Tarik Ulur

1065 Kata
"Hei Marcel, jangan permalukan diri disini. Kalau kamu gak mau buat aku marah, cepat bereskan semua ini. Malam ini, Raffi dan Angga akan pindah kesini. Mereka gak punya tempat tinggal disini. Tinggal di Hotel juga gak baik untuk pemulihan Angga. Rumah kita besar! Biarkan mereka tinggal sementara." Perintah Nadia pada Marcel. Nadia ingin Marcel membereskan seluruh rumahnya, karena Nadia ingin Raffi dan Angga tinggal di rumah Marcel. Baginya, rumah Marcel adalah rumahnya juga. "Nadia, Tiara baru saja meninggal. Arwahnya mungkin masih ada disini. Kamu ingin orang yang menyebabkan dia meninggal, tinggal di rumah ini? Aku gak setuju..." Jawab Marcel dengan nada emosinya. Ia sangat tidak setuju, jika Raffi dan Angga tinggal dirumahnya. Orang-orang yang telah membuat puterinya meninggal dunia akibat donor ginjal yang seharusnya untuk Tiara namun diberikan kepada mereka. "Marcel! Tolong berhenti memalukan diri kamu sendiri disini! Aku tahu, Tiara hanya kamu sembunyikan, kalau kamu gak setuju, tinggal saja di Hotel sana! Jangan tinggal disini." Usir Nadia pada Marcel. Nadia mengusir Marcel? Apakah tidak salah? Jelas-jelas rumah yang ia tempati itu adalah milik Marcel. Mengapa harus Marcel yang keluar dari rumah? Sangat tidak masuk diakal! "Apa? Aku tinggal di Hotel? Lalu, memberikan tempat ini untuk kalian?" Marcel terkejut mendengar penuturan Nadia. "Betul, Angga masih dalam pemulihan. Perlu dijaga dan dirawat. Kebetulan, beberapa hari ini aku akan cuti dan menemani dia di rumah. Temani dan segera bawa Tiara tinggal sama kamu di Hotel. Supaya dia gak ganggu istirahatnya Angga." Jelas Nadia. Marcel sudah mengepalkan jemarinya hingga membuat menjadi satu keutuhan sebuah kepalan keras. "Nadia, waktu Tiara sakit, kamu sama sekali gak pernah ambil cuti, Nad! Sekarang, demi anak orang lain. Kamu bela-belain cuti, kamu ini bodoh atau apa? Hah?" Sarkas Marcel kepada Nadia. Sebelum Nadia menjawabnya kembali, ponsel Marcel sudah lebih awal berdering. Marcel segera menerima panggilan tersebut. "Halo, Pak Marcel. Kami ingin memberi kabar bahwa orangtua anda dilarikan ke Rumah Sakit karena ia begitu terpukul akan kematian cucunya." Ucap suara orang diseberang sebagai anak buah Tanoto. "Baik, saya akan segera kesana sekarang!" Marcel segera menutup panggilan suaranya. Ia mengantongi ponselnya dan hendak pergi meninggalkan Nadia beserta keluarga dan orang-orang yang tidak memiliki urat malu. "Nadia, sekarang aku akan ke Rumah Sakit. Ikut aku sekarang, aku kasih kesempatan kepadamu sekali ini, sekalian melihat makam Tiara yang masih basah berupa gundukan tanah merah untuk terakhir kalinya." Nada bicara Marcel telah melunak, ia tidak ingin berlarut-larut dalam perdebatan terus. Ia merasa lelah dengan Nadia yang tidak percaya akan kematian Tiara. "Marcel, kamu masih saja mengarang cerita tentang makam Tiara. Kamu pandai sekali berbohong ya! Oke, aku akan ikut kamu hari ini, aku ingin lihat, kebohongan apa lagi yang akan kamu perbuat." Nadia bersedia dan hendak ikut pergi dengan Marcel. "Oke, selama kamu ikut aku. Kamu akan tahu kalau semua ini memang sungguhan. Jangan pernah menyesal!" Ucap Marcel. Nadia mengangguk dan membalikkan tubuhnya. Namun, langkahnya dihalangi oleh Raffi. "Nadia, kamu jangan pergi! Dikuburan itu tempat yang gak menyenangkan, bahkan sepi dan seram. Kamu jangan mau ditipu dia lagi. Kalau kamu ikut dia, aku takut dia akan mencelakai kamu." Bisik Raffi kepada Nadia. Nadia tampak berpikir sejenak. "Kamu benar, Raffi." Jawab Nadia. Nadia kembali menoleh kearah wajah Marcel. "Marcel, kamu pikir aku akan benar ikut kamu? Kalau mau akting, akting saja sesukamu. Aku gak ada waktu lagi untuk meladeni kegilaanmu. Aku harus dirumah menjaga Angga." Ucap Nadia. Marcel lagi-lagi dibuat kecewa oleh Nadia. "Baiklah, kalau kamu gak mau, aku gak akan maksa. Tapi, sebelum aku pulang. Bawa selingkuhanmu dan semua keluargamu ini keluar dari sini. Ini rumahku! Jangan kotori rumahku dan rumah puteriku!" Tegas Marcel yang kemudian langsung pergi meninggalkan Nadia dan lainnya. Langkah Marcel tidak dapat dihentikan, karena ia harus segera menemui Diana yang telah dilarikan ke Rumah Sakit karena tidak bisa kehilangan cucu kesayangannya. "Nadia, kamu jangan bertengkar dengan Marcel hanya karena hal ini. Sebenarnya aku dan Angga memang orang luar, jujur saja tinggal di Hotel yang agak buruk gak masalah bagiku. Begitu aku dapat pekerjaan disini, kami akan segera pindah ke Hotel yang lebih bagus lagi atau menyewa apartemen. Tapi, kasihan Angga. Tubuhnya sangat lemah, aku malah gak bisa kasih dia tempat tinggal yang lebih layak." Raffi merendahkan dirinya. Supaya Nadia iba dan tetap memperkenankan untuk tinggal di rumah Marcel yang jauh lebih mewah dengan segala fasilitasnya. "Raffi, kata-kata Marcel barusan, jangan dimasukkan ke hati. Hubungan kita gak ada yang salah. Kalian tinggal saja disini. Jangan hiraukan Marcel yang picik itu. Lagi pula, Angga sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri. Gak mungkin aku abaikan dia. Pas sekali Marcel sudah pergi, ayo cepat kita bereskan tempat ini. Singkirkan semuanya." Nadia tetap mengizinkan Raffi dan Angga untuk tinggal dirumah Marcel dan hendak membereskan barang-barang Tiara dari pandangannya. "Hei, cepat bereskan semua ini. Jangan ada yang tersisa sedikitpun." Perintah Nadia kepada pembantunya. *** Malam hari, ketika Marcel sudah pulang kerumahnya, ia mendapati semua barang-barang milik Tiara sudah berhamburan diluar rumah dan tampak kotor terkena debu serta kotoran diluar. Boneka kesayangan Tiara dan photo Tiarapun turut dibuang seperti tidak ada harganya sama sekali, bahwa rumah itu juga rumah milik Tiara. Marcel terkejut ketika melihatnya. (Beraninya mereka membuang barang-barang Tiara, b*jingan!) Marcel terlihat emosi. Marcel masuk kedalam rumah, ia mendapati Nadia tengah makan malam bersama dengan Angga dan Raffi. "Angga, makan yang banyak ya! Kamu juga makan yang banyak ya, supaya jangan kurus! Tubuhmu harus lebih baik dari Marcel." Perintah Nadia kepada Angga dan Raffi. "Nadia!" Teriak Marcel berjalan mendekati meja makan. Nadia menoleh kearah Marcel. Ia bangkit dari tempat duduknya. "Kamu sudah pulang? Keluargaku hari ini benar-benar marah gara-gara kamu. Soal rumah, aku menyuruh mereka untuk memilihnya sendiri. Kamu, tinggal bayar saja. Oh ya, Papaku bilang sepuluh dus bir yang kamu berikan kemarin sudah mau habis. Dua hari lagi adalah hari ulang tahunnya yang ke 60. Kamu berikan dua puluh dus lagi ya. Sesudah itu, masalah kita selesai. Keluargaku bisa maafkan kamu.... Kenapa masih bengong saja? Cepat keluar sana! Bersihkan semua s****h-s****h itu. Menyebalkan sekali!" Nadia dengan entengnya berbicara sesuka hatinya. Tanpa memikirkan perasaan Marcel. "Ini boneka kesayangan Tiara. aku gak tega membuangnya, Mengapa kamu buang? Kamu telah menghancurkan seluruh barang-barangnya. Bahkan boneka kesayangannya, kamu juga buang? Kenapa kamu sekejam ini, Nadia?" Marcel marah besar seraya ia menunjukan bonek milik Tiara itu di hadapan Nadia. Barang-barang milik Tiara semuanya dibuang, bahkan boneka kesayangannya juga ikut terbuang. Nadia terkejut melihat boneka milik Tiara yang sudah lusuh dan kotor. Matanya membulat dengan mulut sedikit terbuka. "Raffi! Apakah ini kamu yang membuangnya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN