"Ini boneka kesayangan Tiara. aku gak tega membuangnya, Mengapa kamu buang? Kamu telah menghancurkan seluruh barang-barangnya. Bahkan boneka kesayangannya, kamu juga buang? Kenapa kamu sekejam ini, Nadia?" Marcel marah besar seraya ia menunjukan boneka milik Tiara itu di hadapan Nadia.
Barang-barang milik Tiara semuanya dibuang, bahkan boneka kesayangannya juga ikut terbuang.
Nadia terkejut melihat boneka milik Tiara yang sudah lusuh dan kotor.
Matanya membulat dengan mulut sedikit terbuka.
"Raffi! Apakah ini kamu yang membuangnya? Bukan kah kita sudah sepakat, kamar utama untuk kamu dan Angga? Tapi, barang-barang Tiara, jangan di otak-atik sembarangan!" Nadia bertanya kepada Raffi.
Raffi pun berdiri dan menjelaskan kepada Nadia.
"Nadia, Maaf. Aku hanya khawatir saja. Lalu, siapa suruh Marcel mengadakan acara pemakaman Tiara disini? Aku khawatir, barang-barang Tiara yang masih ada disini membawa s**l. Itu juga gak baik untuk Tiara. Jadi, lebih baik aku buang saja semuanya. Nanti bisa diganti dengan yang baru." Jelas Raffi.
Nadiapun tersenyum.
"Raffi, kamu memang sangat perhatian sekali." Ucap Nadia.
Nadia lalu menoleh kearah Marcel dan kembali memasang wajah ketusnya.
"Marcel, ini semua karena kamu. Segala membuat drama mengutuk Tiara, lalu membuat Angga ketakutan begitu. Kamu benar-benar sangat keterlaluan." Sarkas Nadia kembali.
Marcel begitu lelah dengan sikap Nadia.
Seorang isteri yang tidak patut untuk dicontoh karena sangat tidak hormat kepada sang suami.
"Terserahlah apa kata kamu. Berdebat dengan kamu gak ada habisnya. Aku lelah!"
***
Pagi hari, diruang prakteknya. Nadia terlihat menikmati secangkir kopi panas.
Ia tersenyum bahagia dengan sesekali menghirup kopinya.
Seperti akan ada sesuatu yang membuatnya bahagia pagi itu.
Terasa sama sekali tidak merasakan beban ataupun bersalah.
Tiba-tiba, muncul seorang perawat mendatanginya.
Nadia kemudian berdiri dari kursinya.
"Sudah ada kabar belum? Apa kabarnya tentang kenaikan pangkat di rapat? Direktur sudah bilang, asalkan operasi transplantasi ginjal berhasil kali ini, aku pasti bisa naik pangkat!" Nadia bertanya dengan nada antusias dan wajah yang berseri-seri.
Namun, ekspresi wajah sang perawat berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Sangatlah berbalik dari ekspresi Nadia.
"Dokter Nadia, sebenarnya dokter yang naik pangkat itu bukanlah kamu." Jawab Perawat dengan sangat hati-hati dan merasa tidak nyaman mengatakannya.
Jegeeerrrrr...
Seketika Nadia terkejut dengan mata membulat dan mulut menganga.
"Mana mungkin? Itu gak mungkin! Aku harus bicara langsung dengan Direktur!" Nadia marah dan hendak pergi menuju ruang Direktur Rumah Sakit.
Langkahnya segera dihalangi oleh sang perawat, dengan membuka kedua tangannya dan merentangkannya.
"Dokter, jangan pergi. Direktur masih marah karena masalah ini. Sebenarnya kamu dilaporkan oleh seseorang. Katanya ginjal itu seharusnya bukan untuk transplantasi Angga. Tapi, dokter malah menyalahgunakan wewenang berikan ginjal itu ke Angga." Jelas sang perawat.
Nadia mengerutkan dahinya.
"Salah gunakan wewenang? Mana mungkin aku salah gunakan wewenang? Jelas-jelas aku sedang menyelamatkan nyawa seseorang." Nadia membela diri.
Ia tidak merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan besar, sehingga berdampak pada profesinya yang sebagai dokter.
"Direktur bilang, kalau masalah ini sampai tersebar, bisa merusak reputasi Rumah Sakit. Kalau sudah begitu, jangan mengharapkan untuk naik pangkat. Bahkan belum tentu bisa bekerja disini lagi, Dok!" Sang perawat menjelaskan kepada Nadia.
Nadia masih tidak menerima akan hal itu.
"Apa?..... Oke, aku tahu siapa orangnya! Kamu keluar dulu." Nadia rupanya mencurigai kepada seseorang yang telah membuat reputasinya anjlok dan rusak ditempat ia bekerja.
Sang perawat pergi meninggalkan Nadia yang masih dengan emosinya seperti kobaran api.
Nadia kemudian meraih ponselnya yang berada diatas meja kerjanya.
Ia segera menghubungi seseorang.
Tut..
Tut..
Tut..
"Marcel! Kamu yang melaporkan aku kan? Membuat aku supaya gak bisa naik pangkat? Apa kamu sudah bosan hidup? Kamu jebak aku seperti ini! kalau bukan karena aku, kamu gak bakal bisa seperti sekarang! Status sosialku sangat tinggi, kamu tahu itu kan? Aku sudah banyak membantu, urusan bisnis keluargamu. Apa kamu sudah lupa?" Sarkas Nadia kepada Marcel.
Ya, Nadia menelepon Marcel dengan cacian makinya.
Nadia begitu emosi terhadap Marcel.
Marcel yang sedang berada di ruang kantornya, tampak menghadapi Nadia dengan begitu tenang dan damai.
"Usaha keluarga Tanoto sudah puluhan tahun di kota Jakarta ini. Untuk apa butuh bantuan dokter seperti kamu? Selama ini, aku sudah begitu baik sama kamu. Sepertinya itu membuat kamu lupa daratan. Sekarang, aku mau kamu sadar, semua yang kamu miliki itu semuanya dari aku. Sekarang, aku ingin ambil kembali semuanya!" Jawab Marcel dengan tegas.
Nadia semakin terbakar emosi.
"Sembarangan! Marcel, kamu itu gak ada gunanya! Kalau bukan karena keluargamu yang kaya raya, mana bisa aku suka dengan kamu?
Waktu itu, soal kontrak dengan klien, mereka langsung percaya dengan kamu. Karena mereka tahu aku dokter handal di kota Jakarta ini. Akhirnya, mereka bersedia tanda tangan kontrak dengan kamu. Kamu ini, gak tahu terima kasih! Aku ingin bercerai dengan kamu! Untuk Tiara, jangan harap kamu bertemu dengan dia lagi!" Tegas Nadia.
"Baiklah! Sekarang kita gak akan bertemu lagi. Nadia, semua yang kamu punya sekarang, termasuk relasi, uang, harta, aku ingin lenyapkan semuanya! Aku ingin membuat kamu merasakan kehilangan semuanya!" Marcel menegaskan dengan sikap yang dingin dan santai.
"Marcel, kamu sudah gila! Asal kamu tahu, aku pasti akan menang soal hak asuh Tiara dalam sidang perceraian nanti. Aku gak akan membiarkan kamu untuk bertemu dengan dia lagi!" Tegas Nadia.
Marcel tersenyum sinis seraya memutuskan panggilannya secara sepihak.
"Marcel.. Marcel.. Berani dia tutup teleponku." Nadia terkejut ketika Marcel memutuskan teleponnya.
Secara tiba-tiba, datanglah Raffi kedalam ruangan Nadia.
Raffi masuk lalu kemudian berbalik badan hendak akan keluar ruangan kembali.
"Ah, sudahlah! Tidak jadi!" Gumam Raffi.
"Raffi, ada apa denganmu?" Nadia bertanya kepada Raffi yang hanya menampakkan punggungnya hendak pergi menuju pintu.
Raffipun membalikan tubuhnya.
"Nadia, kondisi Angga kembali kritis. Terpaksa aku membawa dia ke Rumah Sakit lagi. Tapi, orang Rumah Sakit bilang, harus bayar uang perawatan dulu. Kamu tahu kan? Aku belum bekerja. Jadi...." Ucap Raffi dengan mengarah ingin memanfaatkan Nadia kembali.
Raffi memang banyak sekali akal bulusnya. Ia tidak memikirkan bahaya menjadi perebut isteri orang bahkan merusak kehidupan rumah tangga serta telah membuat meninggalnya Tiara, anak dari orang yang telah mati-matian membantunya.
Apalagi yang ia hadapi adalah seorang CEO Hotel ternama di Indonesia Raya ini, dengan mudahnya uang berkuasa diatas segala-segalanya.
Jika, Marcel menginginkannya, Marcel bisa saja langsung mengutus seluruh anak buahnya untuk melenyapkan Raffi dan Angga dimuka bumi ini.
Namun sayangnya, Marcel adalah orang yang baik dan bijaksana. Ia tidak ingin mengotori dan menimbulkan kasus sehingga merusak nama baik dirinya, nama baik keluarganya dan nama baik perusahaan yang telah dibangun selama puluhan tahun oleh keluarganya dengan jerih payah yang sangat tidak mudah.
"Raffi, gak masalah. Biar aku saja yang membayarnya." Jawab Nadia dengan melangkahkan kakinya pergi dari ruangan dan menuju kebagian administrasi Rumah Sakit.
Raffipun berjalan mengekori Nadia dari belakang, dengan tawa liciknya.
"Biaya Angga, pakai saja kartuku." Nadia mengulurkan sebuah kartu kredit kepada bagian kasir.
"Baik, dokter Nadia." Mbak-mbak Kasir menerima kartu kreditnya.
Ia mencoba untuk membayarkan administrasi perawatan Angga.
Disamping itu, Nadia dan Raffi saling melemparkan senyuman.
"Maaf, dokter Nadia. Sepertinya, kartumu sudah diblokir. Tidak bisa dipakai." Ucap mbak-mbak kasir.
Nadia pun terkejut.
"Apa?" Nadia meraih kartu itu kembali dari tangan mbak-mbak kasir.
"Ini pasti ulah si b*rengsek Marcel." Gumam Nadia.
Raffi menatap Nadia.
"Semua ini salahku, Nadia. Sudah membuat hubungan kamu dengan Marcel menjadi bermasalah. Bagaimana kalau kamu abaikan saja aku dan Angga." Ucap Raffi dengan jurusnya.
Nadia menarik napasnya.
"Ini bukan salahmu, Raffi. Ini semua karena Marcel yang terlalu perhitungan. Jangan hiraukan dia. Jangan khawatir, Marcel itu selalu patuh denganku. Walau sedang marah, aku bisa membujuknya, dia pun akan tetap patuh dan minta maaf kepadaku." Nadia menjelaskan kepada Raffi.
"Sebenernya aku juga sudah mulai melamar pekerjaan di kota ini, akan tetapi...."