Keluarga Norak

1049 Kata
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi." Suara operator pada seberang telepon. "Marcel, apakah Nadia belum juga menerima teleponnya?" Tanya Diana, orangtua Marcel. Diana menangisi cucunya yang terbujur kaku. Ia teramat emosi ketika menantunya tidak kunjung datang untuk menemui jenazah Tiara. "Dia sebenarnya tahu gak? Kalau hari ini adalah hari pemakaman anaknya? Hah? Seberapa sibuk kerjanya? Masa hari ini pun tetap sibuk bekerja! Ibu macam apa dia?" Teriak Diana kesal hingga seluruh pelayat menyaksikannya. "Marcel, biasanya Nadia, gak terlalu peduli kepada Tiara. Kamu yang selalu menjaga Tiara sembari kerja dalam hal apapun. Sekarang, bahkan waktu anakmu akan dimakamkan, dia masih gak mau datang juga. Ini sangat keterlaluan! Suruh dia pulang sekarang!" Perintah Tanoto, orangtua Marcel. "Waktunya sudah hampir habis, Tiara akan segera dimakamkan. Gak baik terlalu lama menunggu, kasihan Tiara." Tangis Diana pecah. "Gak usah ditunggu! Segera makamkan Tiara. Itu jauh lebih penting! Dibandingkan menunggu manusia yang gak pernah memanusiakan anaknya." Jawab Marcel dengan keputusannya. Semua menangis dengan acara pemakaman Tiara yang akan segera dilaksanakan. Bahkan Diana hampir pingsan karena ia sangat tidak tega melihat cucunya akan ditimbun oleh tanah untuk selama-lamanya. "Keterlaluan, acara pemakaman anaknya saja sama sekali dia gak pulang. Aku akan telepon orangtua Nadia, bagaimana cara mereka mendidik anaknya. Keterlaluan sekali." Tegas Tanoto, Ayah Marcel. Disisi lain.. Nadia menikmati hidangan bersama dengan keluarganya beserta Raffi dan Angga. "Waahhhh.. Raffi datang hari ini, ayo kita menikmati hidangan sepuas-puasnya." Ucap Herman, Ayah Nadia. Mereka telah duduk dimeja bundar, terlihat sangat bahagia dan tidak memikirkan hal-hal lain. "Eh, lihat Angga! Sayuran ini sangat bergizi, cepat makan yang banyak. Angga memang anak paling patuh. Angga, lihat kamu kan anak angkatnya Nadia. Mulai sekarang, panggil aku Nenek ya." Ujar Nina, Ibunya Nadia. Ia memperlakukan Angga seperti cucunya sendiri. "Ah, aku paling benci makan sayuran. Aku mau makan daging." Sentak Angga sangat tidak sopan. Angga tidak ada sopan santunnya dibandingkan oleh Tiara. Tiara adalah gadis kecil penurut dan selalu bertutur kata yang sopan. Pergerakan tubuhnya selalu tertata, wajar jika ia keturunan dari orang yang berada. Segala sopan santun serta sikapnya seolah lebih berkelas dibandingkan Angga. Sikapnya tidak pernah arogan seperti Angga. Sangat memalukan sekali si Angga ini. "Ayo.. Ayoo.. makan daging, makan daging." Sahut Nina menyodorkan piring berisi daging sapi dan daging ayam kepada Angga. "Wah, mantap nih! Makanan sudah siap." Dimas tergiur akan daging-daging dihadapannya. Dimas adalah adik Nadia, ia baru saja kembali dari toilet. "Paha ayam adalah bagian favoritku, gak ada yang boleh ambil." Ucap Angga langsung merebut semua piring yang berisikan daging-dagingan. "Hahahahaa.." Semua pun tertawa. "Makanlah, makan yang banyak, Angga. Jangan sampai tersisi." Sahut Nina gemas terhadap Angga. Iya, menertawakan anak yang sangat tidak memiliki tata krama, namun malah diagung-agungkan. "Hei, Dimas. Jangan rebutan sama Angga dong." Sahut Nadia kepada Dimas. "Ayo, makan yang banyak Angga! Lihatlah, Angga makannya lahap sekali. Beda sekali dengan Tiara ya. Kalau Tiara, benar-benar makannya saja sangat kaku. Semuanya serba formal, seperti gak ada semangatnya sama sekali." Ucap Nina dengan sedikit menggebrak meja makannya. Keluarga Nadia memang terlihat arogan dan norak. Mereka dari keluarga yang tidak memiliki apa-apa. Ketika Nadia menikah dengan Marcel, ekonomi mereka seketika diangkat drastis. Mereka naik derajat, bahkan semua orang menjadi tunduk dan patuh terhadapnya. Semua berkat Marcel dan keluarganya. Jika Nadia tidak menikah dengan Marcel, apa jadinya keluarga Nadia sampai sekarang. Mungkin masih akan tetap sama bahkan lebih buruk keadaannya. "Hmm.. Bir nya memang enak. Sangat enak." Gumam Herman ketika dirinya baru saja menenggak segelas Bir pemberian Marcel. Herman memang gemar meminum Bir. Bahkan, setiap bulannya Marcel wajib membelikan Bir untuk Herman, sesuai dengan yang Herman inginkan. Karena Marcel tidak ingin berlarut dalam kepusingan, ia selalu menuruti apa yang diminta oleh Mertuanya. "Om, Tante. Terima kasih atas perhatiannya untukku dan Angga. Ini aku sengaja minum untuk menghormati kalian semuanya." Ucap Raffi berdiri dengan menunjukkan segelas berisikan Bir yang siap-siap ingin ia tenggak. Raffi pun menenggaknya dengan cepat. "Kak Rafii, ini yang paling aku suka darimu sejak dulu. Meski kami sekarang tinggal di rumah mewah yang dibelikan Marcel, mobil juga dia yang beli, bahkan semua Bir yang ada disini dia yang beli juga. Tapi, aku tetap lebih suka kamu." Jelas Dimas kepada Raffi. "Ah, omong kosong saja kamu!" Sahut Nadia. "Faktanya memang begitu, Kak." Jawab Dimas menyangkal. Semua menggelengkan kepalanya. "Sudah, sudah. Hari ini jangan bahas si b*rengsek itu. Setiap kali aku ajak minum bareng, dia selalu mencari alasan untuk menolaknya. Katanya kalau sudah selesai, nanti susah untuk antar aku pulang. Itu semua alasannya. Disini aturan razia alkohol juga gak terlalu ketat, kan? Kurasa memang dia saja yang gak mau menemani aku." Tegas Herman yang membicarakan Marcel. Menantunya yang sudah memberikan fasilitas apapun masih saja dibicarakan dibelakang. Bagaimana jika menantu yang tidak dapat memberikan apa-apa? Mungkin sudah ditendang sejak lama. "Karena agak kaya, dia merasa dirinya paling hebat. Minum bareng dengan mertua saja gak mau. Aku rasa dia jelas-jelas gak pernah anggap kita sebagai bagian dari keluarganya. Kita seperti gak penting buat dia." Sahut Nina kembali mengompori keadaan. Dengan suasana seperti ini, Nadia tidak ada rasa sedih atau kecewa Marcel sebagai suaminya dibicarakan oleh keluarganya. Ia malah tersenyum sepanjang menikmati hidangan. "Papa, Mama. Hari ini jangan bahas si pembawa s**l itu dulu lah. Hari ini, kita harus minum bersama sampai puas. Kak Raffi, ayo kita minum, jangan berhenti." Dimas tampak mengajak Raffi untuk minum alkohol sepuasnya. "Ayoo, ayooo.." Sahut Herman pula. "Eh, ehhh.. Jangan sampai buat Raffi mabuk, Dimas. Malam ini dia kan masih harus pulang dan mengurusi Angga." Cegah Nadia khawatir jika Raffi mabuk, Angga tidak ada yang merawatnya nanti. Angga sendiri masih sibuk dengan perdagingan. "Sudah gak apa-apa. Ayo.. Ayoo.. Tambah segelas lagi, Dimas." Ucap Raffi dengan menyodorkan gelas kosong kepada Dimas untuk minta dituangkan alkohol kedalam gelasnya. Dimaspun menuangkan pada gelas Raffi, Raffi segera menenggak kembali alkohol dalam gelas tersebut. "Sudah ayo kita lanjutkan makan. Cepat makan!" Perintah Nadia kepada Raffi. Semuanya kembali menikmati hidangan yang sempat tertunda oleh perbincangan mereka. Namun, ditengah-tengah menikmati makanan, terdengar ponsel berdering pada ponsel milik Herman. Terlihat pada layar bahwa Tanoto memanggilnya. "Haduh, diwaktu begini, kenapa Papanya Marcel malah telepon aku?" Ucapnya. Herman segera menggeser layar untuk panggilan masuknya. "Halo, ada apa?" Tanya Herman tanpa ada sikap sopan dan santun terhadap besan. Memang Herman sangat norak dan memalukan, sekedar basa basi pun tidak sama sekali. Herman tampak mendengarkan ucapan Tanota diseberang. "Apa katamu? Tiara meninggal? Lagi dimakamkan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN