Perdebatan

1032 Kata
"Untuk apa pergi? Kamu tipu kami untuk kesini, kamu anggap kita ini apa? Marcel, dengar ya. Hari ini kamu harus ganti rugi, atas kerugian mental kami." Ucap Dimas kepada Marcel. "Dimas benar! Kamu telah mempermainkan kami yang sudah tua ini. Hari ini kamu harus memberikan ganti rugi dan minta maaf kepada kami." Sahut Herman. "Ya, Marcel. Kami bukan orang yang gak punya hati nurani juga bukan orang matre. Jadi, kamu sudah mempermainkan kami hari ini, kami harus memberikan kamu pelajaran. Rumah yang kamu belikan dulu buat kami, kami sudah gak suka. Kamu harus belikan lagi, rumah yang lebih besar dan bagus. Jadi kalau begini, kami masih bisa maafkan kesalahanmu hari ini untuk sementara." Imbuh Nina dengan entengnya. "Apa Mama bilang?" Marcel tidak mempercayai ucapan yang terlontar dengan mudahnya dari mulut Nina, Ibu mertuanya. Ibu mertuanya yang sangat ia hormati, dengan mudahnya turut merendahkannya. "Marcel, hanya dengan satu rumah saja kamu terlihat begitu berat mengabulkannya, lihat gara-gara ulahmu, sudah membuat orangtuaku menjadi takut begini. Tentu harus ada ganti ruginya dong. Keluarga kami, selalu murah hati kan? Hanya dengan satu rumah saja, ini sangat murah bagimu. Kamu kan orang kaya." Pinta Dimas kepada Marcel. Membeli rumah sudah dianggap seperti membeli kacang diwarung ya. Marcel lagi-lagi dibuat bingung oleh keluarga tidak beradab itu. Sangat tidak memiliki urat malu dan etika. Marcel bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Nasibnya terasa s**l sekali kala itu. Betapa tidak, ia sedang mengalami kesedihan, masih saja difitnah, bahkan malah disuruh untuk membelikan sebuah rumah untuk orang yang sama sekali tidak menghargainya. "Marcel, cepat belikan rumah untuk orangtuaku dan adikku rumah baru." Perintah Nadia pada Marcel tanpa urat malunya. Marcel tertawa sinis. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Ganti rugi? Kamu bahkan merasa aku yang harus ganti rugi, Nad? Gak salah?" Jawab Marcel kesal. Isteri yang ia cintai sama sekali tidak membelanya. "Ya ampun, hanya satu rumah saja, Marcel. Kamu seolah-olah seperti aku mau mengambil nyawa kamu saja. Kamu sudah permainkan kami begini, berikan satu rumah sudah murah sekali." Dorong Nadia pada pundak Marcel. Marcel tersentak kaget. Rasanya ingin sekali ia mengamuk. Namun ia selalu mengurungkan niatnya, karena ia menghormati wafatnya Tiara. "Hari ini, kalian telah mengancurkan pemakaman Tiara. Lalu, minta aku berikan rumah untuk kalian? Kalian sekeluarga benaran gak tahu malu dan sangat kejam." Sarkas Marcel dengan emosinya. Plaaakkkk!!! Kembali Nadia melayangkan sebuah tamparan pada wajah Marcel. Durhaka sekali Nadia telah menampar suaminya. "Diam! "Nadia!" Plaaakkkkk... "Diam! Kamu memang keterlaluan!" Sentak Nadia kepada Marcel. Berkali-kali Nadia menampar wajah Marcel. Marcel serasa sudah tidak memiliki harga diri. "Nadia, aku kasih tahu kamu ya. Andai hari ini bukan pemakaman Tiara. Tamparan tangan ini sudah mendarat diwajahmu bertubi-tubi." Marcel memberikan sebuah ketegasan kepada Nadia. Ia tidak ingin menampar Nadia di hari pemakaman Tiara. "Kamu masih saja bahas pemakaman? Belum puas ya?" Hardik Nadia kembali. "Kamu masih gak percaya? Kalau begitu, tanya dengan mereka!" Marcel menunjuk kearah orang-orang yang sedang membereskan rumah Marcel. "Marcel! Mereka ini bukan aktor bayaran yang kamu sewa kan?" Raffi menyahuti ditengah-tengah perdebatan antara Marcel dan Nadia. Raffi memasang wajah dengan senyuman liciknya. "Kamu sampai menyewa aktor? Demi tarik perhatianku? Kamu benaran lakukan semua usaha. Tiara mana? Panggil anak itu sekarang juga. Sembunyi dimana dia? Beraninya dia sembunyi, dan sekongkol dengan kamu untuk menipu aku. Hari ini aku pasti akan, berikan pukulan keras untuknya." Nadia teriak-teriak dengan suara lantangnya. "Apa katamu? Kamu ingin pukul Tiara? Kamu sudah kasih ginjal Tiara untuk anak orang lain. Dia sudah gak ada pun, masih mau kamu pukul? Kamu benar-benar..." Ucapan Marcel terpotong karena Nadia sudah menyambarnya. "Benar-benar apa? Tiara sekarang berani sekongkol dengan kamu buat menipu aku. Semua ini gara-gara kamu yang merusak dia. Punya Papa sepertimu, hanya jadi kesialan dalam hidupnya. Dan sekarang dia berani menipu aku, kalau gak aku kasih pelajaran, di masa depan dia akan lakukan hal yang lebih buruk." Sahut Nadia. "Masa depan? Apa dia masih memiliki masa depan?" Tanya Marcel. "Dengan cara didikmu ini, Tiara benaran gak punya masa depan. Anak ini dulu memang sangat kurang perhatian. Waktu dulu ketika ia hanya demam biasa, sudah menyuruhku untuk paksa aku menemaninya di rumah. Padahal aku sudah bilang ke dia, Angga baru kembali ke Indonesia dan belum terbiasa. Butuh orang untuk rawat dia, Tiara malah menangis. Dia sama seperti kamu, egois! Jadi, aku pukul lah dia dengan keras, dia langsung berhenti menangis. Dia jadi menurut dan gak ganggu aku lagi. Sudahku bilang sama kamu kan? Didik anak itu harus seperti aku, baru dia bisa benar-benar nurut." Jelas Nadia panjang lebar. Marcel terperangah mendengar ucapan Nadia. "Apa kamu bilang? Waktu Tiara demam, kamu malah pukul dia?" Marcel tersulut emosi. "Memang kenapa kalau demam? Di Rumah Sakit aku sudah sering lihat hidup matinya orang. Kurasa dia terlalu manja, satu pukulan sudah terlalu baik untuknya." Lagi-lagi Nadia merasa paling benar. Marcel menggelengkan kepalanya. "Tiara memang benar-benar s**l punya Mama seperti kamu. Kuanggap Tiara gak punya Mama kandung sepertimu. Sekarang... Bawa semua keluargamu pergi dari sini." Marcel sudah sangat tidak tahan dengan kelakuan Istrinya dan yang lainnya. "Kamu masih berani suruh aku pergi? Beraninya kamu!" Sarkas Nadia. "Marcel, kita semua memiliki anak. Kok bisa demi Nadia pulang, kamu menyumpahi anakmu meninggal? Sayang sekali, Tiara gak bisa memilih orangtua nya sendiri. Kalau bisa, dia pasti gak akan pilih kamu sebagai Papanya." Sahut Raffi yang maju selangkah dengan sok pahlawan. "Benar! Kok bisa-bisanya aku bisa memiliki suami macam kamu. Kamu gak pantas jadi Papa..." "Raffi, kamu gak perlu anggap dia serius. Dia memang gak sopan. Selalu bertindak gegabah, tanpa pikirkan akibatnya. Gak seperti kamu yang berpendidikan tinggi. Doktor lulusan luar negeri." Bela Nadia pada Raffi. "Nadia, kamu pasti susah. Jangan marah lagi, marah-marah gak baik untuk kesehatan." Raffi menarik perhatian pada Nadia. "Hei Marcel, jangan permalukan diri disini. Kalau kamu gak mau buat aku marah, cepat bereskan semua ini. Malam ini, Raffi dan Angga akan pindah kesini. Mereka gak punya tempat tinggal disini. Tinggal di Hotel juga gak baik untuk pemulihan Angga. Rumah kita besar! Biarkan mereka tinggal sementara." Perintah Nadia pada Marcel. Nadia ingin Marcel membereskan seluruh rumahnya, karena Nadia ingin Raffi dan Angga tinggal di rumah Marcel. Baginya, rumah Marcel adalah rumahnya juga. "Nadia, Tiara baru saja meninggal. Arwahnya mungkin masih ada disini. Kamu ingin orang yang menyebabkan dia meninggal, tinggal di rumah ini? Aku gak setuju..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN