Ketidakpercayaan

1026 Kata
"Haduh, diwaktu begini, kenapa Papanya Marcel malah telepon aku?" Ucapnya. Herman segera menggeser layar untuk panggilan masuknya. "Halo, ada apa?" Tanya Herman tanpa ada sikap sopan dan santun terhadap besan. Memang Herman sangat norak dan memalukan, sekedar basa basi pun tidak sama sekali. Herman tampak mendengarkan ucapan Tanota diseberang. "Apa katamu? Tiara meninggal? Lagi dimakamkan?" Herman terkejut mendengar kabar berita meninggalnya Tiara. Semuanya begitu shock mendengarnya. Nadiapun terbakar emosi, ia langsung merampas ponsel yang berada dalam genggaman Herman. "Papa, apakah ini ulah si b*rengsek itu lagi untuk bohongi aku? Tiara itu cucu kandung kamu, Pa. Sekalipun Papa memanjakan Marcel, tetap gak boleh bantu dia berbohong! Sampai sumpahi Tiara begini." Sarkas Nadia kepada Ayah Mertuanya, Tanoto. Tanpa menunggu jawaban dari Tanoto, Nadia langsung memutuskan panggilannya secara sepihak. Nadia terlihat emosi dan membara. "Marcel tega sekali, sampai berani menyuruh Papanya untuk membantu membohongi kamu. Orang ini benar-benar kelewatan sekali. Nadia, kamu kali ini jangan sampai berhati lunak." Sahut Raffi mengompori Nadia. "Benar! Aku akan pulang sekarang dan bongkar semua kebohongan keluarga mereka. Aku juga sudah sangat muak hidup dengan orang yang memuakkan seperti Marcel! Meski hanya sehari." Tegas Nadia dengan mengamuk-ngamuk dan menggebrak meja makan. "Oke, betul itu, Nadia. Aku akan temani kamu, untuk membongkar kebohongannya habis-habisan. Ada aku, dia pasti gak akan berani macam-macam." Raffi menawarkan dirinya untuk menemani Nadia. Nadia hendak pergi, Dimaspun turut bersuara. "Kak, aku ikut juga!" Ucap Dimas. "Aku juga ikut, lah!" Sahut Nina tak mau kalah. "Mari kita pergi ke kediaman Tanoto. Dan bongkar semua kobohongan mereka. Mereka benaran gak tahu malu. Aku rasa Tiara, hanya kaki tangan Papanya yang penipu." Imbuh Herman. Suasana terlihat semakin panas. "Benar. Tiara memang anak s*alan! Lihat Papanya tipu aku! Dia gak pernah telepon, untuk memberitahu kebenarannya. Begitu aku pulang nanti, aku akan pukul dia habis-habisan. Ayo!" Nadia berucap seperti ingin memberi hukuman kepada Tiara jika bertemu nanti. Ada-ada saja, Nadia. Tiara sudah meninggal, bahkan kini sudah dikubur untuk selama-lamanya. Nadia beserta keluarganya langsung beranjak dan pergi ke kediaman Tanoto. *** Sesampainya di kediaman Tanoto. Terdapat bendera kuning dan hanya tinggal beberapa orang saja sedang merapihkan bangku-bangku yang tadi dipakai untuk duduk oleh para pelayat. Tanoto memang orang kaya. Tajir melintir. Ia memiliki banyak Hotel diberbagai penjuru Indonesia ini, sehingga sebagian Hotelnya diberikan oleh Marcel untuk dikelolanya. Nadia dan keluarganya terkejut dengan keadaan rumah Tanoto yang memang seperti baru saja ada acara untuk pemakaman. Semuanya masuk kedalam rumah. Nadia terkejut melihat ada sebuah keranda dan beberapa bunga tabur yang masih berceceran dilantai. Duduklah Marcel yang sedang memandangi barang-barang milik Tiara. Nadia mendekati Marcel. "Kenapa kamu baru datang? Apa kamu tahu Tiaraaa....." Sentak Marcel. Plaaaakkkk.. Sebuah tamparan dari Nadia mendarat ke pipi Marcel. "Diam! Gak tahu malu, beraninya siapkan pemakaman dan menyumpahkan anak kandungmu sendiri!" Sarkas Nadia kepada Marcel. Nadia langsung menghambur-hamburkan sisa bunga tabur yang ada disekelilingnya. Ia mengacak-acak seisi rumah. "Kamu mau apa lagi? Bisakah kamu membiarkan Tiara tenang disana?" Marcel melawan Nadia. Nadia masih saja tidak percaya akan kematian Tiara. Ia tetap yakin bahwa Tiara masih hidup, dan semua ini adalah akal-akalan Marcel untuk menipunya. "Marcel, kamu sudah gila ya? Demi menarik perhatianku. Kamu bahkan membuat pemakaman palsu dan sekongkol dengan orangtuamu yang gak tahu malu untuk tipu aku. Mana orangtua s*alan itu? Apa mereka kabur ketakutan waktu dengar aku akan datang?" Sentak Nadia kepada Marcel. Marcel masih memberikan celah untuk Nadia berbicara. "Diam! Ini pemakaman sungguhan. Mereka sudah berada dipemakaman." Jawab Marcel. "Terus! Terus saja tipu aku! Kasihan sekali Tiara punya Papa kejam macam kamu." Nadia kembali memojokkan Marcel. "Marcel, Marcel. Coba lihat Raffi. Bagaimana cara mendidik anaknya. Kamu malah begini, apa hakmu untuk menjadi Papa." Sahut Nina turut berkata kasar. Terlihat Raffi tersenyum-senyum ketika dirinya sedang diagung-agungkan. "Marcel, kamu mana pantas dibandingkan dengan Pria sebaik Kak Raffi." Imbuh Dimas. Adik ipar yang tidak tahu diuntung. "Om, Tante, Nadia. Kalian jangan emosi dulu, keluarga Tanoto memanh sangat kaya. Marcel sejak kecil dimanja terus, sampai sekarang belum juga dewasa. Gak heran jika dia belum jalankan peran sebagai seorang Papa." Imbuh Raffi, orang lain yang tidak tahu menahu sedang mencampuri urusan orang lain. Pandai sekali memanipulasi keadaan. "Dengar itu! Dengar baik-baik. Sampai sekarangpun, dia masih bela kamu. Kamu gimana?" Sahut Nadia dengan bentakannya. "Marcel, kita ini sudah menjadi orangtua. Harus memberikan contoh yang baik untuk anak-anak. Kalau kamu terus ajari Tiara berbohong, nanti kalau dia benaran meniru kamu menjadi buruk, bagaimana jadinya?" Imbuh Raffi lagi. Raffi terus mengusap-usap kepala Angga dengan lembut. Ia memamerkan anaknya kepada Marcel. "Sebut nama Tiara lagi, aku habisi kamu!" Teriak Marcel yang kemudian mendekati Raffi dan mencengkeram kerah kemeja yang dipakai Raffi. Marcel mendaratkan sebuah pukulan kepada Raffi. Raffi seolah ingin melawan hingga terjadi keributan. Suasana semakin panas. Herman dan Dimas melerainya dan menarik-narik tubuh Marcel. "Lepaskan aku, apa-apaan ini. Lepaskan, kamu sudah gila, Raffi." Sentak Marcel. Matanya terus tertuju kepada Raffi. Ia begitu benci terhadap Raffi, orang yang hanya datang untuk menghancurkan rumah tangganya. "Marcel! Kamu sangat kejam ya, terus-terusan sumpahi anak kandungmu sendiri. Kalau nanti benaran terjadi, apakah kamu tidak akan menyesal?" Ujar Raffi kepada Marcel. Marcel masih tetap berusaha ingin terlepas dari cengkeraman Herman dan Dimas. Namun, tubuhnya masih saja ditahan. "Coba ulangi omonganmu!" Pinta Marcel. "Marcel, kamu sudah gila ya! Beraninya kamu main pukul orang. Aku akan segera laporkan kamu ke Polisi supaya kamu cepat ditangkap. Omongan Raffi itu benar, Tiara sudah rusak karena didikan kamu." Sentak Nadia kembali kepada Marcel. Marcel terlihat sangat geram dan emosi. Ingin rasanya ia menghajar semuanya satu persatu. "Pergi kalian semua! Pergi semuanya!" Hardik Marcel kepada semuanya. "Untuk apa pergi? Kamu tipu kami untuk kesini, kamu anggap kita ini apa? Marcel, dengar ya. Hari ini kamu harus ganti rugi, atas kerugian mental kami." Ucap Dimas kepada Marcel. "Dimas benar! Kamu telah mempermainkan kami yang sudah tua ini. Hari ini kamu harus memberikan ganti rugi dan minta maaf kepada kami." Sahut Herman. "Ya, Marcel. Kami bukan orang yang gak punya hati nurani juga bukan orang matre. Jadi, kamu sudah mempermainkan kami hari ini, kami harus memberikan kamu pelajaran. Rumah yang kamu belikan dulu buat kami, kami sudah gak suka. Kamu harus belikan lagi, rumah yang lebih besar dan bagus. Jadi kalau begini, kami masih bisa maafkan kesaalahanmu hari ini untuk sementara."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN