Hari Pemakaman

1043 Kata
"Om, gambar ini masih ada darahnya. Apa ini darah yang dimuntahkan oleh Tiara sebelum meninggal? Kasihan sekali. Sebenarnya aku sudah pulih, Om. Semua dokter bilang aku boleh keluar dari Rumah Sakit. Tapi, Papa bilang, selama tinggal di Rumah Sakit, tante Nadia akan terus peduli dan rawat aku. Baguslah kalau anak Om meninggal, mulai sekarang tante Nadia cuma punya aku seorang. Dia akan menjadi Mamaku." Jelas Angga kepada Marcel. Angga kemudian merobek-robek kertas gambaran peninggalan Tiara. Marcel begitu kesal mendengar ucapan dari Angga, ditambah Angga merobek-robek kertas gambaran milik Tiara. Karena dirundung kesal, Marcel langsung menyerang Angga dengan menjambak rambut Angga. Ia meluapkan emosinya. Anggapun berteriak kencang sehingga suaranya terdengar oleh Nadia dan Raffi. Nadia menoleh dan langsung berlari menghampiri Angga. "Marcel, apa-apaan kamu!" Teriak Nadia mendorong tubuh Marcel. "Beraninya kamu sakiti anak kecil, kamu sudah gila, ya? Kalau gila, berobat sana!" Sentak Nadia kembali pada Marcel. "Tante, padahal aku hanya ingin memberikan permen ini untuk, Om. Papa bilang, makanan manis bisa untuk meredakan suasana hati agar lebih baik." Ucap Angga berbohong. Ia pandai sekali memanipulasi keadaan seperti Raffi, Ayahnya. "Tuh, lihat! Anak kecil saja bahkan bisa lebih dewasa daripada kamu! Apa kamu gak malu?" Cecar Nadia kepada Marcel. Marcel terlihat seperti orang kebingungan dengan keadaan kala itu. "Pak Marcel, kalau kamu gak suka denganku, pukul aku, maki-maki aku saja sesukamu. Tapi, jangan ganggu Angga, dia baru saja selesai operasi. Tubuhnya masih sangat lemah, pukul saja aku, pukul aku!" Sahut Raffi seolah-olah ia merasa tersakiti oleh Marcel. Marcel semakin dibuat kebingungan. "Sudahlah! Jangan pedulikan orang b*rengsek ini, kita pergi saja!" Nadia mengajak Raffi dan Angga untuk pergi meninggalkan Marcel. Namun dengan cepat, tangan Marcel menarik tangan Nadia. "Tunggu! Aku gak mau banyak bicara lagi sama kamu, Nad. Besok pagi, jam sembilan aku akan adakan pemakaman Tiara. Pulanglah, supaya kamu tahu, jika semua ini adalah benar." Jelas Marcel kepada Nadia. Nadia menghempaskan cengkeraman tangan Marcel. "Marcel! Kamu gak ada kapok-kapoknya ya, aku rasa kamu memang benar-benar gila! Gak ada obatnya lagi." Ujar Nadia. Nadia menarik tangan Raffi dan tangan Angga untuk segera pergi meninggalkan Marcel. Marcelpun kembali menangis histeris. Apa yang ia lakukan tidak ada gunanya. Isterinya tidak mempercayainya, bahkan menyebut dirinya gila. Semua apa yang ia bilang, Nadia tidak percaya. Ia hanya dianggap omong kosong. Marcel menjemputi potongan kertas gambaran Tiara yang telah dirobeki oleh Angga. "Papa bahkan gak bisa menjaga hadiah terakhirmu, Nak. Tapi, Papa akan selalu ingat selamanya. Sementara itu, semua perbuatan yang dilakukan oleh Mamamu, akan segera mendapatkan balasannya!" Marcel meluapkan isi hatinya. *** Dirumah, pemakaman akan segera dilaksanakan. Tiara telah selesai dimandikan. Semua orang berdatangan untuk melihat Tiara untuk yang terakhir kalinya. Semuanya menangisi kepergian Tiara. Bahkan orang tua Marcel turut menangisi cucunya yang masih sangat kecil untuk meninggalkan dunia ini. Marcel duduk bersimpuh dengan hati yang begitu terpukul, ia mengumpulkan seluruh benda milik Tiara bahkan gambar-gambaran Tiara. Ia tampak memperhatikan satu persatu dengan flashback untuk mengingat hari-harinya ketika bersama dengan Tiara semasa hidupnya. Apalagi ketika ia flashback disaat hari ulang tahun Tiara. Tiara begitu sedih kala itu dihari ulang tahunnya, Mamanya sibuk bekerja. Ia sama sekali tidak turut merayakan ulang tahun Tiara. Namun, karena Marcel adalah seorang Papa yang sangat menyayanginya. Flashback.. Ia menghibur Tiara agar wajahnya kembali ceria dan melupakan kesedihannya terhadap Mamanya. Marcel memberikan sebuah hadiah boneka yang sangat lucu. "Taraaaaa... Suka gak?" Marcel memberikan boneka yang telah ia sembunyikan dari balik tubuhnya. Tiara terkejut. "Wah, Papa. Aku suka sekali dengan hadiah ini. Apa Mama yang belikan untukku?" Tiara menerima boneka pemberian dari Marcel. Marcel bingung mendengar pertanyaan dari Tiara. Ia pun sedikit berbohong demi Tiara merasa bahagia. "Ya, Mama khusus belikan ini untukmu, Nak. Untuk kado ulang tahun kamu. Kamu suka, gak?" Marcel menjawab pertanyaan Tiara. "Suka, Pa." Tiara begitu bahagia, ia menerima kado tersebut dengan riang gembir. (Sayang, kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu, bahkan hingga lupa hari ulang tahun anak kita.) Ucap Marcel dalam hatinya. Tiara menoleh kearah Marcel. "Sebenarnya, aku gak masalah gak dapat hadiah. Yang penting Mama bisa pulangpulang temani aku seharian. Itu akan jadi hadiah terbaikku." Ucap Tiara. Marcel menghembuskan napasnya. "Papa akan telepon Mama kamukamu sekarang juga, untuk meminta Mama pulang temani dihari ulang tahunmu." Ucap Marcel dengan mengusap lembut pipi Tiara. "Oke!" Jawab Tiara bersemangat. Marcel bangkit dari tempat duduknya, ia meraih ponsel pada saku celananya. Ia segera menelepon Nadia yang sedang berada di Rumah Sakit. Tut.. Tut.. Tut.. "Halo!" Suara Nadia dari seberang. "Sayang, Tiara ulang tahun hari ini. Dia ingin sekali bertemu dengan kamu. Tolong ambil cuti dan segera pulang, ya!" Pinta Marcel kepada Nadia. Nadia menghembuskan napasnya. "Sayang, aku gak bisa. Angga sedang demam. Kebetulan Raffi juga sedang gak enak badan. Mereka gak ada yang merawat. Aku harus menjaga dan merawat mereka duludulu, nanti aku akan temani Tiara rayakan ulang tahunnya." Jawab Nadia. Ia menolak untuk pulang dan menemani Tiara kala itu. Mendengar ucapan Nadia, Marcel terlihat sangat kecewa. Ia menoleh kearah Tiara, yang rupanya Tiara memperhatikan Marcel sedang menelepon Nadia. Tiara hanya dapat tersenyum kepada Marcel. Ia sangat hafal dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh Mamanya. Nadia tidak pernah bisa ada waktu untuk Tiara. Ia lebih mementingkan orang lain dibandingkan anaknya atau keluarganya. Sesibuk-sibuknya orang bekerja, harusnya ia dapat membagi waktu dengan orang terdekatnya. Keluarga juga sangat butuh perhatiannya. *** "Papa tahu, kamu selalu ingin bertemu dengan Mamamu, Nak. Papa tanya sekali lagi padamu, apa kamu ingin memberikan satu kesempatan lagi untuknya?" Marcel bertanya didepan jenazah Tiara yang hendak dikebumikan. Seluruh pelayat tampak memperhatikan Marcel. Betapa sedih ketika mengetahui jika Mamanya tidak dapat hadir dihari pemakaman anaknya. Bahkan untuk melihat detik-detik terakhirnyapun tidak. Marcel menangis dihadapan jenazah Tiara. Tiara terbujur kaku. Tidak ada lagi canda tawanya, tidak ada lagi senyuman manisnya, tidak ada lagi riang dan kecerewetannya. Semuanya terasa hampa dan kosong. Para pelayat menangis, bahkan ada pula yang berkasak-kusuk membicarakan Nadia yang terlalu sibuk bekerja. Marcel meraih ponselnya, ia segera menghubungi Nadia kembali. Tut.. Tut.. Tut.. "Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi." Suara operator pada seberang telepon. "Marcel, apakah Nadia belum juga menerima teleponnya?" Tanya Diana, orangtua Marcel. Diana menangisi cucunya yang terbujur kaku. Ia teramat emosi ketika menantunya tidak kunjung datang untuk menemui jenazah Tiara. "Dia sebenarnya tahu gak? Kalau hari ini adalah hari pemakaman anaknya? Hah? Seberapa sibuk kerjanya? Masa hari ini pun tetap sibuk bekerja! Ibu macam apa dia?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN