Yang Tenang ya, Nak!

1190 Kata
"Tiaraaaa, Tiaraaaa.. Jangan tidur, Nak. Dokteerrrrrr... Dokteeerrrr....!!!" Teriak Marcel kepada para dokter. "Dokteeerrrrr... Susteeeerrrr!!!!" Teriaknya kembali. Marcel terus mengguncang-gunjangkan tubuh Tiara yang lemas tidak berdaya. "Nak, bangun, Nak. Papa akan cari cara supaya kamu tetap bertahan! Papa harus selamatkan kamu, Jangan tidur, sayang!" Marcel terus menangis sesenggukan dengan berusaha sekuat tenaganya agar Tiara tetap membuka matanya. Sedikit demi sedikit Tiara kembali membuka matanya yang terasa berat dan terasa mengantuk. Ia menarik secarik kertas gambar yang ia sembunyikan dibalik bantalnya. Ia memberikan kertas gambaran itu kepada Marcel. Kertas berisikan gambaran sebuah keluarga, ada seorang Ibu, Ayah dan anak gadis kecil perempuan tampak sedang bergandengan tangan. "Papaaa, selama ini Papa selalu merawat aku. Papa sudah berusaha keras. Tiara gak bisa menemani Papa lagi. Nanti Papa sama Mama, akan punya anak lagi yang sehat. Tapi, jangan pernah lupakan Tiara ya, oke? Tolong berikan ini ke Mama, dan bilang kalau aku, Aku kangen sekali sama Mama. Papa tahu kan? Andai aku bisa bertemu dengan Mama sekali saja untuk terakhir kalinya, pasti aku akan senang sekali." Ucap Tiara kepada Marcel dengan napas tersengal-sengal. Napasnya terdengar jelas satu persatu dihembuskan oleh Tiara. Marcel terus saja menggenggam erat jemari anaknya tersebut. Ia tidak ada henti-hentinya menangisi Tiara yang terlihat lemah dan tidak berdaya. Namun, seketika tangan Tiara yang digenggam oleh Marcel terlepas. Mata tiara tertutup rapat dan kondisinya sangat lemah. "Tiaraaaaa... Tiaraaaaa.... Bangun Nak, jangan tinggalkan Papaaa... Tiaraaaa....!" Tangis histeris Marcel pecah mengisi ruangan. Kertas gambaran milik Tiara pun terjatuh kelantai. Para dokter dan suster segera berlari datang menghampiri Marcel dan Tiara. Dokter langsung menutupkan kain putih keseluruh wajah Tiara. Tiara akhirnya meninggal dunia. "Lepaskan aku... Tiaraaaaa.... Jangan tinggalkan Papa, Tiaraaaaa....!" Teriak Marcel kembali. Suster menarik tubuh Marcel untuk segera keluar dari ruangannya, namun Marcel terus menolaknya. "Puteriku, sayang. Anak gadis Papa. Papa sayang kamu, Nak!" Ucap Marcel kembali. "Kasihan sekali, padahal anak ini sudah terdaftar mendapatkan donor ginjal. Tapi, Mamanya malah menandatangani surat pelepasan, bahkan gak sempat melihat wajah terakhir anaknya." Ucap salah satu perawat. "Harimau saja gak sekejam ini ke anaknya, Mama anak ini benar-benar kejam. Katanya, Mama anak ini memberikan donor ginjal itu ke anak mantan pacarnya." Sahut perawat yang kedua. "Bisa-bisanya, Mamanya malah merawat anak orang lain. Benar-benar gak punya hati." Sahut kembali perawat yang pertama. Marcel terduduk lemas dilantai, ia pasrah akan keadaan yang menimpanya. Seluruh harapannya musnah dan hilang bersama kepergian anaknya untuk selama-lamanya. Ia mendengarkan ucapan para perawat membicarakan isterinya. "Pak Marcel, yang sabar ya!" Ucap dokter ketika hendak pergi meninggalkan ruangan. Dokter dan para perawatpun pergi meninggalkan Marcel. Marcel kembali berjalan jongkok dengan merayap-rayap mendekati jenazah Tiara. Ia menangis sejadi-jadinya. Marcel meraih kertas gambar milik Tiara. Ia bangkit dari posisinya, dan segera pergi meninggalkan jenazah Tiara. Ia berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Ia mencari-cari dimana keberadaan Nadia kala itu. Marcel menemukan Nadia masih bermain-main dengan Angga di sebuah Taman ditemani oleh Raffi. Mereka terlihat sangat bahagia. Tidak ada raut wajah kesedihan apapun dari wajah Nadia. "Hati-hati ya, kamu hebat sekali Angga!" Ucap Nadia kepada Angga yang sedang bermain-main. Raffi melihat kedatangan Marcel. Ia langsung mengambil posisi mendekati Nadia. "Nadia, terima kasih banyak ya. Berkat kamu Angga bisa mendapatkan donor ginjal, dan tinggal di kamar VIP. Biayanya perhari pasti dua puluh juta, kan? Sama dengan gajimu sebulan, kamu sudah bantu aku dan Angga. Aku gak mau berikan banyak beban tambahan kepadamu." Ungkap Raffi dengan memegang kedua pundak Nadia. Nadiapun tersenyum. "Gak apa-apa, Raffi. Biaya kamar kalian, aku bayar pakai kartu kredit Marcel. Dia memang gak berguna, tapi keluarganya cukup kaya. Ini harta bersama kami sebagai suami isteri, mau aku pakai apa saja terserah. Toh, kalian baru saja kembali dari luar negeri, belum terbiasa dengan lingkungan disini. Kamu laki-laki dewasa, bawa-bawa Angga juga gak mudah, sudah sewajarnya aku membantu kalian." Jawab Nadia dengan panjang lebar. Raffi tersenyum kemudian memeluk erat dihadapan Marcel yang hendak menghampiri Nadia. Marcelpun terpaku, ia mematung melihat Nadia diperlakukan oleh orang lain. Seolah-olah, Marcel saat itu menjadi laki-laki paling bodoh. "Terima kasih, Nadia. Kalau bukan karena kamu yang menolong kami, aku gak tahu harus bagaimana lagi. Terima kasih banyak." Ucap Raffi dengan mata tertuju kepada Marcel dengan senyuman sinisnya. Marcel begitu emosi melihat Raffi yang masih saja memeluk tubuh Nadia. "Jangan khawatir, Raffi. Angga sudah kayak anak aku sendiri. Apapun yang terjadi dengan kalian, aku pasti akan membantu." Jawab Nadia dengan membalas pelukan Raffi. Dengan cepat Marcel mendekat dan melepaskan pelukan antara Raffi dan Nadia dengan kasar. Sehingga membuat Nadia tampak terkejut akan kedatangan Marcel. Marcel menatap wajah Nadia dengan menangis sembari menunjukkan kertas gambar yang berada dalam genggamannya. "Sebelum meninggal, anakmu hanya ingin bertemu dengan kamu sekali saja. Tapi, kamu malah enak-enakan mengobrol sama si b*rengsek disini, apa kamu masih pantas disebut manusia?" Ujar Marcel kepada Nadia. Nadia terkejut dengan ucapan Marcel. "Apa katamu? Tiara meninggal? Marcel, kamu jahat sekali. Demi membuat Raffi dan Angga merasa bersalah, kamu bahkan membuat kebohongan sekejam ini?" Nadia berucap kepada Marcel. Marcel menarik napas panjangnya, dan mendengus kesal. "Nadia, aku sedang gak bercanda! Ini permintaan terakhirnya, dia minta aku sampaikan ini ke kamu." Marcel menunjukkan kertas gambaran milik Tiara di hadapan Nadia. Nadia mendengus kesal. "Omong kosong apa ini? Gambar macam ini ada banyak dirumah. Jangan mengarang cerita konyol untuk menipu diriku, ngerti? Kerjaan aku sudah sibuk, aku gak ada waktu untuk meladeni pikiran kamu. Dengar ya, kamu sama sekali gak pantas jadi seorang Papa. Demi puaskan amarahmu, kamu bahkan tega menyumpahi anak kandung kamu sendiri." Jelas Nadia hingga mendorong tubuh Marcel. "Aku menipu kamu? Kamu pikir aku sedang menipu kamu? Keinginan terakhirnya hanya ingin bertemu kamu sekali saja, kamu bahkan gak memberikan kesempatan untuknya, kenapa kamu setega itu?" Tegas Marcel kepada Nadia. Nadia memperhatikan ucapan Marcel. Namun, lagi-lagi Raffi mencari perhatian kepada Nadia agar Nadia tidak terlalu fokus terhadap Marcel. Raffi berpura-pura merasakan pusing pada kepalanya. Ia seakan-akan sempoyongan seperti ingin terjatuh. "Kamu kenapa, Raffi?" Tanya Nadia yang langsung menangkap tubuh Raffi yang hendak terjatuh. "Gak tahu, Nad. Sepertinya belakangan ini aku kelelahan merawat Angga, mungkin kadar gulaku rendah." Ucap Raffi. Marcel ingin sekali menghantam wajah Raffi yang pandai berakting di hadapan Nadia. "Marcel, sudahlah. Kamu itu laki-laki dewasa, gak pantas menangis-nangis seperti ini. Memuakkan sekali, aku peringatkan ke kamu ya, jangan pakai alasan soal anak kita untuk menarik perhatianku, kalau aku marah besar, aku akan ceraikan kamu!" Tegas Nadia kepada Marcel. Nadia mengancam Marcel untuk bercerai. Nadia pergi meninggalkan Marcel dengan menggandeng tangan Raffi. Namun, Angga tiba-tiba menarik kertas gambaran yang berada dalam genggaman Marcel. "Om, gambar ini masih ada darahnya. Apa ini darah yang dimuntahkan oleh Tiara sebelum meninggal? Kasihan sekali. Sebenarnya aku sudah pulih, Om. Semua dokter bilang aku boleh keluar dari Rumah Sakit. Tapi, Papa bilang, selama tinggal di Rumah Sakit, tante Nadia akan terus peduli dan rawat aku. Baguslah kalau anak Om meninggal, mulai sekarang tante Nadia cuma punya aku seorang. Dia akan menjadi Mamaku." Jelas Angga kepada Marcel. Angga kemudian merobek-robek kertas gambaran peninggalan Tiara. Marcel begitu kesal mendengar ucapan dari Angga, ditambah Angga merobek-robek kertas gambaran milik Tiara. Karena dirundung kesal, Marcel langsung menyerang Angga dengan menjambak rambut Angga. Ia meluapkan emosinya. Anggapun berteriak kencang sehingga suaranya terdengar oleh Nadia dan Raffi. Nadia menoleh dan langsung berlari menghampiri Angga. "Marcel, apa-apaan kamu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN