Nadia. Kumohon! Bicara sebentar saja dengan Puterimu sekarang, Nad. Cukup satu kalimat saja." Ucap Marcel ketika ia mengetahui panggilannya telah diterima oleh ponsel Nadia.
Marcel segera mengloudspeaker, dan kemudian ia letakkan didekat Tiara.
"Marcel? Eh Pak Marcel? Nadia sedang bermain dengan Angga. Mereka bermain-main di taman Rumah Sakit sekarang. Sepertinya gak ada waktu untuk menerima panggilan teleponmu." Ucap Raffi pada panggilan di seberang.
Marcel semakin sedih melihat Tiara dengan tatapan kecewa harus mendengar bahwa sang Mama lebih memilih untuk bermain dengan anak orang lain dibandingkan untuk menemuinya, walau hanya sebentar saja.
"Tolong biarkan Nadia yang menerima teleponnya! Tiara mau dengar suara Mamanya!" Ucap Marcel dengan emosi bercampur menangis bercucuran air mata membasahi wajahnya.
"Sayang, hebat sekali kamu!" Terdengar suara Nadia diseberang dengan memuji Angga yang sedang bermain.
"Papa, Mama biasanya panggil aku sayang. Mama sudah lama gak panggil aku sayang." Tangis Tiara ketika sempat mendengar suara Nadia.
Marcel dengan perasaan sedihnya menatap wajah Tiara.
"Tiara, Mama terlalu sibuk. Jadi, hanya bisa telepon kamu. Kamu akan selalu menjadi kesayangannya, Nak!" Tegas Marcel kepada Tiara.
Setelah sempat mendengar suara Nadia, Tiarapun memejamkan matanya dengan lemah.
Marcel menyadari bahwa Tiara tidak meresponnya.
Ia mengguncangkan tubuh Tiara yang sama sekali tidak lagi bergerak.
"Tiaraaaa, Tiaraaaa.. Jangan tidur, Nak. Dokteerrrrrr... Dokteeerrrr....!!!"